Aku bukan
seorang penulis seperti halnya dia, sahabat karibku. Aku memang tak sehebat dia, aku tak secerdas dia
dan akupun tak sepintar otaknya. Namun aku pasti mampu menyelesaikan ini semua.
Indah...sahabatku, kita sudah
bersahabat dari sejak kita duduk di bangku SMP. Aku tahu semua tentangnya, termasuk
dengan perasaannya.
Sudah sejak lama
Indah menyimpan perasaan pada laki-laki ini. Laki-laki yang selalu Indah bilang, “seperti Pangeran”. Rio
namanya. Mereka berkenalan sejak pertama masuk SMP. Rio memang ganteng, pintar
dan ramah. Tak sedikit wanita yang
tergila-gila
pada dia, termasuk Indah.
Siang itu, aku
melihat Indah pergi ke sekolah diantar Rio. Aku melihat ada kegembiraan yang luar
biasa dari wajahnya ketika Indah menghampiriku. Segala cerita dia berikan padaku di pagi itu. Aku
bahagia, ada harapan yang indah untuk Indah.
***
Tiga tahun kita
di bangku SMP, tak ada kejelasan yang berarti dengan hubungan mereka.
Semua menggantung begitu saja. Sampai akhirnya, Indah memutuskan untuk meneruskan
sekolah ke SMA yang sama dengan Rio. Mungkin Indah masih ingin mengejar Rio.
Berbeda dengan
aku, aku memilih sekolah lain karena beberapa pertimbangan. Indah dan Rio
memang berasal dari keluarga terpandang. Mereka bebas bersekolah dimanapun dan
semahal apapun. Sementara aku, aku tak bisa seperti mereka. Walaupun kita
sudah berbeda sekolah, Indah tetap menjadi Indah yang aku kenal. Kita masih
sering berkomunikasi. Seminggu sekali, kita menghabiskan libur bersama-sama. Indah masih sering bercerita seputar Rio, pangeran cintanya.
***
Sore itu, aku
disuruh Ibu mengantarkan jahitan ke salah satu pelanggan Ibu. Tempatnya agak jauh juga
dari rumah. Aku memutuskan untuk naik angkot walaupun waktu sudah tidak memungkinkan karena
sudah terlalu sore
dan aku pasti akan pulang malam. Namun, karena aku tak punya uang untuk bayar
ojek, jadi terpaksa aku harus naik angkot saja.
Benar saja, waktu
sudah menunjukkan pukul 19.00 dan aku masih di halte menunggu angkot lewat. Sulit memang, kalau
sudah jam segini angkot lewat. Maklum, aku tinggal di wilayah pinggir kota.
Sambil menunggu angkot, aku mainkan handphoneku.
Belum juga muncul angkot itu. Masih asyik dengan handphoneku, tiba-tiba…..bunyi klakson motor membuyarkan semuanya.