Raka adalah sahabat terbaikku.
Kami sudah cukup lama dekat, mungkin karena Ibuku juga bersahabat dengan Ibunya
Raka. Kadang kita suka jalan bersama. Mungkin kalau orang lihat, kita seperti
keluarga. Setiap ada masalah Raka selalu cerita padaku, begitupun sebaliknya.
Baik itu masalah keluarga ataupun masalah tentang cinta. Raka sering cerita
tentang seorang wanita. Wanita yang dia suka atau sebaliknya. Akupun selalu
menanggapinya dengan baik. Kalau diperlukan, akupun selalu memberi saran.
Entah kenapa dan awalnya bagaimana.
Setiap dia cerita tentang Ayu, aku selalu cemburu. Ayu adalah wanita yang
sedang didekati Raka saat itu. Ayu memang cantik, dia juga baik. Aku juga kenal
Ayu walaupun tidak kenal dengan dekat.
Waktu berlalu, aku mendengar
kalau Ayu dan Raka sudah menjalin hubungan. Bahkan Ayu sudah dikenalkan pada Ibunya
Raka. Mendengar hal itu, hatiku terasa sakit. Bukan karena aku takut kehilangan
sahabatku. Tapi aku merasakan perasaan lain. Apa mungkin aku jatuh cinta pada
sahabatku sendiri?
Aku memang tidak kehilangan
perhatian Raka sebagai sahabat, tapi aku ingin perhatian yang lebih dari
sahabat. Tapi sekarang Raka sudah dengan Ayu dan aku tidak boleh berharap
lebih.
***
Sudah sekitar satu tahun, Raka pacaran
dengan Ayu. Dan Kamipun tidak sedekat dulu. Terkadang cinta itu bisa merubah
semuanya. Hingga pada suatu hari, akupun mengenal sosok Ferdi. Ferdi bisa
merubah hari-hariku. Sedikitnya, aku bisa melupakan Raka dan segala kebaikannya
walaupun cukup sulit. Aku merasakan Ferdi memang sangat baik dan perhatian
padaku. Sampai akhirnya Ferdi menyatakan perasaannya padaku dan aku
menerimanya.
Didekat Ferdi aku tidak merasakan
apapun. Tidak seperti ketika aku bersama Raka. Aku tunggu sampai beberapa bulan
kedepan. Aku harap perasaan itu muncul. Tapi ternyata tidak atau mungkin belum.
Aku malah cenderung menghindar ketika Ferdi ingin bertemu denganku. Padahal
statusku sudah berpacaran dengannya.
Aku terus berusaha mencari cinta
dengan Ferdi tapi semua sia-sia. Semakin hari malah aku merasa semakin
menyakiti Ferdi. Sampai akhirnya aku menyerah dan meminta Ferdi untuk
melupakanku.
***
Sore itu, aku sedang santai di
teras belakang rumah sambil baca novel yang baru tadi siang aku beli di toko
buku tak jauh dari rumahku. Tiba-tiba hpku berbunyi, aku lihat, ada sms. Aku
buka, ternyata dari Raka. Raka...
Terasa seluruh tubuhku bergetar,
walaupun hanya kiriman sms biasa. Isi SMS itu mengabarkan kalau Raka ingin
bertemu denganku. Memang kita sudah lama tidak bertemu. Mungkin sudah sekitar
enam bulanan lebih. Aku langsung jawab kalau aku mau bertemu dengannya.
Keesokan harinya, sepulang dari
kampus, aku langsung membuat janji dengan Raka bertemu di sebuah tempat makan
yang biasa kita datangi dulu.
Aku sampai duluan ditempat itu
dengan jantungku tak henti-hentinya berdetak sangat kencang. Ada perasaan tak
menentu di hatiku. Aku takut saat itu Raka memberiku sepucuk surat undangan
pernikahan dia. Tapi aku buru-buru tepis pikiran negatifku.
Sekitar 10 menit aku menunggu
Raka, akhirnya Raka datang juga. Raka memakai celana jeans warna biru muda
dengan kaos warna hitam. Terlihat sangat enak dipandang mata. Raka memang suka
gaya santai. Entah kenapa saaitu itu
kita seperti baru kenal. Sikap Raka yang
canggung membuatku merasa sangat gugup. Aku mencoba untuk melumerkan suasana.
Aku ajak dia bercanda, aku bilang padanya, “Aku kira kamu mau kasih aku surat
undangan pernikahan dengan Ayu...”.
Jawabannya cukup mengagetkan aku,
ternyata hubungan dia dengan Ayu juga sudah berakhir. Mungkin dihitung-hitung,
waktunya hampir sama dengan berakhirnya hubungan aku dengan Ferdi. Raka tidak
menceritakan kenapa hubungan mereka berakhir. Dan aku rasa, akupun tidak perlu
tahu dengan semua itu.
Sejak pertemuan itu, aku kembali
dekat dengan Raka. Yang aku herankan, kedekatan kita tidak seperti kedekatan seorang
sahabat. Aku merasa perasaanku pada Raka sama seperti yang dia rasakan padaku.
Hari-hari kembali aku rasakan
dengan Raka, sangat indah...walaupun aku belum tahu perasaan Raka sebenarnya
seperti apa. Aku memang sangat menunggu hari indah itu, namun biarlah semua
berjalan seperti apa adanya.
***
Hari itu, tiba-tiba Raka datang
ke rumahku. Saat itu juga sedang ada Ibuku. Raka ingin menyampaikan sesuatu. Ternyata
Raka akan pergi melanjutkan kuliahnya di negeri orang. Mungkin dalam waktu
sekitar dua tahunan. Baru saja aku
merasakan kebahagiaan ini, Raka harus pergi. Tapi aku tak bisa mencegahnya. Ini
mungkin cita-cita Raka dari dulu.
Kepergian Raka membuatku merasa
sangat kehilangan. Sebenarnya aku tak ingin mengantarkan dia ke bandara tapi
Raka memintaku, akhirnya akupun mengantarkan dia.
Di Bandara, raka memberikan
sebuah bingkai yang dibungkus rapi. Kata dia, ini adalah lukisan pertamanya.
Dia ingin memberikan karyanya yang pertama padaku. Tapi aku boleh membuka dan
melihat lukisan ini ketika Raka sudah berada diluar negeri. Akupun
menyetujuinya.
***
Bunyi handphone membuyarkan lamunanku saat itu. Aku angkat dan ternyata dari
Raka. Dia mengabarkan kalau dia sudah sampai di Korea. Sekarang aku boleh membuka
dan melihat lukisannya.
Ketika aku buka lukisan itu, aku
tertegun dengan lukisan didepanku. Lukisan dengan bentuk hati. Sangat cantik
dan sangat indah. Aku hampir tak percaya kalau lukisan itu hasil dari goresan
tangan Raka. Aku tertegun, apakah arti lukisan ini. Apa mungkin Raka
mengungkapkan perasaannya padaku lewat lukisan ini? Dan suatu saat nanti dia
akan kembali padaku?
Aku harap begitu...
Gimana kelanjutan ceritanya Gan?
BalasHapusCeritanya ngambang gan...sengaja biar orang berimajinasi sendiri,hehehhe....
BalasHapusharusnya bersambung :)
BalasHapushttps://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=170203559857203&id=170117566532469&ref=notif¬if_t=story_reshare