Suara anak-anak pengamen itu membuyarkan
lamunanku siang itu. Mobil yang ku kendarai memang sering melintas di jalan yang
banyak pengamen-pengamen cilik yang meminta sebagian uang kecil dari kantong
setiap orang yang melintas disana termasuk aku.
“Terima kasih Om...”kata pengamen cilik itu setelah aku kasih uang receh. Aku hanya tersenyum.
Teringat masa kecilku ketika orangtuaku pergi
meninggalkanku. Setelah Ayah meninggal, dua bulan kemudian Ibuku meninggal juga
menyusul Ayah. Saat itu aku berfikir betapa hidup ini tak adil. Usiaku baru 10
tahun dan aku harus hidup sendiri.
Aku bekerja sebagai kuli panggul di warung Pak
Harun. Beruntung sekali Pak Harun adalah orang yang sangat baik sekali
membawaku sebagai pekerja beliau. Dengan gaji 20 ribu per hari cukup buat ku makan dan sebagian aku
tabung untuk biaya sekolahku walau semua serba tak cukup.
Aku sekolah dengan mengandalkan beasiswa dan belas kasihnya Pak
Harun. Setiap pulang sekolah, bukan istirahat yang aku jalani seperti halnya anak-anak
yang lain. Tapi bekerja dan bekerja sampai malam hari. Belajar dan mengerjakan
PRpun aku lakukan
disaat waktu senggang ketika pekerjaanku sedikit luang. Beruntung Pak Harun
adalah bos yang baik.
***
Sudah sekitar satu tahun lebih aku bekerja di
warung Pak Harun. Tapi sayang, aku menerima kabar tidak enak. Pak Harun dan
keluarga akan pindah ke luar pulau Jawa. Mereka sempat mengajakku, namun aku
tak bisa ikut dengan mereka.
Hidupku seperti kehilangan kendali. Tak tahu
apa yang harus aku lakukan. Namun ditengah-tengah kekalutanku saat itu, pihak
sekolah tempatku belajar menawariku untuk menjadi tukang bersih-bersih. Pekerjaan itu dilakukan setiap pulang
sekolah. Aku tahu semua siswa mungkin memandang rendah aku. Namun aku tak
peduli, aku sudah tak memikirkan apa itu gengsi atau apapun yang bisa membuatku
terjatuh.
Banyak orang yang peduli denganku, namun entah
kenapa aku selalu merasa hidupku sendiri sejak orangtuaku pergi untuk
selama-lamanya. Hidupku terasa hampa tanpa kasih sayang dan belaian mereka.
Menginjak usia remaja, ketika aku menginjak
bangku SMU, aku ditawari bekerja disebuah rental komputer. Walaupun aku tak
mempunyai keahlian apa-apa dibidang itu, namun si pemilik bersedia mengajariku dengan sabar sampai
akhirnya aku bisa menggunakan komputer.
Si pemilik mengaku bahwa dia adalah teman baik
Ayahku dan mendengar aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah,
beliau tak tega dan menghubungiku untuk bekerja disana.
Sampai beres SMU, aku bekerja di rental komputer
milik Pak bambang. Aku
berfikir setelah lulus sekolah, aku akan bekerja saja. Namun, alangkah baiknya
Pak Bambang ketika itu beliau menawarkan aku untuk meneruskan kuliah.
Ketika ada keputusan seperti itu, memang tak
semua anggota keluarga Pak Bambang setuju. Apalagi anak tertua Pak Bambang yang
keberatan bapaknya membiayai kuliahku. Untuk mencegah sesuatu yang tidak baik,
akhirnya aku memutuskan untuk menolak tawaran Pak Bambang.
Setelah lulus sekolah menengah umum, aku
bekerja disebuah konveksi. Aku berniat dalam hati, aku ingin kuliah dan
memperbaiki taraf hidupku. Aku selalu mencoba mencari beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Walaupun
banyak penolakan, tapi aku akan tetap berusaha. Sampai pada suatu hari, aku
mendapatkan beasiswa itu.
Aku masuk disalah satu Universitas di kota itu. Aku beruntung, pekerjaanku
masih bisa dilanjutkan walaupun harus dipotong gaji setengahnya karena aku
bekerja part time. Tapi tak apa
itulah resikonya.
Kerinduan terhadap orangtua, tak pernah sirna
dari hatiku. Aku terkadang berfikir, seandainya ada mereka mungkin aku tak akan
sendiri. Keluarga besarku tak tahu ada dimana. Dari kecil yang aku tahu hanya
orangtuaku. Entah ada masalah apa antara Ayah
dan Ibu dengan keluarganya sampai aku tak tahu wajah Nenek, Kakek, Om dan Tante atau siapapun yang mungkin masih mengalir
satu darah denganku.
Aku hidup sebatang kara, aku harus berjuang
menghidupi perut dan masa depanku. Aku hanya punya doa, usaha dan semangat. Itu
kurasa cukup untuk modal hidupku.
Sepanjang kuliah, aku memang dikategorikan
sebagai mahasiswa yang cerdas. Karena memang harus itu yang aku perjuangkan
untuk tetap bertahan dan menggapai cita-cita, sampai akhirnya aku lulus kuliah.
Aku mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan di kota itu. Setelah menunggu tiga bulan, aku dipanggil oleh
salah satu perusahaan swasta di kota Palembang. Tanpa berfikir panjang, aku
ambil tawaran itu.
Sudah sekitar, dua tahun aku bekerja, aku menikah dengan seorang
wanita yang sekarang sudah memberiku dua jagoan kecil. Aku merasa hidupku
sempurna. Dan inilah hadiah dari Yang Maha Kuasa untuk hidupku. Kini aku tak sendiri lagi...
Tak terasa, pintu gerbang kantor sudah
kelihatan. Sudah lama juga aku melamun, mengingat kehidupanku dulu. Kini saatnya
aku harus bekerja, mudah-mudahan langkahku menjadi pahala yang akan menjadi tabunganku untuk menjalani
kehidupan kekal di akhirat nanti.
Pekerjaan yang mudah-mudahan membawa berkah untuk menghidupi
keluarga yang sangat aku sayangi. Walaupun aku tak sempat membuat orangtuaku
bahagia, namun aku yakin mereka disana akan bahagia melihatku disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar