Kejujuran adalah harga yang sangat mahal bahkan
mungkin tak bisa diukur oleh apapun. Tidak setiap orang mampu berkata jujur.
Jujur kepada diri sendiri pun terkadang sangat sulit apalagi berkata jujur pada
orang lain.
Terkisah ada sebuah keluarga baru. Mereka baru menikah sekitar dua tahun lalu. Karier
istrinya lebih maju pesat dibanding suaminya hingga mengakibatkan terjadinya
kesenjangan sosial diantara mereka yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Janji seorang istri yang akan menerima sang
suami apa adanya pergi entah
kemana, semua seolah hilang ditelan waktu. Sang istri berselingkuh dengan
atasannya yang dia anggap mempunyai kelebihan apapun dibanding suaminya.
Sementara suaminya masih dengan kesetiaannya ingin mengarungi bahtera rumah tangga.
Waktu berjalan, sang istri pun mendapat teguran
dari Yang Maha Kuasa, dia terkena penyakit kelamin. Kondisinya dari hari ke
hari mengalami penurunan. Atasan sekaligus teman perselingkuhannya sudah tak
mau menghiraukannya lagi. Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan,
akhirnya diapun berhenti bekerja.
Sang istri berniat untuk berkata jujur tentang
perselingkuhannya kepada sang suami. Setelah berfikir keras, akhirnya dia
berkata bahwa selama ini dia sudah mengkhianati suaminya.
Suaminya sempat marah, namun karena cintanya
yang begitu besar kepada sang istri, akhirnya beliau memaafkan sang istri dan
berniat untuk melupakan semuanya.
Kejujuran seorang istri tersebut membuka mata hati suami untuk memaafkannya.
Kisah lain...Ada sepasang anak manusia yang
sedang menantikan indahnya pernikahan. Setelah dilamar, sang gadis merasa bahwa
dia adalah gadis yang paling bahagia di dunia. Dia mendapatkan seorang calon
suami yang nyaris sempurna. Secara fisik, sang calon suami adalah seorang yang
berwajah ganteng, bahkan
karirnya pun sukses.
Selain itu, dia juga berasal
dari keluarga yang terhormat. Namun, ada yang mengganjal di hati sang
gadis. Sudah beberapa bulan yang lalu sang gadis divonis menderita penyakit kanker Rahim yang menyebabkan dia
tak bisa mempunyai anak. Sampai waktu dia dilamarpun, dia tak berani mengatakan
hal yang sebenarnya. Dia takut calon suaminya mundur dari pernikahannya.
Bulan berganti, tak terasa waktu pernikahan
yang sudah ditetapkanpun semakin dekat. Dua bulan lagi mereka akan menikah.
Rasa bahagia semakin menyelimuti mereka, namun ada perasaan bersalah di hati sang
gadis dengan penyakit yang sedang dia derita dan dampak kedepan dari
penyakitnya tersebut.
Keluarga sudah memberikan masukan untuk
mengatakan hal yang sebenarnya kepada calon suaminya. Akhirnya dengan keberanian yang sewajarnya,
diapun berusaha menjelaskan tentang keadaanya.
Namun apa yang terjadi, calon suami yang
seharusnya membawanya ke pelaminan sekitar dua bulan lagi malah memilih mundur
dari rencana awal. Memang
sejujurnya inilah yang ditakutkan sang gadis dari dulu.
Kejujuran yang diutarakan sang gadis bukan
berarti salah dan keputusan calon suamipun tidak bisa dikatakan kejam. Karena
mungkin saja, semua orang yang mengalami hal tersebut akan mengambil keputusan
yang sama. Kejujuran sang gadis memang membuat dia kehilangan calon suami yang
akan menikahinya, tidak mudah memang mengutarakan kebenaran yang akan
mengakibatkan dampak buruk dalam hidup kita. Namun semua pasti ada hikmah yang
tersimpan. Sang gadis berharap, dikehidupan selanjutnya akan ada seseorang yang
bisa menerima dia apa adanya.
Kisah yang lain...Ada seorang laki-laki kira-kira berumur
sekitar 23 tahun. Dia kuliah di Fakultas kedokteran disalah satu universitas
ternama di kotanya. Orangtuanya memang sangat mengharapkan dia menjadi seorang
dokter seperti mereka. Namun, mereka tidak tahu kalau sang anak bukan ingin
kuliah di kedokteran.
Sang anak terpaksa harus menjalani kehidupan
yang sudah ditentukan sejak lahir. Dia seolah tak berhak untuk memilih
kehidupannya sesuai keinginannya.
Semester demi semester dijalani, semakin terasa
berat. Karena sesungguhnya dia sangat tertarik di dunia fotografi. Akhirnya
disemester akhir dia berniat untuk mengundurkan diri dari kampusnya tanpa
pemberitahuan kepada orangtuanya. Apa jadinya jika mereka tahu kalau anaknya
sudah mengundurkan diri.
Uang semester yang selalu diberikan
orangtuanya, dia simpan rapi dan tak pernah dia pakai untuk apapun. Sampai
pada akhirnya, orangtua menanyakan kapan dia akan lulus.
Anaknya bingung harus berkata apa, karena sudah
beberapa bulan lalu, dia mengundurkan diri dari kuliahnya. Namun, dia tak bisa
mengelak dari pertanyaan orangtuanya dan akhirnya diapun berkata jujur.
Alangkah marahnya orangtua anak itu. Namun setelah berfikir beberapa waktu,
akhirnya sang orangtua mencoba mengerti keinginan anaknya yang memang tak suka
dengan dunia kedokteran.
Kini, anak itu bisa bahagia dengan dunia yang
dia inginkan selama ini. Dunia fotografi yang dia idam-idamkan sejak dulu.
Cerita diatas hanya beberapa kisah dari sekian
banyak perjalanan hidup kita di dunia. Kejujuran memang sangat sulit
diungkapkan. Berkata jujur bisa berdampak baik akhirnya atau berakhir
sebaliknya. Namun, semua akan berjalan baik jika diawali dengan kejujuran.
Kejujuran diibaratkan seperti buah manggis. Di
bawah kulit buah manggis terdapat jumlah berapa isi manggis didalamnya. Dan
bisa dibuktikan, jumlah dikulit buah manggis pasti selalu sama dengan jumlah
isi manggis didalamnya.
Berkata jujur atau mendengar kejujuran memang
terkadang tak seindah apa yang diharapkan. Namun, kita harus yakin, apapun yang
dilandasi dengan kejujuran pasti akan berbuah manis.
Berkatalah jujur walaupun itu sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar