Mungkin orang bilang aku cengeng, mungkin orang bilang aku lemah
hanya karena sebuah cinta.
Tapi apa aku tak boleh sedih? Apa aku juga tak boleh menangis karena cinta???
Sekitar dua tahun lebih aku bersamanya.
Menjalani hari-hari yang sangat indah. Bagiku, dialah laki-laki-laki terbaik
yang pernah hadir mengisi hidupku. Cukup dia dan aku tak ingin mencari yang
lain.
Mungkin orang mencibir hubungan Kami,
termasuk orangtuaku yang memang melarang keras hubungan aku dengannya. Aku cukup mengerti karena memang
setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku sangat pahami itu. Namun aku
berusaha dan terus berusaha untuk meyakinkan orangtuaku kalau dia adalah sosok
yang mampu membahagiakan aku. Tak mudah memang meyakinkan mereka, namun aku
akan terus berusaha.
***
Tentang dia...aku juga tak tahu awalnya bagaimana, dari kapan aku bisa jatuh cinta
padanya. Tapi memang terkadang
kita tak tahu kapan cinta itu datang dan pergi. Begitupun aku...
Aku terlahir dari keluarga yang terpandang,
mungkin bisa dibilang aku anak orang kaya. Keluargaku semua pengusaha yang
sukses. Dari kecil hidupku nyaris tak pernah kekurangan. Jika aku menggunakan
logikaku dalam menjalani hubungan ini, memang sepertinya aku tak pantas
berhubungan dengan dia yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi
inilah cinta, bisa merubah segalanya.
Dia mampu membuatku nyaman, dia mampu merubah
sikapku yang manja, dia mampu mengajari apapun tentang kehidupan. Dia selalu berkata kalau
hidup itu tidak selamanya indah.
Hidupku memang serba berkecukupan, namun mungkin saja suatu saat semua akan
hilang. Dia mengajariku tentang kesederhanaan dan mungkin itulah yang membuatku
jatuh cinta.
Hubungan Kami memang tak pernah mendapat restu
orangtuaku. Mereka menganggap bahwa dia tak akan sanggup menghidupiku dengan
layak. Tapi aku tak peduli, karena aku menyayanginya.
Waktu terus berjalan, memang aku menyadari
terasa berat menjalani hubungan ini tanpa restu orangtua. Apalagi aku yakin restu
orang tua adalah ridho-NYA. Terkadang aku semakin merasa takut dengan apa yang aku jalani. Apalagi aku tahu kalau
dia sangat mengharapkan restu dari orangtuaku.
Aku fikir dengan berjalannya waktu semua bisa
berubah. Semua bisa berjalan seperti apa yang aku harapkan. Ternyata memang semua terjadi. Orangtuaku sedikit
membuka hati ketika aku membawa dia ke rumah dan mengenalkannya pada mereka.
Kesopanan dia membuat orangtuaku sedikit luluh.
Aku bersyukur, walaupun belum 100% mereka
merestui, tapi setidaknya sekarang dia bisa mengunjungiku di rumah untuk
bertemu. Aku berharap ke depannya yang terbaik akan selalu ada untuk Kami.
Tapi entah apa yang kurasa, akhir-akhir ini.
Aku merasa sikap dia berubah padaku. Dia semakin menjauh dan aku sendiri tak
tahu penyebabnya apa. Dia tak seramah dulu. Kenapa disaat orangtuaku membuka hatinya untuk
hubungan kita, dia justru malah berusaha menjauh.
Semakin hari aku merasakan dia bukan yang dulu.
Dia semakin berubah dan tampak lain didepanku. Aku mencoba untuk mengerti, mungkin saja dia sedang ada
masalah, namun kenapa dia tak pernah bicara padaku. Padahal aku adalah orang
yang paling dekat dengan dia. Setiap ada masalah apapun, Kami selalu
membicarakannya baik-baik, tak seperti sekarang ini.
***
Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, nanti akan
tercium juga. Dan itulah ternyata keadaannya. Aku tahu kenapa dia menjauh, aku tahu
kenapa dia menghindar. Aku tahu kenapa dia berubah. Ternyata beberapa bulan
lalu dia jatuh cinta pada seorang wanita yang dia kenal sejak kecil. Menurut
keterangan temannya yang mengetahui ini semua, kalau wanita itu adalah teman
kecilnya yang bertemu lagi dalam suasana yang berbeda.
Kebersamaan mereka lagi membuat cinta itu
muncul. Cinta tumbuh dan berkembang. Mungkin saat ini dia
sudah melupakan cintanya bersamaku.
***
Mungkin semua orang pernah merasakan ini,
merasakan kepedihan di hati ketika kesetiaan tak berharga sedikitpun.
Begitupun dengan aku, ketika aku berharap dia yang terakhir untuk hidupku, dia
yang terbaik untuk mengisi sisa hari-hariku. Dia malah pergi dengan orang lain
tanpa ada pesan apapun untukku.
Hari-hari berat yang sudah pernah aku jalani tak ada
artinya. Aku bahkan menentang orangtuaku sendiri hanya
untuk mencintainya, aku berusaha selalu mengerti dia, memberikan seluruh hatiku
untuknya, tapi apa yang aku dapat. Tak ada yang ku dapat.
Apa yang salah dariku? Apa yang membuat dia berubah dengan
niatnya dulu...apa yang membuat dia berfikir kalau ini memang bukan jalan
kita...bukankah dia yang dulu selalu meyakinkanku bahwa dengan waktu semua bisa
berjalan dengan baik dan kenapa justru dia yang mengingkarinya.
***
Jika aku melihat dari sisi perasaanku, memang aku merasa dia pengkhianat
yang ingin sekali aku buang jauh dari hidupku. Perasaan sakit yang aku rasa tak
pernah bisa diobati hanya dengan ucapan “maaf”. Tapi jika aku melihat dari sisi logikaku, mungkin selama ini dia merasa
tak nyaman hidup denganku, dengan kesenjangan ekonomi, mungkin dia mencoba untuk menyimpan
perasaannya sendiri dengan apa yang dia rasa. Mungkin saja, jika situasi yang sama seperti itu
aku alami, akupun bisa berbuat seperti itu padanya. Aku tak tahu...
Perasaan mana yang bisa aku ambil. Perasaan
sakitku apa perasaan mengertiku. Yang jelas saat ini aku mencoba untuk
mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan tercipta untukku.
Dia memang pergi tanpa memberiku alasan, dia
pergi dengan membawa
segudang tanda tanya di
hatiku. Tapi inilah kenyataan
yang ada, aku harus melupakannya, dan memberikan ucapan selamat semoga hidupnya
lebih nyaman bersamanya.
Aku masih disini...menanti bunga hati yang lain
yang bisa membahagiakan aku seumur hidupku, dalam sisa nafasku. Mencari bunga
hati lain yang mampu menjagaku, membimbingku dan tak akan pernah menyakitiku.
Aku yakin...suatu hari nanti aku akan menemukan bunga hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar