17 Mei 2012

Kini dan Selalu


Malam ini, aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, wanita yang sangat bahagia karena besok aku akan dipersunting oleh laki-laki yang terbaik menurut sudut pandangku dan ku harap inilah laki-laki terakhir yang Allah berikan untukku. Kini dan selalu...

Calon suamiku ini, bukan orang yang kaya raya, bukan orang yang bergelimang harta, bukan juga seorang pengusaha muda sukses yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpiku.

***

Aku terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, mungkin bisa dibilang serba kekurangan, aku anak tertua dari tiga bersaudara. Ayahku seorang supir angkot, itu juga angkot orang lain sehingga harus ada setoran setiap hari. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Dulu Ibu memang sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun karena kondisi Ibu yang sering sakit-sakitan membuatnya tak mungkin lagi bekerja.

Walaupun hidup serba