29 Jul 2015

Bukan Cinta Sebenarnya

Seharusnya aku yang mendapatkan kebahagiaan itu, bukan Kakakku. Dari kecil aku selalu dianak tirikan oleh kedua orangtuaku. Apa mungkin aku bukan anak yang diharapkan? Aku tak tahu kenapa orangtuaku tidak pernah memperlakukan aku seperti Kakakku.

Namaku Melda. Aku dilahirkan dua tahun setelah Kakakku. Aku memang tak secantik Kakakku, tak sepintar Kakakku dan yang pasti tak seberuntung Kakakku. Tapi aku sangat menyayangi dia dan diapun begitu padaku. Mungkin hanya Kakakku saja yang memperlakukan aku dengan amat sangat baik.

***

Kakakku bernama Nabila, sejak kecil kita selalu bersama. Kakakku selalu membelaku ketika aku sedang dimarahi Ayahku, Kakakku juga selalu membela aku jika di sekolah aku diganggu oleh teman-temanku yang nakal. Lamunanku tidak pernah terhenti dengan kebaikan-kebaikan Kakakku padaku. Dari mulai kita kecil hingga kita sama-sama dewasa.

Ketika aku berumur enam tahun dan Kakakku umur delapan tahun, waktu itu kita sama-sama sedang duduk di bangku sekolah dasar. Aku masih kelas satu dan kakakku kelas tiga. Ketika pertama masuk sekolah, orangtuaku membelikan segala perlengkapan sekolah Kami. Mulai dari buku tulis, alat tulis, seragam sekolah, sepatu, tas, apapun yang Kami perlukan. Aku sangat bahagia, seandainya mereka membelikan keperluan tersebut untukku juga. Sayang, mereka hanya membelikan semua keperluan sekolah itu untuk Kakakku, Nabila. Sedangkan aku, aku hanya dapat turunan dari Kakakku kecuali buku tulis dan alat tulis. Selebihnya aku dapat bekas.

Ketika teman-teman sekolahku meledekku karena aku dapat barang yang tidak baru, Kakakkulah yang membelaku. Kakakku langsung memberikan tas barunya untukku. Aku selalu menangis bila ingat hal itu.

***

Pernah suatu hari, ketika kenaikan kelas. Aku memang tidak mendapatkan rangking 10 besar di kelas. Berbeda dengan Kakakku yang mendapatkan rangking 1. Sesampainya di rumah, Kakakku disambut antusias oleh orangtuaku. Sedangkan aku, dilihatpun tidak.

Sorenya, Kakakku diajak makan-makan dengan tujuan merayakan keberhasilannya, sedangkan aku disuruh jaga rumah dengan pembantuku. Sakit rasanya hati ini.

Kiriman Terakhir

Aku masih melihat sisa-sisa minuman dalam gelas bekas semalam aku mabuk bersama teman-temanku. Pagi ini aku tak ingin melihat anakku merengek minta uang jajan dan tunggakan SPP sekolah yang sudah tiga bulan tidak dibayar. Bukan karena aku tak punya uang, uang kiriman istriku yang bekerja di Jakarta sudah aku habiskan bersama teman-temanku untuk mabuk hampir setiap malam. Aku pakai untuk main perempuan karena sejak istriku bekerja aku menjadi kesepian sehingga wanita-wanita malam itulah yang sering menemaniku.

Hari ini seperti biasa anakku merengek minta aku segera melunasi SPP sekolahnya. Lagi-lagi aku marah dan hampir saja memukul anakku. Minuman semalam adalah uang terakhir dalam dompetku. Padahal masih setengah bulan lagi istriku akan mengirim gajinya untuk Kami.

***

Sejak aku di PHK aku menjadi sosok yang pemarah. Aku masih kesal dan masih ingat semua penghinaan temanku yang menuduh aku berbuat curang di kantor. Padahal aku tidak pernah mencuri seperti apa yang mereka tuduhkan. Aku hanya difitnah karena temanku tahu aku akan dinaikkan jabatan. Tapi ya sudahlah…itu hanya bagian dari masa laluku.

Aku tidak mau bekerja lagi hingga akhirnya istrikulah yang harus mengalah. Istriku terpaksa harus mencari nafkah untuk Kami hidup. Beruntung ada tetangga yang menawari istriku untuk bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga dengan gaji yang terbilang cukup untuk biaya Kami dan sekolah anak semata wayang Kami. Namun persayaratannya, istriku hanya boleh pulang tiga bulan sekali. Tidak masalah untuk Kami.