Aku sudah lama
memperhatikan gerak gerik laki-laki itu setiap pagi dan menjelang senja. Aku hanya bisa
memandang dia dari balik jendela rumah dan aku tak pernah tahu siapa dia.
Hari ini aku
sengaja berada didepan rumah, ingin sekali aku melihatnya dari dekat.
Penantianku tak begitu lama dan diapun hadir didepan mataku. Aku tak tahu apa
yang sedang aku rasakan saat itu. Aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat
cepat sampai aku tak merasakan lagi diriku ada dimana. Entah perasaan apa.
Mungkin ini yang orang bilang cinta.
Aku memang belum
pernah merasakan ini sebelumnya, aku tidak pernah punya teman ataupun sahabat
sejak kakiku lumpuh akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Mungkin aku minder
karena aku yakin tak mungkin ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat
sepertiku.
Jika yang kurasa itu cinta, rasanya aku seperti pungguk merindukan bulan. Aku ingin menghapus semua rasa yang ada tapi kenapa aku tak pernah
bisa. Aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu, aku berusaha untuk tidak pernah melihatnya
lagi, tapi sungguh aku tak sanggup.
Aku tidak pernah
menyalahkan takdir dengan apa yang aku alami. Mungkin wanita lain yang tidak
cacat seperti aku bisa mendapatkan apa yang dia harapkan tanpa harus merasa
tidak nyaman sepertiku. Setidaknya mereka bisa berusaha walaupun hasil akhir
tetap bukan kita yang menentukan. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak
bisa.