5 Des 2012

Menanti Bunga Hati


Mungkin orang bilang aku cengeng, mungkin orang bilang aku lemah hanya karena sebuah cinta. Tapi apa aku tak boleh sedih? Apa aku juga tak boleh menangis karena cinta???

Sekitar dua tahun lebih aku bersamanya. Menjalani hari-hari yang sangat indah. Bagiku, dialah laki-laki-laki terbaik yang pernah hadir mengisi hidupku. Cukup dia dan aku tak ingin mencari yang lain.

Mungkin orang mencibir hubungan Kami, termasuk orangtuaku yang memang melarang keras hubungan aku dengannya. Aku cukup mengerti karena memang setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku sangat pahami itu. Namun aku berusaha dan terus berusaha untuk meyakinkan orangtuaku kalau dia adalah sosok yang mampu membahagiakan aku. Tak mudah memang meyakinkan mereka, namun aku akan terus berusaha.

***

Tentang dia...aku juga tak tahu awalnya bagaimana, dari kapan aku bisa jatuh cinta padanya. Tapi memang terkadang kita tak tahu kapan cinta itu datang dan pergi. Begitupun aku...


Aku terlahir dari keluarga yang terpandang, mungkin bisa dibilang aku anak orang kaya. Keluargaku semua pengusaha yang sukses. Dari kecil hidupku nyaris tak pernah kekurangan. Jika aku menggunakan logikaku dalam menjalani hubungan ini, memang sepertinya aku tak pantas berhubungan dengan dia yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi inilah cinta, bisa merubah segalanya.

Dia mampu membuatku nyaman, dia mampu merubah sikapku yang manja, dia mampu mengajari apapun tentang kehidupan. Dia selalu berkata kalau hidup itu tidak selamanya indah. Hidupku memang serba berkecukupan, namun mungkin saja suatu saat semua akan hilang. Dia mengajariku tentang kesederhanaan dan mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta.

Hubungan Kami memang tak pernah mendapat restu orangtuaku. Mereka menganggap bahwa dia tak akan sanggup menghidupiku dengan layak. Tapi aku tak peduli, karena aku menyayanginya.

Waktu terus berjalan, memang aku menyadari terasa berat menjalani hubungan ini tanpa restu orangtua. Apalagi aku yakin restu orang tua adalah ridho-NYA. Terkadang aku semakin merasa takut dengan apa yang aku jalani. Apalagi aku tahu kalau dia sangat mengharapkan restu dari orangtuaku.

Aku fikir dengan berjalannya waktu semua bisa berubah. Semua bisa berjalan seperti apa yang aku harapkan. Ternyata memang semua terjadi. Orangtuaku sedikit membuka hati ketika aku membawa dia ke rumah dan mengenalkannya pada mereka. Kesopanan dia membuat orangtuaku sedikit luluh.

Aku bersyukur, walaupun belum 100% mereka merestui, tapi setidaknya sekarang dia bisa mengunjungiku di rumah untuk bertemu. Aku berharap ke depannya yang terbaik akan selalu ada untuk Kami.

Tapi entah apa yang kurasa, akhir-akhir ini. Aku merasa sikap dia berubah padaku. Dia semakin menjauh dan aku sendiri tak tahu penyebabnya apa. Dia tak seramah dulu. Kenapa disaat orangtuaku membuka hatinya untuk hubungan kita, dia justru malah berusaha menjauh.

Semakin hari aku merasakan dia bukan yang dulu. Dia semakin berubah dan tampak lain didepanku. Aku mencoba untuk mengerti, mungkin saja dia sedang ada masalah, namun kenapa dia tak pernah bicara padaku. Padahal aku adalah orang yang paling dekat dengan dia. Setiap ada masalah apapun, Kami selalu membicarakannya baik-baik, tak seperti sekarang ini.

***

Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, nanti akan tercium juga. Dan itulah ternyata keadaannya. Aku tahu kenapa dia menjauh, aku tahu kenapa dia menghindar. Aku tahu kenapa dia berubah. Ternyata beberapa bulan lalu dia jatuh cinta pada seorang wanita yang dia kenal sejak kecil. Menurut keterangan temannya yang mengetahui ini semua, kalau wanita itu adalah teman kecilnya yang bertemu lagi dalam suasana yang berbeda.

Kebersamaan mereka lagi membuat cinta itu muncul. Cinta tumbuh dan berkembang. Mungkin saat ini dia sudah melupakan cintanya bersamaku.

***

Mungkin semua orang pernah merasakan ini, merasakan kepedihan di hati ketika kesetiaan tak berharga sedikitpun. Begitupun dengan aku, ketika aku berharap dia yang terakhir untuk hidupku, dia yang terbaik untuk mengisi sisa hari-hariku. Dia malah pergi dengan orang lain tanpa ada pesan apapun untukku.

Hari-hari berat yang sudah pernah aku jalani tak ada artinya. Aku bahkan menentang orangtuaku sendiri hanya untuk mencintainya, aku berusaha selalu mengerti dia, memberikan seluruh hatiku untuknya, tapi apa yang aku dapat. Tak ada yang ku dapat.

Apa yang salah dariku? Apa yang membuat dia berubah dengan niatnya dulu...apa yang membuat dia berfikir kalau ini memang bukan jalan kita...bukankah dia yang dulu selalu meyakinkanku bahwa dengan waktu semua bisa berjalan dengan baik dan kenapa justru dia yang mengingkarinya.

***

Jika aku melihat dari sisi perasaanku, memang aku merasa dia pengkhianat yang ingin sekali aku buang jauh dari hidupku. Perasaan sakit yang aku rasa tak pernah bisa diobati hanya dengan ucapan “maaf”. Tapi jika aku melihat dari sisi logikaku, mungkin selama ini dia merasa tak nyaman hidup denganku, dengan kesenjangan ekonomi, mungkin dia mencoba untuk menyimpan perasaannya sendiri dengan apa yang dia rasa. Mungkin saja, jika situasi yang sama seperti itu aku alami, akupun bisa berbuat seperti itu padanya. Aku tak tahu...

Perasaan mana yang bisa aku ambil. Perasaan sakitku apa perasaan mengertiku. Yang jelas saat ini aku mencoba untuk mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan tercipta untukku.

Dia memang pergi tanpa memberiku alasan, dia pergi dengan membawa segudang tanda tanya di hatiku. Tapi inilah kenyataan yang ada, aku harus melupakannya, dan memberikan ucapan selamat semoga hidupnya lebih nyaman bersamanya.


Aku masih disini...menanti bunga hati yang lain yang bisa membahagiakan aku seumur hidupku, dalam sisa nafasku. Mencari bunga hati lain yang mampu menjagaku, membimbingku dan tak akan pernah menyakitiku. Aku yakin...suatu hari nanti aku akan menemukan bunga hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar