3 Mar 2012

Ketika Semua Sudah Terlambat


Bagiku seorang sahabat adalah orang kedua yang dekat dengan kehidupanku setelah keluargaku. Tapi aku tak mengerti kenapa perasaanku berubah setalah aku tahu kalau sahabatku menyimpan perasaan lain dengan calon istriku.

Dia tahu kalau wanita itu adalah calon istriku, tapi kenapa dia harus mendekatinya dan tak memperdulikan perasaanku sama sekali. Apa yang terlintas dibenaknya sampai dia begitu tega menghancurkan perasaanku.

Wanita yang sangat aku harapkan selalu ada disisiku dan menjadi istriku nanti juga tak mempunyai perasaan padaku sampai didetik-detik menjelang pernikahan kita, dia malah pergi dan memilih menikah dengan sahabatku itu. Sungguh sangat hancur perasaanku. Dua orang yang sangat aku cintai harus terpaksa pergi dari kehidupanku.

***

Kami bertiga sudah bersahabat sejak kecil. Rumah kita berada dalam satu komplek perumahan. Dari kecil sampai dewasa kita selalu hidup berdampingan. Tiara dan Arif, itulah sahabatku yang sekarang telah mengkhianatiku.

Sampai duduk di bangku kuliahpun kita memutuskan untuk masuk di Fakultas yang sama. Bukan hanya sebuah persahabatan yang aku rasakan dengan mereka, namun mereka sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.

Tiara adalah seorang yang lincah, pintar bergaul, cantik, ramah dan pintar. Tak sedikit laki-laki yang memberi perhatian pada dia, termasuk aku dan mungkin sahabatku juga. Arif adalah laki-laki pendiam yang cerdas. Tak sedikit wanita yang mendekatinya.

Arif tahu bagaimana perasaanku pada Tiara. Sedalam apa harapanku padanya. Dia yang mengusahakan menyatukan aku dan Tiara sampai akhirnya Tiara menjadi tunanganku.

Memang sulit mendapatkan hati Tiara. Karena ketika Tiara menganggukan kepalanya sebagai tanda menerima perasaanku, aku melihat ada keraguan yang mendalam disorot matanya. Entah perasaanku yang salah atau memang itu kenyataannya. Aku melihat ada sosok lain yang Tiara harapkan dalam hatinya. Namun karena keegoisanku, aku tak peduli dengan perasaan itu, yang terpenting, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Tiara.

Setelah lulus kuliah, aku bekerja disalah satu perusahaan ternama di kota ini. Arif dan Tiara bekerja disalah satu perusahaan swasta juga di kota lain. Untuk kali pertamannya kita berpisah. Tapi aku percaya Arif akan menjaga Tiara disana.

Komunikasi kita berjalan lancar. Setiap weekend atau libur kantor, kita selalu bersama-sama menikmati liburan dari penatnya rutinitas. Memang tak ada permasalahan yang berarti dalam hubungan Kami bertiga. Sampai suatu siang, langit terlihat cerah, mereka mengajakku bertemu disuatu tempat dan membicarakan hal yang membuat aku terjatuh. Mereka mengaku sudah lama berhubungan dan memutuskan akan segera menikah.

Betapa hancur perasaanku saat itu. Dua orang yang sangat aku cintai terpaksa harus menjadi dua orang yang sangat aku benci. Entah apa yang ada dibenak mereka. Dan entah apa kesalahanku sampai mereka begitu tega menyakiti aku.

Aku tak kuat menghadapi kenyataan yang terjadi. Lalu aku putuskan untuk pindah ke tempat yang jauh dari mereka.

Bali adalah tempat yang aku pilih untuk menjauhi mereka. Disini aku tak melihat dua sosok jahat yang sudah menyakitiku. Dia tak bisa menghubungiku karena aku memblokir setiap komunikasi dengan mereka. Nomor teleponpun aku ganti begitupun alamat email aku.

***

Sudah dua tahun aku disini. Menjalani hari-hari sendiri yang memang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dari kecil aku hidup dengan mereka dan sekarang aku harus sendiri. Ku coba untuk terus melupakan mereka walaupun sangat sulit. Semakin waktu berjalan, semakin aku menyadari keadaan yang terjadi dan perlahan akupun bisa memaafkan mereka.

Sore itu, langit masih kusam karena memang sejak pagi hujan turun tanpa henti. Perutku sangat lapar dan aku bermaksud akan membeli makanan di warung depan. Tapi setelah aku cek dompetku, tak ada uang yang tersisa. Kenapa aku seceroboh itu sampai kehabisan uang cash di dompet. Terpaksa aku harus mengambil uang di ATM yang cukup jauh dari tempat tinggalku.

Aku menyalakan sepeda motorku. Entah kenapa motorku tak bisa hidup, tak biasanya motorku ngadat seperti ini. Ada apa ini. Akhirnya aku putuskan untuk berjalan kaki.

Ditengah jalan menuju pulang, hujan sangat deras. Aku lupa membawa payung sehingga badanku harus basah kuyup. Entah ada pertanda apakah ini sampai-sampai hari ini aku ditimpa kesialan. Perutku semakin lapar dan aku cepat-cepat membuat mie instan untuk mengganjal perutku. Akhirnya jadi juga mie instan buatanku. Masih panas dan harus aku tuang dalam mangkuk. Ketika aku menuangkan mie kedalam mangkuk, tiba-tiba mangkuk pecah, mungkin karena tak kuat menahan panasnya air dalam mie.

‘Aaaahhhhh’...hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

Hari itu memang sangat berbeda dengan hari lainnya. Kenapa aku begitu apes dengan sore itu. Uang habis, kehujanan ketika mengambil uang karena motor tak bisa hidup, masak mie malah tak jadi dimakan karena mangkuknya pecah.

***

Malam itu aku lagi bersantai di ruang tengah. Kudengar handphoneku berbunyi dan ternyata telepon dari ibuku. Kuangkat dan Ibu terdengar menangis. Sungguh aku khawatir dengan keadaan Ibu, namun Ibu tak membicarakan apapun padaku. Beliau hanya menyuruhku pulang secepatnya.

Perasaanku tak karuan saat itu, lalu aku putuskan untuk pulang ke Bandung keesokan harinya dengan menggunakan pesawat. Sepanjang perjalanan, perasaanku semakin tak karuan, aku takut ada apa-apa dengan Ibu. Perjalanan sangat terasa panjang. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah.

Sampai di rumah, Ibu langsung memelukku. Kuperiksa satu persatu anggota keluargaku dan kulihat mereka baik-baik saja. Tapi kenapa mereka seolah tengah bersedih.

“Bu...ada apa ini? Kenapa semua membuatku bingung?” tanyaku.

Ibu tak menjawab dan tetap menangis sambil membawaku ke rumah Arif. Di jalan aku sempat menolak, kenapa aku harus selalu dihubungkan dengan Arif. Tapi Ibu tetap memaksa membawaku ke rumah Arif.

Sesampai di rumah Arif, semua orang memakai pakaian hitam. Perasaanku mulai tak nyaman dengan semua ini. Ada tanda tanya besar dalam benakku saat itu. Ada apa dengan Arif?

Disana ada Ibu dan Bapak Arif yang sedang menangis. Ada Adik dan Kakak Arif yang juga tak henti-hentinya menangis. Dan ada Tiara. Lalu Arif mana? Kemana Arif? Untuk pertama kalinya aku begitu kehilangan sahabat karibku. Dimana dia? Kenapa tak kujumpai dia.

Tiara menghampiriku dengan matanya yang masih memerah bekas menangis. Dia hanya berkata.

“Tolong maafkan Arif, biar dia tenang disana” katanya.

Maafkan Arif? Tenang disana? Tenang dimana? Apa maksudnya???

Lalu Tiara membawaku ke suatu tempat. Tempat yang sangat sepi sekali. Namun beberapa saat yang lalu mungkin tempat ini menjadi ramai karena orang-orang tengah mengantarkan jenazah Arif ke pengistirahatannya terakhir.

“Arif sudah pergi...”bisik Tiara.

Didepan pusara Arif, aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu sesaknya dada ini. Begitu sakitnya perasaan ini. Lebih sakit dari pengkhianatan mereka padaku.

“Kenapa Tiara? Apa yang terjadi?” tanyaku.

Tiara hanya memberiku sepucuk surat.

“Ini titipan terakhir Arif buatmu, aku yang menulisnya karena Arif sudah tak mampu bergerak saat itu” bisik Tiara.

Ku buka surat bersampul coklat itu dan kubaca...

Sahabatku...maafkan aku atas semua yang terjadi, aku tahu aku salah dan kamu tentu tak akan memaafkanku begitu saja.
Ingin ku jelaskan semua yang terjadi, tapi kamu pergi sebelum aku menjelaskan semuanya. Mungkin kamu membenciku, mungkin kamu kecewa dan semua aku anggap sangat wajar. Tapi dengarlah ini sahabatku...
Sejak duduk di bangku SMP, aku memang sudah divonis menderita kanker otak. Semakin berjalannya waktu, semakin penyakit itu menyiksa hidupku. Kamu memang tidak tahu dan sengaja aku tak memberitahumu karena aku tak ingin kamu cemas dengan keadaanku karena ku tahu kamu begitu peduli padaku.

Sahabatku...kamu tahu, sejak kita sama-sama kuliah, aku juga menyimpan perasaan suka pada Tiara, dan begitupun Tiara padaku. Namun aku tak tega melihatmu bersedih jika harus melihat aku bahagia dengan Tiara walaupun pada akhirnya aku pun menyakitimu. Akhirnya aku bujuk Tiara untuk menerimamu. Aku bahagia melihat kamu bahagia. Walau akhirnya akupun yang menghancurkan itu semua.

Sahabatku...semakin hari kondisiku semakin terpuruk. Mungkin melihat keadaanku, Tiara semakin tak tega. Akhirnya dia memilihku untuk menjadi istrinya, karena dia rasa aku lebih membutuhkannya daripada kamu.

Ya...cara Kami memang salah, cara Kami terlalu kasar, sehingga kamu berfikir, aku dan Tiara sudah mengkhianatimu. Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan Kami tanpa ada penjelasan apapun dariku.

Aku dan Tiara kehilangan kontak sama sekali. Mungkin nomor hpmu diganti karena kamu tak ingin ada Kami lagi dalam kehidupanmu. Ku tanya keluargamu, mereka berkata tak bisa memberitahukan nomor hpmu kepadaku. Jujur aku sangat sedih sekali.

Maafkan aku sahabatku...sungguh maafkan aku...semua ini terjadi karena kesalahanku. Walaupun aku tak berniat menyakitimu, namun aku tahu kamu tersakiti denganku.

Aku rindu sahabatku...aku rindu kebersamaan kita, namun waktuku tak cukup untuk kembali merajut kebersamaan itu. Yang Diatas akan memanggilku lebih dulu. Namun aku yakin, aku akan tersimpan selalu di hatimu.

Sampai aku tak bisa bergerak seperti ini, otakku sudah lemah, namun selemah apapun, aku tak pernah bisa berhenti berfikir tentangmu.

Kini...mungkin ketika kamu baca tulisan ini, aku sudah pergi jauh dari pandangan matamu. Namun jangan buang aku di hatimu. Aku sangat bersedih disana bila kamu tak memaafkanku...
Terakhir kalinya aku memohon,,,maafkan aku...

***

Kututup surat itu, semakin aku tak kuasa menahan ini semua. Aku merasa semakin bersalah. Kini aku pun sudah tak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya didalam hati aku bisa berbisik.

“Aku sudah memaafkanmu, Rif...seandainya aku tahu, kamu begitu menderita dengan penyakitmu yang akhirnya harus membuatmu pergi dariku, bukan hanya perasaanku yang akan aku korbankan, apapun yang bisa membuatmu bertahan, akan aku lakukan, namun semua sudah terlambat...tenanglah kamu disana...aku begitu menyayangimu....” bisikku.

Pelajaran buat aku...bahwa hidup tak selalu indah, aku harus belajar lebih bijak, lebih ikhlas, lebih pasrah dengan apapun yang sedang terjadi dan apapun yang akan terjadi. Semua orang pasti pernah merasa disakiti oleh orang yang sangat dicintai. Namun...maafkanlah....sebelum semua terlambat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar