Rasanya seperti mimpi ketika aku
divonis menderita peyakit yang mematikan ini. Aku harus meninggalkan semua yang
aku miliki saat ini. Keluarga yang begitu menyayangiku, teman dan sahabat yang
selalu ada bersamaku dan seseorang yang begitu mencintaiku dan akupun sangat
mencintainya. Mungkin, inilah jalan hidupku.
Dokter berkata kemungkinan
hidupku hanya tinggal beberapa bulan kedepan, walaupun memang itu hanya
analisis dokter. Tuhan pulalah yang menentukan hidup mati seseorang. Namun,
sungguh aku sangat takut.
Selain keluargaku, Dika...dialah
orang yang selalu membuatku tersenyum disaat aku seperti ini. Dia selalu
menemani hari-hariku dan memberi semangat kalau aku pasti berumur panjang. Aku
sudah berhubungan sejak duduk di bangku sekolah menengah, terlalu kecil memang
usia Kami saat itu untuk memutuskan berpacaran. Tapi Dika sangat baik dan tidak
pernah berbuat macam-macam. Makanya keluargaku juga sangat sayang pada dia.
Penyakitku tambah hari tambah
parah. Sedikit lelah saja, aku bisa pingsan. Maka dari itu, aku memutuskan
untuk berhenti kuliah. Sedih sekali memang, namun aku tak ingin mati cepat.
Suatu hari, aku meminta sesuatu
pada Dika untuk menemaniku selama enam hari berturut-turut. Kami memang tidak
setiap hari bertemu karena saat ini Dika sedang sibuk-sibuknya kuliah. Namun
sebelum semuanya berakhir, aku ingin selama enam hari itu Dika menemaniku. Tanpa
harus membujuknya, Dika bersedia mengabulkan permintaanku.
Hari pertama, aku meminta Dika
untuk menemaniku kesebuah cafe tempat dimana Dika mengutarakan perasaannya
padaku. Aku ingin mengenang semuanya.
Sore itu, Dika menjemputku dan
kita pergi ke cafe. Disana memang selalu ada live musicnya. Waktu itu Dika request lagu kesukaanku. Memang seperti didalam sinetron dan aku
semakin tak mau meninggalkan Dika. Dika selalu menyemangatiku kalau umur
seseorang itu tidak pernah ada yang tahu. Aku yang divonis akan mati cepat,
siapa tahu malah Dika yang duluan dipanggil Tuhan. Aku sempat heran kenapa Dika
bisa mengilustrasikan dia yang akan meninggalkanku.
***
Hari kedua, kita pergi ke rumah Nenekku
di desa yang memang jauh dari tempat tinggalku saat ini. Kami memang
mengunjungi Nenek hanya satu tahun sekali. Saat ini aku ingin pergi kesana.
Nenekku sudah berumur 70 tahun, namun dari segi fisik, Nenekku masih terlihat
sehat bugar.
Suasana pedesaan seperti ini yang
selalu aku rindukan. Sawah, sungai dan pohon-pohon rindang yang tak pernah aku
temukan di kota. Nenek memang tak asing dengan Dika, karena setiap hari raya, Dika
selalu ikut bersama Kami mengunjungi Nenek. Nenek tahu kondisiku saat ini.
Setiap bertemu denganku, Nenek pasti menangis. Aku sebenarnya tak ingin
ditangisi, namun aku memang saat ini pantas diperlakukan seperti itu.
Sudah dua hari aku bersama Dika,
entah kenapa, ada atmosfer lain dalam tubuhku. Aku merasa tubuhku tidak selemah
dulu. Aku merasa kuat.
***
Hari ketiga, aku meminta Dika
untuk menemaniku di rumah. Aku ingin hari ini Dika memasakkan makanan kesukaanku.
Iga bakar, aku sangat menyukai makanan ini. Dika memang berbeda jauh dengan
aku. Dia laki-laki yang sangat mandiri. Pekerjaan rumah dan memasak sering dia
lakukan di rumahnya. Dia anak semata wayang, Ayahnya meninggal ketika Dika
berumur tiga tahun. Sementara Ibunya seorang pedagang di pasar.
Siang itu Dika memasak iga bakar,
sangat enak. Bukan hanya aku yang mencicipi, tapi juga orangtua dan
adik-adikku. Melihat keceriaan mereka aku merasa tubuhku makin kuat dan aku
makin bersemangat untuk sembuh, aku harus sembuh.
***
Hari keempat, kita pergi ke
puncak bersama-sama keluarga besarku. Kita menginap satu malam. Aku sangat
menikmati kesejukan udara disana. Dingin dan sunyi. Tapi aku tidak merasakan
itu di hatiku. Hatiku terasa hangat karena aku berada ditengah-tengah keluargaku
dan Dika.
***
Hari kelima, aku ingin pergi ke
panti asuhan tak jauh dari kampusku dulu. Dulu, aku sangat aktif mengikuti
kegiatan sosial. Menyalurkan dana ke panti asuhan itu adalah salah satu
kegiatanku. Namun semua terputus ketika aku sakit. Sekarang aku ingin
mengulangi hari-hari itu. Dikapun sangat senang dengan kegiatanku itu.
Aku bertemu dengan anak-anak
panti dan pengurus yang sudah tak asing lagi denganku. Mereka memberiku
dukungan moral yang sangat berharga untukku. Aku semakin semangat untuk sembuh
dan aku harus sembuh.
***
Hari keenam, hari terakhir aku
minta Dika untuk menemaniku, karena aku sadar Dika tak akan selamanya selalu
ada bersamaku. Dika harus kuliah, Dika tak mungkin terus disini.
Hari ini, aku ingin Dika
mengantarku ke dokter dan memeriksa kesehatanku saat ini. Aku berharap ada
sesuatu hal yang baik yang terjadi dalam tubuhku.
Aku pergi sore itu, setelah
kebagian nomor antrian, aku duduk di ruang tunggu. Berjuta harapan dalam hatiku
semoga aku bisa sembuh, walau harapanku mungkin cukup kecil, namun tak ada yang
tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Sekarang giliran aku masuk, Dika
juga ikut masuk ke ruangan dokter. Setelah diperiksa, dokter sempat menatapku
dan tersenyum. Dia sempat tak percaya dengan hasil yang tertera dalam secarik
kertas itu. Mungkin inilah yang dinamakan keajaiban Tuhan. Dokter bilang kalau
aku sudah sembuh. Sembuh total.
Inilah kabar yang aku ingin
dengar selama ini. Aku sembuh, aku bisa bersama-sama Dika selamanya. Aku bisa
jadi istri Dika setelah Dika lulus kuliah nanti. Berjuta harapan indah
bersarang di hatiku. Begitupun dengan Dika, terpancar jelas dalam wajahnya
kalau dia sangat bahagia mendengar kabar ini.
Sesampai di rumah, aku langsung
memberi tahu kabar bahagia ini pada orangtuaku. Mereka langsung berencana untuk
menggelar syukuran. Aku sangat setuju dengan rencana itu, karena semua terjadi
karena kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Sudah sepantasnya kita bersyukur.
***
Malam itu, Dika pamit pulang. Dia
tersenyum dan memegang tanganku. Entah kenapa begitu berat aku melepas dia
pulang ke rumah padahal tidak jauh dari rumahku. Namun, aku tak mengerti dengan
perasaanku saat itu.
Dika bilang padaku untuk tetap
semangat, karena semua akan berjalan baik jika kita terus percaya pada Yang
Diatas, atas kebesaran-NYA. Sebelum Dika pulang, dia memberi kabar kalau
seandainya dia tidak bisa hadir dalam syukuran itu, dia minta maaf.
Aku sempat kesal dengan omongan
dia. Selama enam hari ini dia selalu menemaniku kemanapun aku mau. Tapi disaat
aku sembuh, kenapa dia tak mau hadir dalam acara syukuran itu. Apa dia sudah
bosan denganku.
Akhinya dia pergi dengan naik
motor kesayangannya. Aku berpesan agar
dia langsung pulang ke rumah. Malam itu tepat dihari keenam dia bersamaku, dia
terlihat sangat ganteng. Dika memang ganteng, banyak wanita yang menyayangkan
Dika bersamaku, yang memang penyakitan. Tapi itulah cinta.
Aku tidak langsung tutup pintu
gerbang, aku ingin melihat Dika sampai tubuhnya tak kelihatan lagi. Setelah
sosok Dika sudah menghilang, baru aku kunci pintu gerbang dan aku masuk ke
dalam rumah.
***
Waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Aneh, kenapa Dika tidak menghubungiku, padahal biasanya begitu sampai rumah dia
pasti sms aku. Jarak rumahku dan rumah dia paling hanya beberapa kilo dan
paling beberapa menit juga sudah sampai. Tidak mungkin kena macet kalau jam-jam
segini.
Apa Dika tidak punya pulsa atau
Dika malah pergi ke tempat wanita lain, atau Dika malah sudah tidak peduli
denganku. Aku begitu resah campur marah. Aku lihat lagi jam sudah menunjukkan
pukul 11 lewat 30 menit, aku putuskan untuk menelpon dia, tapi hpnya tidak
aktif. Aku coba telepon Ibunya, sama tidak aktif.
Aku tidak bisa tidur, aku lihat
disekeliling rumah, semua sudah sepi. Aku duduk di ruang tamu berharap hatiku
sedikit tenang. Namun tetap keresahan itu semakin menyiksaku. Aku berusaha
berdoa, berharap Dika baik-baik saja. Ditengah-tengah kesunyian ini, aku
mendengar hpku berbunyi di kamar. Aku buru-buru mengambil hpku.
Nomornya tidak aku kenal, ternyata
dari rumah sakit. Siapa yang sakit fikirku. Tapi pihak rumah sakit hanya
mengabarkan kalau kerabatku ada yang mengalami kecelakaan dan aku harus segera
pergi kesana. Semakin tak karuan perasaanku, siapa yang kecelakaan, mungkin
pihak rumah sakit ada kesalahan. Tapi aku buru-buru pergi kesana.
Sesampai di rumah sakit, aku
melihat sesosok Ibu yang tak asing untukku sedang menangis meratapi sesosok tubuh
yang sudah kaku. Aku dekati dan aku lihat. Aku hampir tak percaya kalau Ibu itu
adalah Ibunya Dika.
Lalu siapa sosok yang terkujur
kaku itu, aku coba membuka penutup kain putih itu dan aku melihat Dika dengan
mata tertutup. Semua terasa gelap saat itu. Aku tak tahu apa yang terjadi
dengan aku. Mungkin aku pingsan. Setelah beberapa jam aku terbangun dan aku
berharap ini hanya mimpi buruk.
Tapi tidak, Dika memang sudah
tidak ada. Dika mengalami kecelakaan lalu lintas ketika pulang dari rumahku
malam itu. Hari keenam bersamanya, hari terakhir kita bersama. Aku sembuh,
tubuhku sehat namun hatiku seolah mati.
Seandainya aku tahu Dika akan
meninggal dihari terakhir permintaanku, aku pasti akan meminta dia untuk
menemaniku seumur hidupku. Namun, aku tak ingin menyalahkan takdir. Seperti
yang Dika bilang, umur ada ditangan Yang
Kuasa.
Sampai saat inipun aku masih tak
percaya kalau Dika sudah tak ada. Tapi aku percaya Dika selalu menemaniku
dimanapun aku berada, hanya raganya saja yang sekarang tak bisa bersamaku. Tapi
hati dan cinta Dika yang begitu tulus akan selalu bersamaku.
Selamat jalan Dika...kita pasti
bertemu lagi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar