Aku hanya ingin
melindungi Sandra, satu-satunya keponakanku dari almarhumah Kakakku yang meninggal
ketika melahirkan dia. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Orangtuaku
meninggal dan meninggalkan banyak warisan. Perusahaan dan sejumlah asset
lainnya seperti rumah, mobil dan lainnya. Semua harta warisan itu, Kakakku dan aku yang mengurus. Sekarang, mungkin hanya aku yang
menanggung beban semuanya.
Jika aku bisa
memilih, aku ingin memilih menjadi orang yang biasa saja. Tanpa kekayaan yang
melimpah seperti ini. Semua terasa menjadi beban bagiku.
***
Mas Andi adalah suami almarhumah Kakakku,
orangnya sangat baik. Begitupun dengan Ibunya. Sejak Kakakku meninggal, otomatis aku menjadi dekat
dengannya. Dekat sebagai Aakak dan adik saja tak lebih dari itu. Namun entah kenapa, beberapa hari
kebelakang Mas Andi selalu memintaku untuk menjadi istrinya.
Jelas aku
menolak, aku tak mungkin menikah dengan suami Kakakku
sendiri, walaupun pada kenyataannya Kakakku saat ini sudah
meninggal. Tapi aku tak mungkin mengkhianati Kakakku. Terlebih lagi tak ada sedikitpun rasa
cintaku pada dia.
Selalu dan
selalu dia membujukku dengan alasan Sandra. Begitupun dengan Ibunya, beliau selalu merayuku
untuk mau menikah dengan Mas Andi. Akhirnya akupun menyerah dan akupun menikah
dengannya.
***
Sudah sekitar
dua bulan aku menikah dengan Mas Andi. Semua berubah. Sifatnya yang penyayang
kini berubah 180 derajat.
Tertipukah aku?
Sekarang aku
tahu, Mas Andi hanya menginginkan harta orangtuaku. Terbukti hampir setiap hari kerjanya hanya
berhura-hura. Sama persis dengan mertuaku. Setiap hari kerjanya hanya belanja dan
terkadang mabuk-mabukan. Aku banting tulang mengurus Sandra dan bekerja, sementara dia dan Ibunya hanya bersenang-senang.
Aku sampai kaget
ketika suatu hari dia datang bersama seorang perempuan yang dia akui sebagai
kekasihnya yang akan segera dia nikahi. Seperti tersambar petir disiang hari
aku mendengar pernyataannya. Perempuan itu kini tinggal satu atap di rumahku. Di rumah
peninggalan orangtuaku. Aku memang salah, semua ini terjadi karena kebodohanku.
***
Sudah satu tahun
aku berumah tangga dengan Mas Andi dan sudah berkali-kali aku mengajukan perceraian, namun dia selalu
mengancamku dengan akan membawa Sandra kalau aku menggugat cerai. Akhirnya aku mengalah.
Semua harta
peninggalan orangtuaku sudah habis, yang tersisa hanya rumah yang sedang Kami tempati. Dan rumah
itupun selalu Mas Andi paksa untuk segera aku jual dan hasilnya pasti ingin dia
nikmati sendiri. Aku tak ingin menjadi orang yang bodoh dan tertipu untuk yang
kesekian kalinya.
***
Suatu hari,
ketika mereka sedang bersenang-senang, aku melakukan transaksi jual beli rumah.
Aku nekad akan menjual rumah ini dan pergi sejauh mungkin meninggalkan mereka
bersama Sandra. Syukurlah, semua berjalan seperti yang aku harapkan.
Rumahpun terjual dengan harga yang lumayan besar karena rumah Kami cukup mewah. Akupun pergi jauh kesebuah kota kecil yang
aku rasa mereka pasti sulit untuk menemukan Kami.
Hidupku terasa
tentram disini bersama Sandra, buah hatiku. Uang dari hasil penjualan rumah,
aku gunakan untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Aku buka toko baju, aku beli
barang-barang dari grosir dan aku jual kembali di tokoku.
Tuhan memang
menyayangiku. Tokoku banyak diminati orang. Keuntungan demi keuntungan aku
peroleh. Bahkan sekarang aku sudah tidak membeli barang dari orang lain, tapi
aku mendesain dan memproduksi sendiri. Perlahan perekonomian Kami semakin membaik.
Sandra kini
sudah masuk sekolah menengah. Berkali-kali dia menanyakan keberadaan Ayahnya dan sampai saat
ini aku belum menceritakan apa yang sudah terjadi pada Kami dulu. Terlalu pahit
untukku menerima kenyataan itu.
Aku tak tahu
bagaimana keadaan Mas Andi dan mertuaku saat ini. Mungkin kalau mereka
menemukan aku disini, entah apa yang akan mereka lakukan padaku. Mungkin mereka
akan membunuhku. Entahlah…yang pasti aku selalu berdoa semoga aku tidak pernah
dipertemukan dengan mereka lagi…selamanya.
Ikut sedih membaca ceritanya. Tapi beruntung juga masih bisa kabur, kalau nggak kabur bisa sengsara seumur hidup tuh.
BalasHapusbetul betul kang mamandar...dan akhirnya bisa sukses....
BalasHapus