25 Feb 2012

Seperti Buah Manggis


Kejujuran adalah harga yang sangat mahal bahkan mungkin tak bisa diukur oleh apapun. Tidak setiap orang mampu berkata jujur. Jujur kepada diri sendiri pun terkadang sangat sulit apalagi berkata jujur pada orang lain.

Terkisah ada sebuah keluarga baru.  Mereka baru menikah sekitar dua tahun lalu. Karier istrinya lebih maju pesat dibanding suaminya hingga mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial diantara mereka yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Janji seorang istri yang akan menerima sang suami apa adanya pergi entah kemana, semua seolah hilang ditelan waktu. Sang istri berselingkuh dengan atasannya yang dia anggap mempunyai kelebihan apapun dibanding suaminya. Sementara suaminya masih dengan kesetiaannya ingin mengarungi bahtera rumah tangga.


Waktu berjalan, sang istri pun mendapat teguran dari Yang Maha Kuasa, dia terkena penyakit kelamin. Kondisinya dari hari ke hari mengalami penurunan. Atasan sekaligus teman perselingkuhannya sudah tak mau menghiraukannya lagi. Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya diapun berhenti bekerja.

Sang istri berniat untuk berkata jujur tentang perselingkuhannya kepada sang suami. Setelah berfikir keras, akhirnya dia berkata bahwa selama ini dia sudah mengkhianati suaminya.

Suaminya sempat marah, namun karena cintanya yang begitu besar kepada sang istri, akhirnya beliau memaafkan sang istri dan berniat untuk melupakan semuanya.

Kejujuran seorang istri tersebut  membuka mata hati suami untuk memaafkannya.

Kisah lain...Ada sepasang anak manusia yang sedang menantikan indahnya pernikahan. Setelah dilamar, sang gadis merasa bahwa dia adalah gadis yang paling bahagia di dunia. Dia mendapatkan seorang calon suami yang nyaris sempurna. Secara fisik, sang calon suami adalah seorang yang berwajah ganteng, bahkan karirnya pun sukses. Selain itu, dia juga berasal dari keluarga yang terhormat. Namun, ada yang mengganjal di hati sang gadis. Sudah beberapa bulan yang lalu sang gadis divonis menderita penyakit kanker Rahim yang menyebabkan dia tak bisa mempunyai anak. Sampai waktu dia dilamarpun, dia tak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Dia takut calon suaminya mundur dari pernikahannya.

Bulan berganti, tak terasa waktu pernikahan yang sudah ditetapkanpun semakin dekat. Dua bulan lagi mereka akan menikah. Rasa bahagia semakin menyelimuti mereka, namun ada perasaan bersalah di hati sang gadis dengan penyakit yang sedang dia derita dan dampak kedepan dari penyakitnya tersebut.

Keluarga sudah memberikan masukan untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada calon suaminya. Akhirnya dengan keberanian yang sewajarnya, diapun berusaha menjelaskan tentang keadaanya.

Namun apa yang terjadi, calon suami yang seharusnya membawanya ke pelaminan sekitar dua bulan lagi malah memilih mundur dari rencana awal. Memang sejujurnya inilah yang ditakutkan sang gadis dari dulu.

Kejujuran yang diutarakan sang gadis bukan berarti salah dan keputusan calon suamipun tidak bisa dikatakan kejam. Karena mungkin saja, semua orang yang mengalami hal tersebut akan mengambil keputusan yang sama. Kejujuran sang gadis memang membuat dia kehilangan calon suami yang akan menikahinya, tidak mudah memang mengutarakan kebenaran yang akan mengakibatkan dampak buruk dalam hidup kita. Namun semua pasti ada hikmah yang tersimpan. Sang gadis berharap, dikehidupan selanjutnya akan ada seseorang yang bisa menerima dia apa adanya.

Kisah yang lain...Ada seorang laki-laki kira-kira berumur sekitar 23 tahun. Dia kuliah di Fakultas kedokteran disalah satu universitas ternama di kotanya. Orangtuanya memang sangat mengharapkan dia menjadi seorang dokter seperti mereka. Namun, mereka tidak tahu kalau sang anak bukan ingin kuliah di kedokteran.

Sang anak terpaksa harus menjalani kehidupan yang sudah ditentukan sejak lahir. Dia seolah tak berhak untuk memilih kehidupannya sesuai keinginannya.

Semester demi semester dijalani, semakin terasa berat. Karena sesungguhnya dia sangat tertarik di dunia fotografi. Akhirnya disemester akhir dia berniat untuk mengundurkan diri dari kampusnya tanpa pemberitahuan kepada orangtuanya. Apa jadinya jika mereka tahu kalau anaknya sudah mengundurkan diri.

Uang semester yang selalu diberikan orangtuanya, dia simpan rapi dan tak pernah dia pakai untuk apapun. Sampai pada akhirnya, orangtua menanyakan kapan dia akan lulus.

Anaknya bingung harus berkata apa, karena sudah beberapa bulan lalu, dia mengundurkan diri dari kuliahnya. Namun, dia tak bisa mengelak dari pertanyaan orangtuanya dan akhirnya diapun berkata jujur. Alangkah marahnya orangtua anak itu. Namun setelah berfikir beberapa waktu, akhirnya sang orangtua mencoba mengerti keinginan anaknya yang memang tak suka dengan dunia kedokteran.
Kini, anak itu bisa bahagia dengan dunia yang dia inginkan selama ini. Dunia fotografi yang dia idam-idamkan sejak dulu.

Cerita diatas hanya beberapa kisah dari sekian banyak perjalanan hidup kita di dunia. Kejujuran memang sangat sulit diungkapkan. Berkata jujur bisa berdampak baik akhirnya atau berakhir sebaliknya. Namun, semua akan berjalan baik jika diawali dengan kejujuran.

Kejujuran diibaratkan seperti buah manggis. Di bawah kulit buah manggis terdapat jumlah berapa isi manggis didalamnya. Dan bisa dibuktikan, jumlah dikulit buah manggis pasti selalu sama dengan jumlah isi manggis didalamnya.

Berkata jujur atau mendengar kejujuran memang terkadang tak seindah apa yang diharapkan. Namun, kita harus yakin, apapun yang dilandasi dengan kejujuran pasti akan berbuah manis.

Berkatalah jujur walaupun itu sulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar