Aku sering
bertanya pada hatiku, kenapa aku bisa bertemu dengan dia disaat yang tidak
tepat? Kenapa aku harus mencintai dia disaat aku tak bisa mencintai siapapun
lagi kecuali calon suamiku. Kenapa aku merasakan bahagia ketika ada dia disampingku?
Bermula dari
kunjunganku ke rumah Tanteku yang berada di kota Bogor. Tanteku mengidap penyakit yang
cukup serius. Aku bermaksud ingin menginap dan merawat Tanteku barang beberapa
hari disana.
Tanteku memang
baru beberapa bulan pindah ke Bogor setelah bercerai dengan suaminya. Tidak ada
hak asuh, tidak ada harta gono gini. Semua diambil alih oleh mantan suaminya.
Masih untung ada salahsatu temannya yang meminta dia bekerja di Bogor pada
perusahaan tempat temannya bekerja.Baru beberapa bulan bekerja dan tinggal di
Bogor, tanteku
harus terbaring lemah ditempat tidur.
***
Hari itu aku
datang ke Bogor dengan menggunakan Bus dari Jakarta. Bus AC yang aku rasa
sangat nyaman. Karena aku belum pernah ke rumah tante, begitu sampai terminal bus Bogor, aku
seperti orang yang kehilangan arah. Beruntunglah aku bertemu dengan laki-laki
ini. Namanya Indra.
Dia dengan
sukarela mengantarkan aku sampai tujuan, kebetulan jarak rumah Indra dan Tanteku tidak terlalu jauh, kurang lebih
4 km.
Sejak itu,
pertemanan Kami
terjalin. Hampir tiap hari Indra berkunjung ke rumah Tante. Keakraban terjalin
bukan hanya antara aku dengan Indra, tetapi dengan Tanteku juga. Indra anak
yang sangat baik dan sopan.
Sudah dua minggu
aku di Bogor. Tadinya aku mau pulang ke Jakarta, tapi aku urungkan niatku. Aku akan menambah dua minggu
lagi disana. Entah kenapa, mungkin karena ada Indra.
Pertemanan Kami semakin dekat, hingga
pada suatu hari Indra mengungkapkan rasa sukanya padaku. Usia Indra yang
sebentar lagi kepala tiga mungkin bukan hanya sebatas main-main. Indra ingin
aku menjadi istrinya kelak walaupun kita belum lama kenal. Ingin sekali aku
bilang iya saat itu, namun aku tak bisa. Seandainya orangtuaku tidak mempunyai
hutang pada Pak Bimo mungkin aku akan dengan mudah menerima cinta Indra.
Setahun yang
lalu ayahku pinjam uang pada Pak Bimo yang usianya entah 15 tahun atau 20 tahun
diatas aku. Ayah butuh uang itu untuk pengobatan Ibu yang
sedang sakit. Aku tahu Ayah terpaksa, sangat terpaksa. Bunga yang begitu
besar membuat Ayah kewalahan untuk mengembalikan uang tersebut. Hingga akhirnya aku
harus diperistri oleh Pak Bimo. Pak Bimo seorang duda kaya yang ditinggal
meninggal istrinya.
Kira-kira dua
bulan lagi aku akan menikah dengan Pak Bimo. Aku tak bisa bicara ini pada
Indra. Aku takut aku mengecewakannya. Namun aku juga tak bisa mendiamkan Indra
dalam masalah ini.
***
Hari itu, aku
putuskan untuk pulang ke Jakarta tanpa pesan apapun pada Indra. Aku pergi
pagi-pagi sekali dan sampailah aku di Jakarta. Pikiran dan hatiku sungguh sangat
tersiksa. Setiap hari yang terbayang hanya Indra. Pernah aku telepon Tanteku dan menanyakan
tentang Indra. Tante bilang, setelah aku pergi, Indra selalu datang ke tempat Tante dan terus menanyakan
aku. Bahkan dia meminta alamat aku di Jakarta. Tapi aku minta pada Tanteku untuk tidak
memberikan informasi apapun padanya.
Dua bulan
kemudian aku menikah dengan Pak Bimo. Pernikahan yang sebenarnya sangat tidak
ingin aku lakukan karena perasaanku hanya untuk Indra. Tapi aku tak bisa menolak ini
semua.
Hari-hari yang
aku jalani setelah pernikahan cukup membuatku tertekan. Pak Bimo yang awalnya
sangat baik berubah 180 derajat. Dia menjadi sosok yang sangat kasar. Memang
secara ekonomi semua kebutuhanku terjamin. Rumah dan mobil mewah sudah menjadi
pemuas kebutuhan aku setiap hari. Namun bukan itu yang aku butuhkan.
Pak Bimo
melarangku untuk bertemu dengan keluargaku. Pernah suatu hari aku mencuri waktu
untuk bertemu dengan orangtuaku. Entah dari siapa dia tahu, begitu pulang ke
rumah aku
langsung mendapatkan tamparan yang sangat
menyakitkan.
Satu lagi yang
membuat aku tak tahan, dia suka main perempuan. Perempuan-perempuan cantik itu terkadang dia bawa ke
rumah. Sungguh aku tak sanggup lagi menjalani hidup dengannya. Hingga pada usia
pernikahan kita menginjak dua tahun, aku minta cerai.
Dia marah, dia
mengungkit kembali hutang-hutang Ayah yang cukup besar. Tapi untunglah dulu ketika Kami menikah ada surat
hitam diatas putih perihal pelunasan hutang dan surat itu masih Ayah simpan dengan baik.
***
Menginjak tahun
ketiga, beliau meminta ijin padaku untuk menikah lagi dengan alasan aku tidak bisa memberinya anak. Dia
menuduhku mandul. Kami sudah pernah memeriksakan kesehatan ke dokter dan aku tidak ada masalah.
Tapi ya sudahlah.
Aku
memperbolehkan dia menikah lagi, tapi dengan syarat, dia harus menceraikan aku
terlebih dahulu. Awalnya dia menolak. Tapi lama kelamaan dia setuju dengan
keinginan aku, hanya saja dia tidak akan memberikan harta sepeserpun untukku. Aku
tak peduli dengan harta, yang penting aku bisa terlepas darinya.
Perceraian
itupun terjadi. Aku pulang ke rumah orangtuaku hanya dengan membawa apa yang aku
pakai. Tapi aku bahagia, sangat bahagia. Aku bisa menata hidupku kembali.
***
Sore itu, bunyi handphone memecahkan kesunyian. Ayah dan
Ibu sedang pergi ke undangan rekan kerja Ayah. Aku lihat, sms dari Tante. Tante mengabarkan kalau dia akan menikah lagi. Aku bahagia
mendengar semua itu. Akhirnya kebahagiaan itu datang juga. Sempat aku berfikir,
apa mungkin akupun akan merasakan hal itu? Kasus yang Tanteku alami hampir sama denganku. Ahh, aku tak berani berharap, aku
tak berani bermimpi. Aku serahkan semuanya pada Tuhan.
Ketika
orangtuaku pulang, aku langsung memberitahukan kabar bahagia ini. Aku sudah tak
sabar ingin sekali menghadiri acara pernikahan tanteku.
Lamunanku
melayang pada peristiwa empat tahun yang lalu. Ketika aku bertemu Indra. Indra apa kabar dia sekarang? Mungkin dia sekarang sudah
punya anak. Sudah lama kita tak bertemu, tak ada kabar apapun juga.
***
Hari itu kita
sekeluarga pergi ke Bogor untuk menghadiri pernikahan Tante. Tanteku sangat
cantik sekali. Dia terlihat sangat bahagia.
Ditengah-tengah
pesta, aku dikejutkan oleh Tante yang datang mendekatiku. Aku bilang, “Bukannya Tante harusnya di
pelaminan...kok ada disini...?” Dia
hanya tersenyum dan bilang kalau ada seseorang yang ingin bertemu aku. Aku
hanya terdiam, tak ada satu orangpun yang aku kenal di Bogor, kecuali Indra.
Aku seperti
mimpi, aku tak percaya siapa yang berada didepanku saat itu. Indra. Hatiku
bergetar, jantungku seolah ingin berhenti berdetak. Sapaan Indra membuatku
ingin pingsan.
Kita banyak
bicara dan bercerita tentang apa yang kita alami. Tentang aku yang tiba-tiba
menghilang, tentang dia yang kebingungan mencari alasan kenapa aku menghilang.
Tapi hari ini semua terjawab setelah empat tahun kita berpisah.
Ingin sekali aku
unggapkan perasaanku padanya. Ingin sekali aku utarakan semua yang ada di hatiku padanya, ingin sekali...Namun semua
sirna ketika ada sosok perempuan dari belakang Indra berkata.
“Sayang, sudah
ngobrolnya? Kita pulang yuk…” kata
perempuan itu.
Indra
mengenalkan sosok perempuan itu adalah istrinya yang sudah dia nikahi dua tahun
yang lalu. Mereka sudah dikaruniai satu orang putri cantik.
Sakit, sakit
sekali. Lebih sakit dari pernikahan yang aku jalani tanpa cinta. Lebih sakit
dari perceraian itu. Namun inilah hidup yang harus aku jalani. Aku harus
ikhlas. Mungkin inilah rasa yang Indra rasakan ketika aku pergi tanpa pesan.
Semua sudah
berubah, semua sudah berbeda. Kecuali perasaanku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar