Malam ini, aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, wanita yang sangat
bahagia karena besok aku akan dipersunting oleh laki-laki yang terbaik menurut
sudut pandangku dan ku harap inilah laki-laki terakhir yang Allah berikan untukku.
Kini dan selalu...
Calon suamiku ini, bukan orang yang kaya raya,
bukan orang yang bergelimang harta, bukan juga seorang pengusaha muda sukses
yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpiku.
***
Aku terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana,
mungkin bisa dibilang serba kekurangan, aku anak tertua dari tiga bersaudara.
Ayahku seorang supir
angkot, itu juga angkot orang lain sehingga harus ada setoran setiap hari. Ibuku seorang
ibu rumah tangga. Dulu Ibu memang sempat bekerja sebagai pembantu rumah
tangga, namun karena kondisi Ibu yang sering sakit-sakitan membuatnya tak mungkin lagi bekerja.
Walaupun hidup serba berkekurangan tapi Kami bahagia, Ayahku seorang yang
sangat bertanggungjawab dan Ibu seorang yang selalu
sabar dengan keadaan Kami.
Sebagai anak tertua sudah selayaknya aku
membantu perekonomian keluarga, setelah lulus sekolah aku berniat ingin bekerja. Setelah melamar kesana
kemari akhirnya ada sebuah outlet pakaian yang mau menerima aku sebagai
karyawannya dengan gaji
yang tidak terlalu besar, namun setidaknya aku bisa meringankan beban
orangtuaku.
***
Aku manusia biasa, yang mempunyai keinginan
seperti orang lain, ingin melanjutkan sekolah, ingin jalan-jalan, ingin banyak
uang yang bisa memenuhi semua keinginan aku. Aku memang tak mungkin membebani orangtuaku
namun aku juga tak bisa memenuhi keinginanku dengan penghasilanku.
Entah, bisikan dari mana, ada niat di hati aku harus punya pendamping hidup orang kaya,
aku tak peduli dia duda atau punya istri sekalipun yang pasti aku ingin merubah
hidupku. Aku bosan jadi orang susah, makan seadanya, tidur di kasur yang sempit
karena harus berbagi dengan adik-adikku, rumah yang kecil yang terkadang kalau hujan, kita harus siap-siap dengan
kebocoran. Itulah hidupku.
Kata orang wajahku cantik, mungkin keturunan
dari Ibu karena Ibuku juga
dulu menjadi rebutan banyak laki-laki. Terkadang aku pun heran, kenapa Ibu bisa memilih Ayah yang berprofesi
sebagai supir angkot.
Apa yang menarik dari Ayah,
padahal dengan kecantikan Ibu,
Ibu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik. Bukan maksud aku menghina Ayah, namun aku mencoba menggunakan
logikaku untuk melihat kehidupan ini.
***
Seli, dia teman sekaligus sahabat baikku di tempat kerjaku. Kita sudah seperti
saudara, bukan hanya masalah keluarga yang sering dijadikan objek curhat, namun
juga masalah percintaan.
Seli sangat tidak setuju dengan niatku yang selama ini aku impikan, punya
pendamping yang kaya raya. Seli berfikir kekayaan tidak menjamin kebahagiaan.
Tapi nasehat-nasehat dia
tak pernah merubah pendirianku.
Suatu hari Seli berniat memperkenalkan aku
dengan sepupunya, Maman namanya, seorang pemuda yang katanya baik, dia
berprofesi sebagai seorang guru di sekolah dasar. Mendengar penuturan Seli, aku ragu. Dengan penghasilan
guru aku yakin dia tak akan mampu memenuhi segala mauku.
Pertama mengenal laki-laki itu, hatiku memang
meyakini kalau dia adalah sosok yang sangat baik. Akhlaknya juga tak diragukan
lagi. Dia bisa membuatku tenang. Namun satu hal, dia tak mampu membuatku hidup bergelimang
harta.
Tiga bulan aku mengenal Maman, aku bisa membuat laki-laki itu jatuh hati
padaku, hingga suatu hari tanpa aku duga dia mengungkapkan keinginannya untuk melamarku.
Jujur...ada perasaan bahagia, karena dijaman
sekarang memang sangat sulit
mendapatkan laki-laki sebaik
dia. Allah SWT
sudah menurunkannya untukku.
Namun sejenak aku berfikir, mungkin inilah jawaban
pertanyaanku pada Ibu dulu, kenapa dia menerima Ayah yang sangat sederhana. Inilah yang Ibu rasakan saat itu. Sama dengan yang aku
rasakan saat ini. Tapi aku tak mau hidup susah seperti Ibu. Tak ingin...
***
Aku menolaknya dengan cara yang baik. Tentu
bukan karena alasan kekayaan. Tapi karena ketidaksiapanku saat itu. Alasan klasik yang bisa setiap
orang katakan bila ingin menolak perasaan cinta dari seseorang. Aku yakin dia
mengerti dan memaklumi, walaupun aku juga sadar dia pasti tidak percaya dengan
alasan itu.
Seli sempat kesal dengan sikap aku pada Maman, dia sangat menyayangkan dengan
keputusan aku. Namun, inilah hidupku, aku bisa memilih jalan hidupku sesuai
keinginanku.
***
Tak terasa sudah dua tahun aku bekerja ditempat
ini. Tetap kehidupanku tak ada perubahan. Sampai suatu ketika ada seorang
laki-laki, kira-kira berumur 40 tahunan. Dia sering berkunjung ke outlet Kami untuk berbelanja. Hampir dua
atau tiga minggu sekali dia datang, terkadang dengan istrinya atau sendiri. Dari
penampilannya aku melihat dia orang yang kaya raya.
Karena seringnya berbelanja di outlet Kami,
kamipun jadi tak segan kepada beliau. Beliau sering meminta saran untuk
dipilihkan baju. Sebagai penjaga toko, akupun pasti dengan kerelaan hati
melayaninya sebaik mungkin.
Waktu berjalan, dari seorang penjaga toko
akhirnya aku loncat profesi menjadi seorang pendengar curhat yang baik. Dari
penuturan beliau, beliau sangat mencintai istrinya, dia tak pernah ingin
menyakiti istrinya, namun beliau bingung karena dengan pernikahannya yang sudah berjalan 10 tahun beliau
belum juga dikaruniai seorang anak.
Akhirnya Kamipun semakin dekat, mungkin karena sering ngobrol, atau mungkin karena aku
tahu, orang ini bisa membahagiakan aku. Hingga suatu saat laki-laki ini
memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya.
Ketika aku ceritakan hal ini kepada kedua
orangtuaku, mereka menolak keras. Mereka tak merestui keinginan aku. Mereka
beranggapan sama seperti Seli kalau harta bukanlah segalanya. Namun aku
jelaskan, bahwa aku ingin merubah hidup kita semua, tapi tetap mereka tak mau
merestuinya.
Aku merenenung dan berfikir, disisi lain aku meyakini bahwa restu orangtua
adalah restu Yang Maha Kuasa, namun disisi lain akupun tak ingin hidupku terus-terusan susah, aku ingin hidup seperti orang lain,
bergelimang harta yang bisa memenuli apa yang aku inginkan.
Akhirnya aku berniat untuk menikah tanpa ada
restu orangtua. Ternyata sisi burukku mengalahkan sisi baikku. Aku menikah
dengan menggunakan wali hakim tanpa kehadiran Ayah dan Ibu yang sudah merawatku sejak kecil. Jika
mereka tahu pasti mereka akan sedih.
Kami mendatangi orangtuaku setelah acara
pernikahan dan benar saja orangtuaku marah besar, terutama Ayah. Beliau nyaris mengusirku, namun
Ibu melarangnya. Ibu
menangis, namun inilah pilihan hidupku yang aku yakini laki-laki yang kini
menjadi suamiku mampu membahagiakanku.
***
Kehidupanku berubah setelah aku menikah
dengannya. Aku mendapatkan rumah mewah, mobil mewah, uang berlimpah, memang itu yang aku cari selama ini. Sekarang
aku tak pernah merasakan bocor ketika hujan datang. Aku tak perlu kedinginan
ketika tidur dengan kasur yang tipis dan itupun sangat sempit. Aku tak perlu susah bekerja,
pergi pagi dan pulang malam dengan gaji kecil untuk
mendapatkan uang yang selalu tidak cukup. Tak perlu lagi.
Kini...kapanpun aku mau, aku bisa berbelanja
kemana saja. Aku bisa merawat diri ke salon, aku bisa apapun dengan uang yang
diberi suamiku.
Namun...sampai kapan rasa semu di hati akan
terus ku rasakan???
***
Satu tahun Kami menikah, semua berubah. Waktu satu tahun
membuatku tersadar siapa suamiku sebenarnya. Dia berubah menjadi sosok yang
sangat menakutkan. Itu terjadi karena beliau kecewa karena aku tak mampu memberinya
keturunan. Beberapa orang dokter sudah Kami datangi, tak ada masalah dengan kesehatan Kami. Tapi kenapa Kami tak kunjung diberikan keturunan.
Hari demi hari, hanya kemarahan yang dia berikan untukku. Hidupku seperti berada di sangkar
emas. Terikat, terpenjara, walaupun disekelilingku banyak sekali harta
yang selama ini aku mau.
Aku teringat orangtuaku yang sudah beberapa
tahun ini aku tinggalkan, aku teringat Seli sahabatku yang selalu menasehatiku kalau kekayaan bukanlah segalanya. Namun, semua sudah
terlambat.
Aku sudah tak tahan lagi dengan emosi suamiku
yang sudah kelewatan, bukan hanya ucapan yang kasar, namun juga main tangan. Masalah
kecil saja selalu dibesar-besarkan, mungkin semua berefek dari keinginan mempunyai keturunan. Namun, ini
kehendak Yang Diatas,
bukan mauku juga jika aku tak bisa memberi apa yang suamiku inginkan. Akhirnya beliau berniat menceraikan
aku.
***
Sakit perasaanku, sebagai wanita dan aku yakin setiap wanita di
dunia, jika ada diposisi aku, mereka akan merasa terhina dengan ini semua. Aku seperti seorang manusia yang
dibeli, yang ketika sudah tak berguna, orang lain bisa membuangku sesuka hati.
Sakit perasaanku, ketika suamiku sendiri tak memberikan apapun untuk aku, aku seperti hewan
yang ditendang ketika mencoba masuk ke rumah orang. Namun aku yakin hati orangtuaku pasti lebih sakit ketika aku
meninggalkannya dulu.
Kemana aku harus pergi, aku tak punya apa-apa. Lebih tak punya apa-apa dibandingkan dulu ketika aku sedang
susah. Dulu aku masih punya harga diri, tapi sekarang semua sudah terjual
habis. Aku tak mungkin pergi ke rumah orangtuaku, satu-satunya jalan, aku harus menemui Seli
sahabatku.
Seli kaget ketika aku telepon dia, sudah lama Kami tidak berkomunikasi sejak aku
menikah dengan laki-laki yang tak berperasaan itu, terlebih kaget lagi ketika
dia tahu aku sudah
berada didepan rumahnya. Dia memelukku, dia menangis melihat keadaanku. Apalagi
setelah aku menceritakan apa yang terjadi padaku, dia terkejut dan terlihat
marah. Sahabatku ini menyarankan aku untuk kembali ke rumah Ayah dan Ibu, namun
aku sendiri tak yakin apakah mereka masih mau menerimaku setelah apa yang aku
lakukan pada mereka.
***
Keesokan harinya, aku diantar Seli pulang ke
rumah. Hatiku tak karuan, namun aku siap dengan apapun yang mereka lakukan
padaku. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan, ternyata tak setakut yang aku
rasakan. Mereka menerima aku seolah aku tak pernah menyakitinya.
Ayah...Ibu....Maafkan aku...
Kegagalan sekaligus kebodohan yang aku lakukan
membuatku merenung dan
berfikir, apa yang merasuk di jiwaku sampai aku harus seperti ini. Tuhan memang memberikan pilihan
hidup, tinggal manusia
yang memilihnya dan menjalaninya. Pengalaman hidupku ini sudah cukup membuatku tersadar,
bahwa aku salah.
***
Sudah dua tahun aku menyandang status janda.
Selama itupun aku hanya diam dan tak melakukan apa-apa. Dunia luar membuatku takut untuk aku jalani.
Aku seperti benalu bagi keluargaku, walau keluargaku tak pernah mengganggap itu.
Suatu hari, Seli berkunjung ke rumahku, dia
mengabarkan akan segera menikah.
Dia akan menikah sekitar seminggu lagi. Aku turut bahagia mendengarnya dan aku harap pernikahan mereka akan menjadi
pernikahan yang bahagia, itulah doaku.
Akhirnya acara pernikahanpun digelar. Aku datang
bersama keluargaku, acara pernikahannya sederhana namun aku melihat ada kebahagiaan yang luar
biasa disana. Seli terlihat ceria begitupun suaminya. Ada orangtuanya, ada
kerabatnya, ada sahabat-sahabatnya termasuk aku. Pernikahan yang sempurna, yang tidak aku temukan
dipernikahanku dulu. Sedikit miris aku rasakan.
Ditengah-tengah pesta, aku dikaget oleh seseorang yang rasanya
pernah aku kenal. Sudah beberapa tahun aku tak mendengar kabarnya. Hampir tak
percaya, tapi dia nyata ada didepanku. Maman...
Laki-laki yang pernah aku tolak dengan alasan
yang aku malu bila ingat hal itu. Tak ada yang berubah darinya. Dia tetap
mengagumkan dengan sosoknya yang santun. Aku sempat mengenalkannya pada
orangtuaku kalau dia adalah saudara Seli yang juga temanku. Orangtuaku terlihat
senang padanya.
Ada sesuatu yang terjadi di hatiku,
entah apa itu. Walaupun mungkin aku tak pantas merasakan hal ini. Dia tak
pantas untukku. Karena aku bukan orang yang baik. Dan akupun tak tahu, apakah
saat ini dia sudah menikah atau belum.
***
Sore itu, langit mendung. Namun aku harus
pergi, karena Ibu
demam, jadi aku harus membeli obat di apotik tak jauh dari rumah. Obat
sudah ku dapat, namun ketika akan pulang, hujan tiba-tiba turun. Terpaksa aku harus berteduh dulu.
Aku masih melamun sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba aku mendengar ada bunyi sms. Aku lihat
ternyata sms dari orang rumah yang
mengabarkan bahwa Seli ada di rumah dengan seseorang. Aku sempat heran,
dengan siapa dia datang. Setelah hujan reda akhirnya aku percepat langkahku untuk segera sampai ke rumah.
Sesampainya di rumah aku sangat kaget dan entahlah apa yang kurasakan saat
itu. Seli ternyata
datang bersama Maman. Maman
bermaksud untuk melamarku untuk yang kedua kalinya. Aku menangis haru dan tak bisa berkata apa-apa. Air mataku sudah cukup mewakili
perasaanku saat itu.
Berkali-kali aku katakan keadaanku sebernarnya,
namun laki-laki itu berkata “aku mencintaimu apa adanya...kini dan selalu...”.
Tak ada yang bisa aku gambarkan saat itu
tentang perasaanku. Jika ada yang bertanya, siapa wanita yang paling bahagia
saat ini. Jawabannya
pasti aku. Pasti aku...tak ada lagi.
Semakin lega rasanya ketika keluarga Maman juga
merestui hubungan Kami,
tanpa mereka peduli statusku dan kehidupanku.
Kurasakan Tuhan begitu sayang padaku dengan kebesaran-NYA, aku
akan jaga laki-laki yang diciptakan untukku ini, aku akan jadikan dia laki-laki yang paling
bahagia semampuku.
***
Untukmu calon suamiku yang besok Insya Allah
akan menjadi suamiku...aku berharap, engkau laki-laki terakhir dalam hidupku
yang akan menjadi imamku, menjadi teman hidupku, menjadi seseorang yang selalu membawaku dijalan-NYA.
Untukmu...aku berharap...kita akan selalu
bersama, walau memang cinta selalu berakhir dengan perpisahan, namun aku sangat
berharap, hanya kematianlah yang memisahkan kita...
Untukmu...aku tak bisa berjanji, karena aku
takut tak bisa menepati. Namun aku akan berusaha semampuku, untuk selalu
menjadi istri terbaik untukmu, aku akan berusaha sabar ketika engkau terpuruk
sekalipun dan aku akan selalu menjaga
agar kebahagiaan itu selalu bersama kita...
Untukmu...aku tak sabar menanti hari esok ketika
semua harapanku akan
terwujud...
Terimakasih Tuhan, atas semua cinta dan kasih sayang-MU padaku...
Terima kasih Ibu...Ayah...atas cintamu selama
ini, mudah-mudahan engkau akan bahagia dengan
pernikahanku sekarang.
***
Ku tutup mataku malam ini. Aku coba merangkai mimpi indah untuk
menyambut pagi dan mewujudkan impianku. Membina sebuah pernikahan dengan cinta
dan kasih sayang...
Aku mencintaimu, kini dan selalu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar