Penyesalan
memang tak pernah datang diawal. Penyesalan selalu mendatangkan kekecewaan
buatku sendiri ataupun buat orang lain. Walaupun semua mendatangkan hikmah,
namun kesalahan itu tak akan pernah aku lupakan. Kesalahan besar dalam hidupku.
Pernikahan Kami
sudah berjalan 10 tahun. Kebahagiaan semakin lengkap ketika lahir bidadari
kecilku disaat pernikahanku berjalan lima tahun. Memang waktu yang cukup lama
untuk bersabar menanti kehadiran buah hati Kami. Namun, kesabaran itu terbayar sudah ketika
bidadari itu terlahir ke dunia. Amanah yang harus Kami jaga.
Suamiku tipe
orang yang tegas, mungkin sedikit keras. Tidak ada istilah romantis dalam benaknya,
mungkin karena sudah sifat dia yang seperti itu. Tak pernah ada candle light dinner, tak pernah ada kado-kado ulang tahun, tak
pernah ada perayaan ulang tahun pernikahan seperti yang sering dilakukan
pasangan suami istri di sinetron-sinetron. Ya…mungkin itu hanya sinetron yang
kadang penuh kebohongan. Tanggungjawabnya yang besar terhadap keluarga membuat
dia menjadi pekerja keras. Hampir tak ada waktu untuk keluarga. Terkadang weekend pun dia habiskan di kantor. Itulah
suamiku. Tapi aku mencintainya…sangat mencintainya.
Sementara aku…aku hanya seorang ibu rumah tangga
biasa yang kuhabiskan seluruh waktuku untuk keluarga kecilku. Untuk suami dan anakku. Tapi aku
bahagia melihat anak dan suamiku selalu tersenyum. Walaupun kadang kejenuhan
selalu menyelimuti hari-hariku.
***
Awal bulan
Januari…salah satu kegiatan rutinku setiap bulan yaitu belanja bulanan ke
swalayan. Segala kebutuhan suami dan anakku pasti aku utamakan. Seperti biasa,
hari itu aku berniat untuk berbelanja, aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena jarak
antara rumah dan swalayan itu cukup jauh. Maklum Kami tinggal di sudut kota.
Tiba di swalayan
aku langsung memilih barang-barang yang diperlukan keluargaku, aku sudah catat
semua keperluan itu. Ditengah-tengah kesibukan aku memilih, tiba-tiba dari arah
belakang ada seorang laki-laki menyapaku. Aku ingat-ingat, ternyata dia temanku
waktu sekolah di SMU, teman dekat tepatnya. Aku sempat kaget melihat dia ada
didepanku. Ku lihat tak pernah ada yang berubah dari dia. Tetap seperti dulu.
“Halo…masih
ingat aku?”sapanya.
Sesaat aku masih tertegun, serasa tak percaya dengan apa yg kulihat.
“Tentu saja...” jawabku singkat.
Kamipun mengobrol, hingga tak terasa sampai juga
didepan kasir untuk membayar semua belanjaanku. Setelah semua dibayar, aku permisi untuk pamit pulang karena
bidadari kecilku pasti sudah menungguku. Anakku aku tinggal bersama pembantuku di rumah. Namun
temanku itu malah mengajakku untuk menemaninya minum kopi sambil ngobrol-ngobrol mengingat kita
sudah lama tak jumpa.
Aku bingung,
menolak rasanya tak enak, menemaninyapun rasanya tak pantas walaupun ditempat
yang ramai. Tapi semakin aku fikir, tak apalah aku menemaninya, kali ini saja,
karena memang sudah lama aku tak bertemu dengannya.
Aku lebih banyak mendengarkan ceritanya, cerita
tentang keluarganya, anak-anaknya, istrinya. Akupun melakukan hal yang sama. Obrolan semakin meluas
bahkan kurasa
terlalu meluas, pembicaraanpun semakin tak terarah. Kamipun
mengungkit-mengungkit kejadian masa lalu ketika jaman sekolah dulu, kedekatan kita, rasa
yang pernah ada diantara kita. Entah apa yang merasuk dihatiku, ada kenyamanan
disana. Kenyamanan yang aku tahu akan melahirkan suatu kesalahan. Setelah kita
bertukar no hp, akupun berpamit pulang. Dia menawarkan untuk mengantarku sampai rumah tapi aku
menolak.
***
Sesampai di
rumah, kulihat anakku sedang asyik bermain boneka dengan pembantuku, ada rasa
bersalah di hatiku karena sudah meninggalkan dia cukup lama. Tapi entah ada apa
dengan aku saat itu, pikiranku selalu tertuju pada sosok tadi, temanku. Tak
lama ada bunyi sms di handphoneku, kulihat ternyata dari
temanku tadi. Dia bertanya apa aku sudah sampai rumah apa belum. Pertanyaan singkat,
sederhana, tapi kenapa kok buat hatiku senang. Aku menjawab smsnya itu seperlunya saja.
Hari sudah malam, saatnya aku tunggu suamiku
pulang. Tapi alangkah kecewanya aku ketika suamiku mengabarkan kalau dia harus
rapat mendadak keluar kota dan baru pulang besok pagi. Kesal, jengkel, marah,
kenapa harus selalu sibuk, padahal uang bukan segalanya walaupun memang
segalanya butuh uang. Disaat kesal itu, tiba-tiba temenku telepon, akhirnya
akupun menghabiskan waktuku dengan mengobrol dengannya. Kesepian ini sedikit
terobati, walaupun hati kecilku sebenarnya berontak.
***
Hari berganti
hari, hubungan aku dengan temanku semakin dekat, seperti ABG yang sedang jatuh
cinta. Akal sehatpun sudah tak dipakai, kesetiaan terhadap pasanganpun sudah
tak kita pedulikan. Menghabiskan waktu bersama menjadi rutinitas buat kita.
Anak dan suamipun kadang sudah tak aku hiraukan. Setan apa yang merasuk
dipikiranku saat itu. Entahlah…
Aku mulai membanding-bandingkan dia dengan suamiku.
Dia mempunyai sifat yang jauh berbeda dengan suamiku. Kelembutan dan
perhatiannya membuatku terpesona. Cinta lama bersemi kembali mungkin itu yang
kurasakan saat itu. Ada rasa bersalah, namun aku tak mampu menolaknya. Kadang
aku bertanya dalam hati, apa ini perselingkuhan? Jika memang benar, begitu rendahnya aku.
Bulanpun
berganti…akupun merasakan semakin jauh dengan keluargaku. Anakkupun sekarang
sudah menjadi anak pengasuhnya, suamikupun sekarang sudah hampir tak pernah aku
urus. Setiap suamiku tanya, kenapa aku sering pergi, aku selalu menjawab dengan ketus,
“Aku bosan di rumah...”.
Pernah suatu
saat suamiku marah dengan sikapku ini, tapi aku tak peduli. Suamiku bisa pergi
kapan saja, kenapa aku tidak.
***
Hari itu hari
sabtu. Sabtu sore tepatnya, minggu ketiga dibulan maret. Sudah dua bulan
berarti kedekatan aku dengan laki-laki dimasa laluku. Pukul 16.00 kita sepakat
bertemu di café kesayangan kita. Namun karena anakku rewel, jadinya aku telat datang menemui dia. Dengan
sedikit marah aku suruh pembantuku membujuk anakku. Hati kecilku masih meronta,
ketika melihat anakku lebih nyaman dengan pembantuku daripada aku. Namun
lagi-lagi setan itu menghancurkan kegalauan hatiku. Yang ada dipikiranku
bagaimana caranya aku bisa menemui dia secepatnya.
Kuputuskan untuk
memakai sepeda motor, walaupun suamiku selalu melarang keras aku untuk
memakainya. Tapi aku tak peduli. Kukendarai dengan cepat, setengah ngebut. Dan
Ya Allah…dibelokkan itu terlihat ada mobil yang melaju sangat kencang, akupun
tak bisa menahan sepeda motorku. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
***
Dua hari aku tak
sadarkan diri, terkujur di ruangan rumah sakit. Masih untung tak ada yang cacat
dalam tubuhku. Kulihat ada suamiku tertidur pulas disisiku, sambil memegang tanganku
erat. Ku bangunkan dia, diapun sangat bahagia aku sudah sadar.
