17 Mei 2012

Kesalahan Itu


Penyesalan memang tak pernah datang diawal. Penyesalan selalu mendatangkan kekecewaan buatku sendiri ataupun buat orang lain. Walaupun semua mendatangkan hikmah, namun kesalahan itu tak akan pernah aku lupakan. Kesalahan besar dalam hidupku.

Pernikahan Kami sudah berjalan 10 tahun. Kebahagiaan semakin lengkap ketika lahir bidadari kecilku disaat pernikahanku berjalan lima tahun. Memang waktu yang cukup lama untuk bersabar menanti kehadiran buah hati Kami. Namun, kesabaran itu terbayar sudah ketika bidadari itu terlahir ke dunia. Amanah yang harus Kami jaga.

Suamiku tipe orang yang tegas, mungkin sedikit keras. Tidak ada istilah romantis dalam benaknya, mungkin karena sudah sifat dia yang seperti itu. Tak pernah ada candle light dinner, tak pernah ada kado-kado ulang tahun, tak pernah ada perayaan ulang tahun pernikahan seperti yang sering dilakukan pasangan suami istri di sinetron-sinetron. Ya…mungkin itu hanya sinetron yang kadang penuh kebohongan. Tanggungjawabnya yang besar terhadap keluarga membuat dia menjadi pekerja keras. Hampir tak ada waktu untuk keluarga. Terkadang weekend pun dia habiskan di kantor. Itulah suamiku. Tapi aku mencintainya…sangat mencintainya.

Sementara aku…aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang kuhabiskan seluruh waktuku untuk keluarga kecilku. Untuk suami dan anakku. Tapi aku bahagia melihat anak dan suamiku selalu tersenyum. Walaupun kadang kejenuhan selalu menyelimuti hari-hariku.

***

Awal bulan Januari…salah satu kegiatan rutinku setiap bulan yaitu belanja bulanan ke swalayan. Segala kebutuhan suami dan anakku pasti aku utamakan. Seperti biasa, hari itu aku berniat untuk berbelanja, aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena jarak antara rumah dan swalayan itu cukup jauh. Maklum Kami tinggal di sudut kota.

Tiba di swalayan aku langsung memilih barang-barang yang diperlukan keluargaku, aku sudah catat semua keperluan itu. Ditengah-tengah kesibukan aku memilih, tiba-tiba dari arah belakang ada seorang laki-laki menyapaku. Aku ingat-ingat, ternyata dia temanku waktu sekolah di SMU, teman dekat tepatnya. Aku sempat kaget melihat dia ada didepanku. Ku lihat tak pernah ada yang berubah dari dia. Tetap seperti dulu.

“Halo…masih ingat aku?”sapanya. Sesaat aku masih tertegun, serasa tak percaya dengan apa yg kulihat.

“Tentu saja...” jawabku singkat.

Kamipun mengobrol, hingga tak terasa sampai juga didepan kasir untuk membayar semua belanjaanku. Setelah semua dibayar, aku permisi untuk pamit pulang karena bidadari kecilku pasti sudah menungguku. Anakku aku tinggal bersama pembantuku di rumah. Namun temanku itu malah mengajakku untuk menemaninya minum kopi sambil ngobrol-ngobrol mengingat kita sudah lama tak jumpa.

Aku bingung, menolak rasanya tak enak, menemaninyapun rasanya tak pantas walaupun ditempat yang ramai. Tapi semakin aku fikir, tak apalah aku menemaninya, kali ini saja, karena memang sudah lama aku tak bertemu dengannya.

Aku lebih banyak mendengarkan ceritanya, cerita tentang keluarganya, anak-anaknya, istrinya. Akupun melakukan hal yang sama. Obrolan semakin meluas bahkan kurasa terlalu meluas, pembicaraanpun semakin tak terarah. Kamipun mengungkit-mengungkit kejadian masa lalu ketika jaman sekolah dulu, kedekatan kita, rasa yang pernah ada diantara kita. Entah apa yang merasuk dihatiku, ada kenyamanan disana. Kenyamanan yang aku tahu akan melahirkan suatu kesalahan. Setelah kita bertukar no hp, akupun berpamit pulang. Dia menawarkan untuk mengantarku sampai rumah tapi aku menolak.

***

Sesampai di rumah, kulihat anakku sedang asyik bermain boneka dengan pembantuku, ada rasa bersalah di hatiku karena sudah meninggalkan dia cukup lama. Tapi entah ada apa dengan aku saat itu, pikiranku selalu tertuju pada sosok tadi, temanku. Tak lama ada bunyi sms di handphoneku, kulihat ternyata dari temanku tadi. Dia bertanya apa aku sudah sampai rumah apa belum. Pertanyaan singkat, sederhana, tapi kenapa kok buat hatiku senang. Aku menjawab smsnya itu seperlunya saja.

Hari sudah malam, saatnya aku tunggu suamiku pulang. Tapi alangkah kecewanya aku ketika suamiku mengabarkan kalau dia harus rapat mendadak keluar kota dan baru pulang besok pagi. Kesal, jengkel, marah, kenapa harus selalu sibuk, padahal uang bukan segalanya walaupun memang segalanya butuh uang. Disaat kesal itu, tiba-tiba temenku telepon, akhirnya akupun menghabiskan waktuku dengan mengobrol dengannya. Kesepian ini sedikit terobati, walaupun hati kecilku sebenarnya berontak.

***

Hari berganti hari, hubungan aku dengan temanku semakin dekat, seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Akal sehatpun sudah tak dipakai, kesetiaan terhadap pasanganpun sudah tak kita pedulikan. Menghabiskan waktu bersama menjadi rutinitas buat kita. Anak dan suamipun kadang sudah tak aku hiraukan. Setan apa yang merasuk dipikiranku saat itu. Entahlah…

Aku mulai membanding-bandingkan dia dengan suamiku. Dia mempunyai sifat yang jauh berbeda dengan suamiku. Kelembutan dan perhatiannya membuatku terpesona. Cinta lama bersemi kembali mungkin itu yang kurasakan saat itu. Ada rasa bersalah, namun aku tak mampu menolaknya. Kadang aku bertanya dalam hati, apa ini perselingkuhan? Jika memang benar, begitu rendahnya aku.

Bulanpun berganti…akupun merasakan semakin jauh dengan keluargaku. Anakkupun sekarang sudah menjadi anak pengasuhnya, suamikupun sekarang sudah hampir tak pernah aku urus. Setiap suamiku tanya, kenapa aku sering pergi, aku selalu menjawab dengan ketus, “Aku bosan di rumah...”.

Pernah suatu saat suamiku marah dengan sikapku ini, tapi aku tak peduli. Suamiku bisa pergi kapan saja, kenapa aku tidak.

***

Hari itu hari sabtu. Sabtu sore tepatnya, minggu ketiga dibulan maret. Sudah dua bulan berarti kedekatan aku dengan laki-laki dimasa laluku. Pukul 16.00 kita sepakat bertemu di café kesayangan kita. Namun karena anakku rewel, jadinya aku telat datang menemui dia. Dengan sedikit marah aku suruh pembantuku membujuk anakku. Hati kecilku masih meronta, ketika melihat anakku lebih nyaman dengan pembantuku daripada aku. Namun lagi-lagi setan itu menghancurkan kegalauan hatiku. Yang ada dipikiranku bagaimana caranya aku bisa menemui dia secepatnya.

Kuputuskan untuk memakai sepeda motor, walaupun suamiku selalu melarang keras aku untuk memakainya. Tapi aku tak peduli. Kukendarai dengan cepat, setengah ngebut. Dan Ya Allah…dibelokkan itu terlihat ada mobil yang melaju sangat kencang, akupun tak bisa menahan sepeda motorku. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri.

***

Dua hari aku tak sadarkan diri, terkujur di ruangan rumah sakit. Masih untung tak ada yang cacat dalam tubuhku. Kulihat ada suamiku tertidur pulas disisiku, sambil memegang tanganku erat. Ku bangunkan dia, diapun sangat bahagia aku sudah sadar.

Suamiku berkata, ”Ibu…sudah sadar, alhamdulillah…aku panik sekali, kita kangen senyum Ibu…”. Entah apa yang kurasa saat itu. Ingin rasanya aku mengutuk diriku sendiri, ingin rasanya aku memarahi diriku sendiri. Tak terasa air mataku mengalir, suamiku dengan penuh kasih menghapus air mata ini. Entah air mata bahagia atau air mata penyesalan.

Siang itu waktunya pemeriksaan rutin. Dua orang suster masuk ke ruanganku. Salah satu suster berkata padaku…”Ibu beruntung sekali dapat suami seperti Bapak…dia selalu terjaga, dia selalu mendoakan Ibu selama Ibu tak sadarkan diri...”. Aku hanya tersenyum kecil.

***

Sekitar seminggu aku berada di rumah sakit, tak terlihat batang hidung laki-laki yang sudah menggodaku itu. Yang ada hanya suamiku. Dia dengan sabar merawatku, menjagaku, melindungiku, memberiku kasih sayang, walaupun dia tak tahu seperti apa istrinya ini. Suamiku yang aku rasa tak punya kelembutan, tak punya sifat-sifat memanjakan, tak punya perhatian, ternyata salah. Betapa hinanya aku.

Dokter membolehkan aku pulang siang itu. Bahagianya aku, karena sejak aku di rumah sakit aku tak pernah bertemu anakku, bidadari kecilku, sudah lama rasanya aku tak menyebutnya dengan kata itu. Setibanya di rumah, bidadari kecilku itu langsung memelukku, pelukan yang sudah lama tak kurasa, pelukan indah dari seorang buah hati.

Hari semakin berlalu, tubuhku pun sudah normal seperti biasa. Begitupun hatiku. Rasa bersalah masih menyelimutiku dan pasti akan terus menyelimutiku setiap waktu. Kulihat siang itu bidadari kecilku sedang bermain dengan Ayahnya, mereka tampak kelelahan dan akhirnya tertidur pulas. Kulihat wajah-wajah yang kucinta. Kudekati mereka, kutatap mereka.

***

Robb, berapapun banyaknya dosaku pada-MU, aku tetaplah hamba-MU yang merindukan maaf-MU…ampuni aku…Ampuni jika aku tak bisa menjaga hati ini. Aku tak bisa menjaga amanah-MU, tak bisa membahagiakan titipan-MU, anak dan suamiku. Namun aku tak sanggup jika Engkau mengambil mereka dari sisiku saat ini.

Maafkan aku bidadari kecilku. Engkau terlahir dari rahimku, engkau penyempurna hidupku, seandainya engkau sudah sedikit mengerti tentang kesalahanku, pasti engkau tak akan memaafkanku. Dan aku yakin engkaupun pasti malu mengakui aku sebagai Ibumu, namun bidadariku… sekotor apapun aku, aku tetap Ibumu. Ibumu yang tak akan pernah putus mencintaimu.


Dan untukmu suamiku….jika saat ini aku mempunyai keberanian untuk mengungkap semuanya, pasti akan aku lakukan. Namun, aku hanyalah seorang pecundang yang takut kehilangan. Maafkan aku suamiku…saat ini aku belum bisa mengutarakan apa yang terjadi karena aku belum siap kehilanganmu. Aku begitu takut kehilanganmu, walaupun aku tahu, kesalahan itu akan menhantuiku setiap waktu. Tapi…untuk saat ini saja, aku ingin melupakan semuanya, aku ingin mengembalikan aku yang dulu, aku ingin menebus semua kesalahanku, walaupun mungkin aku dirasa terlampau egois. 

Suamiku…maafkan aku…walaupun kata maaf itu hanya bisa aku ucapkan didalam hati. Hanya didalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar