20 Feb 2013

Tak Sebatas Dua Pekan

Aldi…entah seperti apa wajahnya saat ini. Kita sudah berpisah sekitar 15 tahun lamanya. Terakhir aku hanya tahu kalau dia ikut orangtuanya ke luar negeri, namun entah sampai kapan, mungkin untuk selamanya.

Sore itu, aku masih mengerjakan tugas-tugas kuliah di kamarku. Kertas-kertas masih berserakan di lantai, pikiranku juga sedang berserakan karena memikirkan tugas yang tak ada habisnya. Sekali-sekali aku melihat jam di dinding, begitu cepat jarumnya bergerak.

“Sudah jam 3 sore…” fikirku.

Tugas harus terkumpul maksimal jam 5 sore, tapi masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku tak yakin aku mampu menyelesaikannya.

Kurebahkan tubuhku sejenak sebelum aku bergelut dengan tugas-tugas itu lagi. Aku heran, kenapa wajah Aldi terus membayangiku saat itu. Kuhapus semua kenangan masa kecil kita, namun sungguh aku tak bisa. Tak biasanya kenangan itu terus menjajah hatiku.

Setelah kira-kira setengah jam, aku mulai membereskan kembali tugas-tugasku itu. Tepat jam 5 sore, aku langsung kirim tugas-tugasku lewat email...Beres…


Siang itu, matahari tepat berada diatas kepalaku. Panas sekali. Aku langkahkan kakiku ke terminal bis tak jauh dari kampusku. Aku terpana ketika aku melihat sesosok laki-laki berada didalam mobil tak jauh dari bis yang sedang aku naiki. Wajahnya tak asing, tapi aku tak yakin itu sosok yang aku rindukan selama ini. Ingin aku turun dan menghampiri orang itu, namun bis yang aku naiki keburu berangkat.

Masih dengan rasa penasaran, siapa orang itu. Mungkinkah Aldi, tapi tidak mungkin. Aldi sudah lama menghilang dari hidupku.

Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunanku sore itu. Lamunan pada sosok yang tadi siang aku jumpai didekat terminal bis. Mobil hitam itu berenti pas didepan rumahku. Pelan-pelan aku melihat sosok dengan perawakan putih tinggi melempar senyum kearahku. Seperti laki-laki tadi. Makin mendekat, makin aku yakin itu Aldi.

“Dina…?” sapa laki-laki itu.

“Siapa yah?” tanyaku heran.

“Aku Aldi, masa kamu lupa...” jawabnya.

“Aldiiiii….” ingin sekali aku memeluknya. Melepas semua kerinduan yang ada dalam dada.

Percakapan mengalir begitu saja, seperti kita waktu kecil. Hanya sekarang ada yang berubah, hatiku bergetar ketika aku melihat tatapan matanya. Aku tak yakin itu cinta. Percakapan menjurus pada masalah pribadi. Aku spontan menjawab pertanyaan Aldi ketika dia tanya, aku sudah punya pendamping atau belum. Kujawab belum. Namun sedikit sakit di hatiku ketika aku tahu kalau Aldi sudah punya pacar. Pacarnya orang Indonesia juga katanya yang kebetulan sekolah diluar negeri. Aldi kerja diluar, dia sengaja liburan ke tanah air karena ingin bertemu denganku. Begitu pengakuannya. Harusnya aku bahagia mendengar itu, namun kenapa ada rasa ingin memilikinya ketika Kami bersama seperti saat ini.

Dua pekan lamanya Aldi disini. Hampir setiap hari kita bersama. Aldi tak pernah absen jemput aku di kampus. Jika aku boleh meminta, jangan sampai Aldi pergi lagi dari hidupku. Namun aku tak bisa meminta seperti itu, karena aku sangat yakin, Aldi hanya menganggapku sebagai adik.

***

Sore itu seperti biasa Aldi mengajakku untuk pergi keluar. Setelah aku berpamitan pada Ibu, aku langsung pergi bersamanya dengan mobil hitam kesayangannya. Kita akan pergi nonton film kesukaan Aldi. Namun sayang kita kehabisan tiket. Aku melihat ada rasa sedih di wajah Aldi, namun aku sebisa mungkin aku menghiburnya.

Aku ajak Aldi makan ditempat langgananku. Tukang bakso dipinggir jalan. Bakso yang terkenal murah, enak dan tentunya bersih. Tiba-tiba hujan turun sangat deras, kita terjebak didalam tenda bakso itu. Aldi tiba-tiba menatapku.

“Din….andai….”tiba-tiba perkataannya berhenti.

“Kenapa?” tanyaku.

“Enggak apa-apa…” kata dia.

Hujan mulai reda, aku dan Aldi bergegas menuju mobil. Jam sudah menunjukkan angka 8 ketika mobil Andi tepat didepan rumahku. Dua pekan sudah Andi disini, besok dia harus berangkat ke Australia dan meneruskan kehidupannya. Kehidupan bersama gadisnya, bukan aku.

“Di, aku gak nganter ke Bandara yah…” kataku.

“Oke, gak papa, doakan aku selamat sampe tujuan...” jawabnya.

Aldi menyalakan mobilnya dan pergi dari hadapanku. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku bergegas masuk kamar, tak peduli dengan panggilan Ibu saat itu. Aku menangis di kamarku, membayangkan dua pekan yang sudah kita lewati. Kenapa Aldi datang kalau akhirnya harus pergi lagi. Lalu perkataan apa yang ingin dia ucapkan di kedai bakso tadi. Tapi sudahlah…semua memang jalanNya.

***

Pagi itu aku melihat mataku masih merah, mungkin akibat menangis tadi malam. Aku buka jendela, ternyata diluar hujan. Aku putuskan untuk bolos kuliah karena aku merasa kurang enak badan. Aku keluar kamar, aku tak melihat Ibu, aku cari Ibu di dapur tetap Ibu tak ada.

Aku coba keluar rumah mencari Ibu diluar rumah. Aku tetap tak menemukan Ibu, namun aku menemukan sosok lain di kursi depan. Sosok yang aku harapkan. Aldi…

“Belum berangkat Di atau ditunda?” tanyaku.

“Ditunda kayanya...” jawab dia sambil tersenyum. Senyuman yang sebenarnya ingin aku lihat tadi malam ketika tangisan itu jatuh.

“Kok kayanya…?” tanyaku.

“Aku tak ingin pergi kalau ada yang menangisiku disini...” jawabnya.

“Yang nangis siapa?” tanyaku malu.

Ingin aku memeluknya dan bilang padanya untuk tidak pergi. Namun aku tak berani mengungkapkan perasaanku. Dua pekan kita bersama, membuatku jatuh cinta padanya.

“Aku tak akan pergi lagi…aku akan meneruskan bisnis Ayah disini, kamu jangan khawatir, aku akan tetap disini bersamamu, selesaikan kuliahmu secepatnya…kita harus menikah...” kata dia.

Apa ini mimpi, apa aku sedang di dunia awan yang membuatku terbang melayang-layang…?

“Lalu pacarmu?” tanyaku.

“Aku tak punya pacar, kemarin-kemarin aku hanya becanda...” tawanya meledak.

***


Pagi itu menjadi pagi terindah bagiku. Semoga Aldi bisa menepati janjinya untuk menikahiku setelah aku lulus kuliah nanti. Ternyata kebersamaan Kami tak hanya sebatas dua pekan. Kuharap bisa selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar