22 Mar 2013

Dan Akupun Terlupa

Aku tidak membicarakan siapapun, tapi mungkin setiap orang pernah melakukan apa yang pernah aku lakukan. Aku tidak ingin disebut orang yang tidak punya perhatian pada sosok yang sudah melahirkan aku. Aku juga tidak ingin disebut orang yang tidak mempunyai kasih sayang padanya. Sungguh aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya.

Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika Ibu SMS aku mengabarkan kalo beliau sakit di kampung, aku hanya balas, “Istirahat dan ke dokter saja…”, aku tak bisa panjang-panjang kirim pesan karena waktu itu aku lagi ada rapat di kantor. Sepulang dari kerja, aku langsung istirahat, bersih-bersih dan tidur. Aku hampir terlupa menanyakan kabar kesehatan Ibu. Sampai pada besok paginya Ibu yang SMS aku duluan mengabarkan kalau keadaan beliau sudah baik-baik saja. Aku hanya membalas, “Syukurlah Bu…”. Lagi-lagi kesibukan yang membuatku membalas seperti itu.

Tidak Ada yang Salah dengan Cinta

Ridwan adalah tunanganku yang akan segera menikahiku setengah tahun kedepan. Semua persiapan menjelang pernikahan sedikit demi sedikit sudah rampung. Ridwan satu kampung dengan aku. Rumah kitapun berjarak tidak terlalu jauh. Kami sudah berteman sejak kecil. Keluarga juga sudah mendukung satu sama lain.

Aku memutuskan bersedia dipinang oleh Ridwan setelah aku lulus kuliah dan sudah bekerja, begitupun dengan Ridwan yang saat ini juga sudah bekerja. Aku melihat Ridwan adalah sosok yang baik dan bertanggungjawab jadi tidak ada salahnya aku menerima dia sebagai calon suamiku.

***

Satu bulan yang lalu, aku sangat senang sekali ketika mendengar teman baikku Anita akan datang mengunjungiku disini. Anita adalah sahabatku waktu di SMU. Dia baik, ramah, pintar dan cantik. Dia mendengar kabar kalau aku akan menikah dengan Ridwan. Dia sangat senang sekali dan berjanji akan datang dihari bahagiaku nanti.

Ammara dan Ammira

Aku adalah seorang Ibu yang mempunyai anak kembar.  Anak yang memang  aku idamkan dari dulu. Dua putri cantik yang menghiasi hari-hariku. Ammira dan Ammara.

Ammira dan Ammara kini sudah berusia 25 tahun. Sayang, kehidupan Ammira tidak seberuntung Ammara, walaupun dari segi materi aku tidak pernah membeda-bedakan mereka. Ammara lulusan Universitas negeri di kota ini, begitupun Ammira adalah lulusan Universitas yang sama.

Kehidupan mereka berbeda setelah mereka lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Ammara mungkin bernasib lebih beruntung dibandingkan Ammira. Hanya menunggu dua bulan saja, Ammara sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang baik dengan gaji yang besar pada perusahaan ternama. Jadi tak heran jika saat ini Ammara sudah mendapatkan segalanya. Rumah, kendaraan dan tabungan yang cukup banyak.

Berbeda dengan Ammira, gadis ini harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan pekerjaan dan itupun hanya sebagai staf biasa disalah satu perusahaan yang tidak terlalu besar. Gaji Ammira juga tidak sebesar Ammara, namun cukup untuk keperluan sehari-hari.