28 Mei 2013
Lirik Fatin - Aku Memilih Setia
Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta
Mungkin engkau adalah salah satunya
Namun engkau datang disaat yang tidak tepat
Cintaku tlah dimiliki
Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya
Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu
Takkan mungkin untuk membagi cinta tulusmu
Dan aku memilih setia
Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya
Seribu kali logikaku untuk menolak
Tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku
Bila saja diriku ini masih sendiri
Pasti ku kan memilih...kan memilih mu...
Bila akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu...
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya
22 Mei 2013
Segudang Maklum Untukmu
Sampai hari ini
aku masih merenung, apa yang sedang terjadi dengan anakku, anak semata
wayangku. Sejak Ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dia menjadi anak
yang sangat keras. Watak dan pribadinya sangat berbeda sekali dari yang dulu.
Tiga tahun yang
lalu, anak lelakiku menikah dengan teman satu kuliahnya. Awalnya aku melihat
rumah tangganya baik-baik saja. Namun setelah pernikahan mereka menginjak tahun
kedua, menantuku sering mengeluhkan sifat buruk anakku. Sering terjadi
pertengkaran dan tidak tanggung-tanggung, ketika pertengkaran itu terjadi, dia
selalu main tangan. Bukan sekali dua kali tapi kejadian itu terjadi berkali-kali sampai
akhirnya aku diminta menantuku untuk tinggal bersamanya.
Sudah sekitar
satu tahun lamanya aku tinggal bersama anak dan menantuku. Dalam usia pernikahan mereka
yang sudah terbilang cukup lama, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Aku
selalu menasehati anakku untuk terus berusaha dan bersabar karena anak adalah
titipan Tuhan. Faktor inilah salah satu pemicu mereka bertengkar.
Sejak aku
tinggal bersama mereka, aku berharap anakku bisa berubah, setidaknya dia melihat
keberadaan aku sebagai Ibunya, tetapi ternyata tidak. Wataknya masih tetap seperti itu.
Hanya saja kalau mereka bertengkar tidak pernah main tangan lagi.
Sifat kasarnya
sekarang bukan hanya terjadi pada istrinya, tetapi juga padaku. Terkadang
perkataannya
tidak enak untuk didengar. Tapi aku masih memakluminya. Walaupun sering aku
menasehatinya, tapi setiap aku ajak bicara, dia selalu menghindar dan
menghindar.
16 Mei 2013
Dua Hari yang Lalu
Neta nama
sahabatku…sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Kita sudah bersahabat sejak
kecil sampai sekarang. Hanya saja sekarang kita sangat jarang bertemu. Neta
tinggal di kota Solo, sedangkan aku di Jakarta padahal kita sama-sama orang
Bandung. Tapi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, persahabatan
jarak jauh tidaklah menjadi halangan dalam berkomunikasi. Hampir tiap hari kita
kontak walaupun lewat dunia maya. Neta orang yang sangat baik. Baik dalam hal
apapun. Makanya aku merasa Neta adalah sahabat terbaikku.
Beberapa hari
kebelakang aku merasa sangat kehilangan Neta. Aku telepon dia, handphonenya tidak aktif, aku sms pun
selalu tidak terkirim. Aku cari dia di dunia mayapun, tidak pernah online. Aku fikir mungkin dia sedang sibuk.
Hari ini seperti
biasa aku harus bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekitar pukul 7 aku
sudah siap semuanya. Perjalanan dari kostan ke kantor sekitar setengah jam,
jadi aku bisa sampai kantor pukul setengah 8, itupun kalau tidak macet.
Baru aku ambil
tas kerjaku, aku dengar handphoneku berbunyi. Aku ambil handphoneku dari dalam tas. Agak
kesal juga karena tasku sudah rapi. Tapi entah kenapa hatiku seolah tergerak
untuk mengambil handphoneku.
Aku lihat, yang menelponku dari private number, tambah kesal dan malas
saja rasanya.
Sudah ganggu acara berangkat kerjaku, yang nelpon malah orang yang tidak jelas.
Tapi terlanjur sudah ada di tangan, akhirnya aku angkat juga.
1 Mei 2013
Dia Masih Anakku
Seminggu yang lalu
aku bertemu dengan seorang Nenek disebuah warung nasi tak jauh dari tempat aku tinggal. Wajahnya
terlihat pucat, bukan karena sakit, tapi aku melihat seperti ada sesuatu yang beliau
sembunyikan. Aku sesekali melihat kearahnya, Nenek tua itu hanya memberikan seulas senyum.
Senyum keterpaksaan sepertinya.
Satu jam
berlalu, aku memperhatikan Nenek tua itu hendak pergi dari warung nasi. Pelan-pelan beliau
angkat badannya. Terlihat sedikit meringis ketika beliau mencoba berdiri dan
beranjak dari tempat itu. Nenek tua yang sangat malang, kenapa tidak ada anak
atau saudara yang mengantar beliau pergi, bisikku dalam hati. Teringat jika
suatu hari nanti, ketika badanku sudah renta dan aku seperti Nenek itu. Entah apa yang
aku rasa.
Nenek itu berada
dipinggir jalan, aku kira beliau akan memberhentikan angkot atau bis yang lewat. Tapi
sudah beberapa bis dan angkot yang lewat tidak dia hiraukan. Ku lihat wajahnya sangat
kebingungan. Tak tega rasanya melihat kondisi tua renta berada dipinggir jalan.
Aku coba untuk
menghampiri dan bertanya mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk
menolongnya.
“Nenek, mau
kemana? Mungkin
ada yang bisa saya bantu...?” tanyaku.
Si nenek tak
menjawab, beliau hanya menatapku tajam dan perlahan butiran-butiran Kristal
jatuh dari matanya.
Langganan:
Postingan (Atom)