24 Sep 2013

Depresimu Bukan Salahku

Laras adalah sahabat terbaikku, walaupun Kami bersahabat baru sekitar dua tahunan ketika Kami sama-sama baru duduk di bangku SMU. Tak terasa satu tahun lagi kita akan terpisah, namun aku yakin hubungan Kami tidak akan pernah terputus.

Tak terasa hari kelulusanpun tiba, Laras meneruskan kuliahnya sementara aku memilih untuk bekerja. Orangtuaku memang tak sekaya Laras. Laras akan kuliah diluar kota, namun dia janji setelah lulus nanti, dia akan kembali kesini.        

Hubungan persahabatan Kami masih berjalan, walaupun pertemuan Kami tidak sampai sebulan sekali.

***

Hari itu, aku sangat bahagia sekali ketika Laras mengabari aku kalau dia akan segera menikah. Aku sempat kaget karena aku tahu kuliah Laras belum selesai. Tapi Laras bilang, kalau dia akan cuti dulu dari kuliahnya.

Akupun datang dipernikahan Laras, dia tampak bahagia sekali. Tapi aku dengar kabar kalau setelah menikah Laras akan menetap di kota tempat laras kuliah dan tak akan pindah kesini lagi. Itu pilihan hidup Laras dan aku harus terima. Ada rasa takut kehilangan dia, namun persahabatan tidak akan terlepas hanya karena tempat yang jauh.

***

Setahun Laras menikah, dia sudah dikarunia anak perempuan, aku juga belum sempat melihat keponakanku itu karena jarak tempat tinggal Kami yang sangat jauh. Namun, suatu hari nanti aku pasti akan datang kesana.

20 Sep 2013

Masa Tua Kita

Siapapun tidak pernah bisa menerka apa yang akan terjadi didepan. Begitupun aku. Yang pasti saat ini aku bahagia.

Dulu, aku punya teman dekat, mungkin dia adalah cinta pertamaku. Aku mengenalnya ketika kita masih sama-sama duduk di bangku SMP. Dia tetanggaku, tetangga yang rumahnya tepat didepan rumahku. Dika…dia orang yang mengenalkan padaku tentang indahnya cinta.

***

Dika pindahan dari kota Jakarta, orangtuanya asli Jogja. Setahun sekali dia pindah rumah karena tugas dinas orangtuanya yang mengharuskan dia seperti itu. Namun, sejak SMP, Dika memilih tinggal bersama Neneknya. Rumahnya tepat didepan rumahku.

Umur Kami memang saat itu belum genap 17 tahun, namun entah kenapa bila Dika didekatku, aku merasa nyaman. Walaupun aku tak yakin, Dika merasakan hal yang sama. Namun ternyata, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, ketika kita masuk bangku SMU, Dika menyatakan perasaan cintanya dan aku sangat bahagia. Memang bukan waktu yang singkat untuk meyakinkan perasaan cintanya padaku.

19 Sep 2013

Ibu Ikhlas, Nak...

Sampai hari inipun, aku masih merasakan sakit ketika melahirkan anak semata wayangku. Namun aku bahagia karena hanya dia permata hatiku. Sampai hari ini dan kapanpun…

Nadia adalah gadis yang selalu aku rindukan, gadis yang selalu aku harapkan kehadirannya. Walaupun aku hanya bisa menatapnya dalam sebingkai foto.

***

Kami hidup berdua sejak dulu, sejak Ayah Nadia pergi entah kemana. Aku mencoba menafkahi Nadia seorang diri. Aku bekerja serabutan, tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes. Tak peduli seberapa banyak langkah yang sudah dijalani, tak peduli seberapa berat beban dipundakku. Aku hanya ingin Nadia bahagia dan menjadi “orang”.

Seiring berjalannya waktu, Nadia tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan mandiri. Bukan itu saja, Nadia termasuk anak yang cerdas. Sangat cerdas. Aku benar-benar bangga pada dia.

Tak terasa, Nadia menginjak usia dewasa, dia mau masuk perguruan tinggi. Belum terbayang saat itu darimana biaya sekolahnya. Mengingat saat ini biaya kuliah sangatlah mahal. Aku sudah mencoba meminjam uang sana sini namun tak ada yang memberi. Aku faham, mana ada orang yang percaya padaku dengan status pekerjaan yang tidak jelas.