Seandainya aku bisa memutar waktu, mengulang
apa yang sudah terjadi dibelakang, pasti aku akan memperbaiki diriku. Menjadikan
diriku seperti apa yang
diinginkan istriku. Membahagiakannya dan tak akan pernah menyia-nyiakannya.
Kesalahan ini membuatku sadar, betapa berartinya dia dalam
hidupku. Istri yang sudah memberiku dua jagoan kecil. Mendampingi aku dalam
keadaan apapun. Selama hidup bersamaku, tak pernah aku mendengar keluhan-keluhannya walaupun aku sadar, aku belum mampu
membahagiakannya. Tapi dia selalu berkata, ”Aku bahagia bersamamu....”.
Entah apa yang mendorong perasaanku untuk
mencintai sosok lain selain istriku. Padahal aku sadar, aku sudah memiliki
seorang bidadari yang belum tentu aku menemukan pada sosok lain. Tapi kenapa
aku merasakan perasaan yang berbeda ketika aku mengenalnya.
***
Tempat aku bekerja memang cukup jauh dari
tempat tinggalku bersama keluarga. Kira-kira butuh waktu dua jam untuk sampai
ke tempat kerja setiap hari. Aku memang seorang karyawan biasa disebuah
perusahaan swasta di kota ini.
Beberapa bulan lalu, ada karyawan baru masuk di
kantorku. Seorang gadis dengan usia sekitar dua puluh tiga tahun. Cantik,
menarik dan mampu membuat orang tertegun bila ada didekat dia. Sebagai
laki-laki normal akupun pasti berpendapat seperti itu.
Sudah sekitar satu tahun dia bekerja ditempat
kerjaku. Selama itu Kami
memang dekat, tapi hanya sebagai rekan kerja biasa saja. Tak berlebih. Namun
entah kenapa tiba-tiba rasa itu muncul ditengah-tengah kedekatan Kami.
Kami sering makan dan jalan bareng. Bahkan aku sering pulang telat
ke rumah hanya untuk mengisi malam bersamanya. Istriku di rumah cukup aku beri
alasan karena ada rapat mendadak. Diwaktu akhir pekanpun, aku sering
menghabiskan waktu bersama dia daripada keluargaku di rumah.
Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiranku saat
itu. Yang pasti, semakin hari aku merasa tak pernah mau lepas dari bayang-bayang
wanita itu.
***
Pernah suatu ketika, anak bungsuku sakit.
Siang-siang istriku meneleponku dan menyuruhku untuk pulang. Namun, aku
menolaknya karena siang itu aku sudah janji dengannya untuk makan bersama. Jika
aku ingat hal itu, aku juga tak tahu, aku seorang Ayah macam apa.
Suatu malam, istriku mengajakku mengobrol di
ruang keluarga. Katanya ada sesuatu hal yang ingin dibicarakannya. Namun aku
tak menghiraukan ajakannya, aku lebih memilih untuk tidur karena cape.
Semakin hari semakin aku dekat dengan wanita
ini. Suasana di kantorpun semakin tak karuan karena mungkin
mereka sudah mencium aroma kedekatan kita yang diluar nalar manusia. Sampai
akhirnya atasanku memberikan keputusan dengan memindahkan wanita itu ke cabang kantor lain di luar kota.
Orang-orang pasti menganggap kepindahan dia
akan memutuskan tali hubungan kita. Tapi ternyata tidak, Kami bahkan lebih leluasa
menjalin hubungan ini. Alat komunikasi yang lebih mudah membuat Kami lebih mudah pula menjaga
hubungan ini. Kami sering bertemu sekitar satu atau dua minggu sekali. Aku yang
menemuinya ke tempat dia atau sebaliknya, yang pasti kita selalu mengusahakan
untuk bertemu.
***
Sudah sekitar dua bulan, istriku di rumah
terlihat lesu. Wajahnya pucat dan sering sakit kepala. Dia sering memintaku
mengantarkannya ke dokter, namun aku tak pernah mempunyai waktu untuk itu.
Dengan sedikit membujuknya, aku hanya berkata supaya dia mengerti dengan
kesibukan yang aku alami. Aku lakukan ini semua untuk keluarga, untuk anak dan istriku.
Walaupun dalam hati aku berteriak kalau aku berbohong.
Semakin berjalan waktu, istriku sering mengeluh
kalau dia sering mengalami sakit yang amat hebat di kepalanya. Bahkan ketika dia mengantarkan anak sulungku
ke sekolah, dia sempat pingsan tak sadarkan diri, hingga guru-guru disana
membawa istriku ke rumah sakit.
Mendengar dan melihat kenyataan ini, membuatku
sedikit kaget. Aku memang kurang perhatian pada keluargaku semenjak aku
mengenal wanita itu yang tak lain rekan kerja di kantorku dulu. Bahkan istri sakit dan sampai pingsan pun
harus orang lain yang mengantarkannya ke rumah sakit.
Sudah tiga hari istriku dirawat di rumah sakit.
Setelah di rontgen, dokter belum
memvonis apa penyakit istriku. Selama di rumah sakit, anak-anak aku titip di
rumah neneknya yang tak lain adalah mertuaku.
Sampai pada suatu hari, dokter memberikan aku informasi yang membuat jantungku hampir
terhenti. Istriku divonis menderita kanker otak stadium tiga. Entah apa yang
berkecambuk di hatiku. Perasaan sedih, perasaan marah,
perasaan tak karuan yang kurasa. Aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku
sampai tidak tahu kondisi istriku sendiri. Kenapa sudah dalam keadaan separah
ini, baru aku tahu bahwa istriku selama ini menahan sakit namun tetap tersenyum
di depanku.
Aku sedih, aku sangat takut. Aku baru menyadari kalau aku sangat takut kehilangan dia. Aku takut Engkau ambil
istriku Ya Robb...sungguh aku takut.
***
Ku melihat wajah pucat itu masih terbaring di rumah
sakit. Kulihat matanya tertutup karena pengaruh obat tidur yang dokter berikan untuknya. Aku dekati dia. Aku
sentuh wajahnya, dan dia terbangun. Dia tersenyum, senyuman yang membuatku
perih, sangat perih...Aku harap senyuman itu tak akan pernah hilang.
Aku bertanya pada istriku, kenapa dia tak menceritakan rasa
sakitnya dari awal. Dia
berkata, “Ayah terlalu
sibuk, Ibu tak ingin membebani pikiran Ayah...”.
Pernyataan yang membuatku semakin merasa
bersalah. Sibuk??? Mungkin
istriku mengira aku sibuk dengan pekerjaanku. Seandainya dia tahu, aku sibuk
dengan kegiatan lain, pasti
dia akan kecewa.
***
Sejak istriku sakit, aku tak pernah menghubungi
wanita itu lagi. Setiap kali dia menghubungiku, aku selalu menghindar. Aku akan
putuskan untuk mencintai dan menyayangi istriku. Hanya istriku.
Semakin hari kondisi istriku semakin melemah,
sekarang dia sudah tak mampu bangun dari tempat tidurnya. Kalaupun dia ingin bangun,
dia harus menggunakan kursi rodanya. Rambut indahnya sudah banyak yang rontok.
Tapi bagiku dia tetap cantik.
Dulu sewaktu istriku masih sehat, setiap libur
kerja, dia selalu memintaku untuk menghabiskan waktu diluar bersamanya, sekedar jalan-jalan bersama
anak-anak, namun aku sering menolaknya. Dan sekarang dengan kondisi dia seperti
ini, baru aku sadari betapa indah seandainya aku bisa mewujudkan mimpi-mimpinya.
***
Suatu hari, dia memanggilku dan memintaku menemaninya di kamar. Lalu aku duduk disebelahnya, dan dia mulai
mengatakan sesuatu.
“Yah...Ibu tahu...Ibu tak bisa seperti dulu dan Ibu sadar tak akan
pernah bisa lagi...Ibu
tahu Ayah pasti
kerepotan mengurus Ibu dan anak-anak. Ibu ikhlas jika ayah mencari pengganti Ibu...”.
Terasa ditusuk jarum hatiku mendengar perkataan istriku. Aku tak mampu menjawab,
air mataku cukup menjadi jawabanku saat itu.
***
Aku masih melihat wajah pucat itu ditempat tidur. Dia terlihat
pulas sekali seolah tak ada rasa sakit di kepalanya. Padahal aku tahu, selama
ini dia terus bertarung dengan penyakitnya. Aku tahu dibalik senyumannya
terdapat rasa sakit yang luar biasa.
Aku takut kehilangan dia Robb...sungguh aku
takut kehilangan dia. Kesalahan yang kuperbuat dulu membuatku semakin merasa
bahwa aku orang yang tak pantas untuk dicintai. Aku berharap dan terus berharap, istriku bisa
sembuh dari penyakitnya. Aku akan berjanji, aku tak akan mengecewakannya lagi.
Aku baru menyadari arti kesetiaan, arti rasa
cinta dan kasih sayang.
Selama ini aku merasa telah menyia-nyiakan istri dan anakku hanya karena sebuah hal
yang tidak penting. Aku selalu mencari sosok lain yang lebih cantik, lebih
menarik, lebih pintar, lebih cerdas, lebih indah dari dia istriku. Aku lupa
bahwa semua itu hanya semu.
Tak ada manusia yang sempurna, namun jadikanlah
pasangan kita, siapapun itu, bagaimanapun kondisinya, menjadi manusia yang
sempurna, yang terbaik untuk hidup kita, sehingga tak ada niat di hati untuk
mencari sosok lain dalam hidup kita.
Aku mencintai istriku dalam keadaan apapun. Bukan hanya
karena dia Ibu dari
anak-anakku. Bukan juga karena aku ingin
menebus semua kesalahanku. Tapi karena dia adalah cinta sejatiku.
Jika ada sebuah kata yang melukiskan lebih dari
kata cinta, kata itulah yang sedang aku rasakan saat ini untuk istriku.
Tuhan...sembuhkanlah dia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar