Keikhlasan…memang
suatu harta yang sangat berharga. Bila
persoalan dan permasalahan hidup bisa dijalani dengan
ikhlas pasti
akan terasa lebih ringan walaupun awalnya dirasa sangat berat.
Begitupun dengan
hidupku. Satu bulan menjelang hari pernikahanku, hari bahagia menurut impianku. Aku juga berharap hari ini akan
menjadi hari bahagia pula untuk pasanganku. Wanita
sholehah yang telah aku pilih dan aku yakin aku tak
akan salah pilih. Namun ternyata kenyataan tak seindah mimpi.
***
Aku mengenal
wanita ini sekitar enam bulan yang lalu. Wanita yang hampir menjadi istriku. Wanita
yang selalu memakai jilbab putih. Cantik, anggun dan menarik. Kutemui dia di
sekolah tempat mengaji adikku saat aku mengantar adik belajar mengaji. Saat itu
hujan deras sekali, aku tidak mungkin pulang dengan sepeda motorku. Kuputuskan
untuk menunggu adikku sampai selesai belajar mengaji. Tak lama hanya sekitar
dua jam.
Terlihat adikku
sudah duduk manis di ruangan tempat belajar mengaji dengan wanita cantik itu sebagai gurunya.
Aku baru melihatnya, padahal aku sering mengantar adik ke tempat ini. Tapi baru
sekarang ku jumpai wanita itu. Sambil melihat tetesan air hujan yang tak pernah
berhenti turun dari tadi, sesekali kulihat wanita itu. Cantik…benar-benar
cantik.
Aku masih
merenung, benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun,
tiba-tiba dari dalam ruangan, wanita itu menghampiri aku. Dia menawarkan majalah untuk aku baca
biar aku tidak merasa bosan.
“Mas…ini ada
majalah, mungkin bisa menghilangkan kejenuhan, sambil menunggu bisa sambil
membaca.” kata wanita itu.
“Oh…terima kasih
Bu…” jawabku.
Kenapa tiba-tiba hatiku bergetar, hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Terpana aku melihat senyuman manisnya.
“Astagfirullah…” bisikku dalam
hati.
Sambil menunggu
adikku akhirnya akupun membaca majalah yang diberikan wanita itu, majalah
islami, banyak cerita-cerita yang menarik kalau aku lihat. Dan tak terasa waktu belajarpun telah
berakhir, seiring dengan redanya hujan sore itu. Aku dan adikpun berpamitan
untuk pulang pada guru cantik itu, tak lupa kuucapkan terima kasih atas
pinjaman majalahnya.
***
Sejak aku lulus kuliah dan bekerja disalah satu
perusahaan swasta, banyak teman-temanku yang mengingatkan aku untuk segera menikah.
Ada yang pernah mengenalkan kepada seorang wanita. Namun entah kenapa setiap
berkenalan dengan seorang wanita, tak pernah ada getaran seperti ini. Akhirnya perkenalan itu hanya
sebatas perkenalan biasa. Berbeda ketika aku melihat guru mengaji itu.
Sesampainya di rumah, aku
bertanya kepada adikku tentang guru mengajinya itu.
“De…yang tadi
itu guru mengajimu yah? Kok kakak baru lihat” tanyaku.
“Iya…guru baru,
baru satu minggu dia mengajar kak…”jawab adikku.
Pantesan aku
baru lihat. Bisikku dalam hati.
***
Keesokan
harinya, setelah sholat ashar, aku menawarkan diri untuk mengantar adikku
belajar mengaji. Berharap aku bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Kuletakkan sepeda motorku
diparkiran. Terus aku langkahkan kakiku ke depan kelas tempat adikku belajar.
Ku lihat ada wanita itu dan getaran itupun masih ada. Aku berfikir, kalau perasaan ini tak bisa dikendalikan bisa bahaya. Aku putuskan
untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang wanita itu, kalau jodoh kan
gak kemana.
Sudah sekitar
satu bulan aku memperhatikan wanita itu. Hanya sapaan-sapaan kecil yang terjadi
antara Kami.
Namun aku sudah mengantongi lumayan banyak informasi mengenai wanita itu. Pak
Rusdi, kepala sekolah mengaji adikku yang kebetulan tetangga dekat rumahku.
Beliau banyak memberikan informasi mengenai wanita cantik itu. Mungkin bagiku
Pak Rusdi bukan hanya berprofesi sebagai kepala sekolah mengaji adikku tapi
juga sebagai “comblang” bagiku. Istilah anak-anak zaman sekarang yang entah apa
artinya.
***
Suatu hari pada hari sabtu. Hari
libur bagiku.
Bagi Pak
Rusdi dan buat anak-anak pengajian juga. Sore itu aku bermaksud untuk menemui
Pak Rusdi di rumahnya sehabis duhur. Setelah aku sms beliau dan beliau bersedia
meluangkan waktu untukku, akupun pergi ke rumah Pak Rusdi yang hanya beberapa
meter dari rumahku.
Setelah sampai
ditempat Pak Rusdi, aku langsung menyampaikan niatku untuk melamar wanita itu
jika wanita itu belum ada ikatan dengan siapapun. Pak Rusdi tampak agak sedikit
kaget dengan pernyataanku mengingat aku belum mengenal lama wanita itu. Namun,
setelah aku meyakinkan bahwa lebih cepat pernikahan itu dilaksanakan mungkin
akan lebih baik, daripada dilama-lama tapi akhirnya tidak jadi. Akhirnya Pak
Rusdi pun mengerti dan beliau bermaksud untuk membicarakan masalah ini dengan
wanita itu.
***
Seminggu sudah
dari pernyataan maksud baikku kepada wanita itu melalui Pak Rusdi. Tapi belum ada kabar
berita apapun. Aku tak mencoba untuk menanyakan hal ini ke Pak Rusdi karena beliau berpesan,
jika sudah ada kabar beliau akan segera memberitahuku. Jadi aku bersabar saja.
Siang itu aku masih di kantor dengan setumpuk
pekerjaan, dengan setumpuk penasaran juga, tapi aku mencoba untuk tidak
mencampurkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Tiba-tiba ada bunyi sms,
dari Pak Rusdi, beliau mengabarkan bahwa ada berita untuk aku mengenai wanita
cantik itu. Kaget, bingung, sekaligus senang menyelimuti perasaanku saat itu.
Aku berniat sehabis pulang kerja aku langsung menemui beliau.
Jam kantor
menunjukan pukul 17.00, aku buru-buru pulang. Setelah ku kabarkan Ibu di rumah bahwa
aku akan pulang telat, aku langsung meluncur menggunakan sepeda motorku ke
rumah Pak Rusdi. Ku lihat Pak Rusdi sudah menungguku di ruang tamu. Setelah ku
ucapkan salam, Pak Rusdi mempersilakan aku masuk dan obrolanpun dimulai.
Pak Rusdi
mengabarkan bahwa wanita itu bersedia dilamar, namun dia meminta tidak dalam
waktu dekat, dia minta waktu sekitar dua bulan lagi. Mengingat dia harus
mengabarkan hal ini kepada Ayahnya. Sementara saat ini Ayahnya sedang sakit dan
masih dalam masa pemulihan. Ibu wanita itu sudah lama pergi sejak dia berusia
10 tahun.
Senang bukan
kepalang, akhirnya ku temukan wanita sholehah impianku. Walaupun harus menunggu
dua bulan lagi, tapi tak apalah, yang penting dia sudah bersedia menjadi
istriku. Kabar baik inipun aku sampaikan kepada kedua orangtuaku di rumah.
Mereka sangat bahagia dan memintaku untuk mengenalkan calon istriku kepada
mereka.
Keesokkan
harinya, aku menemui wanita itu di tempat belajar adikku. Dengan sedikit gugup,
aku mencoba untuk menyapanya dan berbicara tentang rencana lamaran. Dia pun
mengatakan seperti apa yang dikatakan Pak Rusdi. Akupun meminta dia untuk
bersedia ku kenalkan dengan orangtuaku. Dan wanita itu menyetujuinya.
***
Hari ini…hari
bahagia yang aku rasakan. Untuk pertama kalinya aku mengenalkan seorang wanita
kepada kedua orangtuaku, wanita yang akan menjadi istriku, Insya Allah aku tak
akan salah pilih. Dan ternyata orangtuaku pun merasakan hal yang sama. Mereka
sangat senang dengan calonku itu.
Tak terasa waktu
dua bulanpun tiba. Setelah dipersiapkan sedemikian rupa, aku dan kedua orangtua
bermaksud untuk melamar wanita itu. Wanita yang akan menjadi pendampingku
seumur hidupku, fikirku. Lamaran pun berlangsung lancar dan tanggal pernikahan
sudah ditentukan, dua bulan setelah lamaran. Setelah semua sepakat aku dan
keluargapun pulang.
Waktu dua bulan
cukup untuk mempersiapkan sesuatu.
Pernikahan yang
sederhana saja mengingat aku dan calon istriku bukan dari keluarga yang berada.
Waktu dua bulan bagiku adalah waktu untuk memantapkan hatiku dan aku merasakan semakin
mantap untuk memilih dia sebagai istriku. Namun ternyata tidak menurut calon istriku, waktu dua
bulan adalah waktu untuk memilih siapa yang pantas menjadikan dia sebagai istrinya. Ya…ada
laki-laki lain ternyata dalam fikirannya, laki-laki dimasa lalu. Laki-laki yang
pernah menyakitinya dan menikah dengan wanita lain, sekarang laki-laki itu
datang menawarkan diri untuk menjemputnya ke gerbang pernikahan setelah
laki-laki itu bercerai dengan istrinya. Dan semua kata-kata itu keluar dari
mulut indahnya. Hampir tak percaya tapi aku mencoba untuk pasrah. Aku hanya
berkata, lamaran bukan suatu hal yang bisa membawa kita ke gerbang pernikahan,
fikirkanlah lagi”.
Kecewa, marah,
kesal bercampur menjadi satu dalam hatiku. Kenapa baru sekarang dia mengatakan
itu setelah semua sudah siap. Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk aku tahu hal
itu. Namun aku masih berharap, dia akan menjadi istriku dan melupakan laki-laki
yang pernah menyakitinya itu.
Sebulan
menjelang pernikahan kami, semua sudah siap, semua sudah tertata rapi, sanak
saudara sudah diberi kabar, hanya teman-teman yang belum aku beri undangan,
mereka hanya menerka-nerka saja. Tiga puluh hari lagi, belum ada keputusan yang
berarti, orangtuaku tidak mengetahui hal itu, karena aku fikir semua bisa
terjadi di waktu satu bulan ini.
***
Hari itu…hari
terburuk dalam hidupku. Genap sebulan lagi kita melangkah ke pernikahan, dia
memutuskan hubungan denganku dan berniat menikah dengan laki-laki dimasa
lalunya. Entah apa yang kurasa saat itu. Jika masih ada kata yang bisa
menggambarkan melebihi rasa kecewa. Ya itulah sebuah kata yang aku rasakan saat
itu. Namun, apa yang bisa aku lakukan, dia mempunyai kehidupan yang harus dia
kejar, mimpinya bukan denganku. Pernikahanpun gagal dilaksanakan, kekecewaan
bukan hanya dirasakan oleh aku. Tapi juga orangtuaku, sanak saudara, semua
orang yang mengharapkan pernikahan itu terjadi.
Sampai detik
ini, aku belum menemukan wanita yang aku cari. Bukan karena trauma kegagalan dimasa
lalu, tapi mungkin karena Allah SWT belum menggetarkan seisi hatiku untuk seorang wanita. Aku
berharap suatu saat nanti Allah SWT menurunkan sesosok wanita sholehah untuk menjadi jodohku, wanita yang
akan menjadi perhiasan hati dalam hidupku selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar