5 Jun 2013

Seperti Dalam Novel

Aku sudah lama memperhatikan gerak gerik laki-laki itu setiap pagi dan menjelang senja. Aku hanya bisa memandang dia dari balik jendela rumah dan aku tak pernah tahu siapa dia.

Hari ini aku sengaja berada didepan rumah, ingin sekali aku melihatnya dari dekat. Penantianku tak begitu lama dan diapun hadir didepan mataku. Aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan saat itu. Aku bisa merasakan jantungku berdetak sangat cepat sampai aku tak merasakan lagi diriku ada dimana. Entah perasaan apa. Mungkin ini yang orang bilang cinta.

Aku memang belum pernah merasakan ini sebelumnya, aku tidak pernah punya teman ataupun sahabat sejak kakiku lumpuh akibat kecelakaan dua tahun yang lalu. Mungkin aku minder karena aku yakin tak mungkin ada laki-laki yang mau memperistri wanita cacat sepertiku.

Jika yang kurasa itu cinta, rasanya aku seperti pungguk merindukan bulan. Aku ingin menghapus semua rasa yang ada tapi kenapa aku tak pernah bisa. Aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu, aku berusaha untuk tidak pernah melihatnya lagi, tapi sungguh aku tak sanggup.

Aku tidak pernah menyalahkan takdir dengan apa yang aku alami. Mungkin wanita lain yang tidak cacat seperti aku bisa mendapatkan apa yang dia harapkan tanpa harus merasa tidak nyaman sepertiku. Setidaknya mereka bisa berusaha walaupun hasil akhir tetap bukan kita yang menentukan. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku tak bisa.


Segala macam pengobatan sudah aku jalani, mulai dari medis sampai alternatif. Namun semua hasilnya nol besar. Mungkin aku harus lumpuh seumur hidup.

Sudah seminggu aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku sengaja lebih banyak menyibukkan diri di kamar daripada didepan rumah. Novelku yang aku sebentar lagi rampung, aku berniat akan mengirimkannya ke penerbit. Walaupun aku lumpuh tapi setidaknya aku masih bisa berkarya.

***

Malam itu, aku sudah merampungkan novel yang aku beri judul…”Lelaki Impian”. Dari judulnya memang terlihat sangat klise namun aku berharap ending dari novelku seperti apa yang terjadi dalam hidupku saat ini. Siapapun boleh punya harapan termasuk aku.

Aku ingin menunjukkan novel ini pada orangtuaku dan meminta ijin besok untuk pergi ke penerbit. Belum juga aku menunjukkan novelku, orangtuaku malah mengajakku ngobrol masalah lain.

“Nis, sini duduk dekat Ibu...” kata Ibuku. Aku menjalankan kursi rodaku dan diam disebelah Ibu.

“Ibu mau mengenalkan kamu dengan anak temen Ibu, namanya Farhan, dia baik sekali, Ibu pernah ketemu beberapa kali dan dia sudah setuju untuk Ibu jodohkan dengan kamu…” kata Ibu.

Perasaanku tak menentu saat itu, aku tidak ingin mengecewakan Ibu, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan diriku sendiri. Aku seolah seperti orang yang mau tidak mau harus menerima apa yang ada didepan mata. Masih syukur ada yang mau dengan wanita lumpuh sepertiku. Aku mencoba untuk mengabaikan perasaan cinta yang selama ini aku rasa pada laki-laki itu, laki-laki yang selalu membuat jantungku berdetak kencang.

“Tapi Bu…kondisiku kan seperti ini, apa dia mau dengan wanita lumpuh seperti aku...?” tanyaku.

“Ibu sudah cerita tentang keadaanmu dan tidak ada masalah dengan itu, makanya Ibu sangat beruntung ada laki-laki seperti itu yang bisa menerima kekurangan seseorang, walaupun Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaanmu...” kata Ibu.

Ini memang jalan Tuhan yang terbaik untukku, Tuhan sudah menentukan jalan hidup setiap orang termasuk aku dan aku akan menerimanya.

***

Sore itu ada acara pertemuan dua keluarga, Keluarga laki-laki yang akan menjadi jodohku kelak dan keluargaku. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, tamu sudah ada didepan pintu. Aku mendengar Ibu sedang menjamunya dan tak lama Ibu memanggilku untuk bergabung dengan mereka.

Aku tidak sedang bermimpi kan??? Aku memang tidak sedang berada di dunia novel yang selama ini menemaniku dan berakhir sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku sekarang sedang berada di dunia nyata. Tapi laki-laki itu, laki-laki yang ada didepanku saat itu adalah laki-laki yang selalu membuat aku bergetar. Ini bukan kebetulan, karena memang tak ada yang kebetulan di dunia ini. Laki-laki itu nyata dan aku seolah merasa menjadi wanita yang paling sempurna.


Pernikahanpun sudah direncanakan sekitar enam bulan kedepan. Aku akan menikah dengan laki-laki impianku. Hidupku seperti berada dalam novel yang aku tulis. Berakhir indah dan  kuharap selamanya indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar