Ada yang pernah
berkata padaku tentang tetesan air mata. Katanya air mata itu adalah pembasuh
luka. Ada juga yang bilang padaku bahwa air mata itu itu penguat hati. Mungkin
harus aku setujui pendapat itu karena saat ini aku sedang ditemani air mata.
Seharusnya air
mata ini tidak pernah ada jika dia masih bersamaku. Namun aku harus bahagia
ketika aku bisa melepasnya pergi untuk kembali ke seseorang yang dia cintai, bukan aku. Dari awal
harusnya aku tak pernah menyetujui keinginan temanku tentang rencana gilanya. Namun karena dia terus
mendesakku untuk melakukan ini, akhirnya aku setujui demi persahabatan kita.
Kita sudah bersahabat sekitar 15 tahun, bukan hanya dia yang aku kenal, tapi
hampir semua keluarganya dekat denganku. Aku sudah anggap dia seperti saudaraku sendiri.
Andi…dialah
sahabat terbaikku. Semua yang dia alami selalu dia ceritakan padaku. Hal yang
membuat dia bahagia ataupun sedih. Begitupun dengan aku padanya. Sungguh aku tak pernah mengira, melihat
kondisi Andi saat ini. Akibat kecelakaan lalu lintas seminggu yang lalu kondisi
Andi berubah 180 derajat. Andi yang aku kenal sebagai sosok yang ceria, kini
berubah menjadi seorang yang pemurung. Akibat
kecelakaan itu, kedua kaki Andi tidak bisa berfungsi lagi. Andi lumpuh. Kini
Andi hanya bisa ditemani dengan kursi roda jika dia ingin pergi kemana-mana.
***
Siang itu Andi
meneleponku, dia ingin bertemu denganku. Berhubung aku sedang libur kerja, aku
langsung datang ke tempat dia. Jujur aku sempat kaget dengan keinginan dia. Aku bisa
melakukan apapun tapi tidak dengan keinginannya itu. Tanpa aku tahu, Andi mempunyai seorang
kekasih yang sudah dia kenal sekitar dua tahun. Andi memang tertutup jika
menyangkut urusan perasaan. Bahkan dia punya pacarpun aku sampai tak pernah
tahu.
Andi bilang,
sudah sebulan lamanya dia tidak mengabari pacarnya. Dia memilih menghilang dari
kehidupan pacarnya karena kecelakaan itu. Andi tak mau mengecewakan Sarah.
Sarah ternyata nama pacarnya. Aku sempat berkata padanya, bukankah dengan menghilang malah
tambah mengecewakan Sarah, namun itu sudah menjadi keinginan Andi. Andi
memintaku untuk mendekati Sarah, tapi dengan menyembunyikan identitasku.
Aku sempat ragu, aku mencoba berdiskusi dengan hatiku sendiri, apa
aku mampu, apa aku bisa. Tapi jika aku ingat permintaan Andi, aku tak bisa berkata tidak.
***
Sarah masih
kuliah. Satu tahun lagi dia dinyatakan lulus. Andi berniat setelah sarah lulus,
dia akan melamarnya. Namun itu hanya bagian dari rencana hidup Andi. Semua ada
yang mengatur. Jika kenyataan tak sesuai dengan harapan, ya itulah kehidupan.
Singkat cerita, aku mulai mendekati Sarah. Awal
perkenalan Kami, aku rasa Sarah orang yang pendiam,
agak ketus dan keras. Namun, lama kelamaan aku mengenal
Sarah sebagai sosok yang lembut, ceria dan ramah. Agak sulit memang
mendekati dia, aku masih melihat ada sinar kesedihan di matanya. Mungkin karena
Andi yang tiba-tiba menghilang.
Sudah sekitar
enam bulan aku mendekatinya dan entah kenapa, semakin aku mendekatinya, semakin
kuat perasaan tertarikku pada dia. Pantas Andi mencintainya, karena Sarah
adalah sosok yang sangat menyenangkan. Dari hari ke hari perasaan itu semakin
kuat, aku semakin suka pada sosok Sarah.
Disisi lain, aku
sangat merasa bersalah pada Andi, namun Andi selalu bilang, jika aku mampu membahagiakan
Sarah, berarti aku juga sudah bisa membahagiakannya.
***
Bulan berganti,
waktu berlalu, akupun semakin dekat dengan Sarah. Namun aku tak pernah merasa
Sarah mempunyai perasaan seperti apa yang aku rasa walaupun saat ini aku tak
pernah melihat sinar murung lagi di wajah Sarah. Aku juga tak pernah lagi
melihat Sarah menangis ketika dia bercerita tentang Andi.
Aku harus akui,
bahwa aku mencintai gadis ini. Gadis yang pernah dicintai sahabatku. Mungkin
sampai sekarang. Aku benar-benar tak bisa kehilangan Sarah. Walaupun aku sadar, Andi tak bisa
tergantikan di hatinya. Sarah mungkin memiliki rasa suka padaku, namun hanya
sebatas itu, cinta dan sayang dia hanya bisa diberikannya pada Andi. Sepertinya
itulah yang terjadi.
Setiap kita
bertemu, selalu ada Andi yang dia ceritakan. Seolah dalam pikiran dan hatinya
dipenuhi nama Andi. Hanya Andi.
Pada awalnya,
aku merasa sangat cemburu, namun aku sangat memaklumi. Walaupun, setiap dia
keluarkan kata Andi dari mulutnya, setiap kali hatiku ingin berontak.
Aku juga hanya
manusia biasa, aku juga punya batas kemampuan untuk mengerti perasaan orang. Aku ingin
memenuhi keinginan Andi, namun sepertinya aku tak bisa. Bukan aku tak
mencintainya, namun Sarah yang tak pernah bisa menerimaku. Perasaan
cintaku pada Sarah semakin besar. Namun aku juga tak sanggup jika hanya Andi
yang ada di matanya. Hatiku serasa dibakar api cemburu ketika lagi-lagi nama Andi yang ada dipikirannya.
***
Hari itu sudah
aku putuskan untuk mengakhiri keinginan Andi. Aku tak ingin meneruskan ini
semua. Aku terjebak dengan perasaanku sendiri. Aku usahakan bicara pada Andi mengenai keinginanku. Andi tentu tidak setuju, namun berkali-kali aku jelaskan kalau aku
sudah tak bisa meneruskan ini. Aku meminta pengertian dari Andi tentang
perasaanku dan hari itu juga aku meminta pada Andi untuk menemui Sarah dan
menjelaskan semuanya.
***
Siang itu, aku
menemui Sarah di kampusnya. Sengaja aku tak memberitahu gadis cantik itu kalau
aku akan datang menjemputnya. Sarah agak terkejut, namun aku bilang aku tak punya
banyak waktu untuk menjelaskan kenapa aku tiba-tiba. Akhirnya aku bawa Sarah kesebuah tempat.
Aku bawa dia ke taman dekat kampusnya.
Sejujurnya, aku
tak ingin kehilangan Sarah. Aku mencintainya. Namun Sarah lebih pantas untuk Andi dan aku harus kehilangan dia. Aku jelaskan pelan-pelan apa yang terjadi
selama ini. Siapa aku dan bagaimana keadaan Andi. Aku melihat satu persatu
tetesan Kristal jatuh dari mata Sarah. Air mata yang dianggap sebagai pembasuh
luka itu lama-lama membanjiri wajah cantiknya.
Sarah masih
terduduk di bangku itu, sementara aku membawa Andi dengan kursi rodanya untuk menemui Sarah. Andi yang dari tadi
sudah berada di tempat itu juga aku lihat sudah tak sabar membendung rasa rindu
pada kekasih hatinya, gadis yang juga aku cintai.
Mereka bertemu,
mereka melepas rindu. Aku melihat ada cahaya kebahagiaan di mata Sarah
yang selama ini tak pernah aku lihat ketika dia bersamaku. Andi berkali-kali
memohon maaf dan Sarah berkali-kali mengusap air mata Andi. Sarah memang gadis
yang sangat baik, bagaimanapun kondisi Andi, dia bisa menerimanya. Tak salah
memang Andi memilih Sarah sebagai pendamping hidupnya. Harus aku sadari bahwa
Andi memang membutuhkan Sarah, walaupun aku juga sangat membutuhkannya.
Siang itu aku
melihat kebahagiaan, akupun harus merasakan itu, namun kenapa tidak…kenapa aku
merasa sangat sesak di dada ini. Kenapa bukan air mata kebahagiaan yang keluar
dari mata ini. Kenapa harus air mata duka kalau aku sudah kehilangan sosok orang yang
sangat aku cinta.
***
Sarah...berbahagialah dengan
sahabat baikku, karena kamu berhak mendapatkan itu. Jika aku merindukanmu, aku
masih bisa melihatmu walau melihatmu dalam tangisku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar