12 Jul 2014

Disanakah Tempat Kita?

Ketika aku bernafas, aku menemukan dia disetiap helaan nafasku walaupun aku tahu, dia istri orang lain dan akupun milik orang lain. Tapi entah kenapa walaupun sudah 11 tahun berpisah, wajahnya masih tetap ada dipelupuk mataku.

Aku sadar ini dosa besar, namun entah kenapa aku tak dapat menepis semua perasaan cinta ini untuk Nadia, mantan kekasihku.

Nadia adalah teman kecilku dulu. Nadia adalah anak sahabat karib Ibuku. Aku sudah sangat mengenalnya, baik buruk Nadia. Kami benar-benar dekat sejak duduk di bangku sekolah menengah. Orangtua Kami sangat senang sekali dengan kedekatan Kami.

Setelah lulus sekolah, Nadia memilih bekerja di kota ini, sedangkan aku memilih melanjutkan kuliah diluar kota. Lima tahun Kami berpisah. Semua baik-baik saja, aku tahu Nadia selalu setia padaku dan begitupun aku.

***

Pagi itu, Nadia datang ke rumahku sambil menangis. Ibuku langsung menghampirinya dan menanyakan kenapa Nadia datang sepagi itu dan menangis. Awalnya Nadia tidak mau mengaku apa yang sedang terjadi, namun setelah sedikit dipaksa, akhirnya Nadia mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Nadia dipaksa menikah dengan Pak Salim, duda beranak tiga. Usia mereka terpaut 20 tahun. Nadia dipaksa menikah karena orangtuanya memiliki hutang yang cukup banyak dengan Pak Salim. Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi.

Aku tak tahu apa yang aku rasa saat itu, begitupun dengan perasaan orangtuaku yang sudah mengganggap Nadia seperti anaknya sendiri. Mungkin sesakit aku, atau mungkin lebih. Aku tak mau ikhlas begitu saja dengan keinginan orangtua Nadia.

Malam harinya, aku menemui keluarga Nadia. Aku bicarakan semua yang sedang terjadi. Namun keputusan sudah diambil. Nadia akan tetap dinikahkan dengan Pak Salim.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Ingin aku menangis sejadi-jadinya. Walaupun aku laki-laki, aku tak peduli. Aku ingin menangis.

Aku langsung masuk kamar dan tak peduli dengan pertanyaan Ibuku saat itu. Aku langsung masuk kamar dan menumpahkan kekesalan hatiku. Beberapa hari aku mengurung diri di kamar. Aku tak peduli dengan kehidupanku karena aku tak bisa berfikir apa jadinya aku tanpa Nadia.

***

Satu bulan berlalu, Nadiapun menikah. Aku usahakan datang pada acara pernikahannya. Walaupun aku merasa badanku seperti tak bernyawa.

Dipesta pernikahan, aku melihat sosok wanita cantik dengan pakaian pengantin berwarna putih di pelaminan. Aku tidak melihat wajah cantik itu tersenyum, malah ketika aku ucapkan selamat, wajah cantik itu menitikkan air mata. Akupun tak sanggup melihatnya dan akupun pergi.

***

Satu tahun berlalu, aku belum bisa melupakan dia. Beberapa kali orangtuaku mengenalkan aku dengan beberapa wanita, namun aku tidak meliriknya. Cintaku hanya untuk Nadia. Sempat beberapa kali aku datangi rumah Nadia, namun orangtuanya selalu menasehatiku untuk tidak menemui Nadia lagi. Menurut orangtuanya Nadia sekarang tinggal di kota lain yang sangat jauh dari sini. Memang seharusnya aku melupakan Nadia.

Tak terasa sudah tiga tahun aku hidup tanpa Nadia. Hidupku sudah mulai normal, aktivitasku kembali berjalan. Hanya satu hal yang belum berjalan seperti adanya. Perasaanku untuk wanita lain selain Nadia.

Sore itu, aku pulang dari kantor dengan sepeda motorku. Aku bermaksud untuk mampir ke toko kue untuk membeli kue pesanan Ibuku. Entah kenapa Ibu tiba-tiba menelponku dan meminta aku untuk membeli kue itu.

Aku parkir didepan toko kue dan aku melihat ada sosok wanita berjilbab keluar dari toko kue itu. Mataku seolah tak berkedip, aku melihat wanita itupun menatapku dengan tajam. Nadia. Itu Nadia.
Dia tak berubah, tetap cantik, malah tambah cantik dengan kerudung yang sekarang dia pakai. Aku menghampirinya dan menyapanya. Dia tampak kaget sekali dan buru-buru berpamitan untuk pulang. Namun aku mencegahnya, aku bermaksud untuk mengajak dia ngobrol hanya sekedar menanyakan kabarnya, tanpa untuk mengganggunya.

Akhirnya kita pun melepas rindu disebuah tempat makan tak jauh dari toko kue itu. Kita ngobrol panjang lebar. Nadia sekarang sudah punya satu anak laki-laki. Satu tahun dia menikah dengan Pak Salim, Pak Salim meminta izin untuk menikah lagi dengan wanita lain. Kini Nadia dimadu oleh Pak Salim. Nadia menangis menceritakan semua yang sedang dia alami. Namun aku tak bisa menghapus air matanya, karena Nadia bukan siapa-siapaku lagi.

Sejak pertemuan itu, komunikasipun terus berlangsung. Hampir setiap hari Nadia menghubungiku. Kadang-kadang hanya untuk menanyakan kabar. Selain itu juga Nadia sering menumpahkan perasaannya padaku.

Sudah lama semua terjadi seperti ini. Aku bahagia. Aku bahagia bersama Nadia lagi. Walapun aku tahu dan aku sadar, Nadia milik orang lain. Berkali-kali Nadia bilang kalau dia sudah minta cerai, namun berkali-kali juga suaminya menolak. Kalaupun perceraian itu terjadi, apa mungkin keluargaku menyetujui aku dan Nadia kembali bersatu.

***

Suatu hari, sepulang aku bekerja, aku dikejutkan dengan kehadiran Nadia di parkiran kantor. Dia tidak sendiri, dia datang dengan suaminya, Pak Salim. Aku melihat Pak Salim dengan wajah yang tidak mengenakan, aku maklumi itu. Namun, aku mencoba untuk tetap menenangkan hatiku.

Pak Salim memintaku untuk menjauhi istrinya. Karena sampai kapanpun dia tidak akan menceraikan Nadia, walaupun saat ini Nadia sedang dimadu. Diapun mengancamku akan melaporkan perbuatanku pada atasanku apabila aku tetap bersama Nadia. Akhirnya aku menyerah.

***

Satu tahun sejak aku berusaha untuk melupakan Nadia untuk yang kedua kalinya, aku bertemu dengan wanita lain. Amanda, yang sekarang menjadi istriku. Dengannya aku merasakan perasaan yang sempat hilang. Dia bisa membuka pintu hatiku yang sempat tertutup.


Aku dengan Nadia, memang tidak berjodoh. Tidak ada takdir buat kita bersama di dunia. Namun, mungkinkah surga menyediakan tempat untuk kita bersama kelak? Disanakah kita akan dipersatukan??? Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar