13 Nov 2013

Satu Halaman Lagi

Aku bukan seorang penulis seperti halnya dia, sahabat karibku. Aku memang tak sehebat dia, aku tak secerdas dia dan akupun tak sepintar otaknya. Namun aku pasti mampu menyelesaikan ini semua.
Indah...sahabatku, kita sudah bersahabat dari sejak kita duduk di bangku SMP. Aku tahu semua tentangnya, termasuk dengan perasaannya.

Sudah sejak lama Indah menyimpan perasaan pada laki-laki ini. Laki-laki yang selalu Indah bilang, “seperti Pangeran”. Rio namanya. Mereka berkenalan sejak pertama masuk SMP. Rio memang ganteng, pintar dan ramah.  Tak sedikit wanita yang tergila-gila pada dia, termasuk Indah.

Siang itu, aku melihat Indah pergi ke sekolah diantar Rio. Aku melihat ada kegembiraan yang luar biasa dari wajahnya ketika Indah menghampiriku. Segala cerita dia berikan padaku di pagi itu. Aku bahagia, ada harapan yang indah untuk Indah.

***

Tiga tahun kita di bangku SMP, tak ada kejelasan yang berarti dengan hubungan mereka. Semua menggantung begitu saja. Sampai akhirnya, Indah memutuskan untuk meneruskan sekolah ke SMA yang sama dengan Rio. Mungkin Indah masih ingin mengejar Rio.

Berbeda dengan aku, aku memilih sekolah lain karena beberapa pertimbangan. Indah dan Rio memang berasal dari keluarga terpandang. Mereka bebas bersekolah dimanapun dan semahal apapun. Sementara aku, aku tak bisa seperti mereka. Walaupun kita sudah berbeda sekolah, Indah tetap menjadi Indah yang aku kenal. Kita masih sering berkomunikasi. Seminggu sekali, kita menghabiskan libur bersama-sama. Indah masih sering bercerita seputar Rio, pangeran cintanya.

***

Sore itu, aku disuruh Ibu mengantarkan jahitan ke salah satu pelanggan Ibu. Tempatnya agak jauh juga dari rumah. Aku memutuskan untuk naik angkot walaupun waktu sudah tidak memungkinkan karena sudah terlalu sore dan aku pasti akan pulang malam. Namun, karena aku tak punya uang untuk bayar ojek, jadi terpaksa aku harus naik angkot saja.

Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 dan aku masih di halte menunggu angkot lewat. Sulit memang, kalau sudah jam segini angkot lewat. Maklum, aku tinggal di wilayah pinggir kota.
Sambil menunggu angkot, aku mainkan handphoneku. Belum juga muncul angkot itu. Masih asyik dengan handphoneku, tiba-tiba…..bunyi klakson motor membuyarkan semuanya.


“Caca...hei...” sapanya. Ku tengok kedepan, ternyata itu Rio, sang pangeran Indah.

“Hei…”sapaku singkat.

“Dari mana…mau kemana neh?” Tanya Rio.

“Habis nganter jahitan Ibu, sekarang mau pulang tapi angkotnya belum muncul...” jawabku.

“Ya udah...aku anter yuk…”kata Rio.

Aku bingung, kalau aku tolak, aku juga tak yakin kapan aku bisa dapat angkot. Tapi kalau aku pulang bareng dia, apa gak jadi masalah dengan Indah…??? Aaah...Indah pasti mengerti. Akhirnya aku putuskan untuk pergi dengan Rio.

***

Ditengah jalan, Rio minta aku untuk menemaninya makan malam. Memang waktu itu sudah jam setengah delapan malam. Aku bilang, aku harus pulang karena Ibu sudah menungguku di rumah. Ibu sendirian, karena Ayah dan Kakakku bekerja di luar Jawa. Mereka pulang dua atau tiga bulan sekali. Rio pun mengerti dan kitapun langsung pulang.

Sesampainya didepan rumah, benar saja, Ibu sudah seperti satpam menungguku.

“Ca…lama amat…” kata Ibu.

“Maaf Bu, tadi angkotnya lama banget sih, untung ada Rio, temanku..” jawabku.

“Nak Rio…mari masuk dulu, kita makan malam bersama, pasti sudah lapar yah…”ajak Ibu.

Lho…Ibu kok ngajak Rio makan dulu, kalau Indah tau gimana nih...” bisikku dalam hati.

“Oya Bu, makasih banyak…”sambil salaman Rio masuk ke rumah.

Entah kenapa, Ibu begitu respect sama Rio. Padahal Ibu tidak mengenal Rio sebelumnya dan akupun tak pernah cerita apapun tentang Rio. Akhirnya kita makan malam bersama. Rio memang ramah, dia bisa melumerkan suasana. Ibu tampak akrab dengan Rio. Rio anak orang kaya seperti halnya Indah, tapi dia masih mau makan ditempatku yang amat sangat sederhana.

Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Rio pamitan untuk pulang. Aku antar Rio sampai depan rumah.

“Makasih yah Rio…” kataku.

“Sama-sama…Oya Ca, kamu temannya Indah kan?” tanya Rio.

“Iya…Indah sahabatku dari dulu” jawabku. Dia hanya tersenyum dengan wajah yang datar.

“Kenapa?” tanyaku.

“Oh…gak apa-apa, aku boleh minta nomor hanphonemu ya, masukkan ke handphone ya...” kata dia sambil memberikan handphonenya padaku. Akupun memasukkan nomorku. Lalu dia pergi setelah Kami saling tukar nomor telepon.

***

Sejak kejadian malam itu, Rio sering menghubungiku. Bukan sesuatu yang penting, hanya menanyakan kabar. Namun entah kenapa, ada rasa bahagia di hatiku.

Siang itu dihari libur, Indah datang ke rumahku. Indah memang orang yang sangat baik, diapun dekat dengan Ibuku. Ingin aku cerita tentang Rio, namun aku takut menyakiti hati Indah. Jadi aku putuskan untuk tidak berbicara apapun tentang Rio.

Hari itu, seperti biasa, Indah cerita tentang Rio. Masih dengan kisah yang sama. Tak ada perkembangan apapun. Rio masih tetap dingin. Setiap dia sms jarang dibalas, teleponpun jarang diangkat. Padahal yang aku kenal, Rio tak seperti itu. Dia ramah dan baik. Tapi aku tak mungkin bercerita semuanya.

***

Waktu berlalu, aku semakin dekat dengan Rio. Akupun tak tahu dengan perasaanku ketika Rio menyatakan cintanya padaku. Seandainya aku bukan sahabat Indah, seandainya Rio bukan laki-laki yang Indah cintai, mungkin saat itu aku akan langsung mengatakan Iya. Tapi saat itu aku harus berkata tidak, walaupun akupun mencintainya.Tak ada yang tahu tentang aku dan Rio. Mungkin hanya Tuhan.

Perjuangan Rio tidak berhenti sampai disana, dia tetap mengejarku. Aku melihat ada ketulusan di hatinya. Sudah kujelaskan berkali-kali tentang aku dan Indah, bagaimana Indah mati-matian mengejar Rio. Namun dia tetap tidak pernah mendengar alasan itu. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk pergi menjauh. Setiap sms Rio, tidak pernah aku balas, setiap telponnya tidak pernah aku angkat. Begitupun kalau dia ke rumah, aku tak pernah mau menemuinya.

***

Indah…lalu kemana Indah? Sudah satu bulan aku tak mendengar kabar dia. Kenapa Indah tak bisa dihubungi. Aku pernah mendatangi rumahnya, tapi Indah tidak ada ditempat. Aku benar-benar kehilangan jejak Indah.

Dua bulan…tiga bulan…empat bulan…sampai menginjak bulan ketujuh, Indah tidak ada. Indah kemana? Kenapa dia pergi meninggalkan aku tanpa pesan sedikitpun. Apakah diam-diam dia tahu tentang aku dan Rio?

***

Sore itu, langit terlihat mendung, aku mendengar ada suara motor berhenti didepan rumahku. Aku lihat dari balik jendela. Ternyata Rio, sudah kuduga. Entah kenapa, sore itu aku ingin sekali menemuinya, bukan karena rasa rindu tapi aku merasa Rio akan mengabarkan sesuatu padaku.
Aku buka pintu dan aku melihat wajah Rio sangat pucat.

“Ca…”sapanya, seolah kata-katanya terhenti disitu

“Kamu sakit?” tanyaku.

“Kamu harus ikut aku sekarang…”kata dia sambil menarik tanganku.

Tanpa aku sadari aku sudah berada diatas motornya dengan laju yang sangat kencang. Sesekali aku berbisik, jangan terlalu kencang, namun Rio seolah tak mau mendengar semua itu. Dia menjalankan motor kesayangannya dengan laju tinggi sampai akhirnya aku dan Rio sampai disebuah rumah sakit.

“Kok kita kesini Rio, siapa yang sakit” tanyaku.

Rio tak menjawab, dia tetap menggenggam tanganku dan membawaku ke sebuah ruangan. Ruangan yang cukup besar dan aku melihat ada sosok yang aku kenal. Sangat aku kenal. Indah…

“Indaaahhh…” teriakku.

Indah terbaring lemas, wajahnya pucat. Infus di tangan kirinya, selang oksigen dihidungnya. Indah, kenapa, ada apa dengan Indah…???

“Ca….maaf…”kata Indah.

“Ada apa ndah? Kenapa kamu ada disini?” tanyaku.

“Ca, tolong baca ini ya…” Indah memberikan sebuah novel padaku.

Indah memang senang menulis, dari dulu banyak sekali cerpen yang sudah diterbitkan di majalah-majalah. Aku sampai tak tahu, kalo Indah sedang menulis Novel.

“Aku tahu semua tentang kamu dan Rio...aku rela Ca, umurku tidak akan lama, aku divonis dokter mengidap kanker otak stadium akhir...” kata Indah. Kenapa Indah tak pernah bilang kalau dia sakit. Aku sudah berteman lama, kenapa dia tidak terbuka tentang penyakitnya.

“Novel ini belum beres Ca...tinggal satu halaman lagi, kamu teruskan yah…aku yakin kamu bisa, aku sudah tak bisa meneruskan Novel ini…” kata Indah.

Aku tak tahu dengan perasaanku saat ini. Aku merasa sedih, marah, kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa aku sampai tidak tahu tentang penyakit sahabatku yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Kenapa Indah tidak mau menceritakan ini semua. Kenapa dia tahu tentang Rio dan aku. Aaaahhh…terlalu banyak tanda tanya di hatiku saat itu.

***

Keeseokan harinya, keluarga Indah mengabarkan kalau Indah sudah tiada. Aku langsung lemas tak berdaya. Aku langsung pergi menuju pemakaman Indah, untuk terakhir kalinya aku melihat sahabatku terkujur kaku.

Aku kehilangan Indah sahabatku untuk selamanya, namun Indah akan tetap berada di hatiku.

***

Malam itu, aku baca lembar perlembar novel Indah sampai di halaman seratus sekian. Semalaman aku baca novel itu. Isinya novel itu menceritakan tentang Indah dan Rio.

Pesan terakhir Indah, Indah ingin aku menulis ending cerita…Indah meinginkan aku untuk menulis satu halaman lagi untuknya. Aku coba merangkai kata-kata yang indah untuk Indah. Aku ingin novel ini berakhir bahagia seperti halnya harapanku.


Indah...aku selalu berdoa, kamu mendapatkan tempat terindah disisiNYA. Satu halaman yang kamu inginkan sudah aku penuhi dan aku yakin kamu pasti bahagia melihatnya.

1 komentar: