25 Jul 2014

Mudik Lebaran Tahun Ini

Sudah lima tahun aku bekerja di kota besar ini, Jakarta. Setiap hari aku melihat gedung yang tinggi, jalanan besar yang setiap hari dipenuhi ribuan kendaraan. Permasalahan macet yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan utama di kota ini.

Aku, bukan orang yang bekerja didalam gedung tinggi itu, aku juga bukan orang yang berada didalam kendaraan yang selalu terjebak dalam kemacetan itu. Aku hanya seorang manusia yang bekerja sebagai tukang koran yang menjajakan daganganku dari sau kendaraan ke kendaraan yang lain. Itulah aku…

Penghasilanku setiap hari tidaklah banyak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Terkadang untuk makanpun sulit. Keinginan untuk mudik lebaranpun selalu pupus, karena keadaan ekonomiku yang masih semerawut, padahal aku sangat rindu Ibu dan Adikku di kampung. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih duduk di bangku SD. Ibu menjadi tulang punggung  saat itu. Sekarang, dengan penghasilanku seperti ini, aku belum bisa membahagiakan Ibu dan Adikku.

Sudah lima tahun, aku tidak berjumpa dengan beliau. Aku tahu, berapa besar rasa rindu beliau untukku, dan begitupun aku. Aku selalu berharap, setiap hari raya tiba, aku bisa pulang. Begitupun hari raya tahun ini.

18 Jul 2014

Bukan Sandiwara

Saat ini ingin aku tegaskan bagaimana perasaanku padanya. Sudah sekian lama aku bertanya pada hatiku sendiri, apa sebenarnya yang sedang aku rasakan. Cinta atau kepura-puraan?

Berawal dari keinginan sahabatku yang tak lain anak majikan Ibuku. Aku memang hanya seorang anak pembantu, namun aku bangga karena Ibuku bukan seorang pencuri, bukan seorang koruptor yang bisanya hanya mengambil hak orang lain, memakan keringat orang. Mungkin sebagian orang menganggap pekerjaan seorang pembantu rumah tangga adalah pekerjaan yang hina, namun tidak buatku.

Majikan Ibuku punya anak gadis seusiaku, Natasha namanya, Ibuku memanggilnya dengan nama Neng Nana. Aku bersahabat dengannya sudah lama karena Nana adalah teman sekolahku sejak SD. Kalau dibandingkan aku, orang bilang, aku seperti majikannya Nana. Entah kenapa, mungkin karena wajahku yang cantik, badanku yang tinggi langsing dan kulitku yang kuning langsat. Akupun tergolong wanita yang pintar. Mungkin, hanya faktor materi saja yang mengalahkan aku dari Nana.

Namaku Nita. Setelah lulus SMA, aku bekerja disebuah swalayan, sebagai kasir. Aku bersyukur, karena sejak aku bekerja, Ibuku sudah tidak bekerja lagi. Aku sengaja menyuruh Ibu untuk tinggal di rumah menghabiskan masa tuanya denganku. Sedangkan Nana, dia melanjutkan kuliah di Universitas yang kata orang paling mahal di kota ini. Namun, sampai saat ini, aku dan Nana masih bersahabat. Nana masih suka main ke rumahku, begitupun dengan aku.

***

Suatu hari, Nana menelponku. Dia mengabarkan ingin menginap di rumahku. Aku sempat kaget, kenapa tiba-tiba Nana ingin menginap di rumah yang mungkin dengan dapurnyapun lebih bagusan dapur Nana. Namun Nana tetap memaksa yang akhirnya akupun tak bisa menolak.

12 Jul 2014

Disanakah Tempat Kita?

Ketika aku bernafas, aku menemukan dia disetiap helaan nafasku walaupun aku tahu, dia istri orang lain dan akupun milik orang lain. Tapi entah kenapa walaupun sudah 11 tahun berpisah, wajahnya masih tetap ada dipelupuk mataku.

Aku sadar ini dosa besar, namun entah kenapa aku tak dapat menepis semua perasaan cinta ini untuk Nadia, mantan kekasihku.

Nadia adalah teman kecilku dulu. Nadia adalah anak sahabat karib Ibuku. Aku sudah sangat mengenalnya, baik buruk Nadia. Kami benar-benar dekat sejak duduk di bangku sekolah menengah. Orangtua Kami sangat senang sekali dengan kedekatan Kami.

Setelah lulus sekolah, Nadia memilih bekerja di kota ini, sedangkan aku memilih melanjutkan kuliah diluar kota. Lima tahun Kami berpisah. Semua baik-baik saja, aku tahu Nadia selalu setia padaku dan begitupun aku.

***

Pagi itu, Nadia datang ke rumahku sambil menangis. Ibuku langsung menghampirinya dan menanyakan kenapa Nadia datang sepagi itu dan menangis. Awalnya Nadia tidak mau mengaku apa yang sedang terjadi, namun setelah sedikit dipaksa, akhirnya Nadia mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.