Sakit rasanya ketika kita harus
kehilangan orang yang pernah dekat dengan hidup kita. Menghiasi hari-hari kita, mendampingi
disaat kita memerlukannya. Begitupun
yang aku rasakan, dia harus pergi karena kekecewaannya
kepadaku. Memang bukan salah dia untuk meninggalkan aku. Saat itu aku belum
mempunyai pekerjaan tetap. Memang suatu kewajaran bila dia menginginkan yang
terbaik. Walaupun hati ini tak rela tapi dengan sangat terpaksa aku harus
melepasnya. Akhirnya diapun menikah dengan seseorang yang memang jauh lebih
baik dari aku.
Sungguh aku tak
bisa melupakannya, mungkin sampai saat ini. Dia masih bersarang di hatiku. Entah kapan akan hilang. Kedekatan
aku dan dia
memang tak begitu lama, tapi tak tau kenapa, dia seolah tak mau pergi dari ingatanku.
Saat ini,
Alhamdulillah Tuhan sudah memberikan banyak kenikmatan untukku. Aku mempunyai sebuah
pekerjaan yang memang aku senangi. Aku tak mengejar apapun, aku hanya butuh
kenyamanan dan aku senang bekerja ditempat ini.
Lamunanku masih
menerawang di angkasa. Masih berandai-andai. Seandaikan posisi seperti ini yang aku rasakan
dulu, mungkin dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi ya sudahlah, semua yang terbaik sudah
diatur-NYA, mungkin dia bukan yang terbaik untukku.
***
Usiaku tak muda
lagi. Dengan pekerjaan yang ada, aku ingin menyempurnakan hidupku dengan
memiliki seorang istri. Aku tak ingin larut dengan masa lalu itu. Doa tak akan
cukup tanpa sebuah usaha.
Wanita A, aku berkenalan dengannya lewat
dunia maya. Usianya memang agak jauh dariku. Dia masih duduk di bangku kuliah.
Secara fisik wanita ini memang cantik, setelah ngobrol aku merasa dia lumayan
dewasa. Setelah dua minggu kita berkenalan, aku berniat untuk bertemu langsung
dengannya ditemani seorang teman.
Pertemuan
pertama aku rasa cukup sukses. Kesan pertama aku merasa dia gadis yang baik. Sejujurnya memang dia bukan seorang gadis
seperti apa yang aku mau. Penampilannya cukup “gaul”, tapi ku fikir semua bisa dibina
seiring berjalanya waktu.
Sejak pertemuan
itu, tak ada yang berubah dari dirinya. Malah aku lihat dia semakin
memperhatikan aku. Dengan adanya perhatian seperti itu kemungkinan besar dia
akan menerimaku. Sudah hampir dua bulan Kami berkomunikasi dan aku berniat untuk
mengutarakan keinginanku untuk menikahinya.
Aku berencana hari itu untuk
mengutarakan maksudku. Setelah aku
mengutarakan isi hatiku, aku merasa bahagia karena diapun memang merasakan
hal yang sama. Tapi sayangnya untuk menikah, kelihatannya dia belum siap dan dia memilih ingin “berpacaran” dulu. Aku merasa ternyata
prinsip dia berbeda denganku. Aku tak ingin menikahi wanita dengan berpacaran dulu. Lalu kuputuskan
untuk membatalkan hubungan ini.
***
Wanita B,dia teman SMUku dulu. Aku berjumpa
lagi lewat jaringan sosial juga. Sedikitnya aku tahu banyak tentang dia. Dia saat ini bekerja
disalah satu perusahaan swasta di kota yang sama. Kami sering berkomunikasi lewat
dunia maya. Jika dilihat dari segi finansial memang aku sadari, dia lebih dari
aku. Tapi aku merasa, perasaan tak bisa dilihat dari faktor dunia saja.
Awalnya kita
berkomunikasi sangat lancar. Namun, akhir-akhir ini, entah kenapa dia tak pernah membalas
pesan aku. Aku sapa salam pun dia tak pernah mengubrisnya. Dia seolah
mengacuhkan aku dan tak ingin mengenalku lagi.
Mungkin dia tidak menyukaiku, akhirnya aku putuskan
untuk mundur saja.
***
Wanita C, aku
mengenalnya di lapangan tennis. Setiap weekend
aku selalu menyempatkan diri menjaga kebugaran tubuh. Salah satunya dengan
bermain tennis. Saat aku istirahat, dia datang dan akhirnya aku dikenalkan oleh
seorang temanku pada dia. Kami sering smsan ataupun chatting. Temanku juga menyarankan aku untuk mengenalnya lebih jauh
karena saat ini dia sedang tak dekat dengan siapapun.
Aku mencoba
untuk mengikuti saran temanku. Aku mencoba mendekati dia. Tapi setelah Kami
dekat, aku mendengar kabar kalau dia sudah kembali ke mantan pacarnya.
***
Wanita D, aku
mengenalnya ketika sedang mengurus syarat-syarat untuk melanjutkan S2 ku di kampus yang
sama. Dia memang bekerja sebagai administrasi di kampusku. Sebenarnya sudah lama juga aku mengenalnya. Namun baru sekarang aku bisa ngobrol banyak dengannya.
Kebetulan,
temanku adalah teman baik dia. Temanku itu juga merekomendasikan dia untukku.
Menurut temanku, wanita ini memang sedang mencari calon suami. Aku sangat berharap,
dia wanita yang aku cari selama ini.
Seperti yang
sudah-sudah,
setelah kami dekat, saling berbagi, tak berapa lama dia malah menikah dengan
temanku yang mengenalkan dia padaku.
Entah kenapa
Robb…aku selalu
gagal. Padahal niatku hanya satu. Aku ingin menikah. Tapi mungkin lagi-lagi Allah menguji
kesabaran itu.
Akhirnya aku
pasrah, untuk beberapa saat aku tak pernah mau mengenal wanita lagi. Biarlah
aku ikuti hidup ini seperti air yang mengalir.
***
Saat itu sebulan menjelang Hari Raya. Aku sudah mempersiapkan
diri untuk pulang kampung. Dua minggu sebelum lebaran aku putuskan untuk
terbang ke kampung halaman.
Singkat cerita,
aku tiba di kampung halaman dan berlebaran disana. Aku senang sekali karena bisa bertemu sanak
saudara lagi. Namun memang harus aku akui, pertanyaan “kapan menikah” selalu
sulit untuk aku jawab.
Tak terasa hari rayapun berlalu, aku memutuskan
kembali ke kota ini untuk melakukan rutinitas semula seminggu setelah hari raya.
Saat itu, aku
sedang mengepak barang untuk kepulanganku ke kota tempat aku bekerja dan
meninggalkan kampungku. Tak berapa lama handphoneku berbunyi, telpon dari bu’le ku di Jakarta.
Beliau mengabarkan aku bahwa ada seorang wanita yang sedang mencari seorang
istri.
Sungguh tak
pernah aku bayangkan, kenapa selama ini aku mencari selalu gagal. Dan disaat
aku putus asa malah rejeki itu menjemputku.
Bu’le ku memintaku untuk
menemuinya dirumahnya di Jakarta. Aku sempat berfikir, aku takut gagal lagi. Saat ini aku
hanya ingin fokus bekerja dan membahagiakan keluarga. Namun setelah
berkomunikasi dengan kedua orangtua. Mereka menyarankan aku untuk menemui
wanita itu. Akhirnya kuputuskan sebelum pulang ke kota ku. Aku mampir dulu ke
rumah bu’le.
***
Setelah sampai di rumah Bu’le, aku dikenalkan
dengan gadis tersebut. Subhanalloh, gadis yang sangat cantik. Dia mengenakan berkerudung, sesuai dengan gadis yang selama ini aku idamkan. Gadis itu berprofesi sebagai dokter. Dari pertama
aku bertemupun entah kenapa ada rasa yang membuatku tak ingin melepasnya.
Gadis itu adalah
tetangga bu’le
ku disana. Usianya memang dua tahun diatas aku. Tapi bagiku, usia tak begitu
penting, yang penting dia adalah gadis yang baik.
Pihak keluarga
meminta aku untuk segera melamarnya. Mereka memberi waktu dua bulan dari acara
lamaran untuk segera menikahinya.
***
Dua bulan lagi
aku akan menikah dengan gadis itu. Aku berharap semua bisa berjalan lancar. Restu orangtua adalah
restu Allah dan aku sudah mengantongi restu itu.
Allah selalu
memberi yang terbaik untuk hamba-NYA. Dia yang terindah untukku saat ini dan untuk
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar