25 Apr 2013

Lelaki Tanpa Nama

Terlalu lama aku memperhatikan sosok setengah baya yang ada di stasiun kereta itu. Sosok dengan perawakan tinggi kurus, kulit sawo matang dan terlihat banyak kerutan di mukanya. Sesekali aku memalingkan muka ketika matanya menuju kearahku seolah dia merasa tahu aku sedang memperhatikannya. Aku tak ingin membuatnya resah.

Hampir setiap hari ketika senja tiba aku melihat sosok itu, entah kenapa aku sangat tertarik memperhatikan kehidupan dia yang aku rasa sangat datar. Hanya duduk dan membaca Koran. Orang-orang disekitar menyebut dia setengah gila. Karena konon, dia mengaku mantan orang sukses yang ditipu sahabatnya sendiri sampai semua habis tak bersisa. Aku sempat berfikir, apa dia tidak punya keluarga. Entahlah, yang jelas setiap senja aku melihat dia sendiri.

Hari itu seperti biasa, sepulang aku bekerja, aku melewati tempat yang sama. Namun, aneh tidak kutemui laki-laki itu. Namun aku melihat ada koran yang mungkin bacaan wajib dia setiap hari tergeletak disana. Ingin sekali aku tanya pada orang sekeliling, namun ada keraguan dan ketakutan dalam hatiku. Akhirnya aku memendam rasa penasaran dengan berjuta tanya yang tak aku temukan jawabannya.

17 Apr 2013

Bukan Sekedar Pikiran Liar

Tidak pernah terfikir sebelumnya aku akan mempunyai suami sebaik dia. Beragama baik, kaya raya, tidak sombong, penyayang, ramah, humoris, bertanggungjawab dan setia. Kesetiaan bagiku adalah harga yang tak bisa terbayarkan oleh apapun. Walaupun secara fisik dia laki-laki yang sederhana, tapi buatku dia laki-laki tergagah yang pernah aku kenal. Sifat penyayang yang dia punya bukan hanya padaku, tapi juga pada keluarga besarku. Jika aku disebut beruntung, pastilah aku sangat beruntung. Namun aku tidak pernah menyebut dia sosok yang sempurna, karena bagiku kesempurnaan itu hanya milik-NYA.

Hidupku semakin sempurna ketika dua putri kembarku lahir kedunia. Sehat, cantik, pintar dan sempurna. Mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti pada orangtua. Aku memang sengaja tidak menambah anak lagi karena ingin fokus pada si kembar, walaupun banyak anggapan banyak anak banyak rejeki.

Aku sudah berencana dengan suamiku, ketika si kembar sudah masuk bangku SD, kita berempat akan menunaikan ibadah umroh. Sebenarnya Kami berniat ingin umroh bersama keluarga besarku, namun karena beberapa factor, akhirnya kita putuskan untuk berangkat umroh berempat saja. Aku sangat bersyukur, ketika si kembar berusia delapan tahun, Kami bisa beribadah ke tanah suci.

Memang tidak bisa dipungkiri, didalam pernikahan selalu ada permasalahan yang menjadi kerikil, namun sejauh ini Kami memandang kerikil ini bukan sebagai kerikil tajam. Semua permasalahan yang ada, Kami sikapi dengan dewasa yang akhirnya kita bisa melewati ini semua.

11 Apr 2013

Ibu Penjual Nasi Kuning

Hari kemarin aku masih bisa melihatnya, penjual nasi kuning yang selalu mangkal didepan rumahku. Seorang Ibu dengan usia sekitar lima puluhan, perawakan tinggi dengan kulit sawo matang. Ramah, baik dan murah senyum. Masih terlihat cantik walau sudah banyak garis-garis di wajahnya. Jika bosan sarapan di rumah, aku selalu membeli nasi kuning si Ibu. Rasanya yang enak dan harganya juga lebih murah dibanding harga nasi kuning yang lain.

Kini, sudah satu minggu lebih aku tidak melihatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang akupun tidak pernah tahu apa yang ada dipikirannya.

***

Siang menjelang sore, seperti biasa aku pulang sekolah dengan dijemput sopir. Aku sudah melihat dari jauh Ibu itu sudah berada didepan gerbang rumahku. Rumah yang kata orang rumah orang kaya. Aku memang cukup beruntung bisa dilahirkan dikeluarga berada. Ibu dan Ayahku adalah seorang pengusaha sukses. Aku adalah anak tunggal, sehingga masalah materi tidak perlu dikhawatirkan.

Aku masih merasa heran dengan tatapan mata si Ibu yang tertuju kearahku. Sangat tajam dan ku lihat ada genangan air mata yang siap turun dari wajahnya.

“Kenapa Bu...?” tanyaku. Tanpa sepatah katapun si Ibu menjawab pertanyaaanku. Malah air mata itu satu persatu turun dan tak bisa terbendung lagi lalu si Ibu pergi.

10 Apr 2013

Tempat Indah Itu

“Aku harus segera tiba di pelabuhan itu tepat waktu...” hanya itu yang ada difikiranku saat ini. Sudah lama aku memimpikan berada ditempat itu. Ingin sekali aku berlari kencang, namun entah kenapa langkahku begitu lambat.

Jalan kecil ini membuatku sulit untuk berlari, jika ada jalan lain, aku pasti mengambil jalan itu. Namun mau tidak mau, jalan yang ada hanya ini. Licin dan sedikit berbatu. Berkali-kali aku terpeleset dan terjatuh, aku coba terus berdiri dan melangkah lalu berjalan lagi. Sesekali aku melihat lalu lalang orang yang akan pergi ke kebun. Adakah kejenuhan dihidup mereka? tanyaku dalam hati.

Jalan kecil dan berbatu ini sudah aku lewati, pelabuhan itu belum juga aku lihat, mungkin masih jauh. Setelah jalan berbatu yang tidak aku sukai, kini aku harus melewati jalan yang lumayan besar. Tidak seperti jalan sebelumnya, disini aku mendapatkan sedikit kenyamanan. Aku tidak terlalu lelah karena disepanjang jalan banyak sekali hal-hal yang bisa aku temui. Cukup panjang perjalanan ini.

3 Apr 2013

Ternyata...

Aku masih berada di dunia yang akupun tidak tahu dimana, aku melihat ada pohon tinggi besar disekitarku, banyak sekali. Aku disini sendirian, padahal hari menjelang malam. Aku mencari orang-orang disekitarku tapi tak nampak. Padahal tadi aku merasa bersama adik perempuanku.

Aku tersesat disini, tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini, sementara aku merasa perjalananku indah sesaat sebelum adikku hilang entah kemana.

Aku ingin berteriak, namun aku rasa percuma karena tak ada satu orangpun yang akan mendengarku. Aku mencoba terus berjalan, walau sesekali aku melihat ke langit. Aku takut sang malam segera menghancurkan sore itu dan akhirnya aku akan berada dalam kegelapan malam sementara tak ada satupun orang yang menemaniku ditempat ini. Langit itu kian menghitam dan akhirnya sang malam berhasil membuat hitam semuanya.

Aku ingin menangis, aku ingin pulang, namun aku bingung jalan mana yang harus aku tempuh. Aku melihat ada dua jalan didepan sana. Aku coba terdiam sebentar dan akhirnya aku pilih jalan ke sebelah kanan karena disana aku melihat jalan itu tidak terlalu sunyi. Aku terus melangkah, namun baru saja aku melangkah beberapa meter, aku merasa ada yang menarikku dari belakang, aku sempat kaget dan hampir tak percaya.

Cinta yang Lain

“ …Lupakan aku…jangan pernah kau harapkan cinta yang indah dariku…lupakan aku…kupunya cinta lain yang tak bisa untuk ku tinggalkan….”...sepenggal lirik lagu salah satu band terkenal di negeri ini dinyanyikan para pengamen cilik itu. Lamunanku membuyar ketika salah satu anak meminta uang atas hasil jerih payahnya menyanyi. Aku keluarkan uang seribu rupiah dan mereka pergi.

Kepergian anak-anak itu tidak membuat lamunanku juga pergi. Ingatanku malah melayang ke suatu kejadian dimasa lalu ketika aku masih bersamanya.

***

Memang tak enak rasanya hidup dalam kesendirian, namun aku belum bisa melupakan mendiang suamiku yang meninggal karena sakit. Tiga tahun yang lalu aku merasakan sedihnya ditinggal suami yang aku rasa suami terbaik. Hingga aku harus menghidupi anak semata wayangku. Ingin aku hapus memori itu, namun semua sudah melekat kuat bersama cinta di hati, tak bisa dilupakan begitu saja.