Suamiku berkata, ”Ibu…sudah sadar, alhamdulillah…aku
panik sekali, kita kangen senyum Ibu…”. Entah apa yang kurasa saat itu. Ingin
rasanya aku mengutuk diriku sendiri, ingin rasanya aku memarahi diriku sendiri.
Tak terasa air mataku mengalir, suamiku dengan penuh kasih menghapus air mata
ini. Entah air mata bahagia atau air mata penyesalan.
Siang itu
waktunya pemeriksaan rutin. Dua orang suster masuk ke ruanganku. Salah satu suster berkata
padaku…”Ibu beruntung sekali dapat suami seperti Bapak…dia selalu terjaga, dia selalu mendoakan Ibu selama Ibu tak sadarkan diri...”. Aku hanya tersenyum
kecil.
***
Sekitar seminggu
aku berada di rumah sakit, tak terlihat batang hidung laki-laki yang sudah
menggodaku itu. Yang ada hanya suamiku. Dia dengan sabar merawatku, menjagaku,
melindungiku, memberiku kasih sayang, walaupun dia tak tahu seperti apa
istrinya ini. Suamiku yang aku rasa tak punya kelembutan, tak punya sifat-sifat
memanjakan, tak punya perhatian, ternyata salah. Betapa hinanya aku.
Dokter
membolehkan aku pulang siang itu. Bahagianya aku, karena sejak aku di rumah sakit
aku tak pernah bertemu anakku, bidadari kecilku, sudah lama rasanya aku tak
menyebutnya dengan kata itu. Setibanya di rumah, bidadari kecilku
itu langsung memelukku, pelukan yang sudah lama tak kurasa, pelukan indah dari
seorang buah hati.
Hari semakin
berlalu, tubuhku pun sudah normal seperti biasa. Begitupun hatiku. Rasa
bersalah masih menyelimutiku dan pasti akan terus menyelimutiku setiap waktu. Kulihat siang itu
bidadari kecilku sedang bermain dengan Ayahnya, mereka tampak kelelahan dan akhirnya
tertidur pulas. Kulihat wajah-wajah yang kucinta. Kudekati mereka, kutatap
mereka.
***
Robb, berapapun banyaknya dosaku
pada-MU, aku tetaplah hamba-MU yang merindukan maaf-MU…ampuni aku…Ampuni jika aku
tak bisa menjaga hati ini. Aku tak bisa menjaga amanah-MU, tak bisa
membahagiakan titipan-MU, anak dan suamiku. Namun aku tak sanggup jika Engkau
mengambil mereka dari sisiku saat ini.
Maafkan aku
bidadari kecilku. Engkau terlahir dari rahimku, engkau penyempurna hidupku,
seandainya engkau sudah sedikit mengerti tentang kesalahanku, pasti engkau tak
akan memaafkanku. Dan aku yakin engkaupun pasti malu mengakui aku sebagai Ibumu, namun bidadariku…
sekotor apapun aku, aku tetap Ibumu. Ibumu yang tak akan pernah putus mencintaimu.
Dan untukmu
suamiku….jika saat ini aku mempunyai keberanian untuk mengungkap semuanya,
pasti akan aku lakukan. Namun, aku hanyalah seorang pecundang yang takut
kehilangan. Maafkan aku suamiku…saat ini aku belum bisa mengutarakan apa yang
terjadi karena aku belum siap kehilanganmu. Aku begitu takut kehilanganmu,
walaupun aku tahu, kesalahan itu akan menhantuiku setiap waktu. Tapi…untuk saat
ini saja, aku ingin melupakan semuanya, aku ingin mengembalikan aku yang dulu,
aku ingin menebus semua kesalahanku, walaupun mungkin aku dirasa terlampau
egois.
Suamiku…maafkan aku…walaupun kata maaf itu hanya bisa aku ucapkan
didalam hati. Hanya didalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar