22 Des 2011

Perhiasan Hati

Keikhlasan…memang suatu harta yang sangat berharga. Bila persoalan dan permasalahan hidup bisa dijalani dengan ikhlas pasti akan terasa lebih ringan walaupun awalnya dirasa sangat berat.

Begitupun dengan hidupku. Satu bulan menjelang hari pernikahanku, hari bahagia menurut impianku. Aku juga berharap hari ini akan menjadi hari bahagia pula untuk pasanganku. Wanita sholehah yang telah aku pilih dan aku yakin aku tak akan salah pilih. Namun ternyata kenyataan tak seindah mimpi.

***

Aku mengenal wanita ini sekitar enam bulan yang lalu. Wanita yang hampir menjadi istriku. Wanita yang selalu memakai jilbab putih. Cantik, anggun dan menarik. Kutemui dia di sekolah tempat mengaji adikku saat aku mengantar adik belajar mengaji. Saat itu hujan deras sekali, aku tidak mungkin pulang dengan sepeda motorku. Kuputuskan untuk menunggu adikku sampai selesai belajar mengaji. Tak lama hanya sekitar dua jam.

Terlihat adikku sudah duduk manis di ruangan tempat belajar mengaji dengan wanita cantik itu sebagai gurunya. Aku baru melihatnya, padahal aku sering mengantar adik ke tempat ini. Tapi baru sekarang ku jumpai wanita itu. Sambil melihat tetesan air hujan yang tak pernah berhenti turun dari tadi, sesekali kulihat wanita itu. Cantik…benar-benar cantik.

Aku masih merenung, benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun, tiba-tiba dari dalam ruangan, wanita itu menghampiri aku. Dia menawarkan majalah untuk aku baca biar aku tidak merasa bosan.

“Mas…ini ada majalah, mungkin bisa menghilangkan kejenuhan, sambil menunggu bisa sambil membaca.” kata wanita itu.

“Oh…terima kasih Bu…” jawabku. Kenapa tiba-tiba hatiku bergetar, hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Terpana aku melihat senyuman manisnya.

“Astagfirullah…” bisikku dalam hati.

Sambil menunggu adikku akhirnya akupun membaca majalah yang diberikan wanita itu, majalah islami, banyak cerita-cerita yang menarik kalau aku lihat. Dan tak terasa waktu belajarpun telah berakhir, seiring dengan redanya hujan sore itu. Aku dan adikpun berpamitan untuk pulang pada guru cantik itu, tak lupa kuucapkan terima kasih atas pinjaman majalahnya.

***

Sejak aku lulus kuliah dan bekerja disalah satu perusahaan swasta, banyak teman-temanku yang mengingatkan aku untuk segera menikah. Ada yang pernah mengenalkan kepada seorang wanita. Namun entah kenapa setiap berkenalan dengan seorang wanita, tak pernah ada getaran seperti ini. Akhirnya perkenalan itu hanya sebatas perkenalan biasa. Berbeda ketika aku melihat guru mengaji itu.

Sesampainya di rumah, aku bertanya kepada adikku tentang guru mengajinya itu.

“De…yang tadi itu guru mengajimu yah? Kok kakak baru lihat” tanyaku.

“Iya…guru baru, baru satu minggu dia mengajar kak…”jawab adikku.

Pantesan aku baru lihat. Bisikku dalam hati.

***

Keesokan harinya, setelah sholat ashar, aku menawarkan diri untuk mengantar adikku belajar mengaji. Berharap aku bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Kuletakkan sepeda motorku diparkiran. Terus aku langkahkan kakiku ke depan kelas tempat adikku belajar. Ku lihat ada wanita itu dan getaran itupun masih ada. Aku berfikir, kalau perasaan ini tak bisa dikendalikan bisa bahaya. Aku putuskan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang wanita itu, kalau jodoh kan gak kemana.

Sudah sekitar satu bulan aku memperhatikan wanita itu. Hanya sapaan-sapaan kecil yang terjadi antara Kami. Namun aku sudah mengantongi lumayan banyak informasi mengenai wanita itu. Pak Rusdi, kepala sekolah mengaji adikku yang kebetulan tetangga dekat rumahku. Beliau banyak memberikan informasi mengenai wanita cantik itu. Mungkin bagiku Pak Rusdi bukan hanya berprofesi sebagai kepala sekolah mengaji adikku tapi juga sebagai “comblang” bagiku. Istilah anak-anak zaman sekarang yang entah apa artinya.

***

Suatu hari pada hari sabtu. Hari libur bagiku. Bagi Pak Rusdi dan buat anak-anak pengajian juga. Sore itu aku bermaksud untuk menemui Pak Rusdi di rumahnya sehabis duhur. Setelah aku sms beliau dan beliau bersedia meluangkan waktu untukku, akupun pergi ke rumah Pak Rusdi yang hanya beberapa meter dari rumahku.

Setelah sampai ditempat Pak Rusdi, aku langsung menyampaikan niatku untuk melamar wanita itu jika wanita itu belum ada ikatan dengan siapapun. Pak Rusdi tampak agak sedikit kaget dengan pernyataanku mengingat aku belum mengenal lama wanita itu. Namun, setelah aku meyakinkan bahwa lebih cepat pernikahan itu dilaksanakan mungkin akan lebih baik, daripada dilama-lama tapi akhirnya tidak jadi. Akhirnya Pak Rusdi pun mengerti dan beliau bermaksud untuk membicarakan masalah ini dengan wanita itu.

***

Seminggu sudah dari pernyataan maksud baikku kepada wanita itu melalui Pak Rusdi. Tapi belum ada kabar berita apapun. Aku tak mencoba untuk menanyakan hal ini ke Pak Rusdi karena beliau berpesan, jika sudah ada kabar beliau akan segera memberitahuku. Jadi aku bersabar saja.

Siang itu aku masih di kantor dengan setumpuk pekerjaan, dengan setumpuk penasaran juga, tapi aku mencoba untuk tidak mencampurkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Tiba-tiba ada bunyi sms, dari Pak Rusdi, beliau mengabarkan bahwa ada berita untuk aku mengenai wanita cantik itu. Kaget, bingung, sekaligus senang menyelimuti perasaanku saat itu. Aku berniat sehabis pulang kerja aku langsung menemui beliau.

Jam kantor menunjukan pukul 17.00, aku buru-buru pulang. Setelah ku kabarkan Ibu di rumah bahwa aku akan pulang telat, aku langsung meluncur menggunakan sepeda motorku ke rumah Pak Rusdi. Ku lihat Pak Rusdi sudah menungguku di ruang tamu. Setelah ku ucapkan salam, Pak Rusdi mempersilakan aku masuk dan obrolanpun dimulai.

Pak Rusdi mengabarkan bahwa wanita itu bersedia dilamar, namun dia meminta tidak dalam waktu dekat, dia minta waktu sekitar dua bulan lagi. Mengingat dia harus mengabarkan hal ini kepada Ayahnya. Sementara saat ini Ayahnya sedang sakit dan masih dalam masa pemulihan. Ibu wanita itu sudah lama pergi sejak dia berusia 10 tahun.

Senang bukan kepalang, akhirnya ku temukan wanita sholehah impianku. Walaupun harus menunggu dua bulan lagi, tapi tak apalah, yang penting dia sudah bersedia menjadi istriku. Kabar baik inipun aku sampaikan kepada kedua orangtuaku di rumah. Mereka sangat bahagia dan memintaku untuk mengenalkan calon istriku kepada mereka.

Keesokkan harinya, aku menemui wanita itu di tempat belajar adikku. Dengan sedikit gugup, aku mencoba untuk menyapanya dan berbicara tentang rencana lamaran. Dia pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Pak Rusdi. Akupun meminta dia untuk bersedia ku kenalkan dengan orangtuaku. Dan wanita itu menyetujuinya.

***

Hari ini…hari bahagia yang aku rasakan. Untuk pertama kalinya aku mengenalkan seorang wanita kepada kedua orangtuaku, wanita yang akan menjadi istriku, Insya Allah aku tak akan salah pilih. Dan ternyata orangtuaku pun merasakan hal yang sama. Mereka sangat senang dengan calonku itu.

Tak terasa waktu dua bulanpun tiba. Setelah dipersiapkan sedemikian rupa, aku dan kedua orangtua bermaksud untuk melamar wanita itu. Wanita yang akan menjadi pendampingku seumur hidupku, fikirku. Lamaran pun berlangsung lancar dan tanggal pernikahan sudah ditentukan, dua bulan setelah lamaran. Setelah semua sepakat aku dan keluargapun pulang.

Waktu dua bulan cukup untuk mempersiapkan sesuatu. Pernikahan yang sederhana saja mengingat aku dan calon istriku bukan dari keluarga yang berada. Waktu dua bulan bagiku adalah waktu untuk memantapkan hatiku dan aku merasakan semakin mantap untuk memilih dia sebagai istriku. Namun ternyata tidak menurut calon istriku, waktu dua bulan adalah waktu untuk memilih siapa yang pantas menjadikan dia sebagai istrinya. Ya…ada laki-laki lain ternyata dalam fikirannya, laki-laki dimasa lalu. Laki-laki yang pernah menyakitinya dan menikah dengan wanita lain, sekarang laki-laki itu datang menawarkan diri untuk menjemputnya ke gerbang pernikahan setelah laki-laki itu bercerai dengan istrinya. Dan semua kata-kata itu keluar dari mulut indahnya. Hampir tak percaya tapi aku mencoba untuk pasrah. Aku hanya berkata, lamaran bukan suatu hal yang bisa membawa kita ke gerbang pernikahan, fikirkanlah lagi”.

Kecewa, marah, kesal bercampur menjadi satu dalam hatiku. Kenapa baru sekarang dia mengatakan itu setelah semua sudah siap. Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk aku tahu hal itu. Namun aku masih berharap, dia akan menjadi istriku dan melupakan laki-laki yang pernah menyakitinya itu.

Sebulan menjelang pernikahan kami, semua sudah siap, semua sudah tertata rapi, sanak saudara sudah diberi kabar, hanya teman-teman yang belum aku beri undangan, mereka hanya menerka-nerka saja. Tiga puluh hari lagi, belum ada keputusan yang berarti, orangtuaku tidak mengetahui hal itu, karena aku fikir semua bisa terjadi di waktu satu bulan ini.

***

Hari itu…hari terburuk dalam hidupku. Genap sebulan lagi kita melangkah ke pernikahan, dia memutuskan hubungan denganku dan berniat menikah dengan laki-laki dimasa lalunya. Entah apa yang kurasa saat itu. Jika masih ada kata yang bisa menggambarkan melebihi rasa kecewa. Ya itulah sebuah kata yang aku rasakan saat itu. Namun, apa yang bisa aku lakukan, dia mempunyai kehidupan yang harus dia kejar, mimpinya bukan denganku. Pernikahanpun gagal dilaksanakan, kekecewaan bukan hanya dirasakan oleh aku. Tapi juga orangtuaku, sanak saudara, semua orang yang mengharapkan pernikahan itu terjadi.


Sampai detik ini, aku belum menemukan wanita yang aku cari. Bukan karena trauma kegagalan dimasa lalu, tapi mungkin karena Allah SWT belum menggetarkan seisi hatiku untuk seorang wanita. Aku berharap suatu saat nanti Allah SWT menurunkan sesosok  wanita sholehah untuk menjadi jodohku, wanita yang akan menjadi perhiasan hati dalam hidupku selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar