23 Des 2011

Kebahagiaanku Disini

Kuhentikan sejenak laju mobil yang sedang aku kendarai pagi ini. Aku melihat tetanggaku yang rumahnya terhalang sekitar empat atau lima rumah dari tempat tinggalku terlihat sedang sibuk membujuk anak semata wayangnya yang kira-kira masih berumur lima tahun. Aku hanya menerka-nerka mungkin sang anak tak mau ditinggalkan oleh Ibunya yang notabene adalah seorang wanita karir begitupun Ayahnya yang bekerja full time. Sang anak hanya ditemani seorang pembantu.

Kulajukan kembali mobil yang akan membawaku ke pasar swalayan. Rutinitas yang selalu aku lakukan setiap dua atau tiga hari sekali sejak aku resmi menjadi ibu rumah tangga di kota ini. Pikiranku melayang mengingat kehidupanku beberapa tahun yang lalu.

Tak berbeda dengan sang Ibu tadi. Ketika aku harus bekerja dari pagi sampai sore bahkan jika pekerjaanku menuntutku untuk segera menyelesaikannya, aku harus bekerja sampai larut malam. Begitulah kehidupanku dulu.

Sebelum aku menikah dengan suami yang memberiku satu putri cantik yang kini berusia enam tahun, aku bekerja sebagai karyawan swasta di kota Malang. Kota kelahiranku, kota tercinta karena semua keluargaku tinggal disana.

Aku bertemu dengan suamiku ketika aku sedang menghadiri acara seminar dan suamiku adalah pembicaranya. Kita berkenalan, dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah melarangku untuk bekerja setelah Kami menikah. Hanya beliau berpesan agar aku bisa membagi waktu antara pekerjaanku dengan tanggungjawabku sebagai istri.

***

Tak banyak perubahan dalam hidupku setelah aku menikah. Karena memang suamiku juga bekerja full time sama sepertiku. Jarak kantor kita cukup jauh namun satu arah untuk menuju pulang. Jadi kalau pulang bekerja suamiku kadang menjemputku dan kita pulang bersama.

Suamiku sangat pengertian, dengan waktu yang sangat sedikit terkadang aku lupa dan bahkan aku tak punya waktu banyak untuk memanjakannya seperti halnya istri-istri yang lain. Memasak, mencuci pakaian, mengurus rumah atau pekerjaan lainnya yang seharusnya dilakukan ibu rumah tangga. Terkadang aku hanya bisa menyiapkan nasi goreng untuk sarapan. Dan selebihnya aku mengandalkan juru masak warteg atau masakan padang. Pernah tersirat perasaan berdosa dalam hati, karena aku tahu tugas istri adalah melayani suami.

Aku masih ingat betul waktu itu. Seperti biasa pagi-pagi sekali Kami berangkat bersama. Suamiku mengantarkan aku ke kantor dan beliau langsung menuju ke tempat kerjanya. Aku melanjutkan pekerjaan yang masih tersisa kemarin. Memang pekerjaan itu harus beres siang ini. Namun karena kondisi badanku sedang tidak fit akhirnya pekerjaan itu meleset dari target yang sudah ditentukan dan akibatnya aku kena marah bosku. Suasana tidak enak itu pasti akan terbawa sampai ke rumah dan kejadian itu sering terjadi.

***

Enam bulan pernikahanku, Alhamdulillah aku dipercaya akan menjadi seorang Ibu. Tentu kondisi fisikpun harus benar-benar dijaga. Perempuan hamil yang seharusnya tinggal di rumah, menunggu suaminya pulang, tapi ini tidak aku lakukan, aku masih lalu lalang di kantor untuk mengerjakan tugas. Bukan suamiku yang menyuruhku tapi karena ego yang ada dalam diri yang aku sendiri tak pernah tahu kenapa aku masih bertahan dengan keinginanku saat itu. Aku masih berfikir, wanita saat ini bukan hanya bisa mengandalkan uang suami tapi harus tetap berkarya. Mungkin prinsip itu yang masih bersarang di hatiku.

Waktu berlalu, akupun melahirkan seorang putri cantik. Tentu kondisi hidupku banyak mengalami perubahan. Sekarang yang harus aku urus bukan hanya suami tapi juga anakku. Ketika umur anakku masih berusia satu tahun, aku masih berprinsip seperti dulu. Bekerja dan terus bekerja. Anakku aku titipkan pada Ibuku yang tak jauh dari tempat tinggalku.

Ketika umur anakku menginjak empat tahun, semakin sulit aku membagi waktu. Anakku sering merengek ketika aku akan berangkat kerja. Terkadang aku tidak tega, tapi entah kenapa berat rasanya meninggalkan pekerjaanku.

Seperti malam itu, ketika putri kecilku sedang tertidur lelap, aku diajak ngobrol serius sama suamiku. Beliau tidak memaksaku untuk berhenti bekerja jika dirasa aku masih memegang prinsip itu. Namun suamiku memberikan masukkan untuk kebaikan rumah tangga kita.

Masih terngiang perkataan suamiku malam itu ketika dia berkata…”pendidikan pertama seorang anak adalah di rumah dan seorang Ibu adalah gurunya…” begitu kata suamiku.

Perkataan sederhana tapi membuatku tersadar akan ego yang selama ini bersarang dibenakku. Prinsip hidup yang aku sendiri tak pernah tahu apa dasar dan landasannya. Akupun akhirnya berfikir dan terus  berfikir. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga.

***

Aku harus melupakan arsip-arsip kantor dan menggantinya dengan memandikan anakku dan mengantarkannya ke sekolah. Aku harus melupakan meeting-meeting dengan client dan menggantikannya dengan memasak, mencuci pakaian, merapikan rumah dan menyambut hangat suamiku ketika pulang kerja.  Setelah aku menjadi    ibu rumah tangga, aku tak lagi menggunakan jasa seorang pembantu. Ternyata aku lebih bahagia menjadi ibu rumah tangga. Melihat perkembangan anakku, yang aku harap menjadi seseorang yang berguna buat orang lain nantinya.

Lalu kemana ego dan prinsip ku dulu??? Semua telah hilang, karena aku merasa, profesi seorang ibu rumah tangga jauh lebih berharga dari sebuah karya.

Tak terasa lamunanku membuyarkanku ketika laju mobil sudah berada didepan swalayan. Akupun membeli segala keperluan rumah tangga dan setelah selesai aku langsung pulang. Tak lupa aku jemput dulu anakku di sekolahnya yang hanya setengah hari saja.


Kulihat senyum manis anakku, ketika melihat aku menjemputnya. Kebahagiaan yang tiada tara. Kebahagaianku disini. Bersama suami dan anakku, bukan dengan prinsip-prinsipku dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar