29 Jul 2015

Kiriman Terakhir

Aku masih melihat sisa-sisa minuman dalam gelas bekas semalam aku mabuk bersama teman-temanku. Pagi ini aku tak ingin melihat anakku merengek minta uang jajan dan tunggakan SPP sekolah yang sudah tiga bulan tidak dibayar. Bukan karena aku tak punya uang, uang kiriman istriku yang bekerja di Jakarta sudah aku habiskan bersama teman-temanku untuk mabuk hampir setiap malam. Aku pakai untuk main perempuan karena sejak istriku bekerja aku menjadi kesepian sehingga wanita-wanita malam itulah yang sering menemaniku.

Hari ini seperti biasa anakku merengek minta aku segera melunasi SPP sekolahnya. Lagi-lagi aku marah dan hampir saja memukul anakku. Minuman semalam adalah uang terakhir dalam dompetku. Padahal masih setengah bulan lagi istriku akan mengirim gajinya untuk Kami.

***

Sejak aku di PHK aku menjadi sosok yang pemarah. Aku masih kesal dan masih ingat semua penghinaan temanku yang menuduh aku berbuat curang di kantor. Padahal aku tidak pernah mencuri seperti apa yang mereka tuduhkan. Aku hanya difitnah karena temanku tahu aku akan dinaikkan jabatan. Tapi ya sudahlah…itu hanya bagian dari masa laluku.

Aku tidak mau bekerja lagi hingga akhirnya istrikulah yang harus mengalah. Istriku terpaksa harus mencari nafkah untuk Kami hidup. Beruntung ada tetangga yang menawari istriku untuk bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga dengan gaji yang terbilang cukup untuk biaya Kami dan sekolah anak semata wayang Kami. Namun persayaratannya, istriku hanya boleh pulang tiga bulan sekali. Tidak masalah untuk Kami.


Entah kenapa sejak saat itu aku menjadi orang yang sangat jahat. Uang kiriman istriku selalu aku habiskan. Pernah aku memaksa istriku untuk meminjam uang pada majikannya karena belum habis bulan uang itu sudah habis.

Istriku adalah orang yang sangat sabar. Dia ikhlas bekerja demi keluarga yang seharusnya beban itu adalah tugas seorang suami. Tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Berkali-kali aku selalu meminta uang diluar gajinya dengan marah-marah. Namun istriku selalu memenuhinya. Entah uang darimana.

***

Hari itu aku mencoba menelpon dia dan meminta uang untuk biaya sekolah Rani anakku. Tapi tidak seperti biasanya dia menolak untuk memberikan uang itu hingga akibatnya semua perabot dapur dirumah menjadi bulan-bulanan kemarahan aku. Anakku juga kena imbasnya. Istriku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Mungkin karena hutang pada majikannya sudah terlalu besar.

Aku sengaja mematikkan handphoneku karena aku takut teman-temanku mengajakku untuk minum-minuman  dan main perempuan lagi padahal aku sudah tidak punya uang. Seharian aku hanya bengong memikirkan dompet yang sudah terkuras habis. Pinjam sama tetanggapun sudah tidak mungkin ada yang memberi karena mereka sudah tahu watakku yang tidak beres. Akhirnya aku hanya bisa tidur seharian.

Ini sudah menjadi hari kelima aku mengurung diri di rumah. Aku kesal sama istriku yang tidak mau mengirimkan uang untukku. Aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku yang sudah usang. Sedang asyik-asyiknya melamun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku fikir mungkin teman-temanku menyusulku ke rumah. Tapi lama-lama aku mendengar suara istriku. Aku berfikir kenapa istriku datang bukan pada jadwal dia harus pulang. Jangan-jangan dia dipecat karena terlalu banyak hutang. Oh...tidak!!! Bagaimana kita hidup kalau istriku sudah tak bekerja.

Pelan-pelan aku dekati pintu rumah, aku lihat dari balik jendela. Benar itu istriku. Aku buka pintu dengan wajah yang sangat menyeramkan.

“Bang…” sapa istriku.

Aku tidak menjawab sapaannya karena aku masih marah dengan sikap dia. Bahkan ketika istriku mengulurkan tangannya untuk mencium tanganku. Aku segera menepisnya.

“Abang masih marah...?” tanya istriku. Akupun tak menjawab, aku segera masuk kamar. Lalu istrikupun menyusulku.
“Bang, maafkan aku, waktu itu aku memang sedang tidak punya uang bang...” kata istriku.
“Lalu kenapa kamu pulang, kamu dipecat...?” tanyaku.
“Aku enggak dipecat bang, aku sekarang diminta majikanku untuk mencari assisten rumah tangga karena rumah majikanku kan besar tidak mungkin aku sendiri yang mengerjakannya...” jawabnya.

Aku melihat disudut mata istriku ada luka biru seperti habis dipukul.
“Lalu itu luka apa disudut mata kamu...?” tanyaku.
“Oh ini gak sengaja kena ujung meja bang, gak papa kok...” jawabnya.
“Aku butuh uang sekarang!” kataku.
“Tapi aku sedang tak pegang uang bang, ini ada uang sedikit tapi aku mau gunakan untuk biaya sekolah Rani yang sudah tiga bulan nunggak...” jawabnya.

Aku marah sekali ketika aku tahu dia pegang uang dan akan dia gunakan untuk biaya sekolah anakku. Aku tak peduli dengan dia hingga akhirnya aku rebut uang itu dan aku pukul istriku sampai terlentang di kasur. Istriku menangis tapi aku tak peduli. Aku pergi meninggalkan rumah untuk segera menemui teman-temanku.

***

Satu bulan dari kejadian itu. Tidak ada penyesalan dalam hidupku. Malah aku semakin menjadi-jadi. Entah setan darimana yang membuatku menjadi sesosok manusia yang tidak manusiawi. Hari ini adalah akhir bulan. Itu tandanya hari ini istriku akan mengirimkan uang untukku. Dan aku bisa mabuk-mabukan seperti biasa.

Aku tunggu…tapi kiriman itu tak datang juga. Timbul rasa marah yang seperti biasa aku rasakan. Aku mencoba kembali menghubungi istriku tapi lagi-lagi handphonenya tidak aktif. Semakin aku marah semakin aku tak bisa kontrol diriku hingga akhirnya anakku Rani yang menjadi pelampiasan marahku.

***

Hari sudah sore, tapi kiriman itu tak kunjung datang. Aku masih marah dengan istriku. Aku janji kalau dia ada didepanku sudah aku habisi dia.

Tok tok tok…bunyi pintu rumah diketok. Jangan-jangan yang datang  istriku lagi seperti tempo hari. Aku segera buka pintu dengan langkah yang kasar.

“Kamu…” belum sempat aku lanjutkan perkataanku, karena ternyata aku salah. Yang datang bukan istriku tapi tiga orang polisi. Laaa…aku tidak mencuri kok atau mungkin karena mereka tahu aku sering meresahkan masyarakat dengan mabuk-mabukan.
“Selamat sore Pak...dengan Pak Ardi...???” tanya salah seorang polisi.
 “Iya betul Pak, ada apa ya Pak...?” jawabku.
“Ada yang harus bapak cek dalam peti jenazah itu, apa jenazah itu istri Bapak...?” kata polisi itu.

Seketika aku masih kaget dengan obrolan Pak polisi. Istriku? Istriku kenapa? Aku coba mendekati peti jenazah itu. Pelan-pelan aku buka dan…

Pandanganku kabur, semuanya terlihat hitam…

***

Kata tetanggaku aku sudah 1 jam pingsan. Aku mencoba mengingat peristiwa tadi. Aku melihat disekeliling banyak sekali orang. Aku melihat ada jenazah istriku yang terbaring kaku didepanku. Ya Tuhan…apakah itu benar istriku? Tapi kenapa dia bisa meninggal? Badanku masih lemas…Aku mencoba menatap wajah istriku. Cantik…tapi banyak biru-biru di wajahnya seperti bekas pukulan. Ada apa dengan istriku???

Setelah pemakanan istriku. Tetanggaku memberitahuku bahwa majikan istriku adalah seorang yang ringan tangan. Bertahun-tahun istriku bekerja disebuah rumah yang penuh dengan pukulan, cacian dan makian. Sementara aku disini enak-enakan menggunakan uangnya untuk keperluan yang sangat memuakkan.

Bekas biru disudut matanya waktu itu mungkin hanya bagian kecil yang dia rasakan. Waktu itu aku malah tambah rasa sakitnya dengan pukulanku. Ya Tuhan…manusia macam apa aku ini???

Tanah dipusara istriku ini masih merah. Didalamnya ada sesosok wanita hebat yang aku sudah sia-siakan. Kiriman itu adalah kiriman terakhir. Bukan kiriman uang malah kiriman jenazah istriku. Ya Tuhan…apa masih pantas aku bermohon padamu. Aku bermohon peruntukkan surga itu untuk istriku. Aku janji mulai sekarang aku akan berusaha menjadi Ayah yang terbaik untuk anakku. Aku akan bertobat dan meninggalkan semua hal buruk itu.

Ya Tuhan…aku titipkan istriku pada-MU…




Tidak ada komentar:

Posting Komentar