Seharusnya aku
yang mendapatkan kebahagiaan itu, bukan Kakakku. Dari kecil aku selalu dianak tirikan oleh
kedua orangtuaku. Apa mungkin aku bukan anak yang diharapkan? Aku tak tahu
kenapa orangtuaku tidak pernah memperlakukan aku seperti Kakakku.
Namaku Melda.
Aku dilahirkan dua tahun setelah Kakakku. Aku memang tak secantik Kakakku, tak
sepintar Kakakku dan yang pasti tak seberuntung Kakakku. Tapi aku sangat
menyayangi dia dan diapun begitu padaku. Mungkin hanya Kakakku saja yang memperlakukan aku dengan amat
sangat baik.
***
Kakakku bernama
Nabila, sejak kecil kita selalu bersama. Kakakku selalu membelaku ketika aku
sedang dimarahi Ayahku, Kakakku juga selalu membela aku jika di sekolah aku
diganggu oleh teman-temanku yang nakal. Lamunanku tidak pernah
terhenti dengan kebaikan-kebaikan Kakakku padaku. Dari mulai kita kecil hingga
kita sama-sama dewasa.
Ketika aku
berumur enam tahun dan Kakakku umur delapan tahun, waktu itu kita sama-sama sedang duduk di bangku sekolah
dasar. Aku masih kelas satu dan kakakku kelas tiga. Ketika pertama masuk
sekolah, orangtuaku membelikan segala perlengkapan sekolah Kami. Mulai dari
buku tulis, alat tulis, seragam sekolah, sepatu, tas, apapun yang Kami
perlukan. Aku sangat bahagia, seandainya mereka membelikan keperluan tersebut
untukku juga. Sayang, mereka hanya membelikan semua keperluan sekolah itu untuk
Kakakku, Nabila. Sedangkan aku, aku hanya dapat turunan dari Kakakku kecuali
buku tulis dan alat tulis. Selebihnya aku dapat bekas.
Ketika teman-teman
sekolahku meledekku karena aku dapat barang yang tidak baru, Kakakkulah yang
membelaku. Kakakku langsung memberikan tas barunya untukku. Aku selalu menangis
bila ingat hal itu.
***
Pernah suatu
hari, ketika kenaikan kelas. Aku memang tidak mendapatkan rangking 10 besar di
kelas. Berbeda dengan Kakakku yang mendapatkan rangking 1. Sesampainya di
rumah, Kakakku disambut antusias oleh orangtuaku. Sedangkan aku, dilihatpun
tidak.
Sorenya, Kakakku
diajak makan-makan dengan tujuan merayakan keberhasilannya, sedangkan aku
disuruh jaga rumah dengan pembantuku. Sakit rasanya hati ini.
Ketika Kami menginjak bangku sekolah menengah,
tidak ada perubahan padaku. Mereka tetap memperlakukan aku dengan tidak wajar.
Pernah suatu hari sekolahku akan mengadakan karyawisata ke Jogja. Siswa yang
boleh ikut dari kelas 1 sampai kelas 3 karena karyawisata ini bersifat umum.
Ketika Kakakku
memberitahukan hal ini pada orangtuaku, mereka langsung memberikan izin pergi
dan memberikan uang secukupnya untuk biaya administrasi. Berbeda dengan aku,
aku harus memohon-mohon dulu hingga akhirnya aku boleh pergi. Begitulah
sulitnya hidupku.
***
Waktu berlalu, setelah
Kakakku lulus SMU, dia meneruskan kuliah sedangkan aku memilih untuk langsung
bekerja. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bukan karena orangtuaku tidak mau
menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. Ini keinginan aku yang memang tidak
mau kuliah. Aku ingin segera bekerja dan menghasilkan uang sendiri supaya aku
tidak menyusahkan orangtuaku lagi.
Aku terpisah
dengan Kakak dan orangtuaku karena aku diterima bekerja di luar kota. Aku
pulang dua atau tiga bulan sekali. Aku sengaja tidak pulang terlalu sering
karena aku fikir mereka pun tidak mengharapkan kehadiranku di rumah. Jadi aku
memilih mendingan hidup disini saja.
Lima tahun
berlalu, aku mendengar kabar gembira kalau Kakakku akan menikah. Menurut kabar
dia akan menikah dengan laki-laki yang sukses dan berasal dari keluarga yang
terhormat. Betapa beruntungnya Kakakku mendapatkan laki-laki seperti itu.
***
Suatu hari, aku
mendapat kabar kalau Kakakku akan datang ketempat tinggalku. Dia akan
mengenalkan calon suaminya padaku. Aku sangat bahagia mendengarnya karena
memang sudah cukup lama aku tak bertemu Kakakku.
Siang itu, aku
sengaja mengambil cuti karena Kakakku akan datang. Aku sudah mempersiapkan
semuanya. Aku sudah membeli makanan khusus untuk menyambut kedatangannya. Tak
lama mereka pun datang. Aku berpelukan untuk melepas rinduku selama ini.
Kakakku mengenalkan calon suaminya padaku. Selama ini aku berfikir kalau calon
suami Kakakku
itu adalah laki-laki tua karena menurut berita laki-laki itu adalah pengusaha
sukses. Aku mengira hanya laki-laki
yang sudah tua saja yang bisa sukses. Ternyata aku
salah, laki-laki itu masih sangat muda dan tampan. Bisa dibilang sangat tampan.
Sudah tampan, kaya raya dan keliatannya sangat baik. Perlakuan-perlakuannya
pada Kakakku kadang membuatku iri.
***
Dua tahun
berlalu, kini Kakakku sudah menikah dengan laki-laki tampan itu. Namun sayang,
mereka belum dikaruniai anak. Dengan kondisi seperti itu tidak membuat suaminya
uring-uringan, malah sebaliknya, suaminya sering mengingatkan Kakakku untuk
terus bersabar.
Suatu hari aku
mendapat cobaan hidup, perusahaan tempat aku bekerja mengalami penurunan omset.
Jadi sebagian karyawan harus di rumahkan termasuk aku. Aku bingung harus
kemana. Aku sudah coba melamar pekerjaan ketempat lain namun belum juga ada
panggilan. Aku bisa saja pulang ke rumah saat itu jika kondisi rumah bersahabat
denganku. Namun aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku memilih untuk bertahan di
tempat ini.
Waktu berjalan,
sudah sekitar enam bulan aku terkatung-katung ditempat ini. Uang tabunganku
sudah mulai habis untuk biaya hidupku. Aku semakin bingung dengan keadaan ini.
Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk menghubungi Kakakku.
Kakakku terlihat
kesal denganku, kenapa aku baru bercerita sekarang setelah enam bulan aku hidup
tanpa arah. Kenapa tidak dari dulu aku mengatakan ini semua pada Kakakku. Aku
hanya bilang, aku tidak ingin merepotkan Kakakku.
Akhirnya aku
dijemput oleh Kakakku untuk tinggal di rumahnya bersama suaminya. Awalnya aku
menolak karena merasa tidak enak dengan suaminya. Namun suaminya meyakinkan aku
kalau aku tidak usah sungkan dengan dia. Suaminya sudah menganggapku seperti Adiknya sendiri.
Akupun tinggal
bersama Kakakku. Aku merasa tidak kesepian lagi. Kakakku sangat baik. Bukan
hanya semua kebutuhan harianku yang dia tanggung. Tapi uang bulananpun dia beri untukku. Begitupun dengan suaminya setiap dua
atau tiga minggu sekali selalu memberiku uang untuk jalan-jalan. Jika aku
menghitung uang yang aku dapat saat ini, jumlahnya lebih besar dari gajiku satu
bulan.
Sudah hampir
tiga bulan aku disini. Hampir setiap hari aku memperhatikan Kakak iparku. Setiap aku
memperhatikannya setiap aku merasa kagum padanya. Kadang aku berfikir kenapa
kehidupan yang sempurna selalu dimiliki Kakakku. Dari kecil dia diperlakukan
dengan amat sangat baik oleh orangtuaku. Sudah dewasapun dia dipertemukan
dengan jodoh yang sangat diidamkan setiap perempuan termasuk aku. Sementara
aku, dari kecil aku diperlakukan kurang baik oleh orangtuaku dan sampai
sekarangpun aku belum mendapatkan tambatan hati.
Aku pernah
menjalin hubungan dengan seseorang beberapa kali. Tapi semuanya tidak seperti
yang diimpikan. Mereka meninggalkanku begitu saja. Ada yang hanya menjadikan
aku sebagai pelampiasan masa lalunya. Ada yang hanya ingin diberikan uang. Ada
yang hanya ingin berstatus punya pasangan. Macam-macam alasannya hingga
akhirnya aku memilih hidup sendiri.
Semakin hari
semakin bertambah saja rasa kagumku pada Kakak iparku. Apalagi perhatiannya
yang sangat besar pada semua orang membuatku semakin kagum. Ya…hanya rasa kagum
pada awalnya. Namun entahlah kenapa rasa kagum ini kini berubah menjadi rasa
cinta. Apa mungkin aku mencintai Kakak iparku sendiri. Apa mungkin aku bisa
menyakiti Kakakku sendiri? Tidak, aku bukan orang yang jahat.
Aku sudah tak
tahan dengan perasaan ini. Semakin waktu berjalan aku semakin mencintainya.
Mencintai suami orang saja rasanya tidak wajar, apalagi yang dicintai adalah
suami Kakakku sendiri yang sudah sangat baik padaku. Kakak yang selalu
membelaku ketika ada yang menyakitiku tak terkecuali orangtuaku sendiri.
Entah ada setan
dari mana yang merasuki hatiku saat itu. Aku semakin iri dengan kebahagiaan
Kakakku dengan suaminya. Sikap suaminya yang sangat lembut dan romantis membuatku ingin sekali merebutnya
dari tangan Kakakku. Aku ingin mendapatkan suami Kakakku dengan cara apapun,
yang penting aku bisa memilikinya. Ide-ide jahat telah aku persiapkan untuk
menghancurkan rumah tangga Kakakku.
***
Serangan pertama
aku lakukan dengan mencoba menghasut Kakakku untuk waspada dengan suaminya. Aku
bilang pada Kakakku agar selalu waspada kalau laki-laki bersikap lembut. Itu
hanya untuk menyembunyikan kelakuannya. Kemungkinan diluar sana dia
berselingkuh dengan wanita lain. Kakakku hanya tertawa mendengar perkataanku,
dia malah bilang, “Jangan terlalu banyak nonton sinetron, jadinya kamu parno kaya gini...”, hanya itu yang dia
katakan.
Pada suatu hari
aku menyuruh Kakakku untuk mengecek handphone
suaminya, jangan-jangan ada nomor wanita lain yang kirim pesan mesra.
Kakakkupun menuruti apa kataku. Namun sayang tidak ada satu nomorpun yang
dicurigai Kakakku. Aku semakin berfikir, Kakak iparku memang suami yang hebat.
Semakin jatuh cinta saja aku dibuatnya.
***
Hari itu aku
memutar otak untuk membuat rencana yang akan membuat rumah tangga Kakakku
berantakan. Aku punya ide, aku akan suruh temanku mengaku sebagai selingkuhan
Kakak Iparku. Aku akan menghubungi temanku. Temanku ini memang tergolong orang
yang sederhana. Dia sudah menikah dan punya satu orang anak. Suaminya sudah
beberapa bulan tidak bekerja, jadi dia sekarang menjadi tulang punggung
keluarga.
Aku hubungi
temanku, aku ceritakan semuanya. Temanku sempat tidak setuju dengan rencanaku
karena dia fikir aku orang yang sangat jahat yang ingin menghancurkan rumah
tangga Kakaknya sendiri. Namun karena aku iming-iming uang yang cukup banyak.
Siapa yang bisa menolak. Dia memilih untuk membantu aku daripada perut anaknya
kosong.
Serangan dimulai
dengan mengirimkan SMS, temanku mengirimkan SMS-SMS mesra dihandphone suami Kakakku. Intensitasnya
lumayan sering. Kakakku yang aku hasut untuk selalu mengecek handphone suaminya mulai merasa gerah dengan SMS itu. Rumah yang
awalnya sepi dari pertengkaran, kini berubah menjadi agak panas. Sering terjadi
percekcokkan antara mereka, walau belum taraf yang parah. Namun sekarang aku melihat,
serangan SMS sudah tidak mempan lagi.
Aku akan melanjutkan keserangan berikutnya. Aku akan mencoba menyuruh
temanku itu berdandan seksi yang bisa menimbulkan cemburu setiap wanita bila
melihatnya. Aku suruh dia menemui Kakakku di rumah dan mengaku kalau dia
selingkuhan suaminya yang selama ini sering kirim SMS.
Akhirnya temanku
pun datang ke rumah dengan berpakaian yang cukup seksi. Temanku memang sangat
cantik. Walaupun sudah mempunyai anak, namun dia masih terlihat seperti seorang
gadis. Jadi pantas saja ketika dia menemui Kakakku, Kakakku hampir pingsan
dibuatnya.
Kakakku langsung
menyuruh suaminya pulang detik itu juga. Namun suaminya tidak bisa pulang
karena di kantornya sedang banyak pekerjaan. Akhirnya Kakakku hanya bisa
menangis sendirian didalam kamar. Sementara aku, aku bisa tertawa puas.
***
Setelah kejadian
itu, hubungan Kakakku dengan suaminya tidak seromantis dulu. Malah terlihat
dingin. Disanalah aku masuk untuk mencuri perhatian Kakak iparku. Kakak iparku
sering bercerita dengan perubahan sikap istrinya. Aku hanya menjadi pendengar
yang baik saja, padahal dalam hati aku tertawa girang.
Semakin hari aku
semakin dekat dengan Kakak iparku. Aku melihat dia mulai ada kenyamanan denganku. Terlihat dari
sikapnya yang mulai tak biasa. Dia sering memintaku jalan-jalan berdua hanya
karena ingin mencurahkan semua yang mengganjal di hatinya. Kakakku tidak
pernah menaruh curiga sama sekali padaku karena dia sangat percaya pada Adiknya sendiri. Padahal Adiknya sangat jahat.
Lebih jahat dari seorang penjahat.
Semakin aku
dekat dengan Kakak iparku, semakin aku tak tahan menahan gejolak rasa cinta didalam dada. Aku ingin
segera memilikinya bagaimanapun caranya. Cara SMS sudah tidak mempan, cara
mendatangkan wanita dan mengaku sebagai selingkuhan pun belum membuat rumah
tangganya hancur. Ini adalah cara terakhirku dan aku rasa cara ini akan membuat rumah tangga Kakakku hancur.
***
Suatu hari, aku
pergi ke rumah temanku yang aku suruh berpura-pura itu. Aku menceritakan
semuanya. Aku bingung harus dengan cara apalagi. Temanku menyarankan aku untuk
tidur bersama Kakak iparku. Dan cara terakhir ini pasti akan membuat rencanaku
berhasil.
Aku yang memang
merasa orang jahatpun, tidak sampai hati jika harus seperti itu caranya. Aku
jelas menolak, aku juga tidak ingin menyerahkan kesucianku pada orang yang
belum menjadi suamiku. Apalagi ini masih berstatus suami Kakakku.Namun temanku
itu menyarankan kalau aku hanya berpura-pura saja. Cara yang dikatakan temanku memang mirip cerita sinetron yang
sering aku lihat. Aku beri obat tidur diminuman Kakak iparku dan setelah Kakak
iparku tertidur lelap, aku pura-pura sudah ditiduri dia.
Aku tersenyum,
aku merasa cara terakhir ini akan berhasil. Tak lama cara itu aku lakukan. Malam itu Kakak
iparku baru pulang dari kantor. Sementara Kakakku sedang didalam kamar. Kakakku
belum tahu kalau suaminya sudah pulang. Aku akan lakukan rencanaku sekarang
juga, bisikku dalam hati. Akhirnya aku ambil segelas air putih dari dapur yang sudah aku
campur obat tidur. Saat itu mungkin Kakak iparku berfikir aku sangat baik
dengan memberinya air minum, tapi lihatlah apa yang akan aku lakukan setelah
itu.
Hanya dalam
hitungan detik akhirnya Kakak iparku sudah tidur nyenyak. Aku membawa Kakak
iparku ke dalam kamarku. Saat itu tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang
sedang aku lakukan. Setelah sampai kamar aku lakukan rencana bejatku itu. Hingga
beberapa menit kemudian aku dengar panggilan Kakakku dari luar. Aku
berpura-pura tidur saja karena aku yakin Kakakku pasti akan masuk ke dalam
kamarku.
Benar saja,
Kakakku masuk dan menyaksikan aku sedang tidur dengan suaminya. Kakakku
berteriak histeris, Kakakku tak sadarkan diri. Aku pura-pura kaget padahal
dalam hati aku tertawa puas.
Beberapa jam kemudian, Kakakku sadar dan dia
langsung menangis. Dia terlihat sangat membenciku dan suaminya. Memang itu yang
ku inginkan. Suaminya diam seribu bahasa, mungkin dia tidak mengerti apa yang
sedang terjadi.
***
Hari berganti,
rumah tangga Kakakku diambang kehancuran. Mungkin hanya keajaiban saja yang
bisa menyelamatkan mereka. Berkali-kali suaminya menjelaskan kalau dia tidak
tahu apa-apa soal ini dan berkali-kali pula Kakakku menolak penjelasan itu.
Sementara aku, aku masih tetap tinggal disana dan melihat detik demi detik
kehancuran rumah tangga Kakakku.
Kakakku sekarang
sudah pisah ranjang. Aku berfikir mungkin akan semakin mudah mendekati Kakak
iparku. Namun ternyata aku salah, cara yang aku lakukan membuat Kakak iparku
benci padaku. Dia mencium kalau aku yang merencanakan segalanya. Sejak kejadian
itu Kakak iparku tidak sebaik dulu. Dia selalu menghindar dariku.
Perlakuan Kakak
iparku seperti itu tidak membuat aku mundur, malah aku semakin penasaran
dibuatnya. Pernah suatu hari aku mengungkapkan perasaanku padanya. Aku berkata
jujur dengan apa yang aku lakukan. Aku melakukan ini karena aku mencintainya.
Kakak iparku
hanya berkata, “Kamu jahat, kamu bukan hanya jahat pada Kakakmu sendiri, tapi kamu
juga sudah mendzolimi dirimu sendiri...” jelasnya. Aku tak mengerti maksudnya apa. Aku melakukan ini justru
karena aku sayang pada diriku sendiri, aku ingin bahagia dengan orang yang aku
cintai.
***
Suatu hari aku
dikagetkan dengan suara Kakakku memanggilku. Padahal sudah berhari-hari bahkan
berminggu-minggu
setelah peristiwa itu dia tidak menegurku sama sekali. Jika ada aku, dia
memilih untuk menghindari aku. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.
Dan akupun tak ingin menegurnya.
Kakakku
memanggilku dan mengabarkan padaku kalau hari ini dia akan mengajukan
perceraian ke pengadilan. Aku pura-pura kaget dan menyarankan untuk
membatalkan. Aku bilang padanya apa yang terjadi tidak seperti yang difikirkan,
namun Kakakku bersikeras untuk menggugat cerai suaminya. Aku senang-senang saja
mendengarnya.
Hari itu Kakakku
memintaku mengantarkannya ke pengadilan. Aku tentu bersemangat mengantarkan kakakku itu.
Aku langsung bersiap-siap untuk pergi. Baru saja aku mau pergi tiba-tiba aku
dengar ada suara Kakak iparku diluar, aku mendengar sedang ada pertengkaran
hebat. Ternyata suami Kakakku itu tidak mau adanya perceraian. Dia masih merasa
kalau dia tidak bersalah. Dan memang dia tidak bersalah sama sekali.
Pertengkaran itu
membuat aku merasa tidak nyaman. Suara mereka tidak pernah sekeras ini
sebelumnya. Aku berfikir, betapa cintanya Kakak iparku pada Kakakku
sampai-sampai dia mempertahankan semuanya. Harusnya aku bahagia, harusnya aku
sadar, harusnya aku tidak pernah melakukan ini. Ada apa denganku sebenarnya?
Kakakku
bersikeras untuk pergi ke pengadilan. Sementara suaminya juga bersikeras
melarangnya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menceraikan istrinya.
Akhirnya Kakakku memaksa pergi, dia berlari ke jalan untuk memanggil taksi yang
lewat. Dia tak melihat dari arah berlawanan ada mobil yang melaju kencang
dan…Kakakku tertabrak mobil itu. Suaminya tak mampu mencegah kejadian itu karena kejadiannya
sangat cepat sekali.
Aku melihat
Kakakku bersimbah darah. Banyak sekali. Wajahnya pucat, bajunya penuh dengan
darah begitupun kerudung putihnya sudah berubah warna menjadi merah. Suaminya
panik dan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Kakakku
dilarikan ke rumah sakit. Kata dokter dia kehilangan banyak darah. Aku
melihatnya dari balik jendela kamar rumah sakit. Kakakku tergolek lemas, banyak
selang yang dipakaikan ke tubuhnya. Entah selang apa saja itu. Aku merasakan
sakit yang luar biasa. Sakit sekali. Lebih sakit dari kehilangan Kakak iparku sekalipun.
Aku sudah membuat Kakakku sakit batinnya. Dan saat ini aku juga sudah membuat
dia sakit lahirnya.
Disanalah aku
sadar, aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak ingin kehilangan dia. Kehilangan
Kakakku satu-satunya yang sudah begitu baik padaku hanya gara-gara keinginan
bejatku.
***
Sudah dua hari
Kakakku terbaring lemah tak berdaya, aku tidak beranjak sedikitpun dari
sisinya. Kalaupun suatu saat dia sadar dan mengusirku, aku akan terima, karena
aku pantas mendapatkan semua itu.
Siang itu dokter
mengabarkan kalau Kakakku harus mendapatkan donor darah secepatnya, karena
darah persediaannya sudah habis. Jika aku hubungi orangtuaku saat itu, pasti
masalah akan tambah runyam. Jadi aku putuskan untuk mengecek apakah darahku
sesuai dengan Kakakku.
Setelah dicek,
Alhamdulillah darahku cocok. Tanpa berfikir panjang akupun mendonorkan darahku
untuk Kakakku. Hanya itu yang dapat aku berikan saat ini untuk menebus semua
kesalahanku.
Setelah aku
mendonorkan darahku, menurut dokter keadaan Kakakku semakin membaik. Kakakku
sudah sadar. Aku sangat ingin menemuinya, namun suaminya melarangku. Dan akupun
sangat mengerti. Hingga suatu hari Kakakku ingin bertemu denganku.
Wajah Kakakku
masih terlihat pucat, suaranyapun masih terbata-bata. Dia tersenyum padaku dan
berkata, “Terimakasih
ya Dik, kamu sudah menolong Kakak...”, hanya itu yang dia
katakan.
Aku menangis didepan Kakak, aku mengakui semua
kejahatanku selama ini. Kakakku hanya berkata, “Kamu mungkin selama ini sangat tersiksa dengan
perasaanmu sampai kamu berbuat seperti itu, Kakak mengerti, tapi Kakak mohon
jangan ulangi lagi perbuatanmu pada Kakak atau siapapun...”. Perkataan Kakakku
membuat aku semakin diiris-iris. Hingga aku berniat untuk pergi meninggalkan
mereka.
***
Seminggu sudah
Kakakku di rumah sakit dan hari itu sudah boleh pulang. Aku berniat menunggunya
di rumah untuk menyambutnya. Aku sudah memasak makanan kesukaan Kakak.
Sesampainya di
rumah aku langsung menyambutnya. Kakakku senang dengan semua itu. Dia
memperlakukan aku seolah tidak terjadi apa-apa dengan kita.
Malam itu aku
mengutarakan maksudku untuk pergi dari rumah itu. Awalnya Kakakku melarangnya,
namun aku sudah tidak sanggup tinggal disana lagi. Aku malu…malu sekali dengan
Kakakku dan suaminya. Niatku sudah bulat kalau besok aku akan pulang ke rumah
orangtuaku. Karena aku terus memaksa, akhirnya Kakakku menyetujuinya.
Selama
perjalanan pulang aku terus melamun membayangkan apa yang sudah aku lakukan.
Mungkin yang aku rasakan bukan cinta, itu hanya perasaan iriku saja pada
Kakakku. Karena selama ini Kakakku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Kalau
aku mencintai suaminya, aku pasti sakit hati melihat mereka kembali bahagia
seperti dulu. Tapi saat ini tidak ada rasa sakit sedikitpun dalam hatiku. Aku
malah merasa bahagia sekali melihat mereka bahagia. Semakin ku sadari kalau ini
bukan cinta.
***
Selama satu
tahun aku tidak berjumpa dengan Kakakku. Hingga pada suatu hari aku mendengar
kalau Kakakku sedang hamil. Betapa bahagianya aku mendengar berita itu.
Sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan. Tak sabar rasanya menanti hari
indah itu. Aku ucapkan selamat lewat orangtuaku. Semoga Kakakku dan keluarganya
selalu berada dalam lindunganNYA. Aku sangat menyayangi Kakakku.
Maafkan aku
Kak…Maafkan atas segala kesalahanku selama ini. Doakan aku, semoga aku juga
mendapatkan kebahagiaan seperti Kakak. Aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar