3 Mar 2012

Aku Tak Sendiri Lagi


Suara anak-anak pengamen itu membuyarkan lamunanku siang itu. Mobil yang ku kendarai memang sering melintas di jalan yang banyak pengamen-pengamen cilik yang meminta sebagian uang kecil dari kantong setiap orang yang melintas disana termasuk aku.

“Terima kasih Om...”kata pengamen cilik itu setelah aku kasih uang receh. Aku hanya tersenyum.

Teringat masa kecilku ketika orangtuaku pergi meninggalkanku. Setelah Ayah meninggal, dua bulan kemudian Ibuku meninggal juga menyusul Ayah. Saat itu aku berfikir betapa hidup ini tak adil. Usiaku baru 10 tahun dan aku harus hidup sendiri.

Aku bekerja sebagai kuli panggul di warung Pak Harun. Beruntung sekali Pak Harun adalah orang yang sangat baik sekali membawaku sebagai pekerja beliau. Dengan gaji 20 ribu per hari cukup buat ku makan dan sebagian aku tabung untuk biaya sekolahku walau semua serba tak cukup.


Aku sekolah dengan mengandalkan beasiswa dan belas kasihnya Pak Harun. Setiap pulang sekolah, bukan istirahat yang aku jalani seperti halnya anak-anak yang lain. Tapi bekerja dan bekerja sampai malam hari. Belajar dan mengerjakan PRpun aku lakukan disaat waktu senggang ketika pekerjaanku sedikit luang. Beruntung Pak Harun adalah bos yang baik.

***

Sudah sekitar satu tahun lebih aku bekerja di warung Pak Harun. Tapi sayang, aku menerima kabar tidak enak. Pak Harun dan keluarga akan pindah ke luar pulau Jawa. Mereka sempat mengajakku, namun aku tak bisa ikut dengan mereka.

Hidupku seperti kehilangan kendali. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun ditengah-tengah kekalutanku saat itu, pihak sekolah tempatku belajar menawariku untuk menjadi tukang bersih-bersih. Pekerjaan itu dilakukan setiap pulang sekolah. Aku tahu semua siswa mungkin memandang rendah aku. Namun aku tak peduli, aku sudah tak memikirkan apa itu gengsi atau apapun yang bisa membuatku terjatuh.

Banyak orang yang peduli denganku, namun entah kenapa aku selalu merasa hidupku sendiri sejak orangtuaku pergi untuk selama-lamanya. Hidupku terasa hampa tanpa kasih sayang dan belaian mereka.

Menginjak usia remaja, ketika aku menginjak bangku SMU, aku ditawari bekerja disebuah rental komputer. Walaupun aku tak mempunyai keahlian apa-apa dibidang itu, namun si pemilik bersedia mengajariku dengan sabar sampai akhirnya aku bisa menggunakan komputer.

Si pemilik mengaku bahwa dia adalah teman baik Ayahku dan mendengar aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah, beliau tak tega dan menghubungiku untuk bekerja disana.

Sampai beres SMU, aku bekerja di rental komputer milik Pak bambang. Aku berfikir setelah lulus sekolah, aku akan bekerja saja. Namun, alangkah baiknya Pak Bambang ketika itu beliau menawarkan aku untuk meneruskan kuliah.

Ketika ada keputusan seperti itu, memang tak semua anggota keluarga Pak Bambang setuju. Apalagi anak tertua Pak Bambang yang keberatan bapaknya membiayai kuliahku. Untuk mencegah sesuatu yang tidak baik, akhirnya aku memutuskan untuk menolak tawaran Pak Bambang.

Setelah lulus sekolah menengah umum, aku bekerja disebuah konveksi. Aku berniat dalam hati, aku ingin kuliah dan memperbaiki taraf hidupku. Aku selalu mencoba mencari beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Walaupun banyak penolakan, tapi aku akan tetap berusaha. Sampai pada suatu hari, aku mendapatkan beasiswa itu.

Aku masuk disalah satu Universitas di kota itu. Aku beruntung, pekerjaanku masih bisa dilanjutkan walaupun harus dipotong gaji setengahnya karena aku bekerja part time. Tapi tak apa itulah resikonya.

Kerinduan terhadap orangtua, tak pernah sirna dari hatiku. Aku terkadang berfikir, seandainya ada mereka mungkin aku tak akan sendiri. Keluarga besarku tak tahu ada dimana. Dari kecil yang aku tahu hanya orangtuaku. Entah ada masalah apa antara  Ayah dan Ibu dengan keluarganya sampai aku tak tahu wajah Nenek, Kakek, Om dan  Tante atau siapapun yang mungkin masih mengalir satu darah denganku.

Aku hidup sebatang kara, aku harus berjuang menghidupi perut dan masa depanku. Aku hanya punya doa, usaha dan semangat. Itu kurasa cukup untuk modal hidupku.

Sepanjang kuliah, aku memang dikategorikan sebagai mahasiswa yang cerdas. Karena memang harus itu yang aku perjuangkan untuk tetap bertahan dan menggapai cita-cita, sampai akhirnya aku lulus kuliah.

Aku mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan di kota itu. Setelah menunggu tiga bulan, aku dipanggil oleh salah satu perusahaan swasta di kota Palembang. Tanpa berfikir panjang, aku ambil tawaran itu.

Sudah sekitar, dua tahun aku bekerja, aku menikah dengan seorang wanita yang sekarang sudah memberiku dua jagoan kecil. Aku merasa hidupku sempurna. Dan inilah hadiah dari Yang Maha Kuasa untuk hidupku. Kini aku tak sendiri lagi...

Tak terasa, pintu gerbang kantor sudah kelihatan. Sudah lama juga aku melamun, mengingat kehidupanku dulu. Kini saatnya aku harus bekerja, mudah-mudahan langkahku menjadi pahala yang akan menjadi tabunganku untuk menjalani kehidupan kekal di akhirat nanti.


Pekerjaan yang mudah-mudahan membawa berkah untuk menghidupi keluarga yang sangat aku sayangi. Walaupun aku tak sempat membuat orangtuaku bahagia, namun aku yakin mereka disana akan bahagia melihatku disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar