2 Jan 2013

Melihatmu Dalam Tangis

Ada yang pernah berkata padaku tentang tetesan air mata. Katanya air mata itu adalah pembasuh luka. Ada juga yang bilang padaku bahwa air mata itu itu penguat hati. Mungkin harus aku setujui pendapat itu karena saat ini aku sedang ditemani air mata.

Seharusnya air mata ini tidak pernah ada jika dia masih bersamaku. Namun aku harus bahagia ketika aku bisa melepasnya pergi untuk kembali ke seseorang yang dia cintai, bukan aku. Dari awal harusnya aku tak pernah menyetujui keinginan temanku tentang rencana gilanya. Namun karena dia terus mendesakku untuk melakukan ini, akhirnya aku setujui demi persahabatan kita. Kita sudah bersahabat sekitar 15 tahun, bukan hanya dia yang aku kenal, tapi hampir semua keluarganya dekat denganku. Aku sudah anggap dia seperti saudaraku sendiri.

Andi…dialah sahabat terbaikku. Semua yang dia alami selalu dia ceritakan padaku. Hal yang membuat dia bahagia ataupun sedih. Begitupun dengan aku padanya. Sungguh aku tak pernah mengira, melihat kondisi Andi saat ini. Akibat kecelakaan lalu lintas seminggu yang lalu kondisi Andi berubah 180 derajat. Andi yang aku kenal sebagai sosok yang ceria, kini berubah menjadi seorang yang pemurung.  Akibat kecelakaan itu, kedua kaki Andi tidak bisa berfungsi lagi. Andi lumpuh. Kini Andi hanya bisa ditemani dengan kursi roda jika dia ingin pergi kemana-mana.

***

Siang itu Andi meneleponku, dia ingin bertemu denganku. Berhubung aku sedang libur kerja, aku langsung datang ke tempat dia. Jujur aku sempat kaget dengan keinginan dia. Aku bisa melakukan apapun tapi tidak dengan keinginannya itu. Tanpa aku tahu, Andi mempunyai seorang kekasih yang sudah dia kenal sekitar dua tahun. Andi memang tertutup jika menyangkut urusan perasaan. Bahkan dia punya pacarpun aku sampai tak pernah tahu.


Andi bilang, sudah sebulan lamanya dia tidak mengabari pacarnya. Dia memilih menghilang dari kehidupan pacarnya karena kecelakaan itu. Andi tak mau mengecewakan Sarah. Sarah ternyata nama pacarnya. Aku sempat berkata padanya, bukankah dengan menghilang malah tambah mengecewakan Sarah, namun itu sudah menjadi keinginan Andi. Andi memintaku untuk mendekati Sarah, tapi dengan menyembunyikan identitasku.

Aku sempat ragu, aku mencoba berdiskusi dengan hatiku sendiri, apa aku mampu, apa aku bisa. Tapi jika aku ingat permintaan Andi, aku tak bisa berkata tidak.

***

Sarah masih kuliah. Satu tahun lagi dia dinyatakan lulus. Andi berniat setelah sarah lulus, dia akan melamarnya. Namun itu hanya bagian dari rencana hidup Andi. Semua ada yang mengatur. Jika kenyataan tak sesuai dengan harapan, ya itulah kehidupan.

Singkat cerita, aku mulai mendekati Sarah. Awal perkenalan Kami, aku rasa Sarah orang yang pendiam, agak ketus dan keras. Namun, lama kelamaan aku mengenal Sarah sebagai sosok yang lembut, ceria dan ramah. Agak sulit memang mendekati dia, aku masih melihat ada sinar kesedihan di matanya. Mungkin karena Andi yang tiba-tiba menghilang.

Sudah sekitar enam bulan aku mendekatinya dan entah kenapa, semakin aku mendekatinya, semakin kuat perasaan tertarikku pada dia. Pantas Andi mencintainya, karena Sarah adalah sosok yang sangat menyenangkan. Dari hari ke hari perasaan itu semakin kuat, aku semakin suka pada sosok Sarah.
Disisi lain, aku sangat merasa bersalah pada Andi, namun Andi selalu bilang, jika aku mampu membahagiakan Sarah, berarti aku juga sudah bisa membahagiakannya.

***

Bulan berganti, waktu berlalu, akupun semakin dekat dengan Sarah. Namun aku tak pernah merasa Sarah mempunyai perasaan seperti apa yang aku rasa walaupun saat ini aku tak pernah melihat sinar murung lagi di wajah Sarah. Aku juga tak pernah lagi melihat Sarah menangis ketika dia bercerita tentang Andi.

Aku harus akui, bahwa aku mencintai gadis ini. Gadis yang pernah dicintai sahabatku. Mungkin sampai sekarang. Aku benar-benar tak bisa kehilangan Sarah. Walaupun aku sadar, Andi tak bisa tergantikan di hatinya. Sarah mungkin memiliki rasa suka padaku, namun hanya sebatas itu, cinta dan sayang dia hanya bisa diberikannya pada Andi. Sepertinya itulah yang terjadi.

Setiap kita bertemu, selalu ada Andi yang dia ceritakan. Seolah dalam pikiran dan hatinya dipenuhi nama Andi. Hanya Andi.

Pada awalnya, aku merasa sangat cemburu, namun aku sangat memaklumi. Walaupun, setiap dia keluarkan kata Andi dari mulutnya, setiap kali hatiku ingin berontak.

Aku juga hanya manusia biasa, aku juga punya batas kemampuan untuk mengerti perasaan orang. Aku ingin memenuhi keinginan Andi, namun sepertinya aku tak bisa. Bukan aku tak mencintainya, namun Sarah yang tak pernah bisa menerimaku. Perasaan cintaku pada Sarah semakin besar. Namun aku juga tak sanggup jika hanya Andi yang ada di matanya. Hatiku serasa dibakar api cemburu ketika lagi-lagi nama Andi yang ada dipikirannya.

***

Hari itu sudah aku putuskan untuk mengakhiri keinginan Andi. Aku tak ingin meneruskan ini semua. Aku terjebak dengan perasaanku sendiri. Aku usahakan bicara pada Andi mengenai keinginanku. Andi tentu tidak setuju, namun berkali-kali aku jelaskan kalau aku sudah tak bisa meneruskan ini. Aku meminta pengertian dari Andi tentang perasaanku dan hari itu juga aku meminta pada Andi untuk menemui Sarah dan menjelaskan semuanya.

***

Siang itu, aku menemui Sarah di kampusnya. Sengaja aku tak memberitahu gadis cantik itu kalau aku akan datang menjemputnya. Sarah agak terkejut, namun aku bilang aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan kenapa aku tiba-tiba. Akhirnya aku bawa Sarah kesebuah tempat. Aku bawa dia ke taman dekat kampusnya.

Sejujurnya, aku tak ingin kehilangan Sarah. Aku mencintainya. Namun Sarah lebih pantas untuk Andi dan aku harus kehilangan dia. Aku jelaskan pelan-pelan apa yang terjadi selama ini. Siapa aku dan bagaimana keadaan Andi. Aku melihat satu persatu tetesan Kristal jatuh dari mata Sarah. Air mata yang dianggap sebagai pembasuh luka itu lama-lama membanjiri wajah cantiknya.

Sarah masih terduduk di bangku itu, sementara aku membawa Andi dengan kursi rodanya untuk menemui Sarah. Andi yang dari tadi sudah berada di tempat itu juga aku lihat sudah tak sabar membendung rasa rindu pada kekasih hatinya, gadis yang juga aku cintai.

Mereka bertemu, mereka melepas rindu. Aku melihat ada cahaya kebahagiaan di mata Sarah yang selama ini tak pernah aku lihat ketika dia bersamaku. Andi berkali-kali memohon maaf dan Sarah berkali-kali mengusap air mata Andi. Sarah memang gadis yang sangat baik, bagaimanapun kondisi Andi, dia bisa menerimanya. Tak salah memang Andi memilih Sarah sebagai pendamping hidupnya. Harus aku sadari bahwa Andi memang membutuhkan Sarah, walaupun aku juga sangat membutuhkannya.

Siang itu aku melihat kebahagiaan, akupun harus merasakan itu, namun kenapa tidak…kenapa aku merasa sangat sesak di dada ini. Kenapa bukan air mata kebahagiaan yang keluar dari mata ini. Kenapa harus air mata duka kalau aku sudah kehilangan sosok orang yang sangat aku cinta.

***


Sarah...berbahagialah dengan sahabat baikku, karena kamu berhak mendapatkan itu. Jika aku merindukanmu, aku masih bisa melihatmu walau melihatmu dalam tangisku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar