1 Nov 2013

Hari Keenam

Rasanya seperti mimpi ketika aku divonis menderita peyakit yang mematikan ini. Aku harus meninggalkan semua yang aku miliki saat ini. Keluarga yang begitu menyayangiku, teman dan sahabat yang selalu ada bersamaku dan seseorang yang begitu mencintaiku dan akupun sangat mencintainya. Mungkin, inilah jalan hidupku.

Dokter berkata kemungkinan hidupku hanya tinggal beberapa bulan kedepan, walaupun memang itu hanya analisis dokter. Tuhan pulalah yang menentukan hidup mati seseorang. Namun, sungguh aku sangat takut.

Selain keluargaku, Dika...dialah orang yang selalu membuatku tersenyum disaat aku seperti ini. Dia selalu menemani hari-hariku dan memberi semangat kalau aku pasti berumur panjang. Aku sudah berhubungan sejak duduk di bangku sekolah menengah, terlalu kecil memang usia Kami saat itu untuk memutuskan berpacaran. Tapi Dika sangat baik dan tidak pernah berbuat macam-macam. Makanya keluargaku juga sangat sayang pada dia.

Penyakitku tambah hari tambah parah. Sedikit lelah saja, aku bisa pingsan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Sedih sekali memang, namun aku tak ingin mati cepat.

Suatu hari, aku meminta sesuatu pada Dika untuk menemaniku selama enam hari berturut-turut. Kami memang tidak setiap hari bertemu karena saat ini Dika sedang sibuk-sibuknya kuliah. Namun sebelum semuanya berakhir, aku ingin selama enam hari itu Dika menemaniku. Tanpa harus membujuknya, Dika bersedia mengabulkan permintaanku.

Hari pertama, aku meminta Dika untuk menemaniku kesebuah cafe tempat dimana Dika mengutarakan perasaannya padaku. Aku ingin mengenang semuanya.

Sore itu, Dika menjemputku dan kita pergi ke cafe. Disana memang selalu ada live musicnya. Waktu itu Dika request lagu kesukaanku. Memang seperti didalam sinetron dan aku semakin tak mau meninggalkan Dika. Dika selalu menyemangatiku kalau umur seseorang itu tidak pernah ada yang tahu. Aku yang divonis akan mati cepat, siapa tahu malah Dika yang duluan dipanggil Tuhan. Aku sempat heran kenapa Dika bisa mengilustrasikan dia yang akan meninggalkanku.

***

Hari kedua, kita pergi ke rumah Nenekku di desa yang memang jauh dari tempat tinggalku saat ini. Kami memang mengunjungi Nenek hanya satu tahun sekali. Saat ini aku ingin pergi kesana. Nenekku sudah berumur 70 tahun, namun dari segi fisik, Nenekku masih terlihat sehat bugar.

Suasana pedesaan seperti ini yang selalu aku rindukan. Sawah, sungai dan pohon-pohon rindang yang tak pernah aku temukan di kota. Nenek memang tak asing dengan Dika, karena setiap hari raya, Dika selalu ikut bersama Kami mengunjungi Nenek. Nenek tahu kondisiku saat ini. Setiap bertemu denganku, Nenek pasti menangis. Aku sebenarnya tak ingin ditangisi, namun aku memang saat ini pantas diperlakukan seperti itu.

Sudah dua hari aku bersama Dika, entah kenapa, ada atmosfer lain dalam tubuhku. Aku merasa tubuhku tidak selemah dulu. Aku merasa kuat.

***

Hari ketiga, aku meminta Dika untuk menemaniku di rumah. Aku ingin hari ini Dika memasakkan makanan kesukaanku. Iga bakar, aku sangat menyukai makanan ini. Dika memang berbeda jauh dengan aku. Dia laki-laki yang sangat mandiri. Pekerjaan rumah dan memasak sering dia lakukan di rumahnya. Dia anak semata wayang, Ayahnya meninggal ketika Dika berumur tiga tahun. Sementara Ibunya seorang pedagang di pasar.

Siang itu Dika memasak iga bakar, sangat enak. Bukan hanya aku yang mencicipi, tapi juga orangtua dan adik-adikku. Melihat keceriaan mereka aku merasa tubuhku makin kuat dan aku makin bersemangat untuk sembuh, aku harus sembuh.

***

Hari keempat, kita pergi ke puncak bersama-sama keluarga besarku. Kita menginap satu malam. Aku sangat menikmati kesejukan udara disana. Dingin dan sunyi. Tapi aku tidak merasakan itu di hatiku. Hatiku terasa hangat karena aku berada ditengah-tengah keluargaku dan Dika.

***

Hari kelima, aku ingin pergi ke panti asuhan tak jauh dari kampusku dulu. Dulu, aku sangat aktif mengikuti kegiatan sosial. Menyalurkan dana ke panti asuhan itu adalah salah satu kegiatanku. Namun semua terputus ketika aku sakit. Sekarang aku ingin mengulangi hari-hari itu. Dikapun sangat senang dengan kegiatanku itu.

Aku bertemu dengan anak-anak panti dan pengurus yang sudah tak asing lagi denganku. Mereka memberiku dukungan moral yang sangat berharga untukku. Aku semakin semangat untuk sembuh dan aku harus sembuh.

***

Hari keenam, hari terakhir aku minta Dika untuk menemaniku, karena aku sadar Dika tak akan selamanya selalu ada bersamaku. Dika harus kuliah, Dika tak mungkin terus disini.

Hari ini, aku ingin Dika mengantarku ke dokter dan memeriksa kesehatanku saat ini. Aku berharap ada sesuatu hal yang baik yang terjadi dalam tubuhku.

Aku pergi sore itu, setelah kebagian nomor antrian, aku duduk di ruang tunggu. Berjuta harapan dalam hatiku semoga aku bisa sembuh, walau harapanku mungkin cukup kecil, namun tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.

Sekarang giliran aku masuk, Dika juga ikut masuk ke ruangan dokter. Setelah diperiksa, dokter sempat menatapku dan tersenyum. Dia sempat tak percaya dengan hasil yang tertera dalam secarik kertas itu. Mungkin inilah yang dinamakan keajaiban Tuhan. Dokter bilang kalau aku sudah sembuh. Sembuh total.

Inilah kabar yang aku ingin dengar selama ini. Aku sembuh, aku bisa bersama-sama Dika selamanya. Aku bisa jadi istri Dika setelah Dika lulus kuliah nanti. Berjuta harapan indah bersarang di hatiku. Begitupun dengan Dika, terpancar jelas dalam wajahnya kalau dia sangat bahagia mendengar kabar ini.

Sesampai di rumah, aku langsung memberi tahu kabar bahagia ini pada orangtuaku. Mereka langsung berencana untuk menggelar syukuran. Aku sangat setuju dengan rencana itu, karena semua terjadi karena kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Sudah sepantasnya kita bersyukur.

***

Malam itu, Dika pamit pulang. Dia tersenyum dan memegang tanganku. Entah kenapa begitu berat aku melepas dia pulang ke rumah padahal tidak jauh dari rumahku. Namun, aku tak mengerti dengan perasaanku saat itu.

Dika bilang padaku untuk tetap semangat, karena semua akan berjalan baik jika kita terus percaya pada Yang Diatas, atas kebesaran-NYA. Sebelum Dika pulang, dia memberi kabar kalau seandainya dia tidak bisa hadir dalam syukuran itu, dia minta maaf.

Aku sempat kesal dengan omongan dia. Selama enam hari ini dia selalu menemaniku kemanapun aku mau. Tapi disaat aku sembuh, kenapa dia tak mau hadir dalam acara syukuran itu. Apa dia sudah bosan denganku.

Akhinya dia pergi dengan naik motor kesayangannya.  Aku berpesan agar dia langsung pulang ke rumah. Malam itu tepat dihari keenam dia bersamaku, dia terlihat sangat ganteng. Dika memang ganteng, banyak wanita yang menyayangkan Dika bersamaku, yang memang penyakitan. Tapi itulah cinta.

Aku tidak langsung tutup pintu gerbang, aku ingin melihat Dika sampai tubuhnya tak kelihatan lagi. Setelah sosok Dika sudah menghilang, baru aku kunci pintu gerbang dan aku masuk ke dalam rumah.

***

Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Aneh, kenapa Dika tidak menghubungiku, padahal biasanya begitu sampai rumah dia pasti sms aku. Jarak rumahku dan rumah dia paling hanya beberapa kilo dan paling beberapa menit juga sudah sampai. Tidak mungkin kena macet kalau jam-jam segini.

Apa Dika tidak punya pulsa atau Dika malah pergi ke tempat wanita lain, atau Dika malah sudah tidak peduli denganku. Aku begitu resah campur marah. Aku lihat lagi jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 30 menit, aku putuskan untuk menelpon dia, tapi hpnya tidak aktif. Aku coba telepon Ibunya, sama tidak aktif.

Aku tidak bisa tidur, aku lihat disekeliling rumah, semua sudah sepi. Aku duduk di ruang tamu berharap hatiku sedikit tenang. Namun tetap keresahan itu semakin menyiksaku. Aku berusaha berdoa, berharap Dika baik-baik saja. Ditengah-tengah kesunyian ini, aku mendengar hpku berbunyi di kamar. Aku buru-buru mengambil hpku.

Nomornya tidak aku kenal, ternyata dari rumah sakit. Siapa yang sakit fikirku. Tapi pihak rumah sakit hanya mengabarkan kalau kerabatku ada yang mengalami kecelakaan dan aku harus segera pergi kesana. Semakin tak karuan perasaanku, siapa yang kecelakaan, mungkin pihak rumah sakit ada kesalahan. Tapi aku buru-buru pergi kesana.

Sesampai di rumah sakit, aku melihat sesosok Ibu yang tak asing untukku sedang menangis meratapi sesosok tubuh yang sudah kaku. Aku dekati dan aku lihat. Aku hampir tak percaya kalau Ibu itu adalah Ibunya Dika.

Lalu siapa sosok yang terkujur kaku itu, aku coba membuka penutup kain putih itu dan aku melihat Dika dengan mata tertutup. Semua terasa gelap saat itu. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan aku. Mungkin aku pingsan. Setelah beberapa jam aku terbangun dan aku berharap ini hanya mimpi buruk.
Tapi tidak, Dika memang sudah tidak ada. Dika mengalami kecelakaan lalu lintas ketika pulang dari rumahku malam itu. Hari keenam bersamanya, hari terakhir kita bersama. Aku sembuh, tubuhku sehat namun hatiku seolah mati.

Seandainya aku tahu Dika akan meninggal dihari terakhir permintaanku, aku pasti akan meminta dia untuk menemaniku seumur hidupku. Namun, aku tak ingin menyalahkan takdir. Seperti yang  Dika bilang, umur ada ditangan Yang Kuasa.

Sampai saat inipun aku masih tak percaya kalau Dika sudah tak ada. Tapi aku percaya Dika selalu menemaniku dimanapun aku berada, hanya raganya saja yang sekarang tak bisa bersamaku. Tapi hati dan cinta Dika yang begitu tulus akan selalu bersamaku.


Selamat jalan Dika...kita pasti bertemu lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar