14 Jan 2013

Ayahku Bukan Koruptor

Bunyi handphone membangunkanku pagi itu, aku lihat ternyata Arni kirim pesan singkat yang mengabarkan kalau hari ini dia tidak bisa masuk sekolah karena sakit.

“Cepet sembuh Ni...” jawab sms balasanku singkat.

Aku bangun dari tempat tidur, kubawa handuk yang masih tergantung dibalik pintu kamarku dan bergegas mandi.

“Segarnya...” bisikku setelah mandi.

Aku melihat Ibu sedang duduk di meja makan untuk menemaniku sarapan. Senyuman Ibu memang selalu melumerkan suasana. Sudah enam bulan lamanya, hanya Ibu yang menemani hari-hariku. Tidak ada Ayah.

Setelah sarapan, aku pamitan untuk segera pergi sekolah. Langkah demi langkah aku tinggalkan rumah kontrakan ini.  Rumah kecil yang Ibu kontrak dari berdagang pakaian dari rumah ke rumah.


Kehidupan Kami memang banyak berubah sejak Ayah masuk penjara. Aku memang tak ingin menyebut Ayah di penjara. Perasaanku sesak setiap kali orang lain bilang kalau Ayah seorang koruptor. Ingin sekali aku teriak kalau Ayahku bukan koruptor namun sayang ungkapan itu selalu menjejali pikiran orang lain. Tak ada sedikitpun waktu Kami untuk membela diri.

Ayah mempunyai sahabat, yang aku tahu Ayah sudah bersahabat cukup lama dengan beliau. Ayah tak mengira kalau dia tega memfitnah Ayah melakukan korupsi ditempat Ayah kerja. Dunia kerja terkadang sangat kejam. Kawan bisa menjadi lawan.

Inilah hidup yang harus Kami jalani, cibiran demi cibiran pernah Kami rasakan. Semua harta yang Ayah punya pun sudah di sita, padahal aku tahu semua itu didapat dari keringat Ayah. Sungguh sangat menyedihkan.

Kami pergi dari tempat tinggal Kami dulu dan memilih pindah ke daerah ini. Daerah perkampungan dan berharap tidak pernah ada cibiran lagi.  Aku dengan Ibu memulai kehidupan baru disini dan berharap kehidupan Kami akan lebih baik.

***

Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Namun semua berubah ketika keluarga Pak Harjo pindah tak jauh dari tempat tinggal Kami. Dulu mereka sekeluarga adalah tetangga Kami. Gosip itu cepat menyebar kalau Ayahku seorang koruptor. Lagi-lagi cibiran itu datang. Namun Kami bingung, Kami harus pindah kemana lagi sementara Ibu sudah tak punya uang.

Beruntung aku masih punya Arni, sahabat yang tak peduli siapa aku. Sahabat yang selalu mendengarkan kisah piluku. Sahabat yang selalu mengusap air mataku. Dia sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

Tak terasa pintu gerbang sekolah sudah didepan mata. Kulangkahkan kakiku untuk masuk dan menuntut ilmu. Masih dengan perasaan hampa di dada, entah sampai kapan perasaan itu ada dan akan hilang.

Ingin aku teriak ke semua orang kalau Ayahku bukan seorang koruptor. Namun aku yakin Tuhan tidak pernah tertidur. Aku berharap kebenaran itu akan segera terungkap.


Ayah, Kami menunggu Ayah pulang…

2 komentar:

  1. sabar ya ...??
    semua akan indah pada waktu nya ..
    sedih aku baca cerita mu kawan ...

    BalasHapus
  2. terimaksih sudah mampir kesini mas....:)

    BalasHapus