Pikiranku melayang ketika aku melihat
ranjang-ranjang di rumah sakit itu. Beberapa waktu yang lalu di ranjang itu terkujur seseorang
yang sedang meregang nyawa akibat kecelakaan. Seseorang yang sangat aku cintai.
Calon istriku.
Satu bulan menuju pernikahan, aku dengan calon
istriku berencana mengunjungi kerabat dekatku yang berada di Yogyakarta. Kami
bermaksud untuk mengundang mereka di acara pernikahan Kami. Namun ditengah
perjalanan menuju Yogyakarta bis yang Kami tumpangi mengalami kecelakaan yang
menyebabkan calon istriku mengalami koma yang cukup lama.
Waktu itu, akupun mengalami patah tulang yang
cukup parah. Pernikahan Kami terpaksa harus gagal karena kecelakaan tersebut.
***
Setahun berlalu, kondisiku sudah normal
kembali, namun hatiku masih pilu ketika aku melihat calon istriku masih
terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dia masih dalam keadaan
koma dan entah sampai kapan keajaiban itu akan datang. Aku masih berharap dia
bisa sembuh karena aku sangat mencintainya. Namun sampai kapan aku harus
menunggu dengan berjuta permohonan ini.
Setiap hari sepulang kerja, aku selalu
menyempatkan diri menengok dia. Aku selalu menjadikan dia seseorang yang
pertama kali mendengar setiap keluh kesahku. Aku bercerita tentang apapun
walaupun aku sadar, dia hanya diam dengan selang oksigen yang menutupi sebagian
wajahnya. Tapi aku yakin dia mendengar semuanya.
Terkadang aku tak kuasa menahan air mata yang
terus mengalir ketika aku membayangkan betapa sakitnya dia. Namun aku menyadari
mungkin ini cobaan dari Yang Maha Segalanya dan aku harus bertahan dengan
keadaan ini.
***
Suatu hari, orangtua calon istriku mengajakku
berdiskusi tentang keadaan dia. Singkat cerita orangtua calon istriku menyarankan agar
aku mencari calon istri yang lain untuk menjadi pendampingku. Mereka tak mau
melihat hidupku tak menentu dengan harapan-harapan yang entah kapan bisa terwujud. Namun aku
tegaskan bahwa aku akan menunggu dia sampai kapanpun. Apa yang terbayang jika
aku menikah dengan gadis lain sementara dia masih meregang nyawa.
Aku memang tak berjanji, namun aku akan berusaha menjaga kesetiaan yang aku
punya saat ini. Aku tak punya hal lain untuk mencintainya selain kesetiaan yang
aku harap membuatnya bahagia.
***
Dua tahun sudah dia berbaring tak berdaya, aku
masih bertahan dengan setiaku. Karena faktor ekonomi, dia terpaksa dipindahkan
ke rumah. Dua tahun di rumah sakit membuat perekonomian keluarganya
mengalami penurunan sehingga semua sepakat untuk dia dipindahkan perawatannya ke rumah saja.
Aku masih merawatnya setiap hari walaupun dengan
waktu yang sangat terbatas karena aku harus bekerja. Namun aku selalu mencoba
menyempatkan waktu untuk datang ke rumahnya. Apalagi ketika weekend tiba atau hari libur, aku selalu
menghabiskan waktu bersama dia.
Berkali-kali orangtuanya mengingatkanku untuk
memikirkan hidupku karena
umurku semakin bertambah. Aku harus berfikir realistis untuk mencari calon
pendamping hidup yang lain. Namun berkali-kali juga aku menjelaskan bahwa saat ini aku masih
menunggunya.
***
Siang itu, di tempat kerjaku ada karyawati baru
yang akan menjadi partner kerjaku
karena partner kerjaku yang dulu
keluar dengan alasan ingin fokus dengan keluarganya.
Anita...nama partner baruku. Cantik, menarik dan sangat ramah. Baru sebentar
saja kita bisa langsung nyambung. Apalagi tanpa aku sadar ternyata dia SMUnya
satu alumni denganku. Dia tiga tahun dibawah aku.
Bulan berganti, aku semakin dekat dengan Anita,
bukan hanya masalah kantor yang Kami diskusikan, namun masalah pribadi dan yang
lainnya.
Anita pernah menjalin hubungan dengan seorang
laki-laki, namun entah kenapa laki-laki itu meninggalkannya dan lebih memilih
wanita lain. Aku sering memberi masukan pada Anita dan sebaliknya Anitapun
begitu.
Suatu hari, aku mengajak Anita datang ke rumah calon
istriku. Aku mengenalkan Anita pada orangtua calon istriku. Anita terlihat
miris ketika melihat wanita yang sangat aku cintai terbaring tak berdaya bertahun-tahun ditempat tidurnya. Harapan demi
harapan selalu Kami rangkai di hati berharap dia membuka matanya dan kembali bisa tersenyum.
***
Dari waktu ke waktu, hubunganku semakin dekat
dengan Anita. Aku tak menolak perasaan ini ketika di hatiku terjadi sesuatu yang membuat
aku nyaman bila aku bersamanya. Anita orang yang sangat perhatian. Mungkin itu salah satu hal yang
membuat aku suka dengan dia.
Aku mencoba berbicara tentang hal ini kepada
orangtua calon istriku dulu dan mereka
menyambut dengan baik. Mereka mendukungku untuk menjalani hubungan ke arah yang
lebih serius dengan Anita.
Semakin waktu berjalan, semakin aku yakin kalau
Anita diciptakan untuk menggantikan dia dalam hidupku. Bukan aku menghancurkan
kesetiaanku, namun lagi-lagi aku dituntut untuk bersikap realistis dan meneruskan hidupku.
***
Hari itu aku bermaksud untuk melamar Anita. Aku
sudah mempersiapkan segalanya termasuk tempat yang cukup baik untuk aku jadikan
tempat melamar. Aku
ajak Anita kesebuah café yang tak jauh dari tempat kerjaku. Tak menunggu lama aku langsung
menyatakan maksud hatiku.
Anita sempat ragu, berkali-kali dia bertanya apa aku yakin dengan
keputusanku mengingat dia tahu apa yang sebenarnya berkecambuk dilubuk hatiku
terkait masih ada seseorang yang terbaring lemah disana. Namun aku
menjelaskan bahwa hidupku harus terus berjalan dan pihak keluarga sudah menyetujui
keputusanku. Dengan senyuman dan anggukan akhirnya dia menerima lamaranku.
Kini aku sudah bertunangan dengan Anita.
Tapi bukan berarti aku melupakan dia. Aku dan Anita sering berkunjung ke rumahnya.
Mereka adalah bagian dari hidupku yang tak akan pernah aku tinggalkan. Hanya mungkin intensitas
kunjungan aku tak sesering dulu mengingat kondisi aku sudah berubah sekarang.
Pernikahan aku dan Anita akan dilaksanakan
sekitar enam bulan lagi. Anitapun sekarang sudah berhenti bekerja karena aturan
di kantorku tidak memperbolehkan suami istri bekerja dalam satu kantor.
Jadi Anita memutuskan untuk pindah kerja.
***
Siang itu, udara sangat cerah sekali. Aku
bermaksud untuk mengajak Anita berjalan-jalan ke suatu tempat, namun dia
menolaknya karena merasa kurang enak badan. Akhirnya akupun memutuskan untuk
menghabiskan libur kali ini di rumah masing-masing saja.
Setelah membereskan rumah, saatnya aku
bersantai didepan TV. Tak terasa mataku terlelap dengan TV masih menyala. Tiba-tiba bunyi handphoneku membangunkan acara tidurku siang itu. Aku lihat
ternyata telepon dari rumahnya dia, calon istriku dulu.
Aku angkat, ternyata Ibu dia yang meneleponku. Ibunya memintaku untuk datang ke rumahnya.
Sempat aku tanya ada
apa, beliau hanya menjawab ada sesuatu yang
akan ditunjukkan. Pikiranku semakin tak karuan dengan semua ini. Namun akupun
penasaran dengan apa
yang sedang terjadi.
Memang sudah agak lama aku tak berkunjung dan
menengok calon istriku dulu karena kesibukan dan identitas diriku yang kini berbeda dengan aku yang dulu. Namun siang itu aku mencoba untuk
memenuhi keinginan Ibunya untuk datang kesana.
Sesampai di rumahnya, Ibunya langsung memelukku
dan membawaku ke kamarnya. Hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat. Dulu
setiap aku masuk ke
kamar itu, aku selalu
melihat ada orang yang
terbaring lemah di ranjang itu dengan selang oksigen yang menutupi sebagian wajah
cantiknya. Aku harus menahan rapat-rapat rasa sedihku. Namun siang itu aku cukup kaget
dengan apa yang aku lihat. Sosok itu, hadir dengan senyuman yang selama ini aku
rindukan.
Dia duduk di tempat tidur dengan wajah yang
sendu. Kerudung putih yang dia kenakan menambah cerah wajahnya walaupun masih
terlihat pucat. Dia tersenyum, dia memanggilku walaupun masih terbata-bata. Dia
sudah sadar walapun belum sembuh total.
Aku benar-benar terkejut dengan apa yang aku lihat. Perasaanku
campur aduk tak tahu arah. Ada perasaan bahagia yang tiada tara, ada perasaan
tak menentu yang aku rasakan saat itu. Aku bahagia karena selama bertahun-tahun, inilah waktu yang aku tunggu. Namun
kondisiku sudah berbeda, karena aku sudah mempunyai Anita.
Ibunya bercerita, kalau dia sudah mengalami
sadar dari komanya tepat seminggu setelah aku bertunangan dengan Anita. Sengaja
Ibunya tak menceritakan hal itu karena takut mengganggu hubunganku dengan
Anita. Memang setelah aku bertunangan, aku jarang menghubungi keluarga ini. Aku
menjaga perasaan Anita. Namun karena permintaan dia, Ibunya terpaksa menghubungi aku. Dia ingin
bertemu denganku.
***
Malam itu, aku matikan handphoneku. Aku sengaja tidak mau dihubungi siapapun termasuk
Anita. Pikiranku sedang
kacau. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan hatiku. Sejujurnya, aku masih
mencintainya. Jika aku bisa memilih, aku masih ingin bersamanya dengan sisa
kesetiaan yang kupunya, namun bagaimana dengan Anita. Gadis yang selama ini memberikan cintanya untukku. Apa aku harus
menyakitinya, apalagi sebentar lagi kita akan menikah.
Dua hari sudah akupun tidak masuk kantor, aku
mengajukan cuti selama empat hari. Selama itupun handphone aku matikan. Aku berfikir, Anita pasti mencariku. Tapi
tak apalah...aku masih berfikir.
Sisi lain hatiku mengatakan bahwa aku akan
bahagia bersamanya. Aku rela menunggu dia bertahun-tahun dalam keadaan koma, kenapa setelah dia sadar
aku malah menyia-nyiakannya. Namun lagi-lagi bayangan Anita selalu datang. Aku
juga tak mungkin tega meninggalkan dia.
***
Tiga hari dalam kesendirianku, hatiku masih
tersiksa dengan perasaan ini. Aku semakin tak kuasa menahan cinta yang
bergejolak untuk dia. Rasanya
aku sudah tak mampu menahannya.
Hari itu aku mencoba mendatanginya. Sesampai
didepan rumahnya, aku ragu ketika akan mengetuk pintu rumahnya, namun aku coba
untuk memberikan salam. Ibunya yang membuka pintu rumah. Aku meminta izin untuk
bertemu dia dan Ibunya mempersilakan aku untuk langsung masuk ke kamar dia.
Ku lihat dia sedang terduduk. Dia juga cukup
kaget dengan kedatanganku. Cukup kaku juga aku dengan dia, mungkin karena sudah
bertahun-tahun kita tak
saling bicara.
“Sini Mas, duduk didekatku...” katanya dengan nada bicara yang masih kurang
jelas.
Sebelum aku berbicara, dia mengawali pembicaraan Kami, seolah dia tahu
apa yang berkecambuk di hatiku saat itu.
“Mas...aku sudah tahu, apa yang terjadi
denganmu, Ibu sudah
menceritakan semuanya padaku...” katanya.
“Tapi aku...” belum juga aku meneruskan
pembicaraanku, dia langsung berbicara lagi.
“Aku tahu, perasaan kita masih kuat, aku tahu
kesetiaanmu masih terjaga
untukku, namun aku tahu saat ini ada Anita jauh lebih membutuhkanmu...Jangan
hiraukan aku Mas...aku hanya masa lalumu. Aku bersyukur sekarang aku sudah sembuh walaupun belum
sembuh total dan aku
bersyukur masih diberi
kesempatan untuk menikmati dunia...” kata dia.
“Tapi aku mencintaimu...sangat mencintaimu...” kataku.
“Aku tahu...namun keadaan sudah berubah, aku tak ingin
menjadi sosok yang hadir ditengah kalian. Terima kasih Mas, sudah
menjagaku selama ini, terima kasih atas kesetiaanmu yang sangat luar biasa.
Mungkin jalanmu bukan bersamaku. Menikahlah dengan Anita...” Itu kalimat terakhirnya.
Sejujurnya hatiku pilu, terkadang aku
menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku tak mempunyai kesabaran sedikit saja
untuk menunggunya, namun disisi lain inilah mungkin takdirku. Jodohku
bukan dengannya.
***
Setelah kejadian itu, aku mencoba memantapkan hatiku
untuk menikahi Anita. Aku berusaha mencintainya sepenuh hati. Sementara dia, aku mencoba menjadikan dia sosok terindah yang
akan selalu aku simpan dan terkunci di hati.
Kini aku dan istriku Anita sudah mempunyai satu jagoan kecil dan Kami pindah ke luar kota. Sampai
sekarangpun, Anita tidak pernah tahu kalau dia sudah sadar. Aku akan terus
menjaga perasannya. Kami hidup bahagia. Namun seperti hari ini, ketika aku
mengantar istriku menengok salah satu rekan kerjanya yang tengah sakit, setiap aku melihat ranjang-ranjang di rumah sakit, pasti pikiranku
melayang ke seseorang yang pernah berbaring lama disana. Dia...yang sejak aku
menikah tak pernah ku ketahui kabarnya.
Tapi sudahlah, aku sekarang sudah bahagia bersama istri dan
anakku. Namun masa lalu itu masih aku simpan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar