Pilihan...setiap manusia pasti pernah
menghadapi suatu pilhan. Entah itu pilihan yang sulit ataupun pilihan yang mudah. Pilihan yang kita ambil terkadang
bisa menyebabkan kesalahan ataupun sebaliknya.
Anita...gadis ini sudah beranjak dewasa.
Usianya sekarang sekitar 28 tahun. Sudah cukup untuk membina rumah tangga. Namun sampai sekarang,
dia belum memikirkan untuk menikah.
Hari itu, tak ada yang istimewa. Semua berjalan
seperti biasa. Namun setiap langkah dalam melewati hari adalah pilihan buat
Anita.
Handphone berdering, alarm yang sudah dia setting berbunyi. Terlihat wajahnya
masih lesu karena semalam dia tidur larut sekali. Pekerjaan dari kantor
terpaksa harus dia bawa ke rumah karena tak beres dia kerjakan di kantor. Terbersit
dibenaknya untuk tidur lagi, namun tugas-tugas kantor mengajaknya untuk
beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan selimut yang seolah mengajaknya
tidur kembali.
“Apa aku harus tidur lagi dan melanjutkan
mimpi-mimpi indahku...ataukah aku harus terbangun dan meraih mimpi-mimpi itu?” Begitu bisiknya dalam hati.
Akhirnya gadis ini pergi untuk menyegarkan
tubuhnya dari rasa ngantuk dengan mandi. Dia terlihat segar dengan guyuran air dingin pagi
itu. Setelah itu, gadis cantik itupun mengisi perutnya dengan sepotong roti dan
langsung pergi ke kantor.
Melihat jam di tangannya, dia agak terkejut,
sedikit terlambat. Otaknya berfikir pilihan kendaraan apa yang harus dia pakai.
Angkutan umum ataukah ojek. Akhirnya dia memilih memakai ojek untuk pergi ke
kantor karena dengan ojek, bisa menghemat beberapa menit waktu.
Akhirnya dia sampai di kantor walaupun dengan sedikit telat. Untung dia
pakai ojek, kalau tidak pasti dia telat lama sekali untuk sampai ke kantor,
begitu fikirnya. Tugas-tugas dikerjakan dengan baik. Hari itu cukup membuat
gadis ini tersenyum, karena sepanjang hari tak ada hambatan yang berarti dalam
pekerjaannya.
Tiga bulan kemudian, Anita ditawarkan teman
kuliahnya untuk meneruskan kuliah ke jenjang s2 dengan program beasiswa.
Keinginannya untuk melanjutkan kuliah memang cita-cita dia dari dulu. Namun
karena faktor perekonomian yang tidak memungkinkan, akhirnya dia memutuskan
untuk bekerja.
Anita mulai gundah, disisi lain, dia sangat
ingin meneruskan kuliahnya, namun disisi lain, diapun harus melepaskan
pekerjaannya karena kantor tempat dia bekerja tidak bersedia untuk memberikan
toleransi karyawannya bila bekerja sambil kuliah. Pilihan yang harus dia ambil
memang cukup rumit, mengingat saat ini dia adalah tulang punggung keluarga.
Jika dia meneruskan kuliahnya otomatis pemasukkan untuk keluarganyapun tidak
akan ada. Akhirnya Anita memutuskan untuk menolak tawaran temannya itu untuk
meneruskan sekolah dan kembali bekerja.
Satu tahun berlalu, Anita semakin terlihat
dewasa. Gadis cantik ini menjalani hari-hari normal seperti halnya gadis lain.
Dia mengalami fase dimana cinta itu mulai hadir.
Arif adalah laki-laki yang dia kenal belum lama. Laki-laki
yang dia kenal ketika Anita sedang melakukan penawaran suatu produk
perusahaannya ke kantor tempat Arif bekerja. Mereka berkenalan dan akhirnya
dekat.
Semakin waktu berlalu, terlihat memang ada
perasaan yang berbeda diantara mereka. Namun untuk melangkah ke jenjang yang
lebih serius tampaknya Anita masih ragu. Namun, berbeda dengan Arif, lali-laki
ini berniat untuk melamar Anita dan membawanya ke luar negeri.
Arif akan melanjutkan sekolahnya di negeri
Kangguru. Keinginannya adalah menikah dan membawa istrinya kesana. Lagi-lagi
Anita harus dihadapkan dengan suatu pilihan yang sangat sulit. Mungkin lebih
sulit dari pilihan-pilihan sebelumnya. Namun mau tak mau, Anita harus bisa
mengambi keputusan.
Setelah berdiskusi dengan orangtua, akhirnya
Anita memutuskan untuk tidak menikah dengan Arif. Bukan karena orangtuanya melarang, atau bukan karena dia tak
mencintainya. Hanya saat ini Anita belum siap menggapai mimpi lain bersama
laki-laki itu. Fokusnya masih di keluarga yang sangai dia cintai.
Pilihan untuk tidak jadi menikah adalah suatu
pilihan yang cukup sulit dia ambil. Mengingat Arif adalah laki-laki yang baik
yang pernah dia kenal. Namun, dia sangat yakin Yang Maha Kuasa pasti selalu
memberikan yang terbaik buat dia.
Sampai kapan pilihan-pilihan itu akan datang
dalam diri Anita. Mungkin setiap detik dalam hidupnya adalah pilihan. Bukan
hanya Anita yang mengalami itu, tapi mungkin saja hal itu juga dialami setiap
orang termasuk kita.
Jangan salah memilih, apalagi jika kita pernah
memilih sesuatu yang salah dan kita harus memilih untuk kedua kalinya sesuatu
yang lebih salah lagi. Setiap detik dalam hidup memang suatu pilihan, pilihan
yang sudah dipersiapkan jalan keluarnya. Fikiran dan hati harus selalu dipakai
untuk mengambil suatu langkah sebagai pilihan hidup.
Berusaha dan berdoa adalah suatu hal yang
sangat penting dalam menunjang apapun yang menjadi pilihan kita.
Gadis itu berharap, dan mungkin kita semua
berharap...Setiap
pilihan yang kita ambil adalah jalan terbaik untuk hidup kita.
Pilihan...setiap manusia pasti pernah menghadapi suatu pilhan. Entah itu pilihan yang sulit ataupun pilihan yang gampang. Pilihan yang kita ambil terkadang bisa menyebabkan kesalahan ataupun sebaliknya.
Anita...gadis ini sudah beranjak dewasa. Usianya sekarang sekitar 24 tahun. Sudah cukup untuk membina rumah tangga. Namun sampai sekarang, dia belum memikirkan untuk menikah.
Hari itu, tak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti biasa. Namun setiap langkah dalam melewati hari adalah pilihan buat Anita.
Handphone berdering, alarm yang sudah dia setting berbunyi. Terlihat wajahnya masih lesu karena semalam dia tidur larut sekali. Pekerjaan dari kantor terpaksa harus dia bawa ke rumah karena tak beres dia kerjakan di kantor. Terbersit dibenaknya untuk tidur lagi, namun tugas-tugas kantor mengajaknya untuk beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan selimut yang seolah mengajaknya tidur kembali.
“Apa aku harus tidur lagi dan melanjutkan mimpi-mimpi indahku...ataukah aku harus terbangun dan meraih mimpi-mimpi itu?? Begitu bisiknya dalam hati.
Akhirnya gadis ini pergi untuk menyegarkan tubuhnya dari rasa ngantuk dengan mandi. Terlihat segar dengan guyuran air dingin pagi itu. Setelah itu, gadis cantik itupun mengisi perutnya dengan sepotong roti dan langsung pergi ke kantor.
Melihat jam ditangannya, dia agak terkejut, sedikit terlambat. Otaknya berfikir pilihan kendaraan apa yang harus dia pakai. Angkutan umum ataukah jasa ojek. Akhirnya dia memilih memakai ojek untuk pergi ke kantor karena dengan ojek, bisa menghemat beberapa menit waktu.
Akhirnya dia sampai dikantor dengan sedikit telat. Untung dia pakai ojek, kalau tidak pasti dia telat lama sekali untuk sampai ke kantor, begitu fikirnya. Tugas-tugas dikerjakan dengan baik. Hari itu cukup membuat gadis ini tersenyum, karena sepanjang hari tak ada hambatan yang berarti dalam pekerjaannya.
Tiga bulan kemudian, Anita ditawarkan teman kuliahnya untuk meneruskan kuliah ke jenjang s2 dengan program beasiswa. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah memang cita-cita dia dari dulu. Namun karena faktor perekonomian yang tidak memungkinkan, akhirnya dia memutuskan untuk bekerja.
Anita mulai gundah, disisi lain, dia sangat ingin meneruskan kuliahnya, namun disisi lain, diapun harus melepaskan pekerjaannya karena kantor tempat dia bekerja tidak bersedia untuk memberikan toleransi karyawannya bila bekerja sambil kuliah. Pilihan yang harus dia ambil memang cukup rumit, mengingat saat ini dia adalah tulang punggung keluarga. Jika dia meneruskan kuliahnya otomatis pemasukkan untuk keluarganyapun tidak akan ada. Akhirnya Anita memutuskan untuk menolak tawaran temannya itu untuk meneruskan sekolah dan kembali bekerja.
Satu tahun berlalu, Anita semakin terlihat dewasa. Gadis cantik ini menjalani hari-hari normal seperti halnya gadis lain. Dia mengalami fase dimana cinta itu mulai hadir.
Arif...laki-laki yang dia kenal belum lama. Laki-laki yang dia kenal ketika Anita sedang melakukan penawaran suatu produk perusahaannya ke kantor tempat Arif bekerja. Mereka berkenalan dan akhirnya dekat.
Semakin waktu berlalu, terlihat memang ada perasaan yang berbeda diantara mereka. Namun untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius tampaknya Anita masih ragu. Namun, berbeda dengan Arif, lali-laki ini berniat untuk melamar Anita dan membawanya ke luar negeri.
Arif akan melanjutkan sekolahnya di negeri Kangguru. Keinginannya adalah menikah dan membawa istrinya kesana. Lagi-lagi Anita harus dihadapkan dengan suatu pilihan yang sangat sulit. Mungkin lebih sulit dari pilihan-pilihan sebelumnya. Namun mau tak mau, Anita harus bisa mengambi keputusan.
Setelah berdiskusi dengan orangtua, akhirnya Anita memutuskan untuk tidak menikah dengan Arif. Bukan karena orangtua melarang, atau bukan karena dia tak mencintainya. Hanya saat ini Anita belum siap menggapai mimpi lain bersama laki-laki itu. Fokusnya masih di keluarga yang sangai dia cintai.
Pilihan untuk tidak jadi menikah adalah suatu pilihan yang cukup sulit dia ambil. Mengingat Arif adalah laki-laki yang baik yang pernah dia kenal. Namun, dia sangat yakin Yang Maha Kuasa pasti selalu memberikan yang terbaik buat dia.
Sampai kapan pilihan-pilihan itu akan datang dalam diri Anita. Mungkin setiap detik dalam hidupnya adalah pilihan. Bukan hanya Anita yang mengalami itu, tapi mungkin saja hal itu juga dialami setiap orang termasuk kita.
Jangan salah memilih, apalagi jika kita pernah memilih sesuatu yang salah dan kita harus memilih untuk kedua kalinya sesuatu yang lebih salah lagi. Setiap detik dalam hidup memang suatu pilihan, pilihan yang sudah dipersiapkan jalan keluarnya. Fikiran dan hati harus selalu dipakai untuk mengambil suatu langkah sebagai pilihan hidup.
Berusaha dan berdoa adalah suatu hal yang sangat penting dalam menunjang apapun yang menjadi pilihan kita.
Gadis itu berharap, dan mungkin kita semua berharap..Setiap pilihan yang kita ambil adalah jalan terbaik untuk hidup kita.
hidup adalah pilihan....
BalasHapusTidak memilih juga termasuk pilihan
BalasHapus