Setiap orang
pasti mempunyai harapan. Namun jika harapan itu tak akan pernah menjadi
kenyataan, mungkin Allah SWT akan memberikan jalan lain yang lebih indah. Begitupun
dengan jalan hidupku…
Aku hidup berdua
dengan Ibu setelah Ayah meninggal ketika aku berumur tiga tahun. Akupun lupa
wajah Ayahku.
Ibu seorang pembantu rumah tangga disebuah keluarga yang kaya raya. Kami
tinggal disana karena memang mereka yang meminta. Rumah mewah mungkin terlalu
besar jika hanya ditempati bertiga. Keluarga itu hanya mempunyai satu anak
perempuan yang umurnya hampir sama denganku.
Sejak kecil aku tinggal disana, membantu Ibu
meringankan bebannya. Sekedar mengepel lantai, mencuci mobil, membersihkan
pekarangan, tapi mungkin itu bisa sedikit meringankan tugas Ibu. Mereka sudah
menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri, biaya sekolah akupun mereka
tanggung sehingga Ibu tak perlu memikirkan biaya pendidikan aku.
***
Sejak kecil aku
dekat dengan gadis ini, gadis kecil anak majikanku. Dari kecil dia selalu
bersamaku, bermain ataupun sekolah. Majikanku sengaja menyekolahkan kita di sekolah yang
sama, mungkin tujuannya biar gadis kecil itu ada yang menjaga.
Sampai kita
menjelang dewasapun, kita selalu bersama-sama. Aku selalu berusaha membantunya jika dia
dalam kesulitan, dia gadis yang sangat baik. Dia gadis yang sangat menyenangkan
walaupun dia berasal dari keluarga yang berada. Sejak kecil dia memperlakukanku
dengan sangat baik.
Berkali-kali aku
ingin menganggapnya hanya sebagai seorang adik, namun entah mengapa aku tak
bisa. Aku tak ingin berharap terlalu jauh dengan perasaanku, namun aku tak
mampu. Apa mungkin aku sudah jatuh hati pada anak majikanku sendiri. Tak pantas
rasanya, aku hanya seorang anak pembantu. Tapi…apa salah???
***
Ibuku seorang
yang bijaksana, ketika aku ceritakan tentang perasaanku. Beliau hanya berkata, “Jangan bermimpi terlalu
tinggi, sekali jatuh takutnya kita tak mampu menahan rasa sakit itu”. Aku
pahami maksud Ibu. Aku coba untuk menghilangkan perasaan ini, namun aku tak
bisa.
Suatu hari,
majikanku memintaku untuk mengantar dia pergi ke acara pernikahan saudaranya, karena
majikanku tak bisa hadir, jadi beliau memintaku dan anaknya untuk mewakilinya. Akhirnya kitapun
berangkat.
Entah perasaanku
saja ataukah memang kenyataan sepertinya itu, aku merasa setiap mata memandangku disana.
Keluarga dia mungkin tahu kalau aku hanya anak seorang pembantu, tak layak
hadir disana. Seolah dia tahu perasaanku saat itu, dia hanya bilang kalau
pandangan orang tak perlu diambil hati.
Acarapun selesai
dan kamipun
pulang. Ditengah jalan, aku berkata pada dia kalau aku kurang suka dengan acara
seperti itu, dia hanya tersenyum dan berkata dengan candaannya, ”kalau kita menikah,
kamu harus membiasakan diri dengan keluargaku…”. ucapnya.
Aku hampir tak bisa
berkata-kata. Aku tahu itu hanya candaan dia. Dia selalu mempunyai
candaan-candaan yang memang selalu melumerkan suasana. Tapi saat itu candaan
itu membuatku gugup.
Aku terus berfikir, apa maksud perkataan dia tadi.
Apa mungkin dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Namun, jika aku
ingat kata-kata Ibu, aku tepis saat itu juga perasaanku.
***
Perasaan yang
tak akan pernah aku ungkap. Biarlah dia tetap tahu bahwa aku hanyalah sebagai
teman baiknya, teman yang selalu ada untuknya, yang memang itu tuntutanku
terhadap anak majikan. Aku akan tetap menjaganya semampuku, aku akan tetap
mendoakannya.
Tak terasa,
kitapun lulus smu. Aku putuskan untuk bekerja saja dan tidak melanjutkan ke
perguruan tinggi walaupun majikanku menawarkanku untuk membiayai kuliahku.
Namun aku tak ingin menjadi beban orang lain. Aku ingin membahagiakan Ibu
dengan uang hasil keringatku sendiri. Aku ingin Ibu berenti bekerja, karena
memang kondisi badannya yang sudah menurun mungkin karena faktor usia. Sekarang
sudah saatnya Ibu beristirahat.
Alhamdulilah,
aku mendapatkan pekerjaan disebuah pabrik pakaian, memang gajinya tak seberapa tapi
cukuplah untuk hidup aku dan Ibu dan sedikit menabung. Tentunya aku tak mungkin
terus-terusan hidup bersama keluarga kaya ini. Jadi aku putuskan untuk pindah
ke rumah Kami
yang dulu. Awalnya keluarga ini menolak permintaanku. Mereka sudah menganggapku
keluarga sendiri, namun setelah aku yakinkan mereka akhirnya mereka pun
menyetujuinya.
Akupun melihat
kesedihan terpancar dari wajah dia. Gadis yang ku cinta. Dia malah sempat bilang kalau aku sangat tega
meninggalkannya tapi aku hanya tersenyum dan berkata kalau aku akan selalu
menjaganya.
***
Sebulan berlalu,
aku kini tinggal berdua dengan Ibu di rumah peninggalan Ayah dulu yang sempat Kami kontrakan ketika Kami tinggal di rumah
majikanku. Namun komunikasi dengan dia masih tetap aku jaga. Alangkah kagetnya aku
ketika dia bilang kalau dia akan meneruskan kuliahnya di luar negeri. Dia akan segera berangkat
minggu depan.
Sedih rasanya.
Mungkin aku tak akan bisa melihatnya dalam waktu yang cukup lama. Semua juga
bisa terjadi diwaktu yang lama itu. Hal yang paling menyedihkan, mungkin aku sudah tak bisa menjaganya lagi.
Rasa yang aku miliki bukan untuk memiliki dia. Karena aku sadar, itu tak
mungkin, walaupun bagi-NYA tidak ada yang tak mungkin. Namun aku selalu
berusaha realistis.
***
Seminggu
kemudian, waktu yang tak ingin kulalui sebenarnya. Aku dan Ibu berniat untuk ikut mengantarkan dia ke
bandara. Sesampai disana, aku lihat dia dengan wajah yang sangat murung. Dia
sempat berkata kalau ini bukan keinginannya, ini hanyalah keinginan orangtua
dan dia tak bisa menolak. Ingin aku ungkapkan perasaanku saat itu…namun sekuat
tenaga aku menahannya sampai akhirnya dia pergi.
Dia pergi dengan
meninggalkan
sejuta harapanku. Dia mungkin tak tahu, ada yang tertinggal disini. Tapi biarlah aku
akan coba menjalani hidup ini seperti adanya.
Sejak dia diluar
negeri, aku bisa menghitung hanya lima kali dia menghubungiku. Itupun hanya
melalui surat. Aku hanya tahu kabar dia dari orangtuanya yang tak lain adalah
mantan majikan aku dan Ibu. Menurut orangtuanya dia akan tinggal disana sekitar
empat atau lima tahunan.
Aku selalu
menanti waktu itu…bukan untuk memilikinya, hanya untuk melihatnya.
***
Lima tahun
kemudian. Kuhitung waktu itu sejak dulu. Berkali-kali aku selalu bertanya pada
mantan majikanku kapan dia kembali. Akhirnya hari itu adalah hari yang ku nanti.
Dia kembali…Bertahun-tahun
aku selalu berharap dia kembali…
Aku tak bisa
menolak hatiku…bila harapan-harapan itu datang lagi ketika aku melihatnya. Tak banyak yang berubah,
walaupun kita sudah berpisah cukup lama. Sikapnya masih seperti dulu, hanya
satu yang berubah, dia sekarang tampak cantik dengan jilbabnya.
***
Seminggu berlalu
sejak dia kembali. Tiba-tiba siang itu dia datang ke rumah dengan seorang laki-laki. Aku tak tahu itu
siapa. Alangkah
kagetnya aku, ketika dia bilang kalau itu calon suaminya. Seorang laki-laki yang dia kenal di negeri
orang ketika mereka sama-sama sedang menuntut ilmu. Mereka dekat mungkin karena sama-sama orang
Indonesia. Akhirnya
mereka jatuh cinta dan akan segera menikah.
Hancur hatiku
saat itu, namun aku berusaha untuk meyakinkan hatiku bahwa Allah SWT selalu
memberi yang terbaik untukku. Walaupun menyakitkan tapi inilah jalan hidup yang
harus aku lalui.
Dia kembali, dia memang kembali…tapi
untuk orang lain…bukan untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar