Seharusnya aku
yang mendapatkan kebahagiaan itu, bukan Kakakku. Dari kecil aku selalu dianak tirikan oleh
kedua orangtuaku. Apa mungkin aku bukan anak yang diharapkan? Aku tak tahu
kenapa orangtuaku tidak pernah memperlakukan aku seperti Kakakku.
Namaku Melda.
Aku dilahirkan dua tahun setelah Kakakku. Aku memang tak secantik Kakakku, tak
sepintar Kakakku dan yang pasti tak seberuntung Kakakku. Tapi aku sangat
menyayangi dia dan diapun begitu padaku. Mungkin hanya Kakakku saja yang memperlakukan aku dengan amat
sangat baik.
***
Kakakku bernama
Nabila, sejak kecil kita selalu bersama. Kakakku selalu membelaku ketika aku
sedang dimarahi Ayahku, Kakakku juga selalu membela aku jika di sekolah aku
diganggu oleh teman-temanku yang nakal. Lamunanku tidak pernah
terhenti dengan kebaikan-kebaikan Kakakku padaku. Dari mulai kita kecil hingga
kita sama-sama dewasa.
Ketika aku
berumur enam tahun dan Kakakku umur delapan tahun, waktu itu kita sama-sama sedang duduk di bangku sekolah
dasar. Aku masih kelas satu dan kakakku kelas tiga. Ketika pertama masuk
sekolah, orangtuaku membelikan segala perlengkapan sekolah Kami. Mulai dari
buku tulis, alat tulis, seragam sekolah, sepatu, tas, apapun yang Kami
perlukan. Aku sangat bahagia, seandainya mereka membelikan keperluan tersebut
untukku juga. Sayang, mereka hanya membelikan semua keperluan sekolah itu untuk
Kakakku, Nabila. Sedangkan aku, aku hanya dapat turunan dari Kakakku kecuali
buku tulis dan alat tulis. Selebihnya aku dapat bekas.
Ketika teman-teman
sekolahku meledekku karena aku dapat barang yang tidak baru, Kakakkulah yang
membelaku. Kakakku langsung memberikan tas barunya untukku. Aku selalu menangis
bila ingat hal itu.
***
Pernah suatu
hari, ketika kenaikan kelas. Aku memang tidak mendapatkan rangking 10 besar di
kelas. Berbeda dengan Kakakku yang mendapatkan rangking 1. Sesampainya di
rumah, Kakakku disambut antusias oleh orangtuaku. Sedangkan aku, dilihatpun
tidak.
Sorenya, Kakakku
diajak makan-makan dengan tujuan merayakan keberhasilannya, sedangkan aku
disuruh jaga rumah dengan pembantuku. Sakit rasanya hati ini.