29 Jul 2015

Bukan Cinta Sebenarnya

Seharusnya aku yang mendapatkan kebahagiaan itu, bukan Kakakku. Dari kecil aku selalu dianak tirikan oleh kedua orangtuaku. Apa mungkin aku bukan anak yang diharapkan? Aku tak tahu kenapa orangtuaku tidak pernah memperlakukan aku seperti Kakakku.

Namaku Melda. Aku dilahirkan dua tahun setelah Kakakku. Aku memang tak secantik Kakakku, tak sepintar Kakakku dan yang pasti tak seberuntung Kakakku. Tapi aku sangat menyayangi dia dan diapun begitu padaku. Mungkin hanya Kakakku saja yang memperlakukan aku dengan amat sangat baik.

***

Kakakku bernama Nabila, sejak kecil kita selalu bersama. Kakakku selalu membelaku ketika aku sedang dimarahi Ayahku, Kakakku juga selalu membela aku jika di sekolah aku diganggu oleh teman-temanku yang nakal. Lamunanku tidak pernah terhenti dengan kebaikan-kebaikan Kakakku padaku. Dari mulai kita kecil hingga kita sama-sama dewasa.

Ketika aku berumur enam tahun dan Kakakku umur delapan tahun, waktu itu kita sama-sama sedang duduk di bangku sekolah dasar. Aku masih kelas satu dan kakakku kelas tiga. Ketika pertama masuk sekolah, orangtuaku membelikan segala perlengkapan sekolah Kami. Mulai dari buku tulis, alat tulis, seragam sekolah, sepatu, tas, apapun yang Kami perlukan. Aku sangat bahagia, seandainya mereka membelikan keperluan tersebut untukku juga. Sayang, mereka hanya membelikan semua keperluan sekolah itu untuk Kakakku, Nabila. Sedangkan aku, aku hanya dapat turunan dari Kakakku kecuali buku tulis dan alat tulis. Selebihnya aku dapat bekas.

Ketika teman-teman sekolahku meledekku karena aku dapat barang yang tidak baru, Kakakkulah yang membelaku. Kakakku langsung memberikan tas barunya untukku. Aku selalu menangis bila ingat hal itu.

***

Pernah suatu hari, ketika kenaikan kelas. Aku memang tidak mendapatkan rangking 10 besar di kelas. Berbeda dengan Kakakku yang mendapatkan rangking 1. Sesampainya di rumah, Kakakku disambut antusias oleh orangtuaku. Sedangkan aku, dilihatpun tidak.

Sorenya, Kakakku diajak makan-makan dengan tujuan merayakan keberhasilannya, sedangkan aku disuruh jaga rumah dengan pembantuku. Sakit rasanya hati ini.


Ketika Kami menginjak bangku sekolah menengah, tidak ada perubahan padaku. Mereka tetap memperlakukan aku dengan tidak wajar. Pernah suatu hari sekolahku akan mengadakan karyawisata ke Jogja. Siswa yang boleh ikut dari kelas 1 sampai kelas 3 karena karyawisata ini bersifat umum.

Ketika Kakakku memberitahukan hal ini pada orangtuaku, mereka langsung memberikan izin pergi dan memberikan uang secukupnya untuk biaya administrasi. Berbeda dengan aku, aku harus memohon-mohon dulu hingga akhirnya aku boleh pergi. Begitulah sulitnya hidupku.


***

Waktu berlalu, setelah Kakakku lulus SMU, dia meneruskan kuliah sedangkan aku memilih untuk langsung bekerja. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bukan karena orangtuaku tidak mau menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. Ini keinginan aku yang memang tidak mau kuliah. Aku ingin segera bekerja dan menghasilkan uang sendiri supaya aku tidak menyusahkan orangtuaku lagi.

Aku terpisah dengan Kakak dan orangtuaku karena aku diterima bekerja di luar kota. Aku pulang dua atau tiga bulan sekali. Aku sengaja tidak pulang terlalu sering karena aku fikir mereka pun tidak mengharapkan kehadiranku di rumah. Jadi aku memilih mendingan hidup disini saja.

Lima tahun berlalu, aku mendengar kabar gembira kalau Kakakku akan menikah. Menurut kabar dia akan menikah dengan laki-laki yang sukses dan berasal dari keluarga yang terhormat. Betapa beruntungnya Kakakku mendapatkan laki-laki seperti itu.

***

Suatu hari, aku mendapat kabar kalau Kakakku akan datang ketempat tinggalku. Dia akan mengenalkan calon suaminya padaku. Aku sangat bahagia mendengarnya karena memang sudah cukup lama aku tak bertemu Kakakku.

Siang itu, aku sengaja mengambil cuti karena Kakakku akan datang. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah membeli makanan khusus untuk menyambut kedatangannya. Tak lama mereka pun datang. Aku berpelukan untuk melepas rinduku selama ini. Kakakku mengenalkan calon suaminya padaku. Selama ini aku berfikir kalau calon suami Kakakku itu adalah laki-laki tua karena menurut berita laki-laki itu adalah pengusaha sukses. Aku mengira hanya laki-laki yang sudah tua saja yang bisa sukses. Ternyata aku salah, laki-laki itu masih sangat muda dan tampan. Bisa dibilang sangat tampan. Sudah tampan, kaya raya dan keliatannya sangat baik. Perlakuan-perlakuannya pada Kakakku kadang membuatku iri.

***

Dua tahun berlalu, kini Kakakku sudah menikah dengan laki-laki tampan itu. Namun sayang, mereka belum dikaruniai anak. Dengan kondisi seperti itu tidak membuat suaminya uring-uringan, malah sebaliknya, suaminya sering mengingatkan Kakakku untuk terus bersabar.

Suatu hari aku mendapat cobaan hidup, perusahaan tempat aku bekerja mengalami penurunan omset. Jadi sebagian karyawan harus di rumahkan termasuk aku. Aku bingung harus kemana. Aku sudah coba melamar pekerjaan ketempat lain namun belum juga ada panggilan. Aku bisa saja pulang ke rumah saat itu jika kondisi rumah bersahabat denganku. Namun aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku memilih untuk bertahan di tempat ini.

Waktu berjalan, sudah sekitar enam bulan aku terkatung-katung ditempat ini. Uang tabunganku sudah mulai habis untuk biaya hidupku. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk menghubungi Kakakku.

Kakakku terlihat kesal denganku, kenapa aku baru bercerita sekarang setelah enam bulan aku hidup tanpa arah. Kenapa tidak dari dulu aku mengatakan ini semua pada Kakakku. Aku hanya bilang, aku tidak ingin merepotkan Kakakku.

Akhirnya aku dijemput oleh Kakakku untuk tinggal di rumahnya bersama suaminya. Awalnya aku menolak karena merasa tidak enak dengan suaminya. Namun suaminya meyakinkan aku kalau aku tidak usah sungkan dengan dia. Suaminya sudah menganggapku seperti Adiknya sendiri.

Akupun tinggal bersama Kakakku. Aku merasa tidak kesepian lagi. Kakakku sangat baik. Bukan hanya semua kebutuhan harianku yang dia tanggung. Tapi uang bulananpun dia beri untukku. Begitupun dengan suaminya setiap dua atau tiga minggu sekali selalu memberiku uang untuk jalan-jalan. Jika aku menghitung uang yang aku dapat saat ini, jumlahnya lebih besar dari gajiku satu bulan.

Sudah hampir tiga bulan aku disini. Hampir setiap hari aku memperhatikan Kakak iparku. Setiap aku memperhatikannya setiap aku merasa kagum padanya. Kadang aku berfikir kenapa kehidupan yang sempurna selalu dimiliki Kakakku. Dari kecil dia diperlakukan dengan amat sangat baik oleh orangtuaku. Sudah dewasapun dia dipertemukan dengan jodoh yang sangat diidamkan setiap perempuan termasuk aku. Sementara aku, dari kecil aku diperlakukan kurang baik oleh orangtuaku dan sampai sekarangpun aku belum mendapatkan tambatan hati.

Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang beberapa kali. Tapi semuanya tidak seperti yang diimpikan. Mereka meninggalkanku begitu saja. Ada yang hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan masa lalunya. Ada yang hanya ingin diberikan uang. Ada yang hanya ingin berstatus punya pasangan. Macam-macam alasannya hingga akhirnya aku memilih hidup sendiri.

Semakin hari semakin bertambah saja rasa kagumku pada Kakak iparku. Apalagi perhatiannya yang sangat besar pada semua orang membuatku semakin kagum. Ya…hanya rasa kagum pada awalnya. Namun entahlah kenapa rasa kagum ini kini berubah menjadi rasa cinta. Apa mungkin aku mencintai Kakak iparku sendiri. Apa mungkin aku bisa menyakiti Kakakku sendiri? Tidak, aku bukan orang yang jahat.

Aku sudah tak tahan dengan perasaan ini. Semakin waktu berjalan aku semakin mencintainya. Mencintai suami orang saja rasanya tidak wajar, apalagi yang dicintai adalah suami Kakakku sendiri yang sudah sangat baik padaku. Kakak yang selalu membelaku ketika ada yang menyakitiku tak terkecuali orangtuaku sendiri.

Entah ada setan dari mana yang merasuki hatiku saat itu. Aku semakin iri dengan kebahagiaan Kakakku dengan suaminya. Sikap suaminya yang sangat lembut dan romantis membuatku ingin sekali merebutnya dari tangan Kakakku. Aku ingin mendapatkan suami Kakakku dengan cara apapun, yang penting aku bisa memilikinya. Ide-ide jahat telah aku persiapkan untuk menghancurkan rumah tangga Kakakku.

***

Serangan pertama aku lakukan dengan mencoba menghasut Kakakku untuk waspada dengan suaminya. Aku bilang pada Kakakku agar selalu waspada kalau laki-laki bersikap lembut. Itu hanya untuk menyembunyikan kelakuannya. Kemungkinan diluar sana dia berselingkuh dengan wanita lain. Kakakku hanya tertawa mendengar perkataanku, dia malah bilang, “Jangan terlalu banyak nonton sinetron, jadinya kamu parno kaya gini...”, hanya itu yang dia katakan.

Pada suatu hari aku menyuruh Kakakku untuk mengecek handphone suaminya, jangan-jangan ada nomor wanita lain yang kirim pesan mesra. Kakakkupun menuruti apa kataku. Namun sayang tidak ada satu nomorpun yang dicurigai Kakakku. Aku semakin berfikir, Kakak iparku memang suami yang hebat. Semakin jatuh cinta saja aku dibuatnya.

***

Hari itu aku memutar otak untuk membuat rencana yang akan membuat rumah tangga Kakakku berantakan. Aku punya ide, aku akan suruh temanku mengaku sebagai selingkuhan Kakak Iparku. Aku akan menghubungi temanku. Temanku ini memang tergolong orang yang sederhana. Dia sudah menikah dan punya satu orang anak. Suaminya sudah beberapa bulan tidak bekerja, jadi dia sekarang menjadi tulang punggung keluarga.

Aku hubungi temanku, aku ceritakan semuanya. Temanku sempat tidak setuju dengan rencanaku karena dia fikir aku orang yang sangat jahat yang ingin menghancurkan rumah tangga Kakaknya sendiri. Namun karena aku iming-iming uang yang cukup banyak. Siapa yang bisa menolak. Dia memilih untuk membantu aku daripada perut anaknya kosong.

Serangan dimulai dengan mengirimkan SMS, temanku mengirimkan SMS-SMS mesra dihandphone suami Kakakku. Intensitasnya lumayan sering. Kakakku yang aku hasut untuk selalu mengecek handphone suaminya mulai merasa gerah dengan SMS itu. Rumah yang awalnya sepi dari pertengkaran, kini berubah menjadi agak panas. Sering terjadi percekcokkan antara mereka, walau belum taraf yang parah. Namun sekarang aku melihat, serangan SMS sudah tidak mempan lagi.

Aku akan melanjutkan keserangan berikutnya. Aku akan mencoba menyuruh temanku itu berdandan seksi yang bisa menimbulkan cemburu setiap wanita bila melihatnya. Aku suruh dia menemui Kakakku di rumah dan mengaku kalau dia selingkuhan suaminya yang selama ini sering kirim SMS.
Akhirnya temanku pun datang ke rumah dengan berpakaian yang cukup seksi. Temanku memang sangat cantik. Walaupun sudah mempunyai anak, namun dia masih terlihat seperti seorang gadis. Jadi pantas saja ketika dia menemui Kakakku, Kakakku hampir pingsan dibuatnya.

Kakakku langsung menyuruh suaminya pulang detik itu juga. Namun suaminya tidak bisa pulang karena di kantornya sedang banyak pekerjaan. Akhirnya Kakakku hanya bisa menangis sendirian didalam kamar. Sementara aku, aku bisa tertawa puas.

***

Setelah kejadian itu, hubungan Kakakku dengan suaminya tidak seromantis dulu. Malah terlihat dingin. Disanalah aku masuk untuk mencuri perhatian Kakak iparku. Kakak iparku sering bercerita dengan perubahan sikap istrinya. Aku hanya menjadi pendengar yang baik saja, padahal dalam hati aku tertawa girang.

Semakin hari aku semakin dekat dengan Kakak iparku. Aku melihat dia mulai ada kenyamanan denganku. Terlihat dari sikapnya yang mulai tak biasa. Dia sering memintaku jalan-jalan berdua hanya karena ingin mencurahkan semua yang mengganjal di hatinya. Kakakku tidak pernah menaruh curiga sama sekali padaku karena dia sangat percaya pada Adiknya sendiri. Padahal Adiknya sangat jahat. Lebih jahat dari seorang penjahat.

Semakin aku dekat dengan Kakak iparku, semakin aku tak tahan menahan gejolak rasa cinta didalam dada. Aku ingin segera memilikinya bagaimanapun caranya. Cara SMS sudah tidak mempan, cara mendatangkan wanita dan mengaku sebagai selingkuhan pun belum membuat rumah tangganya hancur. Ini adalah cara terakhirku dan aku rasa cara ini akan membuat rumah tangga Kakakku hancur.

***

Suatu hari, aku pergi ke rumah temanku yang aku suruh berpura-pura itu. Aku menceritakan semuanya. Aku bingung harus dengan cara apalagi. Temanku menyarankan aku untuk tidur bersama Kakak iparku. Dan cara terakhir ini pasti akan membuat rencanaku berhasil.

Aku yang memang merasa orang jahatpun, tidak sampai hati jika harus seperti itu caranya. Aku jelas menolak, aku juga tidak ingin menyerahkan kesucianku pada orang yang belum menjadi suamiku. Apalagi ini masih berstatus suami Kakakku.Namun temanku itu menyarankan kalau aku hanya berpura-pura saja. Cara yang dikatakan temanku memang mirip cerita sinetron yang sering aku lihat. Aku beri obat tidur diminuman Kakak iparku dan setelah Kakak iparku tertidur lelap, aku pura-pura sudah ditiduri dia.

Aku tersenyum, aku merasa cara terakhir ini akan berhasil. Tak lama cara itu aku lakukan. Malam itu Kakak iparku baru pulang dari kantor. Sementara Kakakku sedang didalam kamar. Kakakku belum tahu kalau suaminya sudah pulang. Aku akan lakukan rencanaku sekarang juga, bisikku dalam hati. Akhirnya aku ambil segelas air putih dari dapur yang sudah aku campur obat tidur. Saat itu mungkin Kakak iparku berfikir aku sangat baik dengan memberinya air minum, tapi lihatlah apa yang akan aku lakukan setelah itu.

Hanya dalam hitungan detik akhirnya Kakak iparku sudah tidur nyenyak. Aku membawa Kakak iparku ke dalam kamarku. Saat itu tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang sedang aku lakukan. Setelah sampai kamar aku lakukan rencana bejatku itu. Hingga beberapa menit kemudian aku dengar panggilan Kakakku dari luar. Aku berpura-pura tidur saja karena aku yakin Kakakku pasti akan masuk ke dalam kamarku.

Benar saja, Kakakku masuk dan menyaksikan aku sedang tidur dengan suaminya. Kakakku berteriak histeris, Kakakku tak sadarkan diri. Aku pura-pura kaget padahal dalam hati aku tertawa puas.

Beberapa jam kemudian, Kakakku sadar dan dia langsung menangis. Dia terlihat sangat membenciku dan suaminya. Memang itu yang ku inginkan. Suaminya diam seribu bahasa, mungkin dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

***

Hari berganti, rumah tangga Kakakku diambang kehancuran. Mungkin hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan mereka. Berkali-kali suaminya menjelaskan kalau dia tidak tahu apa-apa soal ini dan berkali-kali pula Kakakku menolak penjelasan itu. Sementara aku, aku masih tetap tinggal disana dan melihat detik demi detik kehancuran rumah tangga Kakakku.

Kakakku sekarang sudah pisah ranjang. Aku berfikir mungkin akan semakin mudah mendekati Kakak iparku. Namun ternyata aku salah, cara yang aku lakukan membuat Kakak iparku benci padaku. Dia mencium kalau aku yang merencanakan segalanya. Sejak kejadian itu Kakak iparku tidak sebaik dulu. Dia selalu menghindar dariku.

Perlakuan Kakak iparku seperti itu tidak membuat aku mundur, malah aku semakin penasaran dibuatnya. Pernah suatu hari aku mengungkapkan perasaanku padanya. Aku berkata jujur dengan apa yang aku lakukan. Aku melakukan ini karena aku mencintainya. Kakak iparku hanya berkata, “Kamu jahat, kamu bukan hanya jahat pada Kakakmu sendiri, tapi kamu juga sudah mendzolimi dirimu sendiri...” jelasnya. Aku tak mengerti maksudnya apa. Aku melakukan ini justru karena aku sayang pada diriku sendiri, aku ingin bahagia dengan orang yang aku cintai.

***

Suatu hari aku dikagetkan dengan suara Kakakku memanggilku. Padahal sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah peristiwa itu dia tidak menegurku sama sekali. Jika ada aku, dia memilih untuk menghindari aku. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Dan akupun tak ingin menegurnya.

Kakakku memanggilku dan mengabarkan padaku kalau hari ini dia akan mengajukan perceraian ke pengadilan. Aku pura-pura kaget dan menyarankan untuk membatalkan. Aku bilang padanya apa yang terjadi tidak seperti yang difikirkan, namun Kakakku bersikeras untuk menggugat cerai suaminya. Aku senang-senang saja mendengarnya.

Hari itu Kakakku memintaku mengantarkannya ke pengadilan. Aku tentu bersemangat mengantarkan kakakku itu. Aku langsung bersiap-siap untuk pergi. Baru saja aku mau pergi tiba-tiba aku dengar ada suara Kakak iparku diluar, aku mendengar sedang ada pertengkaran hebat. Ternyata suami Kakakku itu tidak mau adanya perceraian. Dia masih merasa kalau dia tidak bersalah. Dan memang dia tidak bersalah sama sekali.

Pertengkaran itu membuat aku merasa tidak nyaman. Suara mereka tidak pernah sekeras ini sebelumnya. Aku berfikir, betapa cintanya Kakak iparku pada Kakakku sampai-sampai dia mempertahankan semuanya. Harusnya aku bahagia, harusnya aku sadar, harusnya aku tidak pernah melakukan ini. Ada apa denganku sebenarnya?

Kakakku bersikeras untuk pergi ke pengadilan. Sementara suaminya juga bersikeras melarangnya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menceraikan istrinya. Akhirnya Kakakku memaksa pergi, dia berlari ke jalan untuk memanggil taksi yang lewat. Dia tak melihat dari arah berlawanan ada mobil yang melaju kencang dan…Kakakku tertabrak mobil itu. Suaminya tak mampu mencegah kejadian itu karena kejadiannya sangat cepat sekali.

Aku melihat Kakakku bersimbah darah. Banyak sekali. Wajahnya pucat, bajunya penuh dengan darah begitupun kerudung putihnya sudah berubah warna menjadi merah. Suaminya panik dan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Kakakku dilarikan ke rumah sakit. Kata dokter dia kehilangan banyak darah. Aku melihatnya dari balik jendela kamar rumah sakit. Kakakku tergolek lemas, banyak selang yang dipakaikan ke tubuhnya. Entah selang apa saja itu. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Sakit sekali. Lebih sakit dari kehilangan Kakak iparku sekalipun. Aku sudah membuat Kakakku sakit batinnya. Dan saat ini aku juga sudah membuat dia sakit lahirnya.

Disanalah aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak ingin kehilangan dia. Kehilangan Kakakku satu-satunya yang sudah begitu baik padaku hanya gara-gara keinginan bejatku.

***

Sudah dua hari Kakakku terbaring lemah tak berdaya, aku tidak beranjak sedikitpun dari sisinya. Kalaupun suatu saat dia sadar dan mengusirku, aku akan terima, karena aku pantas mendapatkan semua itu.

Siang itu dokter mengabarkan kalau Kakakku harus mendapatkan donor darah secepatnya, karena darah persediaannya sudah habis. Jika aku hubungi orangtuaku saat itu, pasti masalah akan tambah runyam. Jadi aku putuskan untuk mengecek apakah darahku sesuai dengan Kakakku.

Setelah dicek, Alhamdulillah darahku cocok. Tanpa berfikir panjang akupun mendonorkan darahku untuk Kakakku. Hanya itu yang dapat aku berikan saat ini untuk menebus semua kesalahanku.

Setelah aku mendonorkan darahku, menurut dokter keadaan Kakakku semakin membaik. Kakakku sudah sadar. Aku sangat ingin menemuinya, namun suaminya melarangku. Dan akupun sangat mengerti. Hingga suatu hari Kakakku ingin bertemu denganku.

Wajah Kakakku masih terlihat pucat, suaranyapun masih terbata-bata. Dia tersenyum padaku dan berkata, “Terimakasih ya Dik, kamu sudah menolong Kakak...”, hanya itu yang dia katakan.
Aku menangis didepan Kakak, aku mengakui semua kejahatanku selama ini. Kakakku hanya berkata, “Kamu mungkin selama ini sangat tersiksa dengan perasaanmu sampai kamu berbuat seperti itu, Kakak mengerti, tapi Kakak mohon jangan ulangi lagi perbuatanmu pada Kakak atau siapapun...”. Perkataan Kakakku membuat aku semakin diiris-iris. Hingga aku berniat untuk pergi meninggalkan mereka.

***

Seminggu sudah Kakakku di rumah sakit dan hari itu sudah boleh pulang. Aku berniat menunggunya di rumah untuk menyambutnya. Aku sudah memasak makanan kesukaan Kakak.

Sesampainya di rumah aku langsung menyambutnya. Kakakku senang dengan semua itu. Dia memperlakukan aku seolah tidak terjadi apa-apa dengan kita.

Malam itu aku mengutarakan maksudku untuk pergi dari rumah itu. Awalnya Kakakku melarangnya, namun aku sudah tidak sanggup tinggal disana lagi. Aku malu…malu sekali dengan Kakakku dan suaminya. Niatku sudah bulat kalau besok aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Karena aku terus memaksa, akhirnya Kakakku menyetujuinya.

Selama perjalanan pulang aku terus melamun membayangkan apa yang sudah aku lakukan. Mungkin yang aku rasakan bukan cinta, itu hanya perasaan iriku saja pada Kakakku. Karena selama ini Kakakku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Kalau aku mencintai suaminya, aku pasti sakit hati melihat mereka kembali bahagia seperti dulu. Tapi saat ini tidak ada rasa sakit sedikitpun dalam hatiku. Aku malah merasa bahagia sekali melihat mereka bahagia. Semakin ku sadari kalau ini bukan cinta.

***

Selama satu tahun aku tidak berjumpa dengan Kakakku. Hingga pada suatu hari aku mendengar kalau Kakakku sedang hamil. Betapa bahagianya aku mendengar berita itu. Sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan. Tak sabar rasanya menanti hari indah itu. Aku ucapkan selamat lewat orangtuaku. Semoga Kakakku dan keluarganya selalu berada dalam lindunganNYA. Aku sangat menyayangi Kakakku.

Maafkan aku Kak…Maafkan atas segala kesalahanku selama ini. Doakan aku, semoga aku juga mendapatkan kebahagiaan seperti Kakak. Aamiin…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar