14 Jan 2012

Tak Termiliki


Cintaku tak akan pernah pergi, mungkin itu janji di hatiku untuknya...untuk anakku...yang akan terus menjadi anakku sampai kapanpun...

***

Sembilan belas tahun yang lalu, putri kecilku hadir dalam kehidupanku dan suamiku. Dia memang bukan lahir dari rahimku, namun sungguh aku memberikan sepenuh hatiku untuknya.

Bayi mungil itu masih merah ketika sang Ibu yang tak lain adalah sahabatku sendiri menyerahkan bayi itu padaku. Bayi yang dia anggap pembawa bencana karena tak diharapkan kehadirannya. Dengan senang hati aku dan suamiku menerima kehadiran bayi itu karena dua tahun lalu, aku divonis tak akan bisa mempunyai seorang anak.

Hari-hari yang sepi kini berubah ceria dengan hadirnya dia. Dia anakku, karena aku lebih senang menyebutnya seperti itu. Aku beri nama...PUTRI...Aku harap dia menjadi seorang putri cantik, cantik jiwa dan raganya.

5 Jan 2012

Gadis Itu Adalah Aku


Dua puluh lima tahun yang lalu bayi kecil itu menangis didepan pintu rumah Pak Bagus. Entah kenapa harus didepan rumah beliau padahal beliau sudah dikaruniai satu orang putra. Mungkin karena Pak Bagus adalah salah satu orang terpandang di desa itu.

Seorang bayi perempuan cantik. Lalu kenapa ada orangtuanya tega membuangnya didepan rumah orang yang belum tahu apa orang itu baik atau tidak. Mungkin orangtuanya mempunyai sejuta alasan kenapa harus membuang anaknya yang sudah dia kandung dan lahirkan.

Bayi itu sudah tumbuh menjadi remaja. Saat itu usianya menginjak 19 tahun. Semua keluarga masih menutupi statusnya termasuk anak Pak Bagus. Ketika gadis itu disimpan didepan rumah Pak Bagus, putra Pak Bagus berumur 15 tahunan. Dengan usia remaja pasti anaknya Pak Bagus mengetahui kalau gadis itu bukan anak orangtuanya. Tapi Pak Bagus melarang keras anaknya untuk membocorkan semua rahasia itu. Jadi gadis itu selalu berfikir kalau dia adalah anak dari keluarga itu. Dan tak pernah terfikir dibenaknya kalau dia hanyalah anak yang tak diharapkan kelahirannya.

Sosok Terindah


Kalau sudah rejeki memang tak akan kemana. Itulah kalimat yang pas yang sedang aku alami. Rejeki itu tak kan pernah tertukar. Ketika rejeki itu datang untuk kita maka akan menjadi milik kita.

Aku mengenal laki-laki ini sekitar tiga tahun yang lalu ketika itu seorang sahabat karib mengenalkannya padaku. Hanya cukup waktu tiga bulan saja aku merasa dia laki-laki yang selama ini aku cari. Laki-laki yang sangat baik menurutku.

Namun sayang, ketika aku mengajak dia melangkah ke jenjang yang serius. Dia memilih untuk fokus ke pekerjaannya. Dia belum berniat untuk berumah tangga.

***

Empat bulan kemudian, aku berkenalan dengan seorang laki-laki lagi, dia anaknya teman Ibuku. Dia seorang pengusaha batik di daerahku. Menurut keterangan Ibu, dia sudah siap menikah. Dia memang mempunyai rencana ke arah sana karena memang usianya 10 tahun diatas aku. Walaupun aku belum bisa melupakan laki-laki yang dikenalkan sahabatku dulu, namun aku pun tak mungkin mengecewakan Ibu. Hidupku harus terus berjalan.

Hadiah Yang Terindah


Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun, sebulan, sehari, semenit, bahkan sedetik kemudian. Setiap orang yang berharap pasti ingin mewujudkan setiap harapannya. Begitupun dengan aku, sudah hampir hitungan satu tahun aku mengharapkannya. Seorang wanita yang menurut aku wanita yang terbaik. Tapi saat itu aku tak pernah berfikir kalau yang terbaik menurutku belum tentu yang terbaik menurut-NYA. Namun dengan alasan “terlanjur sayang” aku tetap bisa bertahan dengan rasa ini.

Tak penting aku ceritakan kapan kita bertemu, yang aku tahu, dia tak pernah mempunyai perasaan seperti apa yang kurasa saat itu. Namun aku selalu berharap suatu hari nanti aku akan memiliki perasaannya. Berbagai cara aku lakukan untuk mendapat perhatiannya. Tapi tak pernah dia menyambutnya.

Terkadang aku lelah dengan apa yang aku rasa, namun setiap aku ingin melupakan dia, semakin aku tak pernah bisa. Entah karena perasaan aku yang terlanjur yakin atau kebodohan sedang menyelimuti hatiku. Namun aku yakin mungkin diluar sana banyak orang-orang yang sedang merasakan perasaan seperti apa yang aku rasa.

Suatu Sore


Masih kupandangi suasana sore hari ini, lembayung merah di langit Batam. Tak pernah terbayang sedikitpun aku akan menetap di pulau ini. Entah sampai kapan, mungkin untuk selamanya. Sebenanya bukan karena pekerjaanku sebagai perawat yang menugaskanku disini, namun karena ada sesuatu hal yang cukup membebani hidupku.

Aku…anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku laki-laki dan adikku perempuan. Kita kakak beradik yang sangat kompak, mungkin karena umur kita terpaut tak terlalu jauh. Aku dengan kakakku terpaut umur tiga tahun, sedangkan dengan adikku hanya beda umur dua tahun. Mungkin itu sebabnya yang membuat kita bertiga jadi terkesan kompak.

Ibuku sudah lama tiada, dipanggil Sang Maha Pemilik Segala karena penyakit leukemia yang dideritanya. Kini tinggal Ayah yang selalu ada untuk Kami bertiga. Kami sekeluarga tinggal di kota Bogor. Kota yang sejak kecil kami tempati, jadi wajar kalau aku sangat mencintai kota ini.

4 Jan 2012

Maafkan Aku Ayah...Aku Menyesal...


Ayahku idolaku…begitulah yang selalu aku tanamkan dalam benakku. Ayah adalah seorang pelindung keluarga, seorang penyayang, seorang yang sabar, seorang yang luar biasa bagiku. Tak cukup hanya dengan kata-kata itu yang bisa aku lukiskan untuk seorang Ayah.

Ayah memang bukan pejabat tinggi, Ayah juga bukan seorang direktur sebuah perusahaan, Ayah memang hanya seorang karyawan biasa dengan gaji yang tidak begitu besar, tapi Kami bahagia karena Kami selalu berusaha untuk merasa cukup atas karunia Allah SWT yang diberikan kepada Kami.

Sampai aku beranjak dewasa hampir tak pernah aku melihat Ayah dan Ibuku bertengkar, entah mereka sembunyikan  dari aku atau memang tak pernah terjadi pertengkaran itu. Ayah memang suami yang baik. Itu fikirku.

Tapi kenapa…dua bulan terakhir ini Ayahku yang super hebat itu berubah. Sering marah, pulang ke rumah selalu larut malam, bahkan diwaktu liburpun Ayah habiskan untuk pergi keluar sendirian tanpa Kami. Ada apa sebenarnya dengan Ayah???

Wanita Malam


Langkah-langkah kecil ditengah hujan rintik-rintik malam itu masih dijalani seorang wanita setengah baya itu. Kelelahan mungkin sedang dirasakannya, “pekerjaan” yang menguras waktu, menguras tenaga, mungkin juga sangat menguras pikiran.

Seorang wanita yang lahir dari keluarga yang berada, berpendidikan dan terpandang. Dunia menjadi satu-satunya tempat berpijak, tak ada tujuan lain selain itu. Hanya dunia saja. Dia adalah anak satu-satunya. Sejak kecil dia dirawat oleh dua orang perawat anak. Segala kebutuhan hidup terpenuhi, materi, pendidikan, segala macam. Hanya satu yang dia tak dapat. Kasih sayang orangtua yang dua-duanya hanya mementingkan karier semata.

Wanita itu tumbuh menjadi gadis dewasa, tetap dia tak menemukan jatidirinya, tak menemukan apa yang dia butuhkan. Orangtuanya tak pernah berubah sedikitpun, baginya uang sudah cukup menggantikan kasih sayang untuk anaknya. Karena hal tersebut akhirnya dia mencari kasih sayang ditempat lain. Mencari seseorang yang bisa membahagiakannya walaupun dia tak tahu apa arti ‘kasih sayang’ itu sebenarnya.

Kenali Lebih Dekat


Muhammad Hafidz Azizi, nama keponakanku. Kami semua memanggilnya dengan nama Hafidz. Anak tunggal dari kakakku. Namun aku memanggilnya dengan sebutan Ade, panggilan kesayangan buatnya, karena aku memang teramat sayang pada anak itu.

Aku dan ibunya Hafidz yang tak lain adalah kakakku dalam keluarga hanya dua bersaudara. Orangtua Kami sudah lama meninggal. Jadi saudara terdekat yang aku punya hanya kakakku. Awalnya Kami tinggal satu daerah di kawasan Bogor, namun setelah aku menikah, suami membawaku tinggal bersamanya didaerah Bandung.

Walaupun berjauhan, komunikasi Kami tak pernah putus. Telepon, SMS, atau Chatt selalu kita lakukan hampir setiap hari. Kami memang dua bersaudara yang cukup kompak, memang itu yang ditanamkan orangtua Kami sejak dulu. Sayangilah saudara kita masing-masing.

***

Suatu hari kakakku menelponku dan mengabari bahwa suaminya diterima bekerja di luar negeri, di NewYork. Luar biasa pikirku. Sempat aku bertanya, kenapa harus diluar negeri, di negeri sendiri saja gaji beliau sudah besar dan bisa mencukupi keluarga, namun memang keinginan manusia tidak pernah puas. Alasan pengalamanlah, jadi alasan utama untuk bekerja disana.

Teman Kecilku


Setiap orang pasti mempunyai teman diwaktu kecil. Teman bermain atau sekolah. Begitupun aku. Betapa aku sangat merindukan teman kecilku itu.

Tak lama sebenarnya aku mengenal sosok dia. Kurang dari 24 jam. Waktu itu usiaku sekitar tujuh tahun. Aku diajak orangtuaku ke tempat pamanku diwilayah pelosok Bandung. Dia tetangga sebelah pamanku. Tak sengaja aku melihat dia sedang duduk didepan rumahnya. Karena aku tak punya teman dan bosan di rumah dengan situasi para orangtua sedang mengobrol, akhirnya aku putuskan untuk menghampiri dia dan berkenalan dengannya. Arif namanya.

Awalnya ketika aku mengajak berkenalan, dia memperlihatkan wajah yang tidak senang. Namun setelah aku ceritakan kejenuhanku akhirnya dia mengajakku berkeliling daerah sekitarnya. Tak jauh sebenarnya kita bermain dari rumah Paman. Aku diajak bersepeda disekitar kebun-kebun. Dia bercerita tentang suasana pedesaan ditempat itu. Berbeda memang dengan suasana tempat tinggalku di Kota Malang. Disini aku lihat anak-anak bisa bermain dengan lepas, menyatu dengan alam. Bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan ditempatku, suasana perumahan yang terkesan sangat individulistik. Aku sangat senang berada disini.

Yang Kupunya Hanya Ini


Hidupku, aku anggap kehidupan yang sempurna. Aku selalu bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidupku. Teman dan sahabat selalu berada didekatku. Begitupun keluargaku, Ayah, Ibu dan Adikku selalu ada disaat aku membutuhkannya. Calon suamiku yang aku anggap laki-laki yang pantas kujadikan pemimpinku kelak selalu ada disaat aku sedih maupun senang.

Aku bekerja di perusahaan ternama dikota ini dengan jabatan yang lumayan bagus. Aku juga lulusan Universitas dari luar negeri. Hidupku terasa sempurna. Tapi itu dulu sampai akhirnya kejadian itu membuat semua kesempurnaan itu hilang.

***

Sudah sekitar dua tahun aku bersahabat dengan kursi rodaku. Kecelakaan lalu lintas saat aku mengendarai sepeda motorku membuat dua kakiku harus diamputasi. Miris memang. Seumur hidup aku harus menjadi orang yang cacat.

Pertama aku mendengar bahwa kakiku harus diamputasi aku tak tahu harus berbuat apa. Mencoba ikhlas tapi sangat sulit, mencoba pasrah tetap tak bisa. Aku sempat marah, aku sempat protes pada takdir yang harus aku jalani. Namun orang-orang disekelilingku selalu memperingatkan aku bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-NYA.

Dia Kembali


Setiap orang pasti mempunyai harapan. Namun jika harapan itu tak akan pernah menjadi kenyataan, mungkin Allah SWT akan memberikan jalan lain yang lebih indah. Begitupun dengan jalan hidupku…

Aku hidup berdua dengan Ibu setelah Ayah meninggal ketika aku berumur tiga tahun. Akupun lupa wajah Ayahku. Ibu seorang pembantu rumah tangga disebuah keluarga yang kaya raya. Kami tinggal disana karena memang mereka yang meminta. Rumah mewah mungkin terlalu besar jika hanya ditempati bertiga. Keluarga itu hanya mempunyai satu anak perempuan yang umurnya hampir sama denganku.

Sejak kecil aku tinggal disana, membantu Ibu meringankan bebannya. Sekedar mengepel lantai, mencuci mobil, membersihkan pekarangan, tapi mungkin itu bisa sedikit meringankan tugas Ibu. Mereka sudah menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri, biaya sekolah akupun mereka tanggung sehingga Ibu tak perlu memikirkan biaya pendidikan aku.

Penyesalanku


Menyesal…hanya itu yang aku rasakan saat ini. Aku tak bisa mengubah waktu, tak bisa juga mengulang waktu yang sudah terjadi. Mungkin yang bisa dilakukan saat ini hanya berusaha memperbaiki diri dan meminta yang terbaik jika masih mungkin.

Kejadian yang membuat aku seperti ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu dan aku merasa sangat terpukul sekali. Aku sudah cukup dewasa dan memahami apa yang terjadi saat itu. Pertengkaran orangtua dengan topik yang sebenarnya tak ingin aku tahu karena sangat memalukan sekali. Perselingkuhan Ibu dengan rekan kerjanya membuatku sangat membenci Ibu. Walaupun sisi lain batinku berbisik Ibu tetap seorang Ibu yang sudah melahirkan dan merawatku. Sungguh sulit menyelami hatiku saat itu.

Sejak perceraian orangtuaku karena perselingkuhan Ibu, aku ikut dengan Ayah dan aku tak tahu keberadaan Ibu sampai detik ini. Ibu pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa ada pelukan sayang atau sekedar ucapan perpisahan.

DZAKI Sahabatku


Bunyi Handphone membangunkan aku dari tidurku siang itu. Agak berat kepalaku karena lembur semalam. Sengaja hari itu aku minta izin tidak masuk kerja.

SMS dari Dzaki. Dan sebuah penolakan.

Sebuah kalimat yang sangat standar tapi cukup menyayat hati, ”semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku…”. Kurang lebih begitu isinya.

***

Dzaki adalah rekan kerjaku dulu. Kami bekerja sama dalam satu team untuk mengerjakan salah satu proyek. Selama kurang lebih hampir enam bulan kita bersama. Dzaki orang yang sangat cerdas. Tak salah memang kedua orangtuanya memberi nama Dzaki yang artinya Kecerdasan.

Awalnya biasa saja melihat kebaikan dia. Aku juga menganggap itu hal yang wajar karena Dzaki memang baik pada semua orang. Namun entah kenapa setiap hari kekaguman aku semakin bertambah pada dia.

Ilalangku


Aku masih duduk termenung di teras depan rumah sambil menatap lemayung merah di langit senja. Akupun tak mengerti kenapa aku merasakan hal sebodoh ini. Aku hanya mengikuti kata hati karena bisikan hati selalu benar tapi saat ini ungkapan itu harus aku ralat. Kata hati tak selamanya benar.

Aku mengenal calon istriku dulu ketika aku sedang merasakan pahitnya hidup.  Aku dikenalkan oleh sahabat karibku ketika aku duduk dibangku SMU. Gadis ini adalah sepupu temanku. Saat itu perasaanku sedang kacau karena gadis yang aku cintai menikah dengan laki-laki lain. Bisa dikatakan kalau dia adalah obat pelipur lara bagiku.

Aku sudah mengenal dia sekitar satu tahun, dia gadis yang baik. Aku sudah cukup dekat dengan dia dan juga keluarganya. Aku rasa, dia gadis yang tepat untuk aku. Apalagi kedua belah pihak keluarga sudah menyetujui hubungan Kami. Hubungan Kamipun sudah mengarah ke arah pernikahan.

Harapku


Siang ini cuaca tak bersahabat denganku. Matahari seolah enggan menampakkan diri hari ini. Aku selalu mencoba untuk menjalani hidup ini dengan apa adanya, aku hanya mempunyai sebuah harapan, harapan untuk meraih mimpi-mimpiku, meraih kehidupan lebih baik dari sekarang, walaupun aku hanya seorang anak jalanan.

Hari-hari hanya ditemani dengan sebuah gitar. Mengamen menjajakan nyanyian dari bis ke bis, bukan untuk menghibur orang lain, tapi untuk mencari kepingan uang logam, berharap hari ini aku dan ibuku bisa mengisi perut.

Aku mempunyai seorang Ibu. Beliau adalah harta satu-satunya di dunia ini yang aku punya. Satu-satunya orang yang selalu menemani aku dikala aku sedang sedih. Satu-satunya orang yang selalu membuat aku tersenyum walaupun aku tahu hatinya teriris perih.  Seorang wanita yang entah kapan aku bisa membuatnya bahagia.

Terkadang, pikiranku melayang. Membayangkan kehidupan masa lalu yang penuh kebahagiaan. Namun, semua hilang ketika Ayah pergi meninggalkan Kami. Entah kemana perginya Ayahku karena sampai sekarangpun aku dan Ibu tak tahu keberadaannya dimana. Dan akupun tak ingin tahu dia dimana.

Hati Suamiku


Aku masih merenung memikirkan apa yang terjadi dengan hati suamiku saat ini. Setelah hampir sepuluh tahun Kami menikah dan dikaruniai dua putri cantik, apakah dia tak pernah mencintaiku sebagai istrinya.

Kami menikah sudah cukup lama. Sebagai seorang suami, beliau adalah sosok yang aku rasa sempurna. Tanggung jawab, perhatian dan pengertian. Sosok yang mungkin diidam-idamkan oleh seluruh para istri di dunia. Tapi kenapa aku masih merasa cemas dan khawatir dengan perasaannya.

Dari awal Kami menikah, aku yakin suamiku tak mencintaiku seperti halnya aku mencintainya. Tapi aku juga yakin bukan keterpaksaan juga kenapa dia harus menikahiku saat itu. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir kita untuk menjadi seorang sepasang suami istri.

Kami menikah memang karena perjodohan orangtua Kami. Aku yang memang sudah mengenal suamiku sejak duduk di bangku sekolah merasa kagum karena sifat dia. Namun aku tahu kalau dulu suamiku pernah punya calon istri lain dan bukan aku. Tapi entah karena apa calonnya itu malah memilih laki-laki lain dan meninggalkan suamiku.

Tujuh Hari


Aku mengkisahkan ini dari apa yang aku alami sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika aku belum menikah dengan suami yang sudah memberikanku seorang anak. Tujuh hari yang memberi kesan. Tujuh hari yang memberiku sesuatu yang tak pernah ku alami sebelumnya. Bukan maksud untuk mengungkit, ini hanyalah sebuah kisah dimasa lalu.

Sebelum aku menikah, aku bekerja disebuah perusahaan cukup ternama di kota ini. Dari puluhan bahkan ratusan pelamar kerja, aku salah satu orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan ini walaupun bukan jabatan yang tinggi, tapi aku bersyukur.

Aku sering ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan pekerjaan yang sedang dilakukan ke berbagai daerah. Ku fikir, aku masih lajang…tak apalah aku menjajal dunia luar, sebelum ada tugas lain yang lebih penting dari tugas ini. Tugas mengurus suami, karena aku punya keinginan setelah aku mempunyai keluarga, aku akan berhenti bekerja dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Menjadi guru untuk anak-anakku. Karena pendidikan pertama yang didapat seorang anak adalah dari ibunya. Dan aku ingin menjadi pendidik yang pertama untuk anakku nanti.

Mukena Untuk Ibu


Masih dengan mukena yang lusuh, Ibu sholat sangat khusuk sekali walaupun di rumah kontrakan Kami yang sangat sempit. Kami tinggal berdua setelah musibah longsor di daerah Kami yang menewaskan Ayah dan Kakak Kami. Dulu…Kami hidup cukup sederhana, Ayah yang hanya seorang kuli bangunan namun Kami selalu mencoba merasa cukup atas rejeki yang Allah SWT berikan. Dengan penghasilan Ayah yang sangat pas-pasan untuk makan, tapi orangtua Kami selalu berusaha menabung untuk sekolah Aku dan Kakakku. Ibu hanya seorang penjual gorengan didepan rumah, lumayan, untuk membantu perekonomian keluarga.

Namun setelah musibah itu, kita tinggal berdua, kita kehilangan rumah, kita kehilangan kakak, dan kita kehilangan Ayah. Tapi kita sadar semua berasal dari-NYA dan akan kembali pada-NYA. Semua itu bukan milik kita. Kitapun pindah dari daerah tempat Kita tinggal. Dan akhirnya mengontrak disebuah rumah kecil.

Aku seorang anak laki-laki, usiaku 18 tahun, aku duduk dibangku SMU, satu tahun lagi lulus. Untuk membiayai sekolahku, aku bekerja sepulang sekolah menjadi pekerja di rumah Pak Achmad, seorang yang cukup terpandang didaerah Kami sekaligus pemilik kontrakan tempat aku dan Ibu tinggal sekarang. Alasan beliau memperkerjakan aku mungkin karena melihat perekonomian aku dan Ibu yang sangat mengkhawatirkan. Didaerah itu beliau terkenal dengan sifat kedermawanannya.

Mencintai Secara Wajar


Aku hanya seorang manusia biasa yang sama seperti manusia lain, pernah mencintai, pernah dicintai, pernah merasakan bahagia, merasakan sakit, merasakan kecewa dan merasakan segala yang pernah orang-orang rasakan ketika jatuh cinta. Walaupun aku tak tahu cinta yang aku rasakan entah atas dasar apa.

Aku mengenalnya ketika aku menginjak bangku kuliah semester tiga. Biasa saja prosesnya, berkenalan, berteman, dan akhirnya jatuh cinta. Tidak ada yang istimewa. Cerita cinta yang sewajarnya. Karena faktor satu dan yang lainnya, akhirnya ketika Kami menjelang kelulusan, Kamipun berpisah secara baik-baik dan tidak ada yang tersakiti karena itu atas dasar kesadaran kita masing-masing. Begitulah cerita Kami. Standard dan tak ada kesan.

***

Empat tahun Kami berpisah, tak ada kabar berita, aku tak tahu dia dimana begitupun dia seolah tak pernah peduli dengan keberadaanku. Jika ditanya, apakah selama waktu empat tahun, rasa itu masih ada atau sudah hilang? Aku mungkin bisa menjawab masih ada dan belum hilang. Aku selalu berharap aku bisa bertemu dengannya lagi walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Apakah doaku salah??? Mungkin iya…mungkin juga tidak.

Cinta yang Dipelajari

Seorang gadis masih duduk termenung menatap senja dari balik jendela kamarnya. Berfikir dan terus berfikir apa keputusannya tepat untuk memilih seorang pria pilihan orangtuanya yang notabene seorang yang mapan dan dari keluarga terhormat. Hari ini adalah hari terakhir dia menjadi gadis lajang, karena besok adalah hari pernikahannya, hari yang seharusnya ditunggu-tunggu semua gadis pada umumnya. Lalu apa yang difikirkan gadis itu, mengapa seolah hatinya menolak kehadiran pria itu dalam kehidupannya???

***

Beberapa bulan yang lalu dia dikenalkan teman karibnya dengan seorang pria. Pria yang dia anggap sangat menyenangkan. Merekapun saling tukar nomor handphone dan alamat email. Sampai akhirnya penjajakan pun dimulai.  Jarak tidak menghambat perjalanan mereka karena dengan kemajuan teknologi semua bisa dilakukan dengan mudah.

Dengan seringnya berkomunikasi, berbagi cerita, berbagi suka maupun duka akhirnya hubungan mereka pun bertambah dekat. Rasa saling mengagumi tumbuh diantara mereka. Sampai suatu saat pria tersebut bermaksud untuk melamar gadis itu. Alangkah bahagianya sang gadis dengan maksud baik pria itu.  Merekapun berniat untuk menyampaikan hal ini pada orangtua masing-masing.

Cinta dan Persahabatan


Tiga orang sahabat sedang asyik bercengkrama didepan kelas sambil menunggu dosen untuk bimbingan tugas akhir mereka. Pembicaraan masih seputar masa depan setelah kelulusan. Salsa dan Hanif ingin bekerja di tanah air sesuai jurusan yang mereka ambil, ilmu komunikasi. Mereka ingin menjadi jurnalis yang handal. Sedangkan Ilyas memilih meneruskan sekolah S2 nya di negeri orang, negeri kangguru yang dia pilih.

Selama penyusunan tugas akhir, Salsa sering dibantu banyak oleh Ilyas, dari mulai mencari data untuk skripsinya sampai menjadi supir pribadi mengantar Salsa kemanapun dia pergi. Berbeda dengan Hanif yang memilih lebih fokus mengerjakan sendiri tugas akhirnya.

***

Suatu hari Ilyas berniat untuk menemui Hanif di rumahnya. Sambil mengendarai mobil Avanza silvernya, tibalah dia di rumah Hanif. Setelah ngobrol panjang lebar seputar tugas akhirnya, Ilyaspun mengalihkan pembicaraan ke hal pokok, pembicaraan yang membawanya melaju ke rumah Hanif. Tentang perasaan. Perasaannya kepada sahabat perempuannya, Salsa.

Bidadari Terakhir

Allah SWT tidak akan membebani permasalahan diluar batas kemampuan manusia. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, kecewa, atau bahkan kehilangan orang-orang yang terkasih. Ketika permasalahan itu terjadi kita pasti berfikir hidup ini tak adil, namun semua yang terjadi pasti ada hikmah yang tersimpan.

Seorang gadis muslimah dengan kerudung putih itu masih asyik membaca buku tentang kesehatan. Sesuai dengan cita-citanya, dia ingin menjadi seorang dokter. Masuk disalah satu Universitas ternama di kota itu pada Fakultas Kedokteran yang sesuai keinginannya adalah suatu kebanggaan tersendiri buat dia. Berharap cita-cita itu akan segera menjadi kenyataan.

Masih di ruang perpustakaan, memang ruangan itu adalah salah satu tempat favoritnya. Membaca adalah kegemarannya sejak kecil. Bahkan ada temannya yang memberi julukan si kutu buku. Tapi biarlah…baginya, yang penting hidup tak menyusahkan dan merugikan orang lain…jalani saja.

Aktif berorganisasi remaja muslim juga salah satu kegiatan di kampusnya. Gadis yang cerdas, pintar bersosialisasi, ramah, bahkan religius. Secara fisik dia gadis yang sangat cantik dan menarik, maka sangatlah wajar banyak kaum adam yang berharap mendapatkan perhatian darinya. Namun gadis itu tak pernah menghiraukannya. Pacaran tak pernah ada dalam benaknya.

Dalam Diam Ibu

Adakah anak yang pernah menyia-nyiakan seorang Ibu seperti aku??? Ataukah ada seorang anak yang merasa mengakui Ibunya sendiri seperti aku???

Mungkin hanya aku…

Kecelakaan itu yang membuat Ibu seperti sekarang ini. Perjalanan yang tadinya kurasa akan sangat menyenangkan. Tapi malah berakibat seperti ini. Perjalanan untuk berlibur kesuatu tempat malah mengantarkan Ayah dan Adikku kehari terakhir hidupnya. Hanya aku dan Ibu yang selamat dari kecelakaan maut itu. Ibu depresi ketika mendengar Ayah dan Adikku meninggal. Aku tak ingin menyebut Ibu gila walaupun mungkin kenyataannya seperti itu. Kini sudah hampir dua tahun Ibu tinggal di Rumah Sakit Jiwa.

2 Jan 2012

Sepenggal Kisah Di Panti Jompo


Baru kurang lebih tujuh bulan aku bekerja disini, namun sudah begitu banyak pelajaran yang aku dapat. Tak mudah memang menjadi seorang petugas panti jompo. Namun aku cukup menikmatinya.

Berawal dari tawaran teman untuk menerima pekerjaan ini, dia bilang petugas lama mengundurkan diri karena sesuatu hal. Tadinya aku merasa tak yakin, apa aku sanggup. Namun ternyata aku mampu walaupun memang belum maksimal. Ini pekerjaan yang ku rasa sangat membutuhkan kesabaran.

Pak Ridwan, beliau berusia sekitar 65 tahunan. Menurut keterangannya, beliau ditempatkan paksa di panti jompo ini. Pak Ridwan mempunyai dua orang putra. Dua-duanya sangat sibuk dengan bisnisnya, begitupun dengan para menantunya. Mengurus anak-anak mereka menggunakan jasa baby sitter. Apalagi mengurus Pak Ridwan yang sudah tua. Panti jompolah solusinya. Aku sering melihat beliau menangis diwaktu malam. Entah apa yang berkecambuk di hatinya. Mungkinkah dia merasa rindu dengan keluarganya yang hanya sebulan sekali menjenguknya? Ataukah dia menangis karena marah dengan keputusan anak-anaknya yang menempatkanya ditempat seperti ini? Akupun tak tahu.