Seorang Kakak beradik yang tinggal di suatu
desa terpencil sedang asyik ngobrol. Sang Kakak yang sangat menyayangi Adiknya selalu dengan sabar
menanggapi dan menjawab semua pertanyaan Adiknya yang masih berusia sekitar enam tahun. Kepolosan
masih tersirat diraut muka Adiknya. Sesekali Kakaknya
tersenyum setiap Adiknya
memberikan pertanyaan.
Ada satu pertanyaan Adiknya yang mengganjal di hati,
ketika sang Adik
bertanya kenapa mereka hidup susah. Makan seadanya, tidurpun harus berbagi
tempat, sekolahpun mengandalkan uluran orang-orang dermawan. Tersentak sang Kakak mendengar pertanyaan itu,
sangat mustahil sebenarnya pertanyaan itu keluar dari mulut anak yang masih
berusia enam tahun.
Seketika
itu sang Kakak
mengajak Adiknya pergi
ke suatu tempat. Awalnya sang Adik merasa keheranan. Masa untuk menjawab pertanyaan begitu saja, sang Kakak tak bisa menjawab, malah
mengajaknya pergi. Namun, akhirnya sang Adik menuruti Kakaknya untuk pergi ke suatu tempat.
***
Tempat pertama, mereka menyusuri daerah yang
kumuh, becek dan berbau tidak sedap. Pasti tempat ini banyak sekali kuman penyakit. Untuk melangkahpun sangat
sulit karena tanah disana penuh dengan lumpur.
Dengan wajah lugunya sang Adik bertanya, “Kak...memang gak ada jalan lain yah? Kenapa harus lewat ke tempat seperti ini?” tanya Adiknya.
“Ikutin saja, nanti juga kamu pasti tahu kenapa kita harus melewati tempat
ini...” jawab sang Kakak.
***
Tempat kedua, mereka melewati terowongan yang gelap.
Untuk melewati itu, sang Adik harus memegang tangan Kakaknya karena memang mereka tak bisa melihat apa-apa. Ketakutan
terpancar di wajah Adiknya.
Namun sang Kakak tetap
menenangkannya.
“Sabar yah dik, nanti juga kita bisa melewati terowongan gelap
ini...” jelas Kakaknya. Sang Adik hanya tersenyum dan tak menjawab.
***
Tempat ketiga, mereka harus berjalan menaiki
bukit yang cukup curam. Karena sudah kelelahan, Adiknya sedikit merajuk minta minum. Namun
mereka tak membawa perbekalan apapun. Sang Kakak hanya menenangkanAdiknya dengan sebuah perkataan, “Sabar ya Dik...”. Adiknya sempat bingung, tempat apa yang akan ditunjukan Kakaknya sampa dia harus melewati
berbagai tempat yang sangat tidak dia sukai.
***
Tempat keempat, dia melewati sebuah hutan
kecil, memang tak ada hewan buas disana, namun hutan itu cukup menakutkan untuk
seorang anak kecil. Banyak hewan-hewan liar yang berkeliaran disana seperti
anjing hutan.
Adiknya kembali bertanya, “Kak, kenapa harus melewati tempat
seperti ini lagi? Tempat apa yang akan kakak tunjukkan padaku?”.
Sang Kakak hanya tersenyum sambil mengelus kepala
sang Adik.
***
Sang Adik hampir putus asa karena perjalanan yang cukup melelahkan. Dia sempat
sedikit marah pada Kakaknya.
Namun apa yang ada didepan matanya. Kakaknya mengajaknya kesebuah danau yang
sangat indah. Airnya jernih. Disekitar danau terlihat bunga-bunga indah sedang
mekar. Suara gemericik air sangat menyejukan hati. Kicauan burung menambah
hangat suasana. Pohon-pohon rindang membuat teduh tempat itu. Danau yang
benar-benar indah dan menakjubkan.
Sang kakak berkata, “Inilah dik, jawaban dari pertanyaanmu...” jelas Kakaknya. Sang adik sempat keheranan dengan apa yang
dikatakan Kakaknya. Lalu Kakaknya menjelaskan, “Kenapa kita hidup susah, makan
seadanya, tidurpun harus berbagi
dan banyak kepedihan lainnya. Semua seperti perjalanan kita tadi. Melewati
tempat yang kotor, terowongan yang gelap, bukit yang curam, bahkan hutan kecil
yang membuatmu sesekali
memegang erat tangan Kakak.
Semua perjalanan yang tidak menyenangkan itu akan membawa kita ke danau yang
indah ini. Begitupun hidup, kehidupan pahit yang kita alami adalah jalan Tuhan yang akan membawa kita pada sebuah
kebahagiaan nantinya. Kita wajib pasrah, sabar dan berusaha atas semuanya dan
kita harus yakin semua akan indah pada saatnya nanti”.
Sang adik tampak puas dengan jawaban Kakaknya. Sambil menatap Kakaknya, sang Adik
berkata, “Terima kasih Kak...”.
nice post!
BalasHapusterima kasih....:)
BalasHapusThank you very much for nice post.
BalasHapus