Aldi…entah
seperti apa wajahnya saat ini. Kita sudah
berpisah sekitar 15 tahun lamanya. Terakhir aku hanya
tahu kalau dia ikut orangtuanya ke luar negeri, namun entah sampai kapan,
mungkin untuk selamanya.
Sore itu, aku
masih mengerjakan tugas-tugas kuliah di kamarku. Kertas-kertas masih berserakan di lantai, pikiranku juga
sedang berserakan karena memikirkan tugas yang tak ada habisnya. Sekali-sekali aku melihat jam di
dinding, begitu cepat jarumnya bergerak.
“Sudah jam 3 sore…” fikirku.
Tugas harus
terkumpul maksimal jam 5 sore, tapi masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku
tak yakin aku mampu menyelesaikannya.
Kurebahkan
tubuhku sejenak sebelum aku bergelut dengan tugas-tugas itu lagi. Aku heran, kenapa wajah Aldi terus membayangiku
saat itu. Kuhapus semua kenangan masa kecil kita, namun sungguh aku tak bisa. Tak biasanya
kenangan itu terus menjajah hatiku.
Setelah kira-kira setengah jam, aku mulai
membereskan kembali tugas-tugasku itu. Tepat jam 5 sore, aku langsung kirim tugas-tugasku lewat email...Beres…
Siang itu,
matahari tepat berada diatas kepalaku. Panas sekali. Aku langkahkan kakiku ke
terminal bis tak jauh dari kampusku. Aku terpana ketika aku melihat sesosok
laki-laki berada didalam mobil tak jauh dari bis yang sedang aku naiki.
Wajahnya tak asing, tapi aku tak yakin itu sosok yang aku rindukan selama ini.
Ingin aku turun dan menghampiri orang itu, namun bis yang aku naiki keburu
berangkat.
Masih dengan
rasa penasaran, siapa orang itu. Mungkinkah Aldi, tapi tidak mungkin. Aldi
sudah lama menghilang dari hidupku.
Bunyi klakson
mobil membuyarkan lamunanku sore itu. Lamunan pada sosok yang tadi siang aku
jumpai didekat terminal bis. Mobil hitam itu berenti pas didepan rumahku. Pelan-pelan aku melihat sosok
dengan perawakan putih tinggi melempar senyum kearahku. Seperti laki-laki tadi.
Makin mendekat, makin aku yakin itu Aldi.
“Dina…?” sapa laki-laki
itu.
“Siapa yah?” tanyaku heran.
“Aku Aldi, masa
kamu lupa...” jawabnya.
“Aldiiiii….” ingin sekali aku memeluknya. Melepas semua
kerinduan yang ada dalam dada.
Percakapan
mengalir begitu saja, seperti kita waktu kecil. Hanya sekarang ada yang
berubah, hatiku bergetar ketika aku melihat tatapan matanya. Aku tak yakin itu
cinta. Percakapan menjurus pada masalah pribadi. Aku spontan menjawab
pertanyaan Aldi ketika dia tanya, aku sudah punya pendamping atau belum. Kujawab belum. Namun sedikit
sakit di hatiku ketika aku tahu kalau Aldi sudah punya pacar. Pacarnya orang Indonesia
juga katanya yang kebetulan sekolah diluar negeri. Aldi kerja diluar, dia
sengaja liburan ke tanah air karena ingin bertemu denganku. Begitu
pengakuannya. Harusnya aku bahagia mendengar itu, namun kenapa ada rasa ingin
memilikinya ketika
Kami bersama
seperti saat ini.
Dua pekan
lamanya Aldi disini. Hampir setiap hari kita bersama. Aldi tak pernah absen
jemput aku di kampus. Jika aku boleh meminta, jangan sampai Aldi pergi lagi
dari hidupku. Namun aku tak bisa meminta seperti itu, karena aku sangat yakin,
Aldi hanya menganggapku sebagai adik.
***
Sore itu seperti
biasa Aldi mengajakku untuk pergi keluar. Setelah aku berpamitan pada Ibu, aku
langsung pergi bersamanya dengan mobil hitam kesayangannya. Kita akan pergi
nonton film kesukaan Aldi. Namun sayang kita kehabisan tiket. Aku melihat ada
rasa sedih di wajah Aldi, namun aku sebisa mungkin aku menghiburnya.
Aku ajak Aldi
makan ditempat langgananku. Tukang bakso dipinggir jalan. Bakso yang terkenal
murah, enak dan tentunya bersih. Tiba-tiba hujan turun sangat deras, kita terjebak didalam tenda bakso
itu. Aldi tiba-tiba menatapku.
“Din….andai….”tiba-tiba perkataannya berhenti.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enggak apa-apa…” kata dia.
Hujan mulai
reda, aku dan Aldi bergegas menuju mobil. Jam sudah menunjukkan angka 8 ketika
mobil Andi tepat didepan rumahku. Dua pekan sudah Andi disini, besok dia harus
berangkat ke Australia dan meneruskan kehidupannya. Kehidupan bersama gadisnya,
bukan aku.
“Di, aku gak nganter ke Bandara yah…” kataku.
“Oke, gak papa, doakan aku selamat
sampe tujuan...” jawabnya.
Aldi menyalakan mobilnya
dan pergi dari hadapanku. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku bergegas masuk
kamar, tak peduli dengan panggilan Ibu saat itu. Aku menangis di kamarku, membayangkan
dua pekan yang sudah kita lewati. Kenapa Aldi datang kalau akhirnya harus pergi
lagi. Lalu perkataan apa yang ingin dia ucapkan di kedai bakso tadi. Tapi
sudahlah…semua memang jalanNya.
***
Pagi itu aku
melihat mataku masih merah, mungkin akibat menangis tadi malam. Aku buka
jendela, ternyata diluar hujan. Aku putuskan untuk bolos kuliah karena aku
merasa kurang enak badan. Aku keluar kamar, aku tak melihat Ibu, aku cari Ibu
di dapur tetap Ibu tak ada.
Aku coba keluar
rumah mencari Ibu diluar rumah. Aku tetap
tak menemukan Ibu, namun aku menemukan sosok lain di kursi depan.
Sosok yang aku harapkan. Aldi…
“Belum berangkat
Di atau ditunda?” tanyaku.
“Ditunda kayanya...” jawab dia
sambil tersenyum. Senyuman yang sebenarnya ingin aku lihat tadi malam ketika tangisan
itu jatuh.
“Kok kayanya…?” tanyaku.
“Aku tak ingin
pergi kalau ada yang menangisiku disini...” jawabnya.
“Yang nangis
siapa?” tanyaku malu.
Ingin aku
memeluknya dan bilang padanya untuk tidak pergi. Namun aku tak berani mengungkapkan perasaanku.
Dua pekan kita bersama, membuatku jatuh cinta padanya.
“Aku tak akan
pergi lagi…aku akan meneruskan bisnis Ayah disini, kamu jangan khawatir, aku
akan tetap disini bersamamu, selesaikan kuliahmu secepatnya…kita harus menikah...” kata dia.
Apa ini mimpi,
apa aku sedang di dunia awan yang membuatku terbang melayang-layang…?
“Lalu pacarmu?” tanyaku.
“Aku tak punya
pacar, kemarin-kemarin aku hanya becanda...” tawanya meledak.
***
Pagi itu menjadi
pagi terindah bagiku. Semoga Aldi bisa menepati janjinya untuk menikahiku setelah aku
lulus kuliah nanti. Ternyata kebersamaan Kami tak hanya sebatas dua pekan. Kuharap bisa selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar