19 Sep 2013

Ibu Ikhlas, Nak...

Sampai hari inipun, aku masih merasakan sakit ketika melahirkan anak semata wayangku. Namun aku bahagia karena hanya dia permata hatiku. Sampai hari ini dan kapanpun…

Nadia adalah gadis yang selalu aku rindukan, gadis yang selalu aku harapkan kehadirannya. Walaupun aku hanya bisa menatapnya dalam sebingkai foto.

***

Kami hidup berdua sejak dulu, sejak Ayah Nadia pergi entah kemana. Aku mencoba menafkahi Nadia seorang diri. Aku bekerja serabutan, tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes. Tak peduli seberapa banyak langkah yang sudah dijalani, tak peduli seberapa berat beban dipundakku. Aku hanya ingin Nadia bahagia dan menjadi “orang”.

Seiring berjalannya waktu, Nadia tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan mandiri. Bukan itu saja, Nadia termasuk anak yang cerdas. Sangat cerdas. Aku benar-benar bangga pada dia.

Tak terasa, Nadia menginjak usia dewasa, dia mau masuk perguruan tinggi. Belum terbayang saat itu darimana biaya sekolahnya. Mengingat saat ini biaya kuliah sangatlah mahal. Aku sudah mencoba meminjam uang sana sini namun tak ada yang memberi. Aku faham, mana ada orang yang percaya padaku dengan status pekerjaan yang tidak jelas.


Saat itu aku tak tahu, aku harus mencari uang kemana lagi. Semua tetangga sudah aku coba, semua keluarga juga sudah aku datangi namun tak ada satupun yang memberikan pinjaman pada Kami. Sampai pada suatu saat, tanpa disengaja aku bertemu dengan sahabat suamiku.

Pak Ramdan…dia yang sukarela meminjamkan uang untuk biaya masuk kuliah Nadia. Aku berjanji, aku akan mengembalikan uang itu secepatnya.

***

Di bangku kuliah, Nadia selalu mendapatkan nilai yang sangat bagus. Tak heran, jika dia lulus dalam waktu yang singkat. Nadia anak yang sabar, dia tidak minta baju bagus untuk pergi kuliah, dia tidak minta kendaraan, cukup dengan jasa angkot setiap hari. Aku sangat bersyukur punya anak semanis dia.

Nadia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan Nadia untuk bekerja. Ada yang dia tolak dan ada yang dia masih fikir-fikir, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menerima tawaran salah satu perusahaan dengan gaji yang lumayan besar.

Setelah Nadia bekerja, hidup Kami lumayan berubah. Nadia memintaku untuk berhenti bekerja. Mengingat aku yang sudah tidak muda lagi. Akupun menyetujui keinginan Nadia. Prestasi yang dia dapat ditempat kerjanya juga sangat bagus, sampai-sampai Nadia diminta untuk meneruskan S2nya keluar negeri atas biaya dari perusahaan.

Aku sangat berat hati melepas Nadia saat itu, namun aku melihat ada sorot mata permohonan, hingga akhirnya akupun menyetujuinya. Nadia berangkat dan aku sendiri disini.

Sekitar 1,5 tahun Nadia menimba ilmu di Jepang, komunikasi kita tetap lancar saat itu. Tidak ada yang perlu aku cemaskan karena aku yakin Nadia gadis yang sangat baik.

***

Setelah Nadia kembali. Aku melihat ada sifat dia yang sedikit berubah, entah itu perasaanku saja, atau memang itulah kenyataannya. Ada beberapa tetangga dekat yang berkata padaku kalau sekarang Nadia menjadi sombong. Akupun merasakan hal itu, namun aku tak ingin merasakannya terlalu jauh.

Pada suatu ketika, cobaan hidup sedang menimpa anakku, saat itu perusahaan Nadia mengalami kebangkrutan. Semua karyawan diberhentikan tanpa pesangon. Nadia sempat stress. Namun aku selalu berusaha untuk menyadarkan dia kalau semua yang kita punya hanya titipan. Aku coba menguatkan Nadia. Aku curahkan semua doaku. Aku ikhlas…

Tidak cukup waktu singkat untuk memulihkan mental Nadia saat itu. Nadia sudah coba melamar pekerjaan ke tempat lain, namun entah kenapa hasilnya selalu nihil. Padahal Nadia kan lulusan S2 dari luar negeri, seharusnya banyak perusahaan yang siap memperkerjakan karyawan seperti Nadia. Mungkin inilah cobaan hidup. Gadis sepintar Nadia saja tak bisa menjalani hidup semudah membalikkan telapak tangan.

Sampai pada suatu hari, aku mengajak Nadia untuk bisnis usaha kuliner. Orang bilang masakanku enak, aku akan mencoba menjual makananku. Aku akan seriuskan usaha ini. Aku memberi semua modal yang aku punya untuk Nadia kelola. Aku tak peduli rasa lelah yang mendera, aku ingin Nadia bangkit.

***

Tak sampai satu tahun, usaha yang Kami jalankan berkembang. Jiwa marketing anakku memang tak bisa diragukan lagi. Akupun diminta untuk berhenti mengurusi usaha Kami, biar dia yang menghandle, sementara aku tinggal duduk manis. Usaha Kami memang berkembang, namun aku merasa, aku semakin kehilangan Nadia. Nadia sibuk, Nadia tak pernah ada waktu untukku. Dan kenapa sifat angkuhnya semakin muncul.

Pernah suatu hari, ada pamannya Nadia datang ke rumah, dia mengundang Kami untuk menghadiri acara pernikahan anaknya. Aku sangat senang sekali dan berniat untuk pergi menghadiri acara itu. Namun Nadia malah memberi saran supaya aku memberi uang saja tanpa harus dating kesana. Banyak sekali hal-hal yang membuat aku merasa Nadia benar-benar sudah berubah.

Hari itu, aku masih ingat. Hari minggu. Aku tahu, saat itu ada peresmian restoran baru anakku yang sudah dirancang sedemikian rupa. Nadia sudah memberitahuku tentang acara itu jauh-jauh hari dan aku sudah mempersiapkan segalanya untuk datang pada acara peresmian restoran anakku.

Minggu pagi, aku sudah rapi. Aku memang bukan orang yang pantas untuk datang ke acara yang mewah itu.  Aku hanya seorang Ibu yang mungkin akan membuat malu anaknya ketika turun dari mobil yang bagus. Mungkin anakku malu menggandeng wanita tua yang sudah melahirkannya, sampai pada hari yang ditentukan Nadia melarang aku untuk hadir di acara itu.

Aku tak ingin menangis saat itu, aku tak boleh bersedih, berjuta pikiran positif aku tumpahkan dipikiranku. Namun tak bisa dipungkiri, sungguh hatiku merasakan sakit. Lagi-lagi aku hanya bisa berkata…aku ikhlas…aku ikhlas bila hal ini bisa membuat Nadia bahagia dan menutupi rasa malu akan hadirnya aku disana.

***

Sampai saat ini, sampai detik ini, aku belum bisa memeluknya. Aku belum bisa membelainya. Nadia dan aku bertemu hanya sebatas pertemuan wajib seorang anak pada Ibunya, tidak ada kasih sayang. Kenapa duniawi bisa merubah rasa cinta antara anak dengan Ibunya...???


Aku masih berharap, Nadia bisa kembali menjadi Nadiaku yang dulu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar