Cinta...setiap orang pasti pernah merasakan
ini. Cinta tidak selalu digambarkan pada sebuah pasangan. Cinta pada sang Maha
Pencipta harus diterapkan diatas segalanya. Cinta pada orangtua, sahabat,
kerabat dan cinta pada yang lainnya. Cinta yang kita rasakan tersebut tentu
berbeda porsi dan perlakuannya. Namun apakah kita memang sudah benar-benar merasakan cinta dengan apa yang
sudah kita lakukan pada yang kita cintai.
Begitupun aku, akupun sama seperti yang lainnya yang pernah
atau sedang merasakan cinta. Tapi terkadang aku merasa, apakah cinta yang
kurasakan ini hanya di mulut saja, ketika apa yang aku lakukan tak
seindah apa yang kuucapkan.
Aku sangat mencintai-NYA, begitu yang selalu aku ucapkan dalam
hati. Aku sangat mencintai Sang Maha Segalanya. Cukup Engkau bagiku. Begitu
yang selalu tertanam di hatiku. Namun,
ketika aku merasakan apa yang sudah aku perbuat, rasanya aku malu telah
mengatakan itu. Terkadang aku suka lupa kewajiban yang harus aku tunaikan
sebagai hamba. Harus aku ralat, bukan ‘LUPA’ tapi terkadang disengaja hanya
karena kepentingan dunia.
Aku pernah menangis, aku pernah sangat bersedih
ketika orang yang ku sayangi pergi meninggalkanku. Aku bisa kehilangan semangat
hidup, aku juga bisa berfikir keras sampai berat badanku turun karena
memikirkan hal itu. Semua mungkin pernah merasakan apa yang kurasa. Aku berfikir, kenapa aku bisa
sebegitu bersedih ketika hal itu terjadi sementara aku sudah mengatakan bahwa
aku sangat mencintai-NYA. Hal yang menyakitkan itu seharusnya tak perlu
dirisaukan ketika kita benar-benar merasakan cinta kepada-NYA. Mungkin itu kodrat manusia yang
selalu ingkar dari apa yang
dia ucapkan. Namun melihat kondisi seperti itu, apakah kita memang benar-benar sudah merasakan cinta pada-NYA.
Cinta pada orangtua, selalu aku berkata, aku cinta padamu
Ibu...engkau yang sudah melahirkan dan membesarkanku. Begitupun Ayah, beliau yang sudah memberi nafkah dengan tetesan
keringatnya tanpa lelah.
Tak sedikit orang membuat puisi romantis untuk
orangtua. Tak sedikit para musisi membuat lagu cantik yang khusus
dipersembahkan untuk para orangtua mereka. Begitupun aku, kata-kata indah pernah ku lontarkan, “MOM...I love u...I give u everything”...tapi apa yang pernah kuperbuat.
Ini hanya satu contoh dari beberapa kekecewaan
orangtua atas sikap yang pernah aku perbuat.
Siang itu, Ibu mendadak sakit keras. Dia
meneleponku ketika aku sedang berada di kantor. Beliau memang tidak
mengatakan kalau aku harus pulang dan menengoknya. Beliau hanya mengabarkan apa
yang sedang dirasakannya.
Dalam hatiku, aku tersadar, Ibu pasti mengharapkan ada aku disana dan
merawatnya. Aku juga tahu, itu bukan hanya sebuah telepon biasa, tapi sebuah
pengharapan besar padaku agar aku ada didekatnya.
Namun, dengan gampang aku mengatakan bahwa aku
sedang sibuk dan tak bisa menengok Ibu. Ibu cepat sehat dan jika ada waktu, aku
akan menengoknya. Kata ‘Jika ada waktu’ itu mungkin bisa membuat Ibu kecewa. Kepentingan
pekerjaan diartikan sangat jauh besar dari pengorbanan Ibu selama ini. Itu
mungkin yang bisa aku tarik kesimpulan dari kejadian itu.
Akupun berfikir, apakah ini cinta? Kata-kata indah yang kusematkan tak bernilai
harganya ketika hanya gara-gara pekerjaan, kita kehilangan detik-detik dimana Ibu membutuhkan aku. Lalu apakah aku
sudah merasakan cinta itu???
***
Sahabat adalah orang terdekatku. Berbagi cerita, berbagi kesedihan,
berbagi kebahagiaan pernah aku rasakan bersama sahabatku. Aku mencintai sahabatku. Cinta
yang harusnya disertai dengan berjuta maklum, pengertian, dan perhatian.
Ini juga hanya sebuah cerita dari sekian banyak
kisah yang pernah aku lakukan kepada sahabatku.
Kita sudah merajut rencana untuk bertemu
disuatu tempat. Sekitar dua bulan lebih kita merencanakan itu karena setelah
lulus kuliah, aku dan sahabatku itu sudah lama tak bertemu.
Sampai pada hari yang kita tunggu, sahabatku
dengan gampangnya mengatakan bahwa dia tak bisa datang menemuiku karena ada
acara keluarga yang sangat mendadak. Tentu, setiap orang yang pernah mengalami
ini pasti merasakan kekecewaan. Bukan waktu sebentar kita merencanakan
semua ini, tapi dengan mudah
semuanya batal.
Permintaan maafnya tak pernah aku gubri. Telepon, sms atau media lainnya juga tak pernah aku balas karena begitu
kecewanya aku. Hampir sekitar tujuh bulan kita putus komunikasi.
Ketika itu, aku berfikir...bukankah cinta itu penuh dengan rasa
memaklumi, mengerti dan memahami situasi yang terjadi??? Aku tak
pernah tahu, keperluan apa yang dia lakukan sampai membatalkan pertemuan kita.
Tentu keperluan yang sangat penting. Mungkin kerabatnya sakit atau apalah dan
kenapa aku tak bisa memakluminya. Inikah yang dinamakan cinta???
Begitupun dengan pasangan kita. Terkadang aku
berfikir, kita satu jiwa, yang ketika dia sakit, kitapun merasakan hal yang
sama. Begitupun disaat kita senang.
Bersyukur aku mempunyai istri yang sangat baik,
istri yang patuh pada suami. Mungkin aku salah satu para suami yang sangat
beruntung mempunyai istri sepertinya. Aku begitu mencintainya.
Namun, beberapa bulan lalu, di kantorku
ada karyawati baru yang akan menjadi bawahanku. Tentu saja setiap hari kita
berinteraksi dengan sebuah pekerjaan. Aku dekat dengan dia karena memang
tuntutan pekerjaan yang membuatku seperti itu.
Semakin berjalannya waktu hubunganku dan dia tak seperti
biasanya. Memang bukan perselingkuhan, hanya sebatas kedekatan yang memang
tidak lumrah. Tertanam di hatiku ada perasaan lain, yang aku sadar jika istriku tahu, dia akan merasakan
sakit. Memang bukan cinta hanya sebuah ketertarikan.
Kejadian itu membuatku menyadari, apakah aku sudah benar-benar mencintai
istriku. Menjadikan dia belahan jiwa yang tak akan pernah tergantikan dengan
jiwa lain. Kemanakah kata-kata indah yang pernah aku ucapkan ‘aku akan mencintaimu selamanya’...ketika
aku harus merasakan ketertarikan kepada wanita lain. Apakah ini sebuah cinta
pada pasangan kita???
Aku dan mungkin kita semua memang bukan
manusia yang sempurna. Kita mempunyai banyak keterbatasan untuk benar-benar
mencintai dan memahami apa itu cinta yang sebenarnya. Kita hanya berusaha untuk
mewujudkan cinta yang terucap dari mulut seperti apa yang kita lalukan
sampai kita benar-benar merasakan cinta yang sebenarnya. Kita akan terus belajar
menyempurnakan keterbatasan cinta yang kita miliki menjadi sebuah cinta yang
benar-benar sempurna. Bisakah???
Ajari aku cinta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar