5 Mar 2014

Kecuali Perasaanku

Aku sering bertanya pada hatiku, kenapa aku bisa bertemu dengan dia disaat yang tidak tepat? Kenapa aku harus mencintai dia disaat aku tak bisa mencintai siapapun lagi kecuali calon suamiku. Kenapa aku merasakan bahagia ketika ada dia disampingku?

Bermula dari kunjunganku ke rumah Tanteku yang berada di kota Bogor. Tanteku mengidap penyakit yang cukup serius. Aku bermaksud ingin menginap dan merawat Tanteku barang beberapa hari disana.

Tanteku memang baru beberapa bulan pindah ke Bogor setelah bercerai dengan suaminya. Tidak ada hak asuh, tidak ada harta gono gini. Semua diambil alih oleh mantan suaminya. Masih untung ada salahsatu temannya yang meminta dia bekerja di Bogor pada perusahaan tempat temannya bekerja.Baru beberapa bulan bekerja dan tinggal di Bogor, tanteku harus terbaring lemah ditempat tidur.

***

Hari itu aku datang ke Bogor dengan menggunakan Bus dari Jakarta. Bus AC yang aku rasa sangat nyaman. Karena aku belum pernah ke rumah tante, begitu sampai terminal bus Bogor, aku seperti orang yang kehilangan arah. Beruntunglah aku bertemu dengan laki-laki ini. Namanya Indra.

Dia dengan sukarela mengantarkan aku sampai tujuan, kebetulan jarak rumah Indra dan Tanteku tidak terlalu jauh, kurang lebih 4 km.

Sejak itu, pertemanan Kami terjalin. Hampir tiap hari Indra berkunjung ke rumah Tante. Keakraban terjalin bukan hanya antara aku dengan Indra, tetapi dengan Tanteku juga. Indra anak yang sangat baik dan sopan.

Sudah dua minggu aku di Bogor. Tadinya aku mau pulang ke Jakarta, tapi aku urungkan niatku. Aku akan menambah dua minggu lagi disana. Entah kenapa, mungkin karena ada Indra.

Pertemanan Kami semakin dekat, hingga pada suatu hari Indra mengungkapkan rasa sukanya padaku. Usia Indra yang sebentar lagi kepala tiga mungkin bukan hanya sebatas main-main. Indra ingin aku menjadi istrinya kelak walaupun kita belum lama kenal. Ingin sekali aku bilang iya saat itu, namun aku tak bisa. Seandainya orangtuaku tidak mempunyai hutang pada Pak Bimo mungkin aku akan dengan mudah menerima cinta Indra.


Setahun yang lalu ayahku pinjam uang pada Pak Bimo yang usianya entah 15 tahun atau 20 tahun diatas aku. Ayah butuh uang itu untuk pengobatan Ibu yang sedang sakit. Aku tahu Ayah terpaksa, sangat terpaksa. Bunga yang begitu besar membuat Ayah kewalahan untuk mengembalikan uang tersebut. Hingga akhirnya aku harus diperistri oleh Pak Bimo. Pak Bimo seorang duda kaya yang ditinggal meninggal istrinya.

Kira-kira dua bulan lagi aku akan menikah dengan Pak Bimo. Aku tak bisa bicara ini pada Indra. Aku takut aku mengecewakannya. Namun aku juga tak bisa mendiamkan Indra dalam masalah ini.

***

Hari itu, aku putuskan untuk pulang ke Jakarta tanpa pesan apapun pada Indra. Aku pergi pagi-pagi sekali dan sampailah aku di Jakarta. Pikiran dan hatiku sungguh sangat tersiksa. Setiap hari yang terbayang hanya Indra. Pernah aku telepon Tanteku dan menanyakan tentang Indra. Tante bilang, setelah aku pergi, Indra selalu datang ke tempat Tante dan terus menanyakan aku. Bahkan dia meminta alamat aku di Jakarta. Tapi aku minta pada Tanteku untuk tidak memberikan informasi apapun padanya.

Dua bulan kemudian aku menikah dengan Pak Bimo. Pernikahan yang sebenarnya sangat tidak ingin aku lakukan karena perasaanku hanya untuk Indra. Tapi aku tak bisa menolak ini semua.

Hari-hari yang aku jalani setelah pernikahan cukup membuatku tertekan. Pak Bimo yang awalnya sangat baik berubah 180 derajat. Dia menjadi sosok yang sangat kasar. Memang secara ekonomi semua kebutuhanku terjamin. Rumah dan mobil mewah sudah menjadi pemuas kebutuhan aku setiap hari. Namun bukan itu yang aku butuhkan.

Pak Bimo melarangku untuk bertemu dengan keluargaku. Pernah suatu hari aku mencuri waktu untuk bertemu dengan orangtuaku. Entah dari siapa dia tahu, begitu pulang ke rumah aku langsung mendapatkan tamparan yang sangat menyakitkan.

Satu lagi yang membuat aku tak tahan, dia suka main perempuan. Perempuan-perempuan cantik itu terkadang dia bawa ke rumah. Sungguh aku tak sanggup lagi menjalani hidup dengannya. Hingga pada usia pernikahan kita menginjak dua tahun, aku minta cerai.

Dia marah, dia mengungkit kembali hutang-hutang Ayah yang cukup besar. Tapi untunglah dulu ketika Kami menikah ada surat hitam diatas putih perihal pelunasan hutang dan surat itu masih Ayah simpan dengan baik.

***

Menginjak tahun ketiga, beliau meminta ijin padaku untuk menikah lagi dengan alasan aku tidak bisa memberinya anak. Dia menuduhku mandul. Kami sudah pernah memeriksakan kesehatan ke dokter dan aku tidak ada masalah. Tapi ya sudahlah.

Aku memperbolehkan dia menikah lagi, tapi dengan syarat, dia harus menceraikan aku terlebih dahulu. Awalnya dia menolak. Tapi lama kelamaan dia setuju dengan keinginan aku, hanya saja dia tidak akan memberikan harta sepeserpun untukku. Aku tak peduli dengan harta, yang penting aku bisa terlepas darinya.

Perceraian itupun terjadi. Aku pulang ke rumah orangtuaku hanya dengan membawa apa yang aku pakai. Tapi aku bahagia, sangat bahagia. Aku bisa menata hidupku kembali.

***

Sore itu, bunyi handphone memecahkan kesunyian. Ayah dan Ibu sedang pergi ke undangan rekan kerja Ayah. Aku lihat, sms dari Tante. Tante mengabarkan kalau dia akan menikah lagi. Aku bahagia mendengar semua itu. Akhirnya kebahagiaan itu datang juga. Sempat aku berfikir, apa mungkin akupun akan merasakan hal itu? Kasus yang Tanteku alami hampir sama denganku. Ahh, aku tak berani berharap, aku tak berani bermimpi. Aku serahkan semuanya pada Tuhan.

Ketika orangtuaku pulang, aku langsung memberitahukan kabar bahagia ini. Aku sudah tak sabar ingin sekali menghadiri acara pernikahan tanteku.

Lamunanku melayang pada peristiwa empat tahun yang lalu. Ketika aku bertemu Indra. Indra apa kabar dia sekarang? Mungkin dia sekarang sudah punya anak. Sudah lama kita tak bertemu, tak ada kabar apapun juga.

***

Hari itu kita sekeluarga pergi ke Bogor untuk menghadiri pernikahan Tante. Tanteku sangat cantik sekali. Dia terlihat sangat bahagia.

Ditengah-tengah pesta, aku dikejutkan oleh Tante yang datang mendekatiku. Aku bilang, “Bukannya Tante harusnya di pelaminan...kok ada disini...?” Dia hanya tersenyum dan bilang kalau ada seseorang yang ingin bertemu aku. Aku hanya terdiam, tak ada satu orangpun yang aku kenal di Bogor, kecuali Indra.

Aku seperti mimpi, aku tak percaya siapa yang berada didepanku saat itu. Indra. Hatiku bergetar, jantungku seolah ingin berhenti berdetak. Sapaan Indra membuatku ingin pingsan.

Kita banyak bicara dan bercerita tentang apa yang kita alami. Tentang aku yang tiba-tiba menghilang, tentang dia yang kebingungan mencari alasan kenapa aku menghilang. Tapi hari ini semua terjawab setelah empat tahun kita berpisah.

Ingin sekali aku unggapkan perasaanku padanya. Ingin sekali aku utarakan semua yang ada di hatiku padanya, ingin sekali...Namun semua sirna ketika ada sosok perempuan dari belakang Indra berkata.

“Sayang, sudah ngobrolnya? Kita pulang yuk…” kata perempuan itu.

Indra mengenalkan sosok perempuan itu adalah istrinya yang sudah dia nikahi dua tahun yang lalu. Mereka sudah dikaruniai satu orang putri cantik.

Sakit, sakit sekali. Lebih sakit dari pernikahan yang aku jalani tanpa cinta. Lebih sakit dari perceraian itu. Namun inilah hidup yang harus aku jalani. Aku harus ikhlas. Mungkin inilah rasa yang Indra rasakan ketika aku pergi tanpa pesan.


Semua sudah berubah, semua sudah berbeda. Kecuali perasaanku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar