23 Des 2013

Lukisan Hati

Raka adalah sahabat terbaikku. Kami sudah cukup lama dekat, mungkin karena Ibuku juga bersahabat dengan Ibunya Raka. Kadang kita suka jalan bersama. Mungkin kalau orang lihat, kita seperti keluarga. Setiap ada masalah Raka selalu cerita padaku, begitupun sebaliknya. Baik itu masalah keluarga ataupun masalah tentang cinta. Raka sering cerita tentang seorang wanita. Wanita yang dia suka atau sebaliknya. Akupun selalu menanggapinya dengan baik. Kalau diperlukan, akupun selalu memberi saran.

Entah kenapa dan awalnya bagaimana. Setiap dia cerita tentang Ayu, aku selalu cemburu. Ayu adalah wanita yang sedang didekati Raka saat itu. Ayu memang cantik, dia juga baik. Aku juga kenal Ayu walaupun tidak kenal dengan dekat.

Waktu berlalu, aku mendengar kalau Ayu dan Raka sudah menjalin hubungan. Bahkan Ayu sudah dikenalkan pada Ibunya Raka. Mendengar hal itu, hatiku terasa sakit. Bukan karena aku takut kehilangan sahabatku. Tapi aku merasakan perasaan lain. Apa mungkin aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri?

16 Des 2013

Wanita-Wanita Suamiku

Entah apa yang harus aku rasakan, apa aku harus berbahagia atau bersedih.  Apa aku harus merasa beruntung ataukah sebaliknya. Aku sudah menikah sekitar lima tahun dan sudah mempunyai satu orang putri. Kata orang suamiku berwajah ganteng. Akupun tak tahu kenapa dia mau menikah dengan wanita seperti aku yang biasa saja. Karena kalau aku lihat, dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dariku. Mungkin ini sudah jodoh, hanya itu yang ada difikiranku ketika hatiku berulang-ulang kali bertanya.

Sampai saat ini aku tidak tahu apa yang dikerjakan suamiku diluar, karena memang sejak dari Kami menikah, dia tidak bekerja. Aku banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagai istri, aku sangat kecewa dengan suamiku. Karena yang aku tahu dulu suamiku mengaku kalau dia bekerja disebuah perusahaan besar di kota ini. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur menikah dan tak perlu ada yang disesali...

Setiap pagi suamiku pergi dari rumah dan kembali lagi pada malam hari. Setiap aku tanya, dia selalu bilang kalau dia sedang berusaha mencari uang untuk menafkahi keluarga. Dan aku harus percaya pada dia walaupun hati kecilku sama sekali tak mempercayainya.

Suamiku mempunyai watak keras. Setiap aku menanyakan apa yang dia kerjakan, dia selalu menjawab dengan nada tinggi yang membuatku sangat takut.

***

Suatu hari, aku bermaksud untuk berbelanja di warung dekat rumah. Aku bertemu dengan tetanggaku dan Kamipun ngobrol. Aku sangat kaget ketika tetanggaku bilang kalau suamiku punya wanita lain. Ketika aku tanya apa dia lihat sendiri kelakuan suamiku, tetanggaku bilang kalau kekasih suamiku itu adalah majikannya sendiri. Namanya Ibu Rena.

10 Des 2013

Pelajaran di Masa Lalu

Aku hanya ingin melindungi Sandra, satu-satunya keponakanku dari almarhumah Kakakku yang meninggal ketika melahirkan dia. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Orangtuaku meninggal dan meninggalkan banyak warisan. Perusahaan dan sejumlah asset lainnya seperti rumah, mobil dan lainnya. Semua harta warisan itu, Kakakku dan aku yang mengurus. Sekarang, mungkin hanya aku yang menanggung beban semuanya.

Jika aku bisa memilih, aku ingin memilih menjadi orang yang biasa saja. Tanpa kekayaan yang melimpah seperti ini. Semua terasa menjadi beban bagiku.

***

Mas Andi adalah suami almarhumah Kakakku, orangnya sangat baik. Begitupun dengan Ibunya. Sejak Kakakku meninggal, otomatis aku menjadi dekat dengannya. Dekat sebagai Aakak dan adik saja tak lebih dari itu. Namun entah kenapa, beberapa hari kebelakang Mas Andi selalu memintaku untuk menjadi istrinya.

Jelas aku menolak, aku tak mungkin menikah dengan suami Kakakku sendiri, walaupun pada kenyataannya Kakakku saat ini sudah meninggal. Tapi aku tak mungkin mengkhianati Kakakku. Terlebih lagi tak ada sedikitpun rasa cintaku pada dia.

Selalu dan selalu dia membujukku dengan alasan Sandra. Begitupun dengan Ibunya, beliau selalu merayuku untuk mau menikah dengan Mas Andi. Akhirnya akupun menyerah dan akupun menikah dengannya.

***

Sudah sekitar dua bulan aku menikah dengan Mas Andi. Semua berubah. Sifatnya yang penyayang kini berubah 180 derajat.

Tertipukah aku?

6 Des 2013

Dan Ternyata Cinta

Setahun sudah aku divonis menderita gagal ginjal. Setiap dua minggu sekali aku harus cuci darah. Bukan hanya biaya yang harus keluar banyak, tetapi juga tenaga yang mulai terkuras habis. Aku akan segera meninggal. Hanya itu yang bisa aku rasakan saat itu.

Sejujurnya, aku sudah tidak punya harapan untuk hidup dan sepertinya kedua orangtuaku pun sudah pasrah. Memang, masih ada sebersit harapan, aku ingin hidup lebih lama lagi. Mengingat usiaku yang masih muda. Usiaku baru menginjak 21 tahun.

Aku masih menjalankan kuliahku, aku berpura-pura sehat seperti orang-orang sekitarku. Aku tak ingin dikasihani. Aku ingin mandiri walaupun keadaanku memang sangat menyedihkan.

***

Siang itu, aku sedang jalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa tubuhku tak bisa bergerak. Terasa kaku, bahkan aku sulit untuk bernafas.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Ketika kubuka mata, aku sudah berada ditempat yang sama sekali tidak aku inginkan. Rumah Sakit.

13 Nov 2013

Satu Halaman Lagi

Aku bukan seorang penulis seperti halnya dia, sahabat karibku. Aku memang tak sehebat dia, aku tak secerdas dia dan akupun tak sepintar otaknya. Namun aku pasti mampu menyelesaikan ini semua.
Indah...sahabatku, kita sudah bersahabat dari sejak kita duduk di bangku SMP. Aku tahu semua tentangnya, termasuk dengan perasaannya.

Sudah sejak lama Indah menyimpan perasaan pada laki-laki ini. Laki-laki yang selalu Indah bilang, “seperti Pangeran”. Rio namanya. Mereka berkenalan sejak pertama masuk SMP. Rio memang ganteng, pintar dan ramah.  Tak sedikit wanita yang tergila-gila pada dia, termasuk Indah.

Siang itu, aku melihat Indah pergi ke sekolah diantar Rio. Aku melihat ada kegembiraan yang luar biasa dari wajahnya ketika Indah menghampiriku. Segala cerita dia berikan padaku di pagi itu. Aku bahagia, ada harapan yang indah untuk Indah.

***

Tiga tahun kita di bangku SMP, tak ada kejelasan yang berarti dengan hubungan mereka. Semua menggantung begitu saja. Sampai akhirnya, Indah memutuskan untuk meneruskan sekolah ke SMA yang sama dengan Rio. Mungkin Indah masih ingin mengejar Rio.

Berbeda dengan aku, aku memilih sekolah lain karena beberapa pertimbangan. Indah dan Rio memang berasal dari keluarga terpandang. Mereka bebas bersekolah dimanapun dan semahal apapun. Sementara aku, aku tak bisa seperti mereka. Walaupun kita sudah berbeda sekolah, Indah tetap menjadi Indah yang aku kenal. Kita masih sering berkomunikasi. Seminggu sekali, kita menghabiskan libur bersama-sama. Indah masih sering bercerita seputar Rio, pangeran cintanya.

***

Sore itu, aku disuruh Ibu mengantarkan jahitan ke salah satu pelanggan Ibu. Tempatnya agak jauh juga dari rumah. Aku memutuskan untuk naik angkot walaupun waktu sudah tidak memungkinkan karena sudah terlalu sore dan aku pasti akan pulang malam. Namun, karena aku tak punya uang untuk bayar ojek, jadi terpaksa aku harus naik angkot saja.

Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 dan aku masih di halte menunggu angkot lewat. Sulit memang, kalau sudah jam segini angkot lewat. Maklum, aku tinggal di wilayah pinggir kota.
Sambil menunggu angkot, aku mainkan handphoneku. Belum juga muncul angkot itu. Masih asyik dengan handphoneku, tiba-tiba…..bunyi klakson motor membuyarkan semuanya.

7 Nov 2013

Tak Cukup Satu Kali

Untuk yang kedua kalinya aku harus memperjuangkan cintaku untuk dia. Dia istriku. Seharusnya Kami bahagia dengan usia pernikahan Kami yang masih seumur jagung. Tapi semua hilang ketika peristiwa itu datang. Aku anggap ini musibah, aku anggap ini cobaan dalam hidupku.

***

Aku mengenal istriku dari Ayah dan Ibuku. Bisa dibilang kalau Kami menikah karena perjodohan. Aku jatuh cinta padanya ketika pertama kali aku melihatnya. Dia wanita yang sangat cantik dan cerdas. Namun berbeda dengan apa yang dia rasakan padaku, dia sempat menolak perjodohan Kami.

Perjuanganku untuk mendapatkan cintanya tidak berhenti sampai disana. Memang Kami dijodohkan, tapi aku tidak pernah memaksakan kehendakku untuk memperistri dia walaupun jika aku mau, aku mampu melakukannya. Tapi aku tak seperti itu, aku ingin menikah dengan rasa cinta.

Sekitar satu tahun, aku mengejarnya. Berkali-kali mertuaku memberikan saran padaku untuk menikah secepatnya walaupun istriku belum mencintaiku. Namun aku menolak. Aku akan berusaha supaya Tya mencintaiku.

Berbagai cara sudah aku lakukan, bukan karena aku kuat, bukan karena aku tangguh. Karena aku juga hanya manusia biasa yang terkadang ingin menyerah. Namun, semua aku tepis karena aku sangat mencintainya.

***

Menginjak tahun kedua, sikapnya mulai melumer, tidak seketus sebelumnya. Aku bisa melihat senyum terindah yang belum pernah dia berikan untukku. Hingga akhirnya dia mengatakan kalau dia bersedia menjadi pendamping hidupku selamanya.

Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia saat itu. Tidak ada satu orangpun yang bisa menandingi kebahagiaanku saat itu. Kami akan segera menikah atas dasar cinta.

***

Menginjak enam bulan usia pernikahan Kami, istriku positif hamil. Aku bersyukur, sangat bersyukur sekali. Kedua orangtua Kamipun sangat bahagia. Ini adalah cucu pertama mereka. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sementara istriku adalah anak tunggal.

Kebahagiaanku bertambah ketika aku naik jabatan di kantor. Gajiku juga cukup besar, mungkin inilah rejeki sijabang bayi. Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Salwa hadir dalam hidupku. Sembilan bulan dalam kandungan istriku akhirnya sekarang aku bisa memeluknya. Bayi kecilku itu mirip sekali dengan Ibunya. Sangat cantik sekali.

Hidupku sangat bahagia. Sebelum peristiwa itu datang...

4 Nov 2013

Maafkan Aku, Sari...

Satu bulan sudah aku resmi menjadi istri Mas Andi. Suami yang mungkin menjadi suami idaman setiap wanita. Baik, soleh, dan mapan. Sungguh aku sangat beruntung. Namun, aku yakin diapun tidak salah memilih wanita. Selain cantik, aku juga wanita yang sangat cerdas.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Kita memang bukan dari keluarga berada seperti Mas Andi. Ibu dan Ayahku hanya seorang karyawan biasa. Namun Kami hidup berkecukupan.

Berbeda dengan keluarga Mas Andi, orangtuanya memang seorang pengusaha sukses, Kakaknya tinggal diluar negeri, katanya sedang berobat. Memang, sejak aku kenal dengan Mas Andi, aku belum pernah bertemu dengan Kakaknya. Tapi Mas Andi janji setelah Kami menikah, aku akan dikenalkan pada Kakaknya. Mungkin tinggal menunggu waktu saja.

Mas Andi mengenalku sebagai seorang anak tunggal. Aku sengaja tidak memperkenalkan Adikku Sari padanya. Karena sejujurnya aku malu mempunyai Adik seperti Sari yang mempunyai keterbelakangan mental. Mungkin aku Kakak yang jahat. Namun aku yakin siapapun yang berada diposisi aku saat ini mungkin saja melakukan hal yang sama.

1 Nov 2013

Hari Keenam

Rasanya seperti mimpi ketika aku divonis menderita peyakit yang mematikan ini. Aku harus meninggalkan semua yang aku miliki saat ini. Keluarga yang begitu menyayangiku, teman dan sahabat yang selalu ada bersamaku dan seseorang yang begitu mencintaiku dan akupun sangat mencintainya. Mungkin, inilah jalan hidupku.

Dokter berkata kemungkinan hidupku hanya tinggal beberapa bulan kedepan, walaupun memang itu hanya analisis dokter. Tuhan pulalah yang menentukan hidup mati seseorang. Namun, sungguh aku sangat takut.

Selain keluargaku, Dika...dialah orang yang selalu membuatku tersenyum disaat aku seperti ini. Dia selalu menemani hari-hariku dan memberi semangat kalau aku pasti berumur panjang. Aku sudah berhubungan sejak duduk di bangku sekolah menengah, terlalu kecil memang usia Kami saat itu untuk memutuskan berpacaran. Tapi Dika sangat baik dan tidak pernah berbuat macam-macam. Makanya keluargaku juga sangat sayang pada dia.

Penyakitku tambah hari tambah parah. Sedikit lelah saja, aku bisa pingsan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Sedih sekali memang, namun aku tak ingin mati cepat.

7 Okt 2013

Dua Tempat

Masa lalu...setiap orang pasti punya masa lalu. Indah ataupun sebaliknya. Begitupun dengan aku. Entah sampai kapan perasaan ini akan hilang.

Aku seorang laki-laki yang terlihat kuat. Aku seorang laki-laki yang mempunyai tanggungjawab besar terhadap keluargaku. Bukan hanya pada anak dan istriku, tapi juga pada Ibu dan adik-adikku. Aku dikenal orang sebagai laki-laki tangguh yang hampir tak pernah mengeluh.

Namun aku hanya manusia biasa yang ketika mengingatnya hatiku terasa teriris. Wanita yang pernah mencintaiku begitu dalam dan aku tinggalkan begitu saja.

Aku akui, saat itu banyak sekali wanita yang jatuh cinta padaku. Entah kenapa, akupun tak pernah mengerti, namun itulah kenyataannya. Termasuk dia...wanita yang sangat mencintaiku dengan kondisi apapun.

Aku mengenalnya lewat teman dekatku. Aku tidak tahu sebelumnya padahal kita satu sekolah. Dia memang tidak begitu dikenal orang, makanya ketika aku berkenalan dengannya aku sempat heran, kenapa aku baru melihat sosok dia. Tapi tak masalah buatku.

Penyesalan Tak Berujung

Rifa anakku, aku selalu ingin memanggilnya, aku selalu ingin memeluknya dan aku selalu ingin disampingnya setiap saat. Ini sebuah penyesalan terpanjang dalam hidupku dan tidak akan pernah berujung.

***

Aku mempunyai masa lalu yang sangat kelam. Menjadi wanita simpanan seorang direktur sebuah perusahaan memang membuatku harus kehilangan segalanya, termasuk anak perempuanku Rifa.

Aku mengenal laki-laki itu ketika aku bekerja di perusahaannya. Laki-laki dengan perawakan nyaris sempurna. Sukses dan sangat baik. Pak Anton namanya.

Aku memang berasal dari keluarga yang sederhana. Namun aku punya fisik yang kata orang sangat cantik. Aku seorang wanita yang mandiri, supel dan cerdas. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku dan jatuh cinta padaku. Namun aku sudah janji, aku akan mencari laki-laki kaya untuk memperbaiki perekonomianku dan keluargaku. Mungkin Pak Anton laki-laki yang cocok untukku.

Aku selalu mencoba untuk mendekati Pak Anton, walaupun aku tahu beliau sudah berkeluarga. Bukan hal yang sulit untuk mendekatinya, karena aku punya fisik yang tak bisa diragukan. Pelan-pelan namun pasti akhirnya aku bisa meraihnya.

1 Okt 2013

Kekagumanku

Kerja praktek salah satu mata kuliah ini membuatku merasa tak nyaman. Kami diharuskan melaksanakan kerja praktek ini disalah satu desa, walaupun memang bukan desa terpencil. Kurang lebih satu bulan penuh Kami disana. Aku tak suka sawah, aku juga tak suka lumpur, tapi demi sebuah nilai, akupun harus memaksakan diri melewati itu semua.

Perbekalan selama satu bulan sudah aku persiapkan. Pakaian, makanan dan keperluan lainnya, aku  tinggal berangkat. Timku ada lima orang, dua perempuan dan tiga orang laki-laki. Semua sahabatku, jadi tidak terlalu sulit untuk kita beradaptasi satu sama lainnya.

Perjalanan Kami cukup panjang dan melelahkan. Tak terasa pedesaan yang akan Kami tinggali selama satu bulan sudah didepan mata. Aku melihat pemandangan yang sungguh indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Kami mengunjungi kantor kepala desa terlebih dahulu untuk melapor dan meminta izin tinggal didaerah ini. Ketika Kami menginjakan kaki di tanah, Kami disuguhi pemandangan sawah yang terhampar luas bak permadani hijau. Sungguh indah…Namun tetap saja aku tak suka suasana seperti ini.

24 Sep 2013

Depresimu Bukan Salahku

Laras adalah sahabat terbaikku, walaupun Kami bersahabat baru sekitar dua tahunan ketika Kami sama-sama baru duduk di bangku SMU. Tak terasa satu tahun lagi kita akan terpisah, namun aku yakin hubungan Kami tidak akan pernah terputus.

Tak terasa hari kelulusanpun tiba, Laras meneruskan kuliahnya sementara aku memilih untuk bekerja. Orangtuaku memang tak sekaya Laras. Laras akan kuliah diluar kota, namun dia janji setelah lulus nanti, dia akan kembali kesini.        

Hubungan persahabatan Kami masih berjalan, walaupun pertemuan Kami tidak sampai sebulan sekali.

***

Hari itu, aku sangat bahagia sekali ketika Laras mengabari aku kalau dia akan segera menikah. Aku sempat kaget karena aku tahu kuliah Laras belum selesai. Tapi Laras bilang, kalau dia akan cuti dulu dari kuliahnya.

Akupun datang dipernikahan Laras, dia tampak bahagia sekali. Tapi aku dengar kabar kalau setelah menikah Laras akan menetap di kota tempat laras kuliah dan tak akan pindah kesini lagi. Itu pilihan hidup Laras dan aku harus terima. Ada rasa takut kehilangan dia, namun persahabatan tidak akan terlepas hanya karena tempat yang jauh.

***

Setahun Laras menikah, dia sudah dikarunia anak perempuan, aku juga belum sempat melihat keponakanku itu karena jarak tempat tinggal Kami yang sangat jauh. Namun, suatu hari nanti aku pasti akan datang kesana.

20 Sep 2013

Masa Tua Kita

Siapapun tidak pernah bisa menerka apa yang akan terjadi didepan. Begitupun aku. Yang pasti saat ini aku bahagia.

Dulu, aku punya teman dekat, mungkin dia adalah cinta pertamaku. Aku mengenalnya ketika kita masih sama-sama duduk di bangku SMP. Dia tetanggaku, tetangga yang rumahnya tepat didepan rumahku. Dika…dia orang yang mengenalkan padaku tentang indahnya cinta.

***

Dika pindahan dari kota Jakarta, orangtuanya asli Jogja. Setahun sekali dia pindah rumah karena tugas dinas orangtuanya yang mengharuskan dia seperti itu. Namun, sejak SMP, Dika memilih tinggal bersama Neneknya. Rumahnya tepat didepan rumahku.

Umur Kami memang saat itu belum genap 17 tahun, namun entah kenapa bila Dika didekatku, aku merasa nyaman. Walaupun aku tak yakin, Dika merasakan hal yang sama. Namun ternyata, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, ketika kita masuk bangku SMU, Dika menyatakan perasaan cintanya dan aku sangat bahagia. Memang bukan waktu yang singkat untuk meyakinkan perasaan cintanya padaku.

19 Sep 2013

Ibu Ikhlas, Nak...

Sampai hari inipun, aku masih merasakan sakit ketika melahirkan anak semata wayangku. Namun aku bahagia karena hanya dia permata hatiku. Sampai hari ini dan kapanpun…

Nadia adalah gadis yang selalu aku rindukan, gadis yang selalu aku harapkan kehadirannya. Walaupun aku hanya bisa menatapnya dalam sebingkai foto.

***

Kami hidup berdua sejak dulu, sejak Ayah Nadia pergi entah kemana. Aku mencoba menafkahi Nadia seorang diri. Aku bekerja serabutan, tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes. Tak peduli seberapa banyak langkah yang sudah dijalani, tak peduli seberapa berat beban dipundakku. Aku hanya ingin Nadia bahagia dan menjadi “orang”.

Seiring berjalannya waktu, Nadia tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan mandiri. Bukan itu saja, Nadia termasuk anak yang cerdas. Sangat cerdas. Aku benar-benar bangga pada dia.

Tak terasa, Nadia menginjak usia dewasa, dia mau masuk perguruan tinggi. Belum terbayang saat itu darimana biaya sekolahnya. Mengingat saat ini biaya kuliah sangatlah mahal. Aku sudah mencoba meminjam uang sana sini namun tak ada yang memberi. Aku faham, mana ada orang yang percaya padaku dengan status pekerjaan yang tidak jelas.

5 Jun 2013

Seperti Dalam Novel

Aku sudah lama memperhatikan gerak gerik laki-laki itu setiap pagi dan menjelang senja. Aku hanya bisa memandang dia dari balik jendela rumah dan aku tak pernah tahu siapa dia.

Hari ini aku sengaja berada didepan rumah, ingin sekali aku melihatnya dari dekat. Penantianku tak begitu lama dan diapun hadir didepan mataku. Aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan saat itu. Aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat cepat sampai aku tak merasakan lagi diriku ada dimana. Entah perasaan apa. Mungkin ini yang orang bilang cinta.

Aku memang belum pernah merasakan ini sebelumnya, aku tidak pernah punya teman ataupun sahabat sejak kakiku lumpuh akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Mungkin aku minder karena aku yakin tak mungkin ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat sepertiku.

Jika yang kurasa itu cinta, rasanya aku seperti pungguk merindukan bulan. Aku ingin menghapus semua rasa yang ada tapi kenapa aku tak pernah bisa. Aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu, aku berusaha untuk tidak pernah melihatnya lagi, tapi sungguh aku tak sanggup.

Aku tidak pernah menyalahkan takdir dengan apa yang aku alami. Mungkin wanita lain yang tidak cacat seperti aku bisa mendapatkan apa yang dia harapkan tanpa harus merasa tidak nyaman sepertiku. Setidaknya mereka bisa berusaha walaupun hasil akhir tetap bukan kita yang menentukan. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak bisa.

28 Mei 2013

Lirik Fatin - Aku Memilih Setia


Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta
Mungkin engkau adalah salah satunya
Namun engkau datang disaat yang tidak tepat
Cintaku tlah dimiliki

Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu
Takkan mungkin untuk membagi cinta tulusmu
Dan aku memilih setia

Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Seribu kali logikaku untuk menolak
Tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku
Bila saja diriku ini masih sendiri
Pasti ku kan memilih...kan memilih mu...

Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu...
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

22 Mei 2013

Segudang Maklum Untukmu

Sampai hari ini aku masih merenung, apa yang sedang terjadi dengan anakku, anak semata wayangku. Sejak Ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dia menjadi anak yang sangat keras. Watak dan pribadinya sangat berbeda sekali dari yang dulu.

Tiga tahun yang lalu, anak lelakiku menikah dengan teman satu kuliahnya. Awalnya aku melihat rumah tangganya baik-baik saja. Namun setelah pernikahan mereka menginjak tahun kedua, menantuku sering mengeluhkan sifat buruk anakku. Sering terjadi pertengkaran dan tidak tanggung-tanggung, ketika pertengkaran itu terjadi, dia selalu main tangan. Bukan sekali dua kali tapi kejadian itu terjadi berkali-kali sampai akhirnya aku diminta menantuku untuk tinggal bersamanya.

Sudah sekitar satu tahun lamanya aku tinggal bersama anak dan menantuku. Dalam usia pernikahan mereka yang sudah terbilang cukup lama, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Aku selalu menasehati anakku untuk terus berusaha dan bersabar karena anak adalah titipan Tuhan. Faktor inilah salah satu pemicu mereka bertengkar.

Sejak aku tinggal bersama mereka, aku berharap anakku bisa berubah, setidaknya dia melihat keberadaan aku sebagai Ibunya, tetapi ternyata tidak. Wataknya masih tetap seperti itu. Hanya saja kalau mereka bertengkar tidak pernah main tangan lagi.

Sifat kasarnya sekarang bukan hanya terjadi pada istrinya, tetapi juga padaku. Terkadang perkataannya tidak enak untuk didengar. Tapi aku masih memakluminya. Walaupun sering aku menasehatinya, tapi setiap aku ajak bicara, dia selalu menghindar dan menghindar.

16 Mei 2013

Dua Hari yang Lalu

Neta nama sahabatku…sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Kita sudah bersahabat sejak kecil sampai sekarang. Hanya saja sekarang kita sangat jarang bertemu. Neta tinggal di kota Solo, sedangkan aku di Jakarta padahal kita sama-sama orang Bandung. Tapi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, persahabatan jarak jauh tidaklah menjadi halangan dalam berkomunikasi. Hampir tiap hari kita kontak walaupun lewat dunia maya. Neta orang yang sangat baik. Baik dalam hal apapun. Makanya aku merasa Neta adalah sahabat terbaikku.

Beberapa hari kebelakang aku merasa sangat kehilangan Neta. Aku telepon dia, handphonenya tidak aktif, aku sms pun selalu tidak terkirim. Aku cari dia di dunia mayapun, tidak pernah online. Aku fikir mungkin dia sedang sibuk.

Hari ini seperti biasa aku harus bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekitar pukul 7 aku sudah siap semuanya. Perjalanan dari kostan ke kantor sekitar setengah jam, jadi aku bisa sampai kantor pukul setengah 8, itupun kalau tidak macet.

Baru aku ambil tas kerjaku, aku dengar handphoneku berbunyi. Aku ambil handphoneku dari dalam tas. Agak kesal juga karena tasku sudah rapi. Tapi entah kenapa hatiku seolah tergerak untuk mengambil handphoneku.

Aku lihat, yang menelponku dari private number, tambah kesal dan malas saja rasanya. Sudah ganggu acara berangkat kerjaku, yang nelpon malah orang yang tidak jelas. Tapi terlanjur sudah ada di tangan, akhirnya aku angkat juga.

1 Mei 2013

Dia Masih Anakku

Seminggu yang lalu aku bertemu dengan seorang Nenek disebuah warung nasi tak jauh dari tempat aku tinggal. Wajahnya terlihat pucat, bukan karena sakit, tapi aku melihat seperti ada sesuatu yang beliau sembunyikan. Aku sesekali melihat kearahnya, Nenek tua itu hanya memberikan seulas senyum. Senyum keterpaksaan sepertinya.

Satu jam berlalu, aku memperhatikan Nenek tua itu hendak pergi dari warung nasi. Pelan-pelan beliau angkat badannya. Terlihat sedikit meringis ketika beliau mencoba berdiri dan beranjak dari tempat itu. Nenek tua yang sangat malang, kenapa tidak ada anak atau saudara yang mengantar beliau pergi, bisikku dalam hati. Teringat jika suatu hari nanti, ketika badanku sudah renta dan aku seperti Nenek itu. Entah apa yang aku rasa.

Nenek itu berada dipinggir jalan, aku kira beliau akan memberhentikan angkot atau bis yang lewat. Tapi sudah beberapa bis dan angkot yang lewat tidak dia hiraukan. Ku lihat wajahnya sangat kebingungan. Tak tega rasanya melihat kondisi tua renta berada dipinggir jalan.

Aku coba untuk menghampiri dan bertanya mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menolongnya.

“Nenek, mau kemana? Mungkin ada yang bisa saya bantu...?” tanyaku.

Si nenek tak menjawab, beliau hanya menatapku tajam dan perlahan butiran-butiran Kristal jatuh dari matanya.

25 Apr 2013

Lelaki Tanpa Nama

Terlalu lama aku memperhatikan sosok setengah baya yang ada di stasiun kereta itu. Sosok dengan perawakan tinggi kurus, kulit sawo matang dan terlihat banyak kerutan di mukanya. Sesekali aku memalingkan muka ketika matanya menuju kearahku seolah dia merasa tahu aku sedang memperhatikannya. Aku tak ingin membuatnya resah.

Hampir setiap hari ketika senja tiba aku melihat sosok itu, entah kenapa aku sangat tertarik memperhatikan kehidupan dia yang aku rasa sangat datar. Hanya duduk dan membaca Koran. Orang-orang disekitar menyebut dia setengah gila. Karena konon, dia mengaku mantan orang sukses yang ditipu sahabatnya sendiri sampai semua habis tak bersisa. Aku sempat berfikir, apa dia tidak punya keluarga. Entahlah, yang jelas setiap senja aku melihat dia sendiri.

Hari itu seperti biasa, sepulang aku bekerja, aku melewati tempat yang sama. Namun, aneh tidak kutemui laki-laki itu. Namun aku melihat ada koran yang mungkin bacaan wajib dia setiap hari tergeletak disana. Ingin sekali aku tanya pada orang sekeliling, namun ada keraguan dan ketakutan dalam hatiku. Akhirnya aku memendam rasa penasaran dengan berjuta tanya yang tak aku temukan jawabannya.

17 Apr 2013

Bukan Sekedar Pikiran Liar

Tidak pernah terfikir sebelumnya aku akan mempunyai suami sebaik dia. Beragama baik, kaya raya, tidak sombong, penyayang, ramah, humoris, bertanggungjawab dan setia. Kesetiaan bagiku adalah harga yang tak bisa terbayarkan oleh apapun. Walaupun secara fisik dia laki-laki yang sederhana, tapi buatku dia laki-laki tergagah yang pernah aku kenal. Sifat penyayang yang dia punya bukan hanya padaku, tapi juga pada keluarga besarku. Jika aku disebut beruntung, pastilah aku sangat beruntung. Namun aku tidak pernah menyebut dia sosok yang sempurna, karena bagiku kesempurnaan itu hanya milik-NYA.

Hidupku semakin sempurna ketika dua putri kembarku lahir kedunia. Sehat, cantik, pintar dan sempurna. Mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti pada orangtua. Aku memang sengaja tidak menambah anak lagi karena ingin fokus pada si kembar, walaupun banyak anggapan banyak anak banyak rejeki.

Aku sudah berencana dengan suamiku, ketika si kembar sudah masuk bangku SD, kita berempat akan menunaikan ibadah umroh. Sebenarnya Kami berniat ingin umroh bersama keluarga besarku, namun karena beberapa factor, akhirnya kita putuskan untuk berangkat umroh berempat saja. Aku sangat bersyukur, ketika si kembar berusia delapan tahun, Kami bisa beribadah ke tanah suci.

Memang tidak bisa dipungkiri, didalam pernikahan selalu ada permasalahan yang menjadi kerikil, namun sejauh ini Kami memandang kerikil ini bukan sebagai kerikil tajam. Semua permasalahan yang ada, Kami sikapi dengan dewasa yang akhirnya kita bisa melewati ini semua.

11 Apr 2013

Ibu Penjual Nasi Kuning

Hari kemarin aku masih bisa melihatnya, penjual nasi kuning yang selalu mangkal didepan rumahku. Seorang Ibu dengan usia sekitar lima puluhan, perawakan tinggi dengan kulit sawo matang. Ramah, baik dan murah senyum. Masih terlihat cantik walau sudah banyak garis-garis di wajahnya. Jika bosan sarapan di rumah, aku selalu membeli nasi kuning si Ibu. Rasanya yang enak dan harganya juga lebih murah dibanding harga nasi kuning yang lain.

Kini, sudah satu minggu lebih aku tidak melihatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang akupun tidak pernah tahu apa yang ada dipikirannya.

***

Siang menjelang sore, seperti biasa aku pulang sekolah dengan dijemput sopir. Aku sudah melihat dari jauh Ibu itu sudah berada didepan gerbang rumahku. Rumah yang kata orang rumah orang kaya. Aku memang cukup beruntung bisa dilahirkan dikeluarga berada. Ibu dan Ayahku adalah seorang pengusaha sukses. Aku adalah anak tunggal, sehingga masalah materi tidak perlu dikhawatirkan.

Aku masih merasa heran dengan tatapan mata si Ibu yang tertuju kearahku. Sangat tajam dan ku lihat ada genangan air mata yang siap turun dari wajahnya.

“Kenapa Bu...?” tanyaku. Tanpa sepatah katapun si Ibu menjawab pertanyaaanku. Malah air mata itu satu persatu turun dan tak bisa terbendung lagi lalu si Ibu pergi.

10 Apr 2013

Tempat Indah Itu

“Aku harus segera tiba di pelabuhan itu tepat waktu...” hanya itu yang ada difikiranku saat ini. Sudah lama aku memimpikan berada ditempat itu. Ingin sekali aku berlari kencang, namun entah kenapa langkahku begitu lambat.

Jalan kecil ini membuatku sulit untuk berlari, jika ada jalan lain, aku pasti mengambil jalan itu. Namun mau tidak mau, jalan yang ada hanya ini. Licin dan sedikit berbatu. Berkali-kali aku terpeleset dan terjatuh, aku coba terus berdiri dan melangkah lalu berjalan lagi. Sesekali aku melihat lalu lalang orang yang akan pergi ke kebun. Adakah kejenuhan dihidup mereka? tanyaku dalam hati.

Jalan kecil dan berbatu ini sudah aku lewati, pelabuhan itu belum juga aku lihat, mungkin masih jauh. Setelah jalan berbatu yang tidak aku sukai, kini aku harus melewati jalan yang lumayan besar. Tidak seperti jalan sebelumnya, disini aku mendapatkan sedikit kenyamanan. Aku tidak terlalu lelah karena disepanjang jalan banyak sekali hal-hal yang bisa aku temui. Cukup panjang perjalanan ini.

3 Apr 2013

Ternyata...

Aku masih berada di dunia yang akupun tidak tahu dimana, aku melihat ada pohon tinggi besar disekitarku, banyak sekali. Aku disini sendirian, padahal hari menjelang malam. Aku mencari orang-orang disekitarku tapi tak nampak. Padahal tadi aku merasa bersama adik perempuanku.

Aku tersesat disini, tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini, sementara aku merasa perjalananku indah sesaat sebelum adikku hilang entah kemana.

Aku ingin berteriak, namun aku rasa percuma karena tak ada satu orangpun yang akan mendengarku. Aku mencoba terus berjalan, walau sesekali aku melihat ke langit. Aku takut sang malam segera menghancurkan sore itu dan akhirnya aku akan berada dalam kegelapan malam sementara tak ada satupun orang yang menemaniku ditempat ini. Langit itu kian menghitam dan akhirnya sang malam berhasil membuat hitam semuanya.

Aku ingin menangis, aku ingin pulang, namun aku bingung jalan mana yang harus aku tempuh. Aku melihat ada dua jalan didepan sana. Aku coba terdiam sebentar dan akhirnya aku pilih jalan ke sebelah kanan karena disana aku melihat jalan itu tidak terlalu sunyi. Aku terus melangkah, namun baru saja aku melangkah beberapa meter, aku merasa ada yang menarikku dari belakang, aku sempat kaget dan hampir tak percaya.

Cinta yang Lain

“ …Lupakan aku…jangan pernah kau harapkan cinta yang indah dariku…lupakan aku…kupunya cinta lain yang tak bisa untuk ku tinggalkan….”...sepenggal lirik lagu salah satu band terkenal di negeri ini dinyanyikan para pengamen cilik itu. Lamunanku membuyar ketika salah satu anak meminta uang atas hasil jerih payahnya menyanyi. Aku keluarkan uang seribu rupiah dan mereka pergi.

Kepergian anak-anak itu tidak membuat lamunanku juga pergi. Ingatanku malah melayang ke suatu kejadian dimasa lalu ketika aku masih bersamanya.

***

Memang tak enak rasanya hidup dalam kesendirian, namun aku belum bisa melupakan mendiang suamiku yang meninggal karena sakit. Tiga tahun yang lalu aku merasakan sedihnya ditinggal suami yang aku rasa suami terbaik. Hingga aku harus menghidupi anak semata wayangku. Ingin aku hapus memori itu, namun semua sudah melekat kuat bersama cinta di hati, tak bisa dilupakan begitu saja.

22 Mar 2013

Dan Akupun Terlupa

Aku tidak membicarakan siapapun, tapi mungkin setiap orang pernah melakukan apa yang pernah aku lakukan. Aku tidak ingin disebut orang yang tidak punya perhatian pada sosok yang sudah melahirkan aku. Aku juga tidak ingin disebut orang yang tidak mempunyai kasih sayang padanya. Sungguh aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya.

Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika Ibu SMS aku mengabarkan kalo beliau sakit di kampung, aku hanya balas, “Istirahat dan ke dokter saja…”, aku tak bisa panjang-panjang kirim pesan karena waktu itu aku lagi ada rapat di kantor. Sepulang dari kerja, aku langsung istirahat, bersih-bersih dan tidur. Aku hampir terlupa menanyakan kabar kesehatan Ibu. Sampai pada besok paginya Ibu yang SMS aku duluan mengabarkan kalau keadaan beliau sudah baik-baik saja. Aku hanya membalas, “Syukurlah Bu…”. Lagi-lagi kesibukan yang membuatku membalas seperti itu.

Tidak Ada yang Salah dengan Cinta

Ridwan adalah tunanganku yang akan segera menikahiku setengah tahun kedepan. Semua persiapan menjelang pernikahan sedikit demi sedikit sudah rampung. Ridwan satu kampung dengan aku. Rumah kitapun berjarak tidak terlalu jauh. Kami sudah berteman sejak kecil. Keluarga juga sudah mendukung satu sama lain.

Aku memutuskan bersedia dipinang oleh Ridwan setelah aku lulus kuliah dan sudah bekerja, begitupun dengan Ridwan yang saat ini juga sudah bekerja. Aku melihat Ridwan adalah sosok yang baik dan bertanggungjawab jadi tidak ada salahnya aku menerima dia sebagai calon suamiku.

***

Satu bulan yang lalu, aku sangat senang sekali ketika mendengar teman baikku Anita akan datang mengunjungiku disini. Anita adalah sahabatku waktu di SMU. Dia baik, ramah, pintar dan cantik. Dia mendengar kabar kalau aku akan menikah dengan Ridwan. Dia sangat senang sekali dan berjanji akan datang dihari bahagiaku nanti.

Ammara dan Ammira

Aku adalah seorang Ibu yang mempunyai anak kembar.  Anak yang memang  aku idamkan dari dulu. Dua putri cantik yang menghiasi hari-hariku. Ammira dan Ammara.

Ammira dan Ammara kini sudah berusia 25 tahun. Sayang, kehidupan Ammira tidak seberuntung Ammara, walaupun dari segi materi aku tidak pernah membeda-bedakan mereka. Ammara lulusan Universitas negeri di kota ini, begitupun Ammira adalah lulusan Universitas yang sama.

Kehidupan mereka berbeda setelah mereka lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Ammara mungkin bernasib lebih beruntung dibandingkan Ammira. Hanya menunggu dua bulan saja, Ammara sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang baik dengan gaji yang besar pada perusahaan ternama. Jadi tak heran jika saat ini Ammara sudah mendapatkan segalanya. Rumah, kendaraan dan tabungan yang cukup banyak.

Berbeda dengan Ammira, gadis ini harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan pekerjaan dan itupun hanya sebagai staf biasa disalah satu perusahaan yang tidak terlalu besar. Gaji Ammira juga tidak sebesar Ammara, namun cukup untuk keperluan sehari-hari.

20 Feb 2013

Tak Sebatas Dua Pekan

Aldi…entah seperti apa wajahnya saat ini. Kita sudah berpisah sekitar 15 tahun lamanya. Terakhir aku hanya tahu kalau dia ikut orangtuanya ke luar negeri, namun entah sampai kapan, mungkin untuk selamanya.

Sore itu, aku masih mengerjakan tugas-tugas kuliah di kamarku. Kertas-kertas masih berserakan di lantai, pikiranku juga sedang berserakan karena memikirkan tugas yang tak ada habisnya. Sekali-sekali aku melihat jam di dinding, begitu cepat jarumnya bergerak.

“Sudah jam 3 sore…” fikirku.

Tugas harus terkumpul maksimal jam 5 sore, tapi masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku tak yakin aku mampu menyelesaikannya.

Kurebahkan tubuhku sejenak sebelum aku bergelut dengan tugas-tugas itu lagi. Aku heran, kenapa wajah Aldi terus membayangiku saat itu. Kuhapus semua kenangan masa kecil kita, namun sungguh aku tak bisa. Tak biasanya kenangan itu terus menjajah hatiku.

Setelah kira-kira setengah jam, aku mulai membereskan kembali tugas-tugasku itu. Tepat jam 5 sore, aku langsung kirim tugas-tugasku lewat email...Beres…

17 Jan 2013

Aku Mencintaimu, Mas Fahri...

Ini sungguh mimpi buruk!!! Itu yang selalu aku rasakan ketika menjalani pernikahan bersamanya. Pernikahan yang sudah aku bangun sekitar dua tahun lamanya. Tak pernah ada cinta, tak pernah ada sayang, yang ada hanyalah penuh sesak dalam dada.

Dua tahun aku merasa tersiksa dengan semua ini. Menikah dengan pilihan orangtua yang tak pernah aku mengenalnya sebelumnya. Semua terjadi karena orang yang aku cinta harus menikah dengan orang lain.

Selama berbulan-bulan aku hidup dalam kesedihan setelah dia memutuskan pergi dari hidupku dan memilih merangkai cerita baru dengan orang lain. Hidupku hampa tanpa cinta sampai akhirnya orangtuaku memutuskan untuk menjodohkan aku dengan suamiku sekarang.

Aku berfikir saat itu aku bisa bahagia dengannya dan melupakan semua masa laluku. Namun semua tak seindah bayanganku. Sampai aku diberi karunia terindahpun, seorang bidadari kecil, aku tetap tidak pernah merasakan keindahan dan kebahagiaan itu. Pikiran dan anganku terus melayang pada dia yang sudah mencampakkan aku.

14 Jan 2013

Ayahku Bukan Koruptor

Bunyi handphone membangunkanku pagi itu, aku lihat ternyata Arni kirim pesan singkat yang mengabarkan kalau hari ini dia tidak bisa masuk sekolah karena sakit.

“Cepet sembuh Ni...” jawab sms balasanku singkat.

Aku bangun dari tempat tidur, kubawa handuk yang masih tergantung dibalik pintu kamarku dan bergegas mandi.

“Segarnya...” bisikku setelah mandi.

Aku melihat Ibu sedang duduk di meja makan untuk menemaniku sarapan. Senyuman Ibu memang selalu melumerkan suasana. Sudah enam bulan lamanya, hanya Ibu yang menemani hari-hariku. Tidak ada Ayah.

Setelah sarapan, aku pamitan untuk segera pergi sekolah. Langkah demi langkah aku tinggalkan rumah kontrakan ini.  Rumah kecil yang Ibu kontrak dari berdagang pakaian dari rumah ke rumah.

2 Jan 2013

Melihatmu Dalam Tangis

Ada yang pernah berkata padaku tentang tetesan air mata. Katanya air mata itu adalah pembasuh luka. Ada juga yang bilang padaku bahwa air mata itu itu penguat hati. Mungkin harus aku setujui pendapat itu karena saat ini aku sedang ditemani air mata.

Seharusnya air mata ini tidak pernah ada jika dia masih bersamaku. Namun aku harus bahagia ketika aku bisa melepasnya pergi untuk kembali ke seseorang yang dia cintai, bukan aku. Dari awal harusnya aku tak pernah menyetujui keinginan temanku tentang rencana gilanya. Namun karena dia terus mendesakku untuk melakukan ini, akhirnya aku setujui demi persahabatan kita. Kita sudah bersahabat sekitar 15 tahun, bukan hanya dia yang aku kenal, tapi hampir semua keluarganya dekat denganku. Aku sudah anggap dia seperti saudaraku sendiri.

Andi…dialah sahabat terbaikku. Semua yang dia alami selalu dia ceritakan padaku. Hal yang membuat dia bahagia ataupun sedih. Begitupun dengan aku padanya. Sungguh aku tak pernah mengira, melihat kondisi Andi saat ini. Akibat kecelakaan lalu lintas seminggu yang lalu kondisi Andi berubah 180 derajat. Andi yang aku kenal sebagai sosok yang ceria, kini berubah menjadi seorang yang pemurung.  Akibat kecelakaan itu, kedua kaki Andi tidak bisa berfungsi lagi. Andi lumpuh. Kini Andi hanya bisa ditemani dengan kursi roda jika dia ingin pergi kemana-mana.

***

Siang itu Andi meneleponku, dia ingin bertemu denganku. Berhubung aku sedang libur kerja, aku langsung datang ke tempat dia. Jujur aku sempat kaget dengan keinginan dia. Aku bisa melakukan apapun tapi tidak dengan keinginannya itu. Tanpa aku tahu, Andi mempunyai seorang kekasih yang sudah dia kenal sekitar dua tahun. Andi memang tertutup jika menyangkut urusan perasaan. Bahkan dia punya pacarpun aku sampai tak pernah tahu.