Aku masih
melihat sisa-sisa minuman dalam gelas bekas semalam aku mabuk bersama
teman-temanku. Pagi ini aku tak ingin melihat anakku merengek minta uang jajan
dan tunggakan SPP sekolah yang sudah tiga bulan tidak dibayar. Bukan karena aku
tak punya uang, uang kiriman istriku yang bekerja di Jakarta sudah aku habiskan
bersama teman-temanku untuk mabuk hampir setiap malam. Aku pakai untuk main
perempuan karena sejak istriku bekerja aku menjadi kesepian sehingga
wanita-wanita malam itulah yang sering menemaniku.
Hari ini seperti
biasa anakku merengek minta aku segera melunasi SPP sekolahnya. Lagi-lagi aku
marah dan hampir saja memukul anakku. Minuman semalam adalah uang terakhir
dalam dompetku. Padahal masih setengah bulan lagi istriku akan mengirim gajinya
untuk Kami.
***
Sejak aku di PHK
aku menjadi sosok yang pemarah. Aku masih kesal dan masih ingat semua
penghinaan temanku yang menuduh aku berbuat curang di kantor. Padahal aku tidak
pernah mencuri seperti apa yang mereka tuduhkan. Aku hanya difitnah karena
temanku tahu aku akan dinaikkan jabatan. Tapi ya sudahlah…itu hanya bagian dari
masa laluku.
Aku tidak mau
bekerja lagi hingga akhirnya istrikulah yang harus mengalah. Istriku terpaksa harus
mencari nafkah untuk Kami hidup. Beruntung ada tetangga yang menawari istriku untuk
bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga dengan gaji yang terbilang
cukup untuk biaya Kami dan sekolah anak semata wayang Kami. Namun persayaratannya, istriku hanya boleh
pulang tiga bulan sekali. Tidak masalah untuk Kami.
Entah kenapa
sejak saat itu aku menjadi orang yang sangat jahat. Uang kiriman istriku selalu
aku habiskan. Pernah aku memaksa istriku untuk meminjam uang pada majikannya
karena belum habis bulan uang itu sudah habis.
Istriku adalah
orang yang sangat sabar. Dia ikhlas bekerja demi keluarga yang seharusnya beban
itu adalah tugas seorang suami. Tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Berkali-kali aku selalu meminta uang diluar gajinya dengan marah-marah. Namun
istriku selalu memenuhinya. Entah uang darimana.
***
Hari itu aku
mencoba menelpon dia dan meminta uang untuk biaya sekolah Rani anakku. Tapi
tidak seperti biasanya dia menolak untuk memberikan uang itu hingga akibatnya
semua perabot dapur dirumah menjadi bulan-bulanan kemarahan aku. Anakku juga
kena imbasnya. Istriku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Mungkin karena hutang pada majikannya
sudah terlalu besar.
Aku sengaja
mematikkan handphoneku karena aku
takut teman-temanku mengajakku untuk minum-minuman dan main perempuan lagi padahal aku sudah
tidak punya uang. Seharian aku hanya bengong memikirkan dompet yang sudah
terkuras habis. Pinjam sama tetanggapun
sudah tidak mungkin ada yang memberi karena mereka
sudah tahu watakku yang tidak beres. Akhirnya aku hanya bisa tidur seharian.
Ini sudah
menjadi hari kelima aku mengurung diri di rumah. Aku kesal sama istriku yang tidak mau mengirimkan uang
untukku. Aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku yang sudah usang. Sedang
asyik-asyiknya melamun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku fikir
mungkin teman-temanku menyusulku ke rumah. Tapi lama-lama aku mendengar suara istriku. Aku berfikir
kenapa istriku datang bukan pada jadwal dia harus pulang. Jangan-jangan dia
dipecat karena terlalu banyak hutang. Oh...tidak!!! Bagaimana kita hidup kalau istriku sudah
tak bekerja.
Pelan-pelan aku
dekati pintu rumah, aku lihat dari balik jendela. Benar itu istriku. Aku buka
pintu dengan wajah yang sangat menyeramkan.
“Bang…” sapa
istriku.
Aku tidak
menjawab sapaannya karena aku masih marah dengan sikap dia. Bahkan ketika
istriku mengulurkan tangannya untuk mencium tanganku. Aku segera menepisnya.
“Abang masih marah...?” tanya istriku. Akupun tak menjawab, aku
segera masuk kamar. Lalu istrikupun menyusulku.
“Bang, maafkan
aku, waktu itu aku memang sedang tidak punya uang bang...” kata istriku.
“Lalu kenapa
kamu pulang, kamu dipecat...?” tanyaku.
“Aku enggak
dipecat bang, aku sekarang diminta majikanku untuk mencari assisten rumah
tangga karena
rumah majikanku kan besar tidak mungkin aku sendiri yang mengerjakannya...” jawabnya.
Aku melihat
disudut mata istriku ada luka biru seperti habis dipukul.
“Lalu itu luka
apa disudut mata kamu...?” tanyaku.
“Oh ini gak
sengaja kena ujung meja bang, gak papa kok...” jawabnya.
“Aku butuh uang
sekarang!” kataku.
“Tapi aku sedang
tak pegang uang bang, ini ada uang sedikit tapi aku mau gunakan untuk biaya
sekolah Rani yang sudah tiga bulan nunggak...” jawabnya.
Aku marah sekali
ketika aku tahu dia pegang uang dan akan dia gunakan untuk biaya sekolah
anakku. Aku tak peduli dengan dia hingga akhirnya aku rebut uang itu dan aku
pukul istriku sampai terlentang di kasur. Istriku menangis tapi aku tak peduli. Aku
pergi meninggalkan rumah untuk segera menemui teman-temanku.
***
Satu bulan dari
kejadian itu. Tidak ada penyesalan dalam hidupku. Malah aku semakin
menjadi-jadi. Entah setan darimana yang membuatku menjadi sesosok manusia yang
tidak manusiawi. Hari ini adalah akhir bulan. Itu tandanya hari ini istriku akan
mengirimkan uang untukku. Dan aku bisa mabuk-mabukan seperti biasa.
Aku tunggu…tapi
kiriman itu tak datang juga. Timbul rasa marah yang seperti biasa aku rasakan.
Aku mencoba kembali menghubungi
istriku tapi lagi-lagi handphonenya
tidak aktif. Semakin aku marah semakin aku tak bisa kontrol diriku hingga akhirnya anakku
Rani yang menjadi pelampiasan marahku.
***
Hari sudah sore, tapi kiriman itu tak kunjung datang. Aku masih
marah dengan istriku. Aku janji kalau dia ada didepanku sudah aku habisi dia.
Tok tok
tok…bunyi pintu rumah diketok. Jangan-jangan yang
datang istriku lagi seperti tempo hari.
Aku segera buka pintu dengan langkah yang kasar.
“Kamu…” belum
sempat aku lanjutkan perkataanku, karena ternyata aku salah. Yang datang bukan
istriku tapi tiga orang polisi. Laaa…aku tidak mencuri kok atau mungkin karena
mereka tahu aku sering meresahkan masyarakat dengan mabuk-mabukan.
“Selamat sore
Pak...dengan
Pak Ardi...???” tanya salah seorang polisi.
“Iya betul Pak, ada apa ya
Pak...?”
jawabku.
“Ada yang harus
bapak cek dalam peti jenazah itu, apa jenazah itu istri Bapak...?” kata polisi itu.
Seketika aku
masih kaget dengan obrolan Pak polisi. Istriku? Istriku kenapa? Aku coba mendekati peti jenazah
itu. Pelan-pelan aku buka dan…
Pandanganku kabur, semuanya terlihat hitam…
***
Kata tetanggaku
aku sudah 1 jam pingsan. Aku mencoba mengingat peristiwa tadi. Aku melihat
disekeliling banyak sekali orang. Aku melihat ada jenazah istriku yang terbaring kaku didepanku. Ya
Tuhan…apakah itu benar istriku? Tapi kenapa dia bisa meninggal? Badanku masih
lemas…Aku mencoba menatap wajah istriku. Cantik…tapi banyak biru-biru di wajahnya
seperti bekas pukulan. Ada apa dengan istriku???
Setelah
pemakanan istriku. Tetanggaku memberitahuku bahwa majikan istriku adalah
seorang yang ringan tangan. Bertahun-tahun istriku bekerja disebuah rumah yang
penuh dengan pukulan, cacian dan makian. Sementara aku disini enak-enakan
menggunakan uangnya untuk keperluan yang sangat memuakkan.
Bekas biru
disudut matanya waktu itu mungkin hanya bagian kecil yang dia rasakan. Waktu
itu aku malah tambah rasa sakitnya dengan pukulanku. Ya Tuhan…manusia macam apa
aku ini???
Tanah dipusara istriku ini
masih merah. Didalamnya ada sesosok wanita hebat yang aku sudah sia-siakan.
Kiriman itu adalah kiriman terakhir. Bukan kiriman uang malah kiriman jenazah
istriku. Ya Tuhan…apa masih pantas aku bermohon padamu. Aku bermohon
peruntukkan surga itu untuk istriku. Aku janji mulai sekarang aku akan berusaha menjadi Ayah yang terbaik untuk anakku. Aku akan bertobat
dan meninggalkan semua hal buruk itu.
Ya Tuhan…aku
titipkan istriku pada-MU…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar