Sampai hari
inipun, aku masih merasakan sakit ketika melahirkan anak semata wayangku. Namun
aku bahagia karena hanya dia permata hatiku. Sampai hari ini dan kapanpun…
Nadia adalah gadis yang selalu
aku rindukan, gadis yang selalu aku harapkan kehadirannya. Walaupun aku hanya
bisa menatapnya dalam sebingkai foto.
***
Kami hidup
berdua sejak dulu, sejak Ayah Nadia pergi entah kemana. Aku mencoba menafkahi Nadia seorang
diri. Aku bekerja serabutan, tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes.
Tak peduli seberapa banyak langkah
yang sudah dijalani, tak peduli seberapa berat beban dipundakku. Aku hanya
ingin Nadia bahagia dan menjadi “orang”.
Seiring
berjalannya waktu, Nadia tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan mandiri.
Bukan itu saja, Nadia termasuk anak yang cerdas. Sangat cerdas. Aku benar-benar
bangga pada dia.
Tak terasa,
Nadia menginjak usia dewasa, dia mau masuk perguruan tinggi. Belum terbayang
saat itu darimana biaya sekolahnya. Mengingat saat ini biaya kuliah sangatlah
mahal. Aku sudah mencoba meminjam uang sana sini namun tak ada yang memberi. Aku faham, mana ada orang yang
percaya padaku dengan status pekerjaan yang tidak jelas.
Saat itu aku tak
tahu, aku harus mencari uang kemana lagi. Semua tetangga sudah aku coba, semua keluarga
juga sudah aku datangi namun tak ada satupun yang memberikan pinjaman pada Kami. Sampai pada
suatu saat, tanpa disengaja aku bertemu dengan sahabat suamiku.
Pak Ramdan…dia
yang sukarela meminjamkan uang untuk biaya masuk kuliah Nadia. Aku berjanji,
aku akan mengembalikan uang itu secepatnya.
***
Di bangku
kuliah, Nadia selalu mendapatkan nilai yang sangat bagus. Tak heran, jika dia lulus dalam waktu yang
singkat. Nadia anak yang sabar, dia tidak minta baju bagus untuk pergi kuliah,
dia tidak minta kendaraan, cukup dengan jasa angkot setiap hari. Aku sangat
bersyukur punya anak semanis dia.
Nadia lulus
dengan nilai yang sangat memuaskan. Ada beberapa perusahaan yang menawarkan
Nadia untuk bekerja. Ada yang dia tolak dan ada yang dia masih fikir-fikir, sampai
pada akhirnya dia memutuskan untuk menerima tawaran salah satu perusahaan
dengan gaji yang lumayan besar.
Setelah Nadia
bekerja, hidup Kami lumayan berubah. Nadia memintaku untuk berhenti bekerja.
Mengingat aku yang sudah tidak muda lagi. Akupun menyetujui keinginan Nadia. Prestasi yang
dia dapat ditempat kerjanya juga
sangat bagus, sampai-sampai Nadia diminta untuk
meneruskan S2nya keluar negeri atas biaya dari perusahaan.
Aku sangat berat
hati melepas Nadia saat itu, namun aku melihat ada sorot mata permohonan, hingga akhirnya akupun menyetujuinya. Nadia berangkat dan aku sendiri disini.
Sekitar 1,5
tahun Nadia menimba ilmu di Jepang, komunikasi kita tetap lancar saat itu. Tidak ada yang perlu aku cemaskan karena aku yakin Nadia
gadis yang sangat baik.
***
Setelah Nadia
kembali. Aku melihat ada sifat dia yang sedikit berubah, entah itu perasaanku
saja, atau memang itulah kenyataannya. Ada beberapa tetangga dekat yang berkata padaku kalau sekarang Nadia menjadi sombong.
Akupun merasakan hal itu, namun aku tak ingin merasakannya terlalu jauh.
Pada suatu ketika, cobaan hidup sedang menimpa anakku,
saat itu perusahaan Nadia mengalami kebangkrutan. Semua karyawan diberhentikan
tanpa pesangon. Nadia sempat stress. Namun aku selalu berusaha untuk menyadarkan
dia kalau semua yang kita punya hanya titipan. Aku coba menguatkan Nadia. Aku
curahkan semua doaku. Aku ikhlas…
Tidak cukup
waktu singkat untuk memulihkan mental Nadia saat itu. Nadia sudah coba melamar
pekerjaan ke tempat lain, namun entah kenapa hasilnya selalu nihil. Padahal Nadia kan lulusan S2 dari luar negeri,
seharusnya banyak perusahaan yang siap memperkerjakan karyawan seperti Nadia. Mungkin inilah cobaan hidup. Gadis sepintar Nadia saja tak bisa
menjalani hidup semudah membalikkan telapak tangan.
Sampai pada
suatu hari, aku mengajak Nadia untuk bisnis usaha kuliner. Orang bilang
masakanku enak, aku akan mencoba menjual makananku. Aku akan seriuskan usaha ini. Aku memberi semua modal yang
aku punya untuk Nadia kelola. Aku tak peduli rasa lelah yang mendera, aku ingin
Nadia bangkit.
***
Tak sampai satu
tahun, usaha yang Kami jalankan berkembang. Jiwa marketing anakku memang tak
bisa diragukan lagi. Akupun diminta untuk berhenti mengurusi usaha Kami, biar
dia yang menghandle, sementara aku tinggal
duduk manis. Usaha Kami memang berkembang, namun aku merasa, aku semakin
kehilangan Nadia. Nadia sibuk, Nadia tak pernah ada waktu untukku. Dan kenapa
sifat angkuhnya semakin muncul.
Pernah suatu
hari, ada pamannya Nadia datang ke rumah, dia mengundang Kami untuk menghadiri acara
pernikahan anaknya. Aku sangat senang sekali dan berniat untuk pergi menghadiri
acara itu.
Namun Nadia malah memberi saran supaya aku memberi uang saja tanpa harus dating kesana. Banyak sekali
hal-hal yang membuat aku merasa Nadia benar-benar sudah berubah.
Hari itu, aku
masih ingat. Hari minggu. Aku tahu, saat itu ada peresmian restoran baru anakku yang sudah
dirancang sedemikian rupa. Nadia sudah memberitahuku tentang acara itu
jauh-jauh hari dan aku sudah mempersiapkan segalanya untuk datang pada acara
peresmian restoran anakku.
Minggu pagi, aku
sudah rapi. Aku memang bukan orang yang pantas untuk datang ke acara yang mewah itu. Aku hanya seorang Ibu yang mungkin akan membuat malu anaknya ketika turun dari mobil yang bagus. Mungkin anakku malu menggandeng wanita
tua yang sudah melahirkannya, sampai pada hari yang ditentukan Nadia melarang
aku untuk hadir di acara itu.
Aku tak ingin
menangis saat itu, aku tak boleh bersedih, berjuta pikiran positif aku tumpahkan dipikiranku. Namun tak bisa dipungkiri, sungguh
hatiku merasakan sakit. Lagi-lagi aku hanya bisa berkata…aku ikhlas…aku ikhlas bila
hal ini bisa membuat Nadia bahagia dan menutupi rasa malu akan hadirnya aku
disana.
***
Sampai saat ini,
sampai detik ini, aku belum bisa memeluknya. Aku belum bisa membelainya. Nadia
dan aku bertemu hanya sebatas pertemuan wajib seorang anak pada Ibunya, tidak ada kasih
sayang. Kenapa duniawi bisa merubah rasa cinta antara anak dengan Ibunya...???
Aku masih
berharap, Nadia bisa kembali menjadi Nadiaku yang dulu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar