17 Mei 2012

Selalu Hidup Dalam Ingatan


Aku tahu, Tuhan tak pernah memberikan takdir buruk pada hamba-NYA. Aku harus menyadari bahwa semua ini adalah jalan hidup yang harus aku jalani, cukup berat tapi aku bisa melaluinya.

Berawal dari Kami masih memakai seragam putih abu-abu, gadis itu hadir tepat dihadapanku. Aku sedang mengantri makan siang waktu itu. Gadis yang belum pernah aku lihat sebelumnya karena memang dia pindahan dari kota lain.

Pendek cerita, aku berkenalan dengannya, dia aktif mengikuti organisasi remaja mesjid. Walaupun baru beberapa bulan dia pindah tapi sudah banyak orang yang sudah mengenalnya.

Semakin hari semakin aku mengenal dia. Semakin aku tertarik padanya. Bukan hanya karena fisiknya yang enak dilihat, tapi karena sikapnya yang ramah. Tapi aku tak berani mengungkapkan perasaanku sampai akhirnya kita lulus sekolah.

Kini dan Selalu


Malam ini, aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, wanita yang sangat bahagia karena besok aku akan dipersunting oleh laki-laki yang terbaik menurut sudut pandangku dan ku harap inilah laki-laki terakhir yang Allah berikan untukku. Kini dan selalu...

Calon suamiku ini, bukan orang yang kaya raya, bukan orang yang bergelimang harta, bukan juga seorang pengusaha muda sukses yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpiku.

***

Aku terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, mungkin bisa dibilang serba kekurangan, aku anak tertua dari tiga bersaudara. Ayahku seorang supir angkot, itu juga angkot orang lain sehingga harus ada setoran setiap hari. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Dulu Ibu memang sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun karena kondisi Ibu yang sering sakit-sakitan membuatnya tak mungkin lagi bekerja.

Walaupun hidup serba berkekurangan tapi Kami bahagia, Ayahku seorang yang sangat bertanggungjawab dan Ibu seorang yang selalu sabar dengan keadaan Kami.

Sebagai anak tertua sudah selayaknya aku membantu perekonomian keluarga, setelah lulus sekolah aku berniat ingin bekerja. Setelah melamar kesana kemari akhirnya ada sebuah outlet pakaian yang mau menerima aku sebagai karyawannya dengan gaji yang tidak terlalu besar, namun setidaknya aku bisa meringankan beban orangtuaku.

Kesalahan Itu


Penyesalan memang tak pernah datang diawal. Penyesalan selalu mendatangkan kekecewaan buatku sendiri ataupun buat orang lain. Walaupun semua mendatangkan hikmah, namun kesalahan itu tak akan pernah aku lupakan. Kesalahan besar dalam hidupku.

Pernikahan Kami sudah berjalan 10 tahun. Kebahagiaan semakin lengkap ketika lahir bidadari kecilku disaat pernikahanku berjalan lima tahun. Memang waktu yang cukup lama untuk bersabar menanti kehadiran buah hati Kami. Namun, kesabaran itu terbayar sudah ketika bidadari itu terlahir ke dunia. Amanah yang harus Kami jaga.

Suamiku tipe orang yang tegas, mungkin sedikit keras. Tidak ada istilah romantis dalam benaknya, mungkin karena sudah sifat dia yang seperti itu. Tak pernah ada candle light dinner, tak pernah ada kado-kado ulang tahun, tak pernah ada perayaan ulang tahun pernikahan seperti yang sering dilakukan pasangan suami istri di sinetron-sinetron. Ya…mungkin itu hanya sinetron yang kadang penuh kebohongan. Tanggungjawabnya yang besar terhadap keluarga membuat dia menjadi pekerja keras. Hampir tak ada waktu untuk keluarga. Terkadang weekend pun dia habiskan di kantor. Itulah suamiku. Tapi aku mencintainya…sangat mencintainya.

8 Mei 2012

Entah Sampai Kapan


Kubuka jendela kamar kontrakan yang tak seluas kamar di rumahku dulu. Terlihat padi hijau menghampar luas, udara sejuk dengan kicau burung. Langit pagi ini terlihat cerah dan saatnya aku harus beraktifitas.

Sudah beberapa bulan langkahku terhenti ditempat ini. Terkadang akupun heran kenapa aku berada disini. Jauh dari hirup pikuk kota yang penuh polusi. Sumpek, panas dan penat. Entah sampai kapan aku akan berada disini.

Bukan tanpa sebab ku tinggalkan semua orang-orang terdekatku. Orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang selalu berada disampingku. Orangtua, sahabat, rekan kerja, semua.

***

Dulu…aku anggap keluargaku adalah keluarga yang utuh. Aku mempunyai Ayah dan Ibu, seorang Adik dan satu orang Kakak. Adikku masih duduk di bangku SMU, sementara Kakakku sudah berumah tangga. Sementara aku sendiri menjalani kuliah di Fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Aku masuk jurusan itu memang sebuah paksaan dari Ayah, karena Ayah menginginkan aku menjadi seorang akuntan. Dan kini cita-cita ayah tercapai, aku sudah bekerja sebagai akuntan, bergelut dengan angka-angka yang berhubungan dengan keuangan setiap hari. Angka-angka itu sudah menumpuk di otakku dan hampir meledak.

Dia yang Terindah

Sakit rasanya ketika kita harus kehilangan orang yang pernah dekat dengan hidup kita. Menghiasi hari-hari kita, mendampingi disaat kita memerlukannya. Begitupun yang aku rasakan, dia harus pergi karena kekecewaannya kepadaku. Memang bukan salah dia untuk meninggalkan aku. Saat itu aku belum mempunyai pekerjaan tetap. Memang suatu kewajaran bila dia menginginkan yang terbaik. Walaupun hati ini tak rela tapi dengan sangat terpaksa aku harus melepasnya. Akhirnya diapun menikah dengan seseorang yang memang jauh lebih baik dari aku.

Sungguh aku tak bisa melupakannya, mungkin sampai saat ini. Dia masih bersarang di hatiku. Entah kapan akan hilang. Kedekatan aku dan dia memang tak begitu lama, tapi tak tau kenapa, dia seolah tak mau pergi dari ingatanku.

Saat ini, Alhamdulillah Tuhan sudah memberikan banyak kenikmatan untukku. Aku mempunyai sebuah pekerjaan yang memang aku senangi. Aku tak mengejar apapun, aku hanya butuh kenyamanan dan aku senang bekerja ditempat ini.