Aku adalah
seorang Ibu yang mempunyai anak kembar. Anak yang memang aku idamkan dari dulu. Dua putri cantik yang
menghiasi hari-hariku. Ammira dan Ammara.
Ammira dan
Ammara kini sudah berusia 25 tahun. Sayang, kehidupan Ammira tidak seberuntung
Ammara, walaupun dari segi materi aku tidak pernah membeda-bedakan mereka.
Ammara lulusan Universitas negeri di kota ini, begitupun Ammira adalah lulusan Universitas yang sama.
Kehidupan mereka
berbeda setelah mereka lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Ammara mungkin
bernasib lebih beruntung dibandingkan Ammira. Hanya menunggu dua bulan saja,
Ammara sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang baik dengan gaji yang besar
pada perusahaan ternama. Jadi tak heran jika saat ini Ammara sudah mendapatkan
segalanya. Rumah, kendaraan dan tabungan yang cukup banyak.
Berbeda dengan
Ammira, gadis ini harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan pekerjaan dan
itupun hanya sebagai staf biasa disalah satu perusahaan yang tidak terlalu besar. Gaji Ammira juga tidak
sebesar Ammara, namun cukup untuk keperluan sehari-hari.
Kini secara status sosial terdapat perbedaan diantara mereka. Hubungan merekapun tidak seperti dulu. Ammara dengan kekayaan yang dia miliki seolah
lupa diri karena sibuk dengan apa yang dia miliki. Berbeda dengan Ammira yang
masih aku kenal seperti Ammira yang dulu., tidak pernah berubah. Mungkin benar kalau
kekayaan itu bisa merubah sifat seseorang.
Aku masih ingat,
ketika hari raya lebaran tiba, dua tahun yang lalu. Ammira dengan keluarga
kecilnya datang tiga hari menjelang hari raya. Dia memutuskan berlebaran di
rumahku, rumah dimana dia dibesarkan. Aku sangat senang ketika Ammira datang,
walaupun tidak membawa apa-apa. Ammira bilang saat itu kalau keperluan dia
sangat banyak untuk keperluan anak semata wayangnya yang baru saja sembuh dari
sakit. Bahkan tabungan dia dan suaminyapun nyaris habis untuk keperluan berobat
anaknya. Aku tak masalah, aku tak mengharapkan dia memberikan apapun untukku.
Melihat senyumannya pun aku sudah sangat senang.
Ammira,
mengganggap rumah ini seperti rumahnya yang dulu. Tidak pernah ada kegiatan
sedikitpun yang dia tinggalkan. Pagi-pagi dia membersihkan rumah dan membantuku
memasak di dapur. Walaupun Kami jarang berjumpa namun aku masih tetap merasa Ammira ada di rumah
ini.
Sedangkan Ammara…dia datang pada malam takbiran
menjelang hari raya. Aku melihat ada raut kesal di wajahnya ketika sampai
didepan rumah. Tanpa mengucapkan salam, dia langsung bilang kalau dia merasa
tersiksa dengan kemacetan selama perjalanan. Ammara memang belum menikah,
mungkin karena sibuk dengan pekerjaan yang hampir menguras waktu dan tenaganya.
Tanpa basa basi dia langsung masuk ke kamar untuk beristirahat.
Aku masih ingat,
dulu dua putri cantik ini selalu membagi pekerjaan untuk membereskan rumah, namun
sekarang aku melihat hubungan mereka tidak seperti dulu, seperti ada jarak.
Entah kenapa…
Aku tidak bisa
memperlakukan Ammara seperti aku memperlakukan Ammira. Sangat tidak bisa.
Kenapa aku merasa asing dengan anakku sendiri. Sepenting itukah uang, sehingga bisa merubah
segalanya. Malam itu Ammara memberiku uang yang cukup banyak. Tapi sungguh Nak…Ibu tak butuh uang
itu.
***
Masih bulan yang
sama, setelah lebaran Ammara jatuh sakit. Dia terkena demam berdarah. Ammara
dirawat di rumah sakit didekat tempat tinggalnya. Aku sebagai Ibunya sangat panik dan
langsung bergegas ke rumah sakit tempat dia dirawat. Sampai disana, kondisi
Ammara memang sangat lemah. Selang infus masih aku lihat ditangannya. Aku
mendekatinya dan berusaha memberikan dia semangat. Namun apa yang terjadi,
Ammara malah menyuruh aku pulang karena dia bilang sudah ada orang yang dia bayar untuk
memenuhi segala kebutuhan dia. Sakit rasanya mendengar perkataan Ammara.
Aku tidak pernah
tahu, siapa teman-temannya Ammara di kantor. Akupun tak pernah tahu dimana kantor
anakku itu. Berkunjung ke rumahnya pun hampir tidak pernah. Selama satu tahun
bisa dihitung jari kapan aku berkunjung kesana. Berbeda dengan Ammira, aku
pernah dikenalkan pada teman-temannya ketika aku berkunjung ke kantornya.
Dengan bangga dia berkata bahwa aku adalah Ibu yang berjuang sendiri
membesarkan dia sampai dia bisa seperti sekarang. Seminggu atau dua minggu
sekali aku selalu dia jemput untuk menginap di rumahnya. Bermain dengan anak
semata wayangnya yang lucu. Akupun ingin Ammara seperti Ammira.
***
Sampai saat ini
aku masih berfikir. Kenapa ini bisa terjadi pada Ammara. Aku merasa anak kembar
pasti punya hati dan perasaan yang sama, tapi kenapa semua itu tidak terjadi
pada dua putri cantikku, Ammara dan Ammira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar