Kuhentikan
sejenak laju mobil yang sedang aku kendarai pagi ini. Aku melihat tetanggaku
yang rumahnya
terhalang sekitar empat atau lima rumah dari tempat tinggalku terlihat sedang
sibuk membujuk anak semata wayangnya yang kira-kira masih berumur lima tahun. Aku hanya menerka-nerka mungkin sang anak
tak mau ditinggalkan oleh Ibunya yang notabene adalah seorang wanita karir begitupun Ayahnya yang bekerja full
time. Sang anak hanya ditemani seorang pembantu.
Kulajukan
kembali mobil yang akan membawaku ke pasar swalayan. Rutinitas yang selalu aku
lakukan setiap dua atau tiga hari sekali sejak aku resmi menjadi ibu rumah
tangga di kota ini. Pikiranku melayang mengingat kehidupanku beberapa tahun
yang lalu.
Tak berbeda
dengan sang Ibu
tadi. Ketika aku harus bekerja dari pagi sampai sore bahkan jika pekerjaanku
menuntutku untuk segera menyelesaikannya, aku harus bekerja sampai larut malam.
Begitulah kehidupanku dulu.
Sebelum aku
menikah dengan suami yang memberiku satu putri cantik yang kini berusia enam
tahun, aku bekerja sebagai karyawan swasta di kota Malang. Kota
kelahiranku, kota tercinta karena semua keluargaku tinggal disana.
Aku bertemu
dengan suamiku ketika aku sedang menghadiri acara seminar dan suamiku adalah
pembicaranya. Kita berkenalan, dekat dan akhirnya menikah. Suamiku tak pernah
melarangku untuk bekerja setelah Kami menikah. Hanya beliau berpesan agar aku bisa membagi waktu
antara pekerjaanku dengan tanggungjawabku sebagai istri.
***
Tak banyak
perubahan dalam hidupku setelah aku menikah. Karena memang suamiku juga bekerja
full time sama sepertiku. Jarak kantor kita cukup jauh namun satu arah untuk
menuju pulang.
Jadi kalau pulang bekerja suamiku kadang menjemputku dan kita pulang bersama.
Suamiku sangat
pengertian, dengan waktu yang sangat sedikit terkadang aku lupa dan bahkan aku
tak punya waktu banyak untuk memanjakannya seperti halnya istri-istri yang lain. Memasak,
mencuci pakaian, mengurus rumah atau pekerjaan lainnya yang seharusnya
dilakukan ibu rumah tangga. Terkadang aku hanya bisa menyiapkan nasi goreng
untuk sarapan. Dan selebihnya aku mengandalkan juru masak warteg atau masakan
padang. Pernah tersirat perasaan berdosa dalam hati, karena aku tahu tugas
istri adalah melayani suami.
Aku masih ingat betul waktu itu. Seperti biasa
pagi-pagi sekali Kami berangkat bersama. Suamiku mengantarkan aku ke kantor dan beliau
langsung menuju ke tempat kerjanya. Aku melanjutkan pekerjaan yang masih tersisa
kemarin. Memang pekerjaan itu harus beres siang ini. Namun karena kondisi
badanku sedang tidak fit akhirnya pekerjaan itu meleset dari target yang sudah
ditentukan dan akibatnya aku kena marah bosku. Suasana tidak enak itu pasti
akan terbawa sampai ke rumah dan kejadian itu sering terjadi.
***
Enam bulan
pernikahanku, Alhamdulillah aku dipercaya akan menjadi seorang Ibu. Tentu
kondisi fisikpun harus benar-benar dijaga. Perempuan hamil yang seharusnya tinggal di rumah,
menunggu suaminya pulang, tapi ini
tidak aku lakukan, aku masih lalu lalang di kantor untuk mengerjakan tugas. Bukan suamiku yang
menyuruhku
tapi karena ego yang ada dalam diri yang aku sendiri tak pernah tahu kenapa aku masih bertahan dengan keinginanku saat itu. Aku
masih berfikir, wanita saat ini bukan hanya bisa mengandalkan uang suami tapi
harus tetap berkarya. Mungkin prinsip itu yang masih bersarang di hatiku.
Waktu berlalu, akupun melahirkan
seorang putri cantik. Tentu kondisi hidupku banyak mengalami perubahan. Sekarang yang harus aku urus bukan hanya suami tapi juga anakku. Ketika umur
anakku masih berusia satu tahun, aku masih berprinsip seperti dulu. Bekerja dan
terus bekerja. Anakku aku titipkan pada
Ibuku yang tak jauh
dari tempat tinggalku.
Ketika umur
anakku menginjak empat tahun, semakin sulit aku membagi waktu. Anakku sering
merengek ketika aku akan berangkat kerja. Terkadang aku tidak tega, tapi entah
kenapa berat rasanya meninggalkan pekerjaanku.
Seperti malam
itu, ketika
putri kecilku sedang tertidur lelap, aku diajak ngobrol serius sama suamiku.
Beliau tidak memaksaku untuk berhenti bekerja jika dirasa aku masih memegang
prinsip itu. Namun suamiku memberikan masukkan untuk kebaikan rumah tangga
kita.
Masih terngiang
perkataan suamiku malam itu ketika dia berkata…”pendidikan pertama seorang anak
adalah di rumah dan seorang Ibu adalah gurunya…” begitu
kata suamiku.
Perkataan
sederhana tapi membuatku tersadar akan ego yang selama ini bersarang dibenakku. Prinsip hidup yang aku
sendiri tak pernah tahu apa dasar dan landasannya. Akupun akhirnya berfikir
dan terus berfikir. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja
dan fokus menjadi ibu rumah tangga.
***
Aku harus
melupakan arsip-arsip kantor dan menggantinya dengan memandikan anakku dan mengantarkannya ke
sekolah. Aku harus melupakan meeting-meeting dengan client dan
menggantikannya dengan memasak, mencuci pakaian, merapikan rumah dan menyambut
hangat suamiku ketika pulang kerja. Setelah
aku menjadi ibu rumah tangga, aku tak lagi menggunakan
jasa seorang pembantu. Ternyata aku lebih bahagia menjadi ibu rumah tangga.
Melihat perkembangan anakku, yang aku harap menjadi seseorang yang berguna buat
orang lain nantinya.
Lalu kemana ego dan prinsip ku dulu??? Semua telah hilang, karena aku merasa,
profesi seorang ibu rumah tangga jauh lebih berharga dari sebuah karya.
Tak terasa
lamunanku membuyarkanku ketika laju mobil sudah berada didepan swalayan. Akupun membeli segala
keperluan rumah tangga dan setelah selesai aku langsung pulang. Tak lupa aku jemput dulu
anakku di sekolahnya yang hanya setengah hari saja.
Kulihat senyum manis
anakku, ketika melihat aku menjemputnya. Kebahagiaan yang tiada tara. Kebahagaianku
disini. Bersama suami dan anakku, bukan dengan prinsip-prinsipku dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar