4 Jan 2012

Dia Kembali


Setiap orang pasti mempunyai harapan. Namun jika harapan itu tak akan pernah menjadi kenyataan, mungkin Allah SWT akan memberikan jalan lain yang lebih indah. Begitupun dengan jalan hidupku…

Aku hidup berdua dengan Ibu setelah Ayah meninggal ketika aku berumur tiga tahun. Akupun lupa wajah Ayahku. Ibu seorang pembantu rumah tangga disebuah keluarga yang kaya raya. Kami tinggal disana karena memang mereka yang meminta. Rumah mewah mungkin terlalu besar jika hanya ditempati bertiga. Keluarga itu hanya mempunyai satu anak perempuan yang umurnya hampir sama denganku.

Sejak kecil aku tinggal disana, membantu Ibu meringankan bebannya. Sekedar mengepel lantai, mencuci mobil, membersihkan pekarangan, tapi mungkin itu bisa sedikit meringankan tugas Ibu. Mereka sudah menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri, biaya sekolah akupun mereka tanggung sehingga Ibu tak perlu memikirkan biaya pendidikan aku.


***

Sejak kecil aku dekat dengan gadis ini, gadis kecil anak majikanku. Dari kecil dia selalu bersamaku, bermain ataupun sekolah. Majikanku sengaja menyekolahkan kita di sekolah yang sama, mungkin tujuannya biar gadis kecil itu ada yang menjaga.

Sampai kita menjelang dewasapun, kita selalu bersama-sama. Aku selalu berusaha membantunya jika dia dalam kesulitan, dia gadis yang sangat baik. Dia gadis yang sangat menyenangkan walaupun dia berasal dari keluarga yang berada. Sejak kecil dia memperlakukanku dengan sangat baik.

Berkali-kali aku ingin menganggapnya hanya sebagai seorang adik, namun entah mengapa aku tak bisa. Aku tak ingin berharap terlalu jauh dengan perasaanku, namun aku tak mampu. Apa mungkin aku sudah jatuh hati pada anak majikanku sendiri. Tak pantas rasanya, aku hanya seorang anak pembantu. Tapi…apa salah???

***

Ibuku seorang yang bijaksana, ketika aku ceritakan tentang perasaanku. Beliau hanya berkata, “Jangan bermimpi terlalu tinggi, sekali jatuh takutnya kita tak mampu menahan rasa sakit itu”. Aku pahami maksud Ibu. Aku coba untuk menghilangkan perasaan ini, namun aku tak bisa.

Suatu hari, majikanku memintaku untuk mengantar dia pergi ke acara pernikahan saudaranya, karena majikanku tak bisa hadir, jadi beliau memintaku dan anaknya untuk mewakilinya. Akhirnya kitapun berangkat.

Entah perasaanku saja ataukah memang kenyataan sepertinya itu, aku merasa setiap mata memandangku disana. Keluarga dia mungkin tahu kalau aku hanya anak seorang pembantu, tak layak hadir disana. Seolah dia tahu perasaanku saat itu, dia hanya bilang kalau pandangan orang tak perlu diambil hati.

Acarapun selesai dan kamipun pulang. Ditengah jalan, aku berkata pada dia kalau aku kurang suka dengan acara seperti itu, dia hanya tersenyum dan berkata dengan candaannya, ”kalau kita menikah, kamu harus membiasakan diri dengan keluargaku…”. ucapnya.

Aku hampir tak bisa berkata-kata. Aku tahu itu hanya candaan dia. Dia selalu mempunyai candaan-candaan yang memang selalu melumerkan suasana. Tapi saat itu candaan itu membuatku gugup.

Aku terus berfikir, apa maksud perkataan dia tadi. Apa mungkin dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Namun, jika aku ingat kata-kata Ibu, aku tepis saat itu juga perasaanku.

***
Perasaan yang tak akan pernah aku ungkap. Biarlah dia tetap tahu bahwa aku hanyalah sebagai teman baiknya, teman yang selalu ada untuknya, yang memang itu tuntutanku terhadap anak majikan. Aku akan tetap menjaganya semampuku, aku akan tetap mendoakannya.

Tak terasa, kitapun lulus smu. Aku putuskan untuk bekerja saja dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi walaupun majikanku menawarkanku untuk membiayai kuliahku. Namun aku tak ingin menjadi beban orang lain. Aku ingin membahagiakan Ibu dengan uang hasil keringatku sendiri. Aku ingin Ibu berenti bekerja, karena memang kondisi badannya yang sudah menurun mungkin karena faktor usia. Sekarang sudah saatnya Ibu beristirahat.

Alhamdulilah, aku mendapatkan pekerjaan disebuah pabrik pakaian, memang gajinya tak seberapa tapi cukuplah untuk hidup aku dan Ibu dan sedikit menabung. Tentunya aku tak mungkin terus-terusan hidup bersama keluarga kaya ini. Jadi aku putuskan untuk pindah ke rumah Kami yang dulu. Awalnya keluarga ini menolak permintaanku. Mereka sudah menganggapku keluarga sendiri, namun setelah aku yakinkan mereka akhirnya mereka pun menyetujuinya.

Akupun melihat kesedihan terpancar dari wajah dia. Gadis yang ku cinta. Dia malah sempat bilang kalau aku sangat tega meninggalkannya tapi aku hanya tersenyum dan berkata kalau aku akan selalu menjaganya.

***

Sebulan berlalu, aku kini tinggal berdua dengan Ibu di rumah peninggalan Ayah dulu yang sempat Kami kontrakan ketika Kami tinggal di rumah majikanku. Namun komunikasi dengan dia masih tetap aku jaga. Alangkah kagetnya aku ketika dia bilang kalau dia akan meneruskan kuliahnya di luar negeri. Dia akan segera berangkat minggu depan.

Sedih rasanya. Mungkin aku tak akan bisa melihatnya dalam waktu yang cukup lama. Semua juga bisa terjadi diwaktu yang lama itu. Hal yang paling menyedihkan, mungkin aku sudah tak bisa menjaganya lagi. Rasa yang aku miliki bukan untuk memiliki dia. Karena aku sadar, itu tak mungkin, walaupun bagi-NYA tidak ada yang tak mungkin. Namun aku selalu berusaha realistis.

***

Seminggu kemudian, waktu yang tak ingin kulalui sebenarnya. Aku dan Ibu berniat untuk ikut mengantarkan dia ke bandara. Sesampai disana, aku lihat dia dengan wajah yang sangat murung. Dia sempat berkata kalau ini bukan keinginannya, ini hanyalah keinginan orangtua dan dia tak bisa menolak. Ingin aku ungkapkan perasaanku saat itu…namun sekuat tenaga aku menahannya sampai akhirnya dia pergi.

Dia pergi dengan meninggalkan sejuta harapanku. Dia mungkin tak tahu, ada yang tertinggal disini. Tapi biarlah aku akan coba menjalani hidup ini seperti adanya.

Sejak dia diluar negeri, aku bisa menghitung hanya lima kali dia menghubungiku. Itupun hanya melalui surat. Aku hanya tahu kabar dia dari orangtuanya yang tak lain adalah mantan majikan aku dan Ibu. Menurut orangtuanya dia akan tinggal disana sekitar empat atau lima tahunan.
Aku selalu menanti waktu itu…bukan untuk memilikinya, hanya untuk melihatnya.

***

Lima tahun kemudian. Kuhitung waktu itu sejak dulu. Berkali-kali aku selalu bertanya pada mantan majikanku kapan dia kembali. Akhirnya hari itu adalah hari yang ku nanti.

Dia kembali…Bertahun-tahun aku selalu berharap dia kembali…

Aku tak bisa menolak hatiku…bila harapan-harapan itu datang lagi ketika aku melihatnya. Tak banyak yang berubah, walaupun kita sudah berpisah cukup lama. Sikapnya masih seperti dulu, hanya satu yang berubah, dia sekarang tampak cantik dengan jilbabnya.

***

Seminggu berlalu sejak dia kembali. Tiba-tiba siang itu dia datang ke rumah dengan seorang laki-laki. Aku tak tahu itu siapa. Alangkah kagetnya aku, ketika dia bilang kalau itu calon suaminya. Seorang laki-laki yang dia kenal di negeri orang ketika mereka sama-sama sedang menuntut ilmu. Mereka dekat mungkin karena sama-sama orang Indonesia. Akhirnya mereka jatuh cinta dan akan segera menikah.

Hancur hatiku saat itu, namun aku berusaha untuk meyakinkan hatiku bahwa Allah SWT selalu memberi yang terbaik untukku. Walaupun menyakitkan tapi inilah jalan hidup yang harus aku lalui.

Dia kembali, dia memang kembali…tapi untuk orang lain…bukan untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar