5 Jun 2013

Seperti Dalam Novel

Aku sudah lama memperhatikan gerak gerik laki-laki itu setiap pagi dan menjelang senja. Aku hanya bisa memandang dia dari balik jendela rumah dan aku tak pernah tahu siapa dia.

Hari ini aku sengaja berada didepan rumah, ingin sekali aku melihatnya dari dekat. Penantianku tak begitu lama dan diapun hadir didepan mataku. Aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan saat itu. Aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat cepat sampai aku tak merasakan lagi diriku ada dimana. Entah perasaan apa. Mungkin ini yang orang bilang cinta.

Aku memang belum pernah merasakan ini sebelumnya, aku tidak pernah punya teman ataupun sahabat sejak kakiku lumpuh akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Mungkin aku minder karena aku yakin tak mungkin ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat sepertiku.

Jika yang kurasa itu cinta, rasanya aku seperti pungguk merindukan bulan. Aku ingin menghapus semua rasa yang ada tapi kenapa aku tak pernah bisa. Aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu, aku berusaha untuk tidak pernah melihatnya lagi, tapi sungguh aku tak sanggup.

Aku tidak pernah menyalahkan takdir dengan apa yang aku alami. Mungkin wanita lain yang tidak cacat seperti aku bisa mendapatkan apa yang dia harapkan tanpa harus merasa tidak nyaman sepertiku. Setidaknya mereka bisa berusaha walaupun hasil akhir tetap bukan kita yang menentukan. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak bisa.