5 Des 2012

Yang Tertinggal Hanyalah Sesal

Namaku Tarisa Rahma, orang biasa memanggilku dengan sebutan Rahma. Kesuksesan karierku tidak secemerlang kehidupan pribadiku. Aku dikenal orang sebagai dosen di Universitas ternama di kota ini. Orang sekitar segan dengan jabatan dan pendidikan yang aku raih saat ini. Namun semua itu terkadang tak membuatku bangga.

Masih ku lihat buah hatiku yang tertidur lelap disampingku saat ini. Sesekali dia tersenyum dengan mimpinya. Sungguh cantik sekali. Harta terindah yang aku miliki saat ini hanyalah dia.

Aku buka jendela kamarku, aku melihat bintang-bintang masih bersinar terang di langit. Kepekatan malam saat itu menjadi cerah dengan kehadirannya. Tak terasa air mata ini jatuh lagi. Berkali-kali aku menghapusnya, namun air mata itu tetap saja mengalir tanpa bisa aku tahan. Lamunanku melayang dengan kejadian yang sangat menyakitkan.



Aku mengenal laki-laki yang saat ini menjadi mantan suamiku ketika aku menempuh bangku kuliah dulu. Dia satu angkatan denganku hanya berbeda jurusan. Karena faktor kecocokan hingga akhirnya membuat kita dekat. Walaupun usia Kami saat itu masih sangat muda, namun Kami sudah mempunyai pemikiran yang matang untuk berumah tangga.

Setelah Kami lulus kuliah, aku berencana untuk segera bekerja karena aku adalah anak tertua dan mempunyai tanggungjawab untuk membiayai sekolah adik-adikku walaupun tak ada tuntutan sama sekali dari orangtua. Berbeda dengan dia, dia berniat untuk meneruskan sekolah S2 nya.

Aku masih ingat, sore itu, hari selasa tanggal 2 januari beberapa tahun yang lalu, dia tiba-tiba datang ke rumahku. Berniat untuk menemui kedua orangtuaku. Terbersit berjuta tanya saat itu, karena tak biasanya dia datang mendadak.

Isi pembicaraan sore itu sungguh membuatku kaget sekaligus bahagia, karena dia memaparkan ingin melamarku sebelum dia pergi keluar negeri untuk melanjutkan S2 nya. Tanpa aku tahu, selama ini dia banyak mengajukan beasiswa ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya dan ternyata harapannya terkabul.

Dia akan pergi sekitar empat bulan lagi. Sebelum pergi dia bermaksud untuk meminangku. Ada rasa bahagia dalam hati akan maksud baiknya, namun entah kenapa hatiku seolah tak bisa merelakan dia pergi.

Kitapun bertunangan dan dia pergi dalam waktu yang cukup lama. Kurang lebih sekitar dua tahun. Ketika aku antar dia ke bandara, perasaan itu masih bersarang di hatiku. Apa mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Namun aku mencoba menghapus semua rasa itu agar tak menjadi beban untukku.

***

Bulan berganti bulan, tak terasa sudah satu tahun dia pergi. Komunikasi masih lancar tanpa hambatan. Seminggu sekali dia pasti memberikan kabar padaku. Perlahan rasa ragu itu hilang dari hatiku. Aku mencoba mengabaikan segala rasa yang menghantuiku dengan fokus pada pekerjaanku. Sejak dia pergi, aku diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta yang tak jauh dari tempat tinggalku saat ini.

Aku selalu menghitung, dari hari kehari, bulan kebulan, kapan dia akan kembali. Tak terasa dua bulan lagi dia akan kembali.

Selama dua bulan itu, aku kehilangan kontak dengannya, entah kenapa. Aku memang takut, aku sangat takut kehilangan dia. Lalu kemana dia? Apa yang terjadi dengannya, kenapa hal ini bisa terjadi padaku. Aku coba tanyakan pada keluarganya. Namun keluarga mereka seolah menutupi semuanya.

***

Dua bulan berlalu, seharusnya dia ada disini bersamaku. Seharusnya aku bisa melihat dia saat ini, seharusnya dia menemuiku. Namun dia tak ada. Aku coba untuk datang ke keluarganya namun mereka sudah pindah. Aku coba menghubungi mereka lewat telepon atau sms, namun tak ada satupun yang bisa dihubungi. Kenapa???

Aku sempat sakit karena menahan beban di dada. Orangtua pun menjadi khawatir dengan keadaanku. Namun mereka juga tak bisa berbuat apa-apa.

Enam bulan berlalu, aku masih belum bisa melupakannya, aku belum bisa memahami apa yang terjadi, aku belum bisa mengerti apa maksud semua ini. Air mata ini masih mengalir setiap aku ingat perlakuannya padaku hingga pada suatu siang tepat dua minggu setelah aku ulang tahun ada kiriman bunga dan sepucuk surat tersimpan rapi di atas meja kerjaku.

Bunga mawar merah kesukaanku.

Aku buka amplop yang berisi surat itu…

Dear Tarisa Rahma,
Selamat ulang tahun, semoga gadisku ini selalu diberikan kebahagiaan selamanya...Kamu mungkin bertanya-tanya, siapa aku? Aku tak berani mengenalkan diriku sendiri, karena aku tahu terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan padamu…
Aku telah meninggalkanmu dengan sangat terpaksa. Mungkin kamu tak akan pernah memaafkan aku, namun tolong maafkan aku, karena aku yakin suatu saat nanti kamu akan mengerti kenapa kita harus berpisah…

***

Tak terasa air mata ini jatuh, sesak dada ini. Jika dia sudah tak mencintaiku, kenapa dia meninggalkanku harus dengan cara seperti ini. Kita sudah bertunangan, bukan hanya aku yang tersakiti namun juga kedua orangtuaku.

Aku tutup amplop itu, aku buang beserta bunga indahnya. Jika ada suatu kata melebih kata sakit, itulah yang aku rasakan saat itu.

***

Tiga tahun berlalu, beban ini perlahan hilang. Aku berniat untuk melanjutkan sekolah S2ku, aku  ingin menjadi dosen karena itulah cita-citaku sejak dulu. Setelah aku bicarakan dengan orngtua, merekapun setuju dengan maksudku. Akhirnya aku melanjutkan sekolahku di Yogyakarta, jarak yang cukup jauh dengan tempat tinggalku saat ini.

Semua berjalan sesuai keinginan dan harapanku. Singkat cerita aku sudah lulus dan mendapat gelar magister. Akupun sudah menjadi seorang dosen dengan perjuangan yang tidak terlalu berat. Yang Maha Kuasa memang sudah memudahkan langkahku. Alhamdulillah…

Aku sekarang mengajar disalah satu Universitas negeri di kota ini. Aku bahagia, dengan apa yang aku raih. Orangtuaku pasti bangga dengan prestasi ini. Namun kenapa ada rasa miris di hati tentangku.
Dengan usiaku yang sudah cukup dewasa dan sudah selayaknya berumah tangga, kenapa tak ada rasa yang bisa menggantikan posisi dia di hatiku. Ada beberapa laki-laki yang datang untuk meminangku, namun rasa yang dulu itu tak pernah ada. Aku belum bisa melupakannya walaupun dia sudah menyakiti hatiku sangat dalam.

***

Siang itu, selepas mengajar, aku berniat akan membeli buku kesebuah toko buku tak jauh dari kampus tempat aku mengajar. Sedang asyik memilih buku yang akan aku beli. Aku melihat tepat didepan mataku sosok yang aku sendiri hampir tak percaya. Dia…dia hadir lagi didepan mataku. Apa ini kebetulan?

Mataku seolah tak berkedip, nafasku seolah terhenti, aliran darahku seolah tersumbat ketika aku melihat sosok yang telah melukai hatiku hadir didepan mataku lagi. Ingin aku menjerit saat itu, ingin aku memaki dia, namun aku coba menahan semua rasa dan yang ada hanya seulas senyum.

“ Halo, apa kabar?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya. Mulut yang pernah mengeluarkan kata-kata yang membuat hati ini menangis.

“Baik...” jawabku singkat.

***

Pertemuan itu membuatku merasa menjadi orang yang sangat bodoh, namun disisi lain, aku juga merasa menjadi orang yang bijaksana yang masih mau mendengarkan dan berbicara dengan orang seperti dia. Namun, aku ingin melatih diriku untuk selalu bersabar dan ikhlas menerima setiap ketentuan-NYA.

Hari berganti hari, jika aku harus berkata jujur, hatiku memang tak pernah berubah. Rasa bahagia yang ada di hati masih seperti dulu ketika dia hadir. Entah bodoh atau apa, yang pasti aku masih merindukannya.

***

Dia menceritakan kalau rumah tangga yang dia bangun dengan istrinya sudah kandas, diapun menjelaskan kenapa dia pergi dari hidupku saat itu. Kepergian yang tidak wajar. Semula aku tak mengerti dengan semua ini, namun lagi-lagi perasaan cintaku padanya mengalahkan logika yang ada.
Semakin hari Kami semakin dekat. Aku mulai mempercayainya lagi, aku mulai memberikan hatiku lagi padanya. Hingga pada suatu hari, dia datang untuk melamarku lagi.

Sudah aku tebak, orangtuaku pasti melarangku. Mereka marah dengan keinginanku. Keinginan untuk menikah dengan dia. Berkali-kali orangtua menasehatiku untuk tidak pernah berhubungan dengan dia lagi namun entah kenapa seolah aku tak peduli dengan omongan mereka.

Aku terus memaksa orangtuaku untuk merestui, namun tetap mereka tak memberikan ijin. Sampai akhirnya aku pergi dari rumah dan memutuskan untuk menikah dengan dia.

Aku memang anak yang berdosa, aku memang anak yang tak tahu terimaksih, aku memang anak yang tak pantas dikatakan anak oleh orangtuaku. Kekecewaan dan sakit hati, mungkin tengah merasuki hati orangtuaku saat ini. Namun, aku mencintainya, sungguh mencintainya…

***

Satu tahun berlalu, aku merindukan keluargaku, aku rindu Ibu dan Ayah. Aku juga merindukan adik-adikku walaupun sekarang sudah hadir bayi mungil yang menghiasi hari-hariku, namun itu tak menjadi obat rasa rinduku pada mereka. Kata maafpun mungkin tak akan pernah bisa mewakili rasa bersalahku.

Tiga tahun pernikahan Kami, semua masih baik-baik saja. Hanya keganjilan demi keganjilan kian datang. Suamiku, selalu datang larut malam. Kadang dia tak pernah pulang. Jika aku tanya, hanya kemarahan yang dia berikan. Kadang aku tak kuat karena sifatnya yang semakin keras. Sedikit-sedikit marah, membentak, hanya karena hal sepele.

Hari itu, tak seperti biasanya Kami bangun kesiangan. Dia marah-marah karena aku tak membangunkannya. Dia pergi dengan buru-buru karena kebetulan hari itu ada rapat pagi di kantornya. Namun aku sendiri tak ada jadwal mengajar hari itu.

Aku melihat handphonenya ketinggalan. Aku iseng melihat isi pesannnya dan dengan sangat terkejut aku melihat ada beberapa sms mesra dengan wanita lain. Siapa wanita itu?

Tanpa berfikir panjang, aku telepon dia, dan memintanya untuk segera pulang. Aku tak peduli ada rapat atau tidak. Dia marah akupun bisa balik marah. Hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang.

Siang itu Kami bertengkar hebat, tak ku sangka,dia masih berhubungan dengan mantan istrinya dulu. Wanita ini yang hadir diantara kita dulu. Sekarang dia hadir lagi untuk menghancurkan keutuhan rumah tangga.

Kejujurannya membuat aku sangat sakit hati, kejujurannya membuat aku pedih. Dia memutuskan ingin kembali menikahi mantan istrinya dulu. Entah apa yang ada difikirannya saat itu. Hingga akhirnya aku meminta cerai.

Terlintas sangat jelas, nasihat-nasihat orangtua padaku. Kini aku sadar dengan semua ucapan mereka. Perceraian adalah sesuatu yang sangat dibenci Tuhan. Aku sangat tak percaya kalau saat ini aku mengalaminya. Predikat janda sungguh tak mengenakkan, namun inilah hidupku…jalan hidupku.

***

Hari itu aku berniat untuk menemui orangtuaku di kampung halaman, aku ingin meminta maaf, aku ingin bersujud didepan mereka. Aku tak peduli kalau nantinya aku akan diusir, dicerca, dimaki, sungguh aku tak peduili, karena yang aku inginkan hanya ampunan maaf.

Sesampai didepan rumah, ku coba mengetuk pintu, dan keluarlah sesosok wanita yang masih cantik walalupun sudah berumur. Dia hampir tak percaya dengan kehadiranku. Tanpa sepatah kata, yang ada hanya air mata yang mewakili perasaan Kami saat itu. Hari itu semua berbalut pelukan hangat.

Aku menceritakan semua kisahku dan benar saja, hanya keluarga yang mampu menerima seburuk apapun kita. Aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan membesarkan sang buah hati tanpa Ayahnya. Kelak, aku berharap buah hatiku akan bangga mempunyai Ibu sepertiku.

Untuk otangtuaku, kalian memang berhati suci, tak cukup kata untuk menggambarkan betapa berartinya kalian dalam hidupku. Aku mungkin anak yang tak tahu diri, aku memang anak yang tak berperasaan, namun dengan tangan terbuka, tanpa hardikan, tanpa caci maki, tanpa cercaan, kalian dengan sangat mudah memaafkan segala kesalahanku.

Aku bermohon padamu Tuhan...jika ada rasa sakit pada mereka biarlah aku yang menanggungnya...jika ada kesalahan pada mereka, biar aku yang menebusnya...bahagiakanlah mereka…

Untuk anakku…Ibu berjanji akan menjadi orangtua yang bisa kamu banggakan…kamu tak kan kehilangan sosok Ayah, karena Ibu berjanji akan memenuhi segala kebutuhanmu…

Anakku…jadilah partner hidup ibu yang baik. Kita bangun hidup ini dengan senyuman, tanpa air mata, tanpa rasa sakit. Kita mulai semuanya dengan kebahagiaan dan kita akhiri pula dengan kebahagiaan yang abadi. Kelak Ibu akan menceritakan semuanya padamu dan Ibu berharap, bukan benci dan dendam yang ada dihatimu namun perasaan ikhlas bahwa semua terjadi karena kasih sayang Tuhan yang begitu besar pada kita. Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Yang pasti janganlah kita jatuh pada lubang yang sama. Hidup adalah pilihan...

1 komentar: