Aku sudah lama
memperhatikan gerak gerik laki-laki itu setiap pagi dan menjelang senja. Aku hanya bisa
memandang dia dari balik jendela rumah dan aku tak pernah tahu siapa dia.
Hari ini aku
sengaja berada didepan rumah, ingin sekali aku melihatnya dari dekat.
Penantianku tak begitu lama dan diapun hadir didepan mataku. Aku tak tahu apa
yang sedang aku rasakan saat itu. Aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat
cepat sampai aku tak merasakan lagi diriku ada dimana. Entah perasaan apa.
Mungkin ini yang orang bilang cinta.
Aku memang belum
pernah merasakan ini sebelumnya, aku tidak pernah punya teman ataupun sahabat
sejak kakiku lumpuh akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Mungkin aku minder
karena aku yakin tak mungkin ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat
sepertiku.
Jika yang kurasa itu cinta, rasanya aku seperti pungguk merindukan bulan. Aku ingin menghapus semua rasa yang ada tapi kenapa aku tak pernah
bisa. Aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu, aku berusaha untuk tidak pernah melihatnya
lagi, tapi sungguh aku tak sanggup.
Aku tidak pernah
menyalahkan takdir dengan apa yang aku alami. Mungkin wanita lain yang tidak
cacat seperti aku bisa mendapatkan apa yang dia harapkan tanpa harus merasa
tidak nyaman sepertiku. Setidaknya mereka bisa berusaha walaupun hasil akhir
tetap bukan kita yang menentukan. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak
bisa.
Segala macam
pengobatan sudah aku jalani, mulai dari medis sampai alternatif. Namun semua
hasilnya nol besar. Mungkin aku harus lumpuh seumur hidup.
Sudah seminggu
aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku sengaja lebih banyak menyibukkan diri di kamar daripada
didepan rumah. Novelku yang aku
sebentar lagi rampung, aku berniat akan mengirimkannya ke penerbit. Walaupun
aku lumpuh tapi setidaknya aku masih bisa berkarya.
***
Malam itu, aku
sudah merampungkan novel yang aku beri judul…”Lelaki Impian”. Dari judulnya memang terlihat sangat klise namun aku
berharap ending dari novelku seperti
apa yang terjadi dalam hidupku saat ini. Siapapun boleh punya harapan termasuk
aku.
Aku ingin
menunjukkan novel ini pada orangtuaku dan meminta ijin besok untuk pergi ke penerbit.
Belum juga aku menunjukkan novelku, orangtuaku malah mengajakku ngobrol masalah
lain.
“Nis, sini duduk
dekat Ibu...” kata Ibuku. Aku menjalankan kursi
rodaku dan diam disebelah Ibu.
“Ibu mau mengenalkan
kamu dengan anak temen Ibu, namanya Farhan, dia baik sekali, Ibu pernah ketemu beberapa kali dan dia sudah setuju untuk Ibu jodohkan dengan kamu…”
kata Ibu.
Perasaanku tak
menentu saat itu, aku tidak ingin mengecewakan Ibu, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan diriku sendiri. Aku seolah
seperti orang yang mau tidak mau harus menerima apa yang ada didepan mata.
Masih syukur ada yang mau dengan wanita lumpuh sepertiku. Aku mencoba untuk mengabaikan
perasaan cinta yang selama ini aku rasa pada laki-laki itu, laki-laki yang
selalu membuat jantungku berdetak kencang.
“Tapi Bu…kondisiku kan seperti
ini, apa dia mau dengan wanita lumpuh seperti aku...?” tanyaku.
“Ibu sudah cerita
tentang keadaanmu dan tidak ada masalah dengan itu, makanya Ibu sangat beruntung ada
laki-laki seperti itu yang bisa menerima kekurangan seseorang, walaupun Ibu tidak bermaksud
menyinggung perasaanmu...” kata Ibu.
Ini memang jalan
Tuhan yang terbaik untukku, Tuhan sudah menentukan jalan hidup setiap orang
termasuk aku dan aku akan menerimanya.
***
Sore itu ada acara pertemuan dua
keluarga, Keluarga laki-laki yang akan menjadi jodohku kelak dan keluargaku. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, tamu sudah ada
didepan pintu. Aku mendengar Ibu sedang menjamunya dan tak lama Ibu memanggilku untuk bergabung dengan mereka.
Aku tidak sedang
bermimpi kan??? Aku memang tidak sedang berada di dunia novel
yang selama ini menemaniku dan berakhir sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku sekarang sedang berada di dunia nyata.
Tapi laki-laki itu, laki-laki yang ada didepanku saat itu adalah laki-laki yang
selalu membuat
aku bergetar. Ini bukan kebetulan, karena memang tak ada yang kebetulan di
dunia ini. Laki-laki itu nyata dan aku seolah merasa menjadi wanita yang paling sempurna.
Pernikahanpun
sudah direncanakan sekitar enam bulan kedepan. Aku akan menikah dengan
laki-laki impianku. Hidupku seperti berada dalam novel yang aku tulis. Berakhir indah
dan kuharap selamanya indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar