Bagiku seorang sahabat adalah orang kedua yang dekat dengan
kehidupanku setelah keluargaku. Tapi aku tak mengerti kenapa perasaanku berubah
setalah aku tahu kalau sahabatku menyimpan perasaan lain dengan calon istriku.
Dia tahu kalau wanita itu adalah calon istriku,
tapi kenapa dia harus mendekatinya dan tak memperdulikan perasaanku sama
sekali. Apa yang terlintas dibenaknya sampai dia begitu tega menghancurkan
perasaanku.
Wanita yang sangat aku harapkan selalu ada disisiku
dan menjadi istriku nanti
juga tak mempunyai perasaan padaku sampai didetik-detik menjelang pernikahan kita, dia malah pergi dan memilih menikah dengan
sahabatku itu. Sungguh sangat hancur perasaanku. Dua orang
yang sangat aku cintai harus terpaksa pergi dari kehidupanku.
***
Kami bertiga sudah bersahabat sejak kecil.
Rumah kita berada dalam satu komplek perumahan. Dari kecil sampai dewasa kita
selalu hidup berdampingan. Tiara dan Arif, itulah sahabatku yang sekarang telah
mengkhianatiku.
Sampai duduk di bangku kuliahpun kita memutuskan untuk masuk di Fakultas
yang sama. Bukan hanya sebuah persahabatan yang aku rasakan dengan mereka, namun mereka sudah kuanggap
seperti saudaraku sendiri.
Tiara adalah seorang yang lincah, pintar
bergaul, cantik, ramah dan pintar. Tak sedikit laki-laki yang memberi perhatian
pada dia, termasuk aku
dan mungkin sahabatku
juga. Arif adalah laki-laki
pendiam yang cerdas. Tak
sedikit wanita yang mendekatinya.
Arif tahu bagaimana perasaanku pada Tiara. Sedalam
apa harapanku padanya. Dia yang mengusahakan menyatukan aku dan Tiara sampai
akhirnya Tiara menjadi tunanganku.
Memang sulit mendapatkan hati Tiara. Karena
ketika Tiara menganggukan kepalanya sebagai tanda menerima perasaanku, aku
melihat ada keraguan yang mendalam disorot matanya. Entah perasaanku yang salah
atau memang itu kenyataannya. Aku melihat ada sosok lain yang Tiara harapkan
dalam hatinya. Namun karena keegoisanku, aku tak peduli dengan perasaan itu,
yang terpenting, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Tiara.
Setelah lulus kuliah, aku bekerja disalah satu
perusahaan ternama di kota ini. Arif dan Tiara bekerja disalah satu perusahaan
swasta juga di kota lain. Untuk kali pertamannya kita berpisah. Tapi aku
percaya Arif akan menjaga Tiara disana.
Komunikasi kita berjalan lancar. Setiap weekend atau libur kantor, kita selalu
bersama-sama menikmati liburan dari penatnya rutinitas. Memang tak ada permasalahan yang berarti
dalam hubungan Kami
bertiga. Sampai suatu siang, langit terlihat cerah, mereka mengajakku bertemu
disuatu tempat dan membicarakan hal yang membuat aku terjatuh. Mereka mengaku
sudah lama berhubungan dan memutuskan akan segera menikah.
Betapa hancur perasaanku saat itu. Dua orang
yang sangat aku cintai terpaksa harus menjadi dua orang yang sangat aku benci.
Entah apa yang ada dibenak mereka. Dan entah apa kesalahanku sampai mereka
begitu tega menyakiti aku.
Aku tak kuat menghadapi kenyataan yang terjadi.
Lalu aku putuskan untuk
pindah ke tempat yang jauh dari mereka.
Bali adalah tempat yang aku pilih untuk
menjauhi mereka. Disini aku tak melihat dua sosok jahat yang sudah menyakitiku.
Dia tak bisa menghubungiku karena aku memblokir setiap komunikasi dengan mereka. Nomor teleponpun aku ganti begitupun alamat email aku.
***
Sudah dua tahun aku disini. Menjalani hari-hari
sendiri yang memang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dari kecil aku hidup dengan mereka
dan sekarang aku harus sendiri. Ku coba untuk terus melupakan mereka walaupun
sangat sulit. Semakin
waktu berjalan, semakin aku menyadari keadaan yang terjadi dan perlahan akupun
bisa memaafkan mereka.
Sore itu, langit masih kusam karena memang sejak
pagi hujan turun tanpa henti. Perutku sangat lapar dan aku bermaksud akan
membeli makanan di warung depan. Tapi setelah aku cek dompetku,
tak ada uang yang tersisa. Kenapa aku seceroboh itu sampai kehabisan uang cash di dompet. Terpaksa aku harus
mengambil uang di ATM yang cukup jauh dari tempat tinggalku.
Aku menyalakan sepeda motorku. Entah kenapa
motorku tak bisa hidup, tak biasanya motorku ngadat seperti ini. Ada apa ini.
Akhirnya aku putuskan untuk berjalan kaki.
Ditengah jalan menuju pulang, hujan sangat
deras. Aku lupa membawa
payung sehingga badanku harus basah kuyup. Entah ada pertanda apakah ini sampai-sampai hari ini aku ditimpa kesialan. Perutku
semakin lapar dan aku cepat-cepat membuat mie instan untuk mengganjal perutku. Akhirnya jadi juga mie instan buatanku. Masih
panas dan harus aku tuang dalam mangkuk. Ketika aku menuangkan mie kedalam
mangkuk, tiba-tiba mangkuk pecah, mungkin karena tak kuat menahan panasnya air
dalam mie.
‘Aaaahhhhh’...hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Hari itu memang sangat berbeda dengan hari
lainnya. Kenapa aku begitu apes dengan sore itu. Uang habis, kehujanan ketika
mengambil uang karena motor tak bisa hidup, masak mie malah tak jadi dimakan
karena mangkuknya pecah.
***
Malam itu aku lagi bersantai di ruang
tengah. Kudengar handphoneku berbunyi dan ternyata telepon dari ibuku.
Kuangkat dan Ibu terdengar menangis. Sungguh aku khawatir dengan keadaan Ibu,
namun Ibu tak membicarakan apapun padaku. Beliau hanya menyuruhku pulang
secepatnya.
Perasaanku tak karuan saat itu, lalu aku putuskan untuk pulang ke Bandung keesokan harinya dengan
menggunakan pesawat. Sepanjang perjalanan, perasaanku semakin tak karuan, aku takut
ada apa-apa dengan Ibu.
Perjalanan sangat terasa panjang. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah.
Sampai di rumah, Ibu langsung memelukku.
Kuperiksa satu persatu anggota keluargaku dan kulihat mereka baik-baik saja.
Tapi kenapa mereka seolah tengah bersedih.
“Bu...ada apa ini? Kenapa semua membuatku
bingung?” tanyaku.
Ibu tak menjawab dan tetap menangis sambil
membawaku ke rumah Arif. Di jalan aku sempat menolak, kenapa aku harus selalu
dihubungkan dengan Arif. Tapi Ibu tetap memaksa membawaku ke rumah Arif.
Sesampai di rumah Arif, semua orang memakai
pakaian hitam. Perasaanku mulai tak nyaman dengan semua ini. Ada tanda tanya besar dalam benakku saat itu. Ada apa
dengan Arif?
Disana ada Ibu dan Bapak Arif yang sedang
menangis. Ada Adik dan
Kakak Arif yang juga tak henti-hentinya menangis. Dan ada Tiara. Lalu Arif mana? Kemana Arif? Untuk pertama kalinya aku begitu
kehilangan sahabat karibku. Dimana dia? Kenapa tak kujumpai dia.
Tiara menghampiriku dengan matanya yang masih
memerah bekas menangis. Dia hanya berkata.
“Tolong maafkan Arif, biar dia tenang disana”
katanya.
Maafkan Arif? Tenang disana? Tenang dimana? Apa maksudnya???
Lalu Tiara membawaku ke suatu tempat. Tempat
yang sangat sepi sekali. Namun beberapa saat yang lalu mungkin tempat ini
menjadi ramai karena orang-orang tengah mengantarkan jenazah Arif ke
pengistirahatannya terakhir.
“Arif sudah pergi...”bisik Tiara.
Didepan pusara Arif, aku sudah tak bisa berkata
apa-apa lagi. Begitu sesaknya dada ini. Begitu sakitnya perasaan ini. Lebih
sakit dari pengkhianatan mereka padaku.
“Kenapa Tiara? Apa yang terjadi?” tanyaku.
Tiara hanya memberiku sepucuk surat.
“Ini titipan terakhir Arif buatmu, aku yang
menulisnya karena Arif sudah tak mampu bergerak saat itu” bisik Tiara.
Ku buka surat bersampul coklat itu dan kubaca...
Sahabatku...maafkan aku atas semua yang terjadi,
aku tahu aku salah dan kamu
tentu tak akan memaafkanku begitu saja.
Ingin ku jelaskan semua yang terjadi, tapi kamu
pergi sebelum aku menjelaskan semuanya. Mungkin kamu membenciku, mungkin kamu kecewa dan semua aku anggap sangat wajar. Tapi dengarlah ini sahabatku...
Sejak duduk di bangku SMP, aku memang sudah divonis
menderita kanker otak. Semakin berjalannya waktu, semakin penyakit itu menyiksa
hidupku. Kamu memang tidak tahu dan sengaja aku tak memberitahumu karena aku
tak ingin kamu cemas dengan keadaanku karena ku tahu kamu begitu peduli padaku.
Sahabatku...kamu tahu, sejak kita sama-sama
kuliah, aku juga menyimpan perasaan suka pada Tiara, dan begitupun Tiara padaku.
Namun aku tak tega melihatmu bersedih jika harus melihat aku bahagia dengan
Tiara walaupun pada akhirnya aku pun menyakitimu. Akhirnya aku bujuk Tiara untuk menerimamu. Aku
bahagia melihat kamu bahagia. Walau akhirnya akupun yang menghancurkan itu semua.
Sahabatku...semakin hari kondisiku semakin
terpuruk. Mungkin melihat keadaanku, Tiara semakin tak tega. Akhirnya dia
memilihku untuk menjadi istrinya, karena dia rasa aku lebih membutuhkannya
daripada kamu.
Ya...cara Kami memang salah, cara Kami terlalu kasar, sehingga kamu berfikir, aku dan Tiara sudah
mengkhianatimu. Sampai
akhirnya kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan Kami tanpa ada penjelasan apapun dariku.
Aku dan Tiara kehilangan kontak sama sekali.
Mungkin nomor hpmu diganti karena kamu tak ingin ada Kami lagi dalam
kehidupanmu. Ku tanya
keluargamu, mereka berkata tak bisa memberitahukan nomor hpmu kepadaku. Jujur
aku sangat sedih sekali.
Maafkan aku sahabatku...sungguh maafkan
aku...semua ini terjadi karena kesalahanku. Walaupun aku tak berniat menyakitimu, namun
aku tahu kamu tersakiti denganku.
Aku rindu sahabatku...aku rindu kebersamaan
kita, namun waktuku tak cukup untuk kembali merajut kebersamaan itu. Yang
Diatas akan memanggilku lebih dulu. Namun aku yakin, aku akan tersimpan selalu
di hatimu.
Sampai aku tak bisa bergerak seperti ini,
otakku sudah lemah, namun selemah apapun, aku tak pernah bisa berhenti berfikir
tentangmu.
Kini...mungkin ketika kamu baca tulisan ini,
aku sudah pergi jauh dari pandangan matamu. Namun jangan buang aku di
hatimu. Aku sangat bersedih
disana bila kamu tak memaafkanku...
Terakhir kalinya aku memohon,,,maafkan aku...
***
Kututup surat itu, semakin aku tak kuasa
menahan ini semua. Aku
merasa semakin bersalah. Kini aku pun sudah tak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya didalam hati aku bisa berbisik.
“Aku sudah memaafkanmu, Rif...seandainya aku
tahu, kamu begitu menderita dengan penyakitmu yang akhirnya harus membuatmu
pergi dariku, bukan
hanya perasaanku yang akan aku korbankan, apapun yang bisa membuatmu bertahan, akan aku lakukan,
namun semua sudah
terlambat...tenanglah kamu disana...aku begitu menyayangimu....” bisikku.
Pelajaran buat aku...bahwa hidup tak selalu
indah, aku harus belajar lebih bijak, lebih ikhlas, lebih pasrah dengan apapun
yang sedang terjadi dan apapun yang akan terjadi. Semua orang pasti pernah
merasa disakiti oleh orang yang sangat dicintai. Namun...maafkanlah....sebelum semua
terlambat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar