8 Mei 2012

Dia yang Terindah

Sakit rasanya ketika kita harus kehilangan orang yang pernah dekat dengan hidup kita. Menghiasi hari-hari kita, mendampingi disaat kita memerlukannya. Begitupun yang aku rasakan, dia harus pergi karena kekecewaannya kepadaku. Memang bukan salah dia untuk meninggalkan aku. Saat itu aku belum mempunyai pekerjaan tetap. Memang suatu kewajaran bila dia menginginkan yang terbaik. Walaupun hati ini tak rela tapi dengan sangat terpaksa aku harus melepasnya. Akhirnya diapun menikah dengan seseorang yang memang jauh lebih baik dari aku.

Sungguh aku tak bisa melupakannya, mungkin sampai saat ini. Dia masih bersarang di hatiku. Entah kapan akan hilang. Kedekatan aku dan dia memang tak begitu lama, tapi tak tau kenapa, dia seolah tak mau pergi dari ingatanku.

Saat ini, Alhamdulillah Tuhan sudah memberikan banyak kenikmatan untukku. Aku mempunyai sebuah pekerjaan yang memang aku senangi. Aku tak mengejar apapun, aku hanya butuh kenyamanan dan aku senang bekerja ditempat ini.


Lamunanku masih menerawang di angkasa. Masih berandai-andai. Seandaikan posisi seperti ini yang aku rasakan dulu, mungkin dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi ya sudahlah, semua yang terbaik sudah diatur-NYA, mungkin dia bukan yang terbaik untukku.

***

Usiaku tak muda lagi. Dengan pekerjaan yang ada, aku ingin menyempurnakan hidupku dengan memiliki seorang istri. Aku tak ingin larut dengan masa lalu itu. Doa tak akan cukup tanpa sebuah usaha.

Wanita A, aku berkenalan dengannya lewat dunia maya. Usianya memang agak jauh dariku. Dia masih duduk di bangku kuliah. Secara fisik wanita ini memang cantik, setelah ngobrol aku merasa dia lumayan dewasa. Setelah dua minggu kita berkenalan, aku berniat untuk bertemu langsung dengannya ditemani seorang teman.

Pertemuan pertama aku rasa cukup sukses. Kesan pertama aku merasa dia gadis yang baik. Sejujurnya memang dia bukan seorang gadis seperti apa yang aku mau. Penampilannya cukup “gaul”, tapi ku fikir semua bisa dibina seiring berjalanya waktu.

Sejak pertemuan itu, tak ada yang berubah dari dirinya. Malah aku lihat dia semakin memperhatikan aku. Dengan adanya perhatian seperti itu kemungkinan besar dia akan menerimaku. Sudah hampir dua bulan Kami berkomunikasi dan aku berniat untuk mengutarakan keinginanku untuk menikahinya.

Aku berencana hari itu untuk mengutarakan maksudku. Setelah aku mengutarakan isi hatiku, aku merasa bahagia karena diapun memang merasakan hal yang sama. Tapi sayangnya untuk menikah, kelihatannya dia belum siap dan dia memilih ingin “berpacaran” dulu. Aku merasa ternyata prinsip dia berbeda denganku. Aku tak ingin menikahi wanita dengan berpacaran dulu. Lalu kuputuskan untuk membatalkan hubungan ini.

***

Wanita B,dia teman SMUku dulu. Aku berjumpa lagi lewat jaringan sosial juga. Sedikitnya aku tahu banyak tentang dia. Dia saat ini bekerja disalah satu perusahaan swasta di kota yang sama. Kami sering berkomunikasi lewat dunia maya. Jika dilihat dari segi finansial memang aku sadari, dia lebih dari aku. Tapi aku merasa, perasaan tak bisa dilihat dari faktor dunia saja.

Awalnya kita berkomunikasi sangat lancar. Namun, akhir-akhir ini, entah kenapa dia tak pernah membalas pesan aku. Aku sapa salam pun dia tak pernah mengubrisnya. Dia seolah mengacuhkan aku dan tak ingin mengenalku lagi. Mungkin dia tidak menyukaiku, akhirnya aku putuskan untuk mundur saja.

***

Wanita C, aku mengenalnya di lapangan tennis. Setiap weekend aku selalu menyempatkan diri menjaga kebugaran tubuh. Salah satunya dengan bermain tennis. Saat aku istirahat, dia datang dan akhirnya aku dikenalkan oleh seorang temanku pada dia. Kami sering smsan ataupun chatting. Temanku juga menyarankan aku untuk mengenalnya lebih jauh karena saat ini dia sedang tak dekat dengan siapapun.

Aku mencoba untuk mengikuti saran temanku. Aku mencoba mendekati dia. Tapi setelah Kami dekat, aku mendengar kabar kalau dia sudah kembali ke mantan pacarnya.

***

Wanita D, aku mengenalnya ketika sedang mengurus syarat-syarat untuk melanjutkan S2 ku di kampus yang sama. Dia memang bekerja sebagai administrasi di kampusku. Sebenarnya sudah lama juga aku mengenalnya. Namun baru sekarang aku bisa ngobrol banyak dengannya.

Kebetulan, temanku adalah teman baik dia. Temanku itu juga merekomendasikan dia untukku. Menurut temanku, wanita ini memang sedang mencari calon suami. Aku sangat berharap, dia wanita yang aku cari selama ini.

Seperti yang sudah-sudah, setelah kami dekat, saling berbagi, tak berapa lama dia malah menikah dengan temanku yang mengenalkan dia padaku.

Entah kenapa Robb…aku selalu gagal. Padahal niatku hanya satu. Aku ingin menikah. Tapi mungkin lagi-lagi Allah menguji kesabaran itu.

Akhirnya aku pasrah, untuk beberapa saat aku tak pernah mau mengenal wanita lagi. Biarlah aku ikuti hidup ini seperti air yang mengalir.

***

Saat itu sebulan menjelang Hari Raya. Aku sudah mempersiapkan diri untuk pulang kampung. Dua minggu sebelum lebaran aku putuskan untuk terbang ke kampung halaman.

Singkat cerita, aku tiba di kampung halaman dan berlebaran disana. Aku senang sekali karena bisa bertemu sanak saudara lagi. Namun memang harus aku akui, pertanyaan “kapan menikah” selalu sulit untuk aku jawab.

Tak terasa hari rayapun berlalu, aku memutuskan kembali ke kota ini untuk melakukan rutinitas semula seminggu setelah hari raya.

Saat itu, aku sedang mengepak barang untuk kepulanganku ke kota tempat aku bekerja dan meninggalkan kampungku. Tak berapa lama handphoneku berbunyi, telpon dari bu’le ku di Jakarta. Beliau mengabarkan aku bahwa ada seorang wanita yang sedang mencari seorang istri.

Sungguh tak pernah aku bayangkan, kenapa selama ini aku mencari selalu gagal. Dan disaat aku putus asa malah rejeki itu menjemputku.

Bu’le ku memintaku untuk menemuinya dirumahnya di Jakarta. Aku sempat berfikir, aku takut gagal lagi. Saat ini aku hanya ingin fokus bekerja dan membahagiakan keluarga. Namun setelah berkomunikasi dengan kedua orangtua. Mereka menyarankan aku untuk menemui wanita itu. Akhirnya kuputuskan sebelum pulang ke kota ku. Aku mampir dulu ke rumah bu’le.

***

Setelah sampai di rumah Bu’le, aku dikenalkan dengan gadis tersebut. Subhanalloh, gadis yang sangat cantik. Dia mengenakan berkerudung, sesuai dengan  gadis yang selama ini aku idamkan. Gadis itu berprofesi sebagai dokter. Dari pertama aku bertemupun entah kenapa ada rasa yang membuatku tak ingin melepasnya.

Gadis itu adalah tetangga bu’le ku disana. Usianya memang dua tahun diatas aku. Tapi bagiku, usia tak begitu penting, yang penting dia adalah gadis yang baik.

Pihak keluarga meminta aku untuk segera melamarnya. Mereka memberi waktu dua bulan dari acara lamaran untuk segera menikahinya.

***

Dua bulan lagi aku akan menikah dengan gadis itu. Aku berharap semua bisa berjalan lancar. Restu orangtua adalah restu Allah dan aku sudah mengantongi restu itu.


Allah selalu memberi yang terbaik untuk hamba-NYA. Dia yang terindah untukku saat ini dan untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar