Terlalu lama aku
memperhatikan sosok setengah baya yang ada di stasiun kereta itu. Sosok dengan
perawakan tinggi kurus, kulit sawo matang dan terlihat banyak kerutan di
mukanya. Sesekali aku memalingkan muka ketika matanya menuju kearahku seolah
dia merasa tahu aku sedang memperhatikannya. Aku tak ingin membuatnya resah.
Hampir setiap
hari ketika senja tiba aku melihat sosok itu, entah kenapa aku sangat tertarik
memperhatikan kehidupan dia yang aku rasa sangat datar. Hanya duduk dan membaca
Koran. Orang-orang disekitar menyebut dia setengah gila. Karena konon, dia mengaku
mantan orang sukses yang ditipu sahabatnya sendiri sampai semua habis tak
bersisa. Aku sempat berfikir, apa dia tidak punya keluarga. Entahlah, yang
jelas setiap senja aku melihat dia sendiri.
Hari itu seperti
biasa, sepulang aku bekerja, aku melewati tempat yang sama. Namun, aneh tidak
kutemui laki-laki itu. Namun aku melihat ada koran yang mungkin bacaan wajib
dia setiap hari tergeletak disana. Ingin sekali aku tanya pada orang sekeliling, namun ada keraguan dan ketakutan dalam hatiku. Akhirnya aku memendam
rasa penasaran dengan berjuta tanya yang tak aku temukan jawabannya.