Ketika aku
bernafas, aku menemukan dia disetiap helaan nafasku walaupun aku tahu, dia
istri orang lain dan akupun milik orang lain. Tapi entah kenapa walaupun sudah
11 tahun berpisah, wajahnya masih tetap ada dipelupuk mataku.
Aku sadar ini
dosa besar, namun entah kenapa aku tak dapat menepis semua perasaan cinta ini
untuk Nadia, mantan kekasihku.
Nadia adalah
teman kecilku dulu. Nadia adalah anak sahabat karib Ibuku. Aku sudah sangat
mengenalnya, baik buruk Nadia. Kami benar-benar dekat sejak duduk di bangku
sekolah menengah. Orangtua Kami sangat senang sekali dengan kedekatan Kami.
Setelah lulus
sekolah, Nadia memilih bekerja di kota ini, sedangkan aku memilih melanjutkan kuliah
diluar kota. Lima tahun Kami berpisah. Semua baik-baik saja, aku tahu Nadia selalu setia
padaku dan begitupun aku.
***
Pagi itu, Nadia
datang ke rumahku sambil menangis. Ibuku langsung menghampirinya dan
menanyakan kenapa Nadia datang sepagi itu dan menangis. Awalnya Nadia tidak mau
mengaku apa yang sedang terjadi, namun setelah sedikit dipaksa, akhirnya Nadia
mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Nadia dipaksa
menikah dengan Pak Salim, duda beranak tiga. Usia mereka terpaut 20 tahun.
Nadia dipaksa menikah karena orangtuanya memiliki hutang yang cukup banyak
dengan Pak Salim. Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi.
Aku tak tahu apa
yang aku rasa saat itu, begitupun dengan perasaan orangtuaku yang sudah
mengganggap Nadia seperti anaknya sendiri. Mungkin sesakit aku, atau mungkin
lebih. Aku tak mau ikhlas begitu saja dengan keinginan orangtua Nadia.
Malam harinya,
aku menemui keluarga Nadia. Aku bicarakan semua yang sedang terjadi. Namun
keputusan sudah diambil. Nadia akan tetap dinikahkan dengan Pak Salim.
Aku pulang ke
rumah dengan perasaan tak karuan. Ingin aku menangis sejadi-jadinya. Walaupun
aku laki-laki, aku tak peduli. Aku ingin menangis.
Aku langsung
masuk kamar dan tak peduli dengan pertanyaan Ibuku saat itu. Aku langsung masuk kamar dan
menumpahkan kekesalan hatiku. Beberapa hari aku mengurung diri di kamar. Aku tak peduli dengan
kehidupanku karena aku tak bisa berfikir apa jadinya aku tanpa Nadia.
***
Satu bulan
berlalu, Nadiapun menikah. Aku usahakan datang pada acara pernikahannya. Walaupun
aku merasa badanku seperti tak bernyawa.
Dipesta
pernikahan, aku melihat sosok wanita cantik dengan pakaian pengantin berwarna putih di pelaminan. Aku
tidak melihat wajah cantik itu tersenyum, malah ketika aku ucapkan selamat,
wajah cantik itu menitikkan air mata. Akupun tak sanggup melihatnya dan akupun
pergi.
***
Satu tahun
berlalu, aku belum bisa melupakan dia. Beberapa kali orangtuaku mengenalkan aku
dengan beberapa wanita, namun aku tidak meliriknya. Cintaku hanya untuk Nadia.
Sempat beberapa kali aku datangi rumah Nadia, namun orangtuanya selalu
menasehatiku untuk tidak menemui Nadia lagi. Menurut orangtuanya Nadia sekarang
tinggal di kota lain yang sangat jauh dari sini. Memang seharusnya aku
melupakan Nadia.
Tak terasa sudah
tiga tahun aku hidup tanpa Nadia. Hidupku sudah mulai normal, aktivitasku
kembali berjalan. Hanya satu hal yang belum berjalan seperti adanya. Perasaanku
untuk wanita lain selain Nadia.
Sore itu, aku
pulang dari kantor dengan sepeda motorku. Aku bermaksud untuk mampir ke toko
kue untuk membeli kue pesanan Ibuku. Entah kenapa Ibu tiba-tiba menelponku dan meminta aku untuk membeli kue itu.
Aku parkir
didepan toko kue dan aku melihat ada sosok wanita berjilbab keluar dari toko kue itu.
Mataku seolah tak berkedip, aku melihat wanita itupun menatapku dengan tajam. Nadia. Itu Nadia.
Dia tak berubah,
tetap cantik, malah tambah cantik dengan kerudung yang sekarang dia pakai. Aku
menghampirinya dan menyapanya. Dia tampak kaget sekali dan buru-buru berpamitan
untuk pulang. Namun aku mencegahnya, aku bermaksud untuk mengajak dia ngobrol
hanya sekedar menanyakan kabarnya, tanpa untuk mengganggunya.
Akhirnya kita
pun melepas rindu disebuah tempat makan tak jauh dari toko kue itu. Kita
ngobrol panjang lebar. Nadia sekarang sudah punya satu anak laki-laki. Satu
tahun dia menikah dengan Pak Salim, Pak Salim meminta izin untuk menikah lagi
dengan wanita lain. Kini Nadia dimadu oleh Pak Salim. Nadia menangis
menceritakan semua yang sedang dia alami. Namun aku tak bisa menghapus air
matanya, karena Nadia bukan siapa-siapaku lagi.
Sejak pertemuan
itu, komunikasipun terus berlangsung. Hampir setiap hari Nadia menghubungiku.
Kadang-kadang hanya untuk menanyakan kabar. Selain itu juga Nadia sering
menumpahkan perasaannya padaku.
Sudah lama semua
terjadi seperti ini. Aku bahagia. Aku bahagia bersama Nadia lagi. Walapun aku
tahu dan aku sadar, Nadia milik orang lain. Berkali-kali Nadia bilang kalau dia
sudah minta
cerai, namun berkali-kali juga suaminya menolak. Kalaupun perceraian itu terjadi,
apa mungkin keluargaku menyetujui aku dan Nadia kembali bersatu.
***
Suatu hari,
sepulang aku bekerja, aku dikejutkan dengan kehadiran Nadia di parkiran kantor.
Dia tidak sendiri, dia datang dengan suaminya, Pak Salim. Aku melihat Pak Salim
dengan wajah yang tidak mengenakan, aku maklumi itu. Namun, aku mencoba untuk tetap menenangkan
hatiku.
Pak Salim
memintaku untuk menjauhi istrinya. Karena sampai kapanpun dia tidak akan
menceraikan Nadia, walaupun saat ini Nadia sedang dimadu. Diapun mengancamku
akan melaporkan perbuatanku pada atasanku apabila aku tetap bersama Nadia.
Akhirnya aku menyerah.
***
Satu tahun sejak
aku berusaha untuk melupakan Nadia untuk yang kedua kalinya, aku bertemu dengan
wanita lain. Amanda, yang sekarang menjadi istriku. Dengannya aku merasakan
perasaan yang sempat hilang. Dia bisa membuka pintu hatiku yang sempat
tertutup.
Aku dengan
Nadia, memang tidak berjodoh. Tidak ada takdir buat kita bersama di dunia. Namun,
mungkinkah surga menyediakan tempat untuk kita bersama kelak? Disanakah kita
akan dipersatukan??? Wallahualam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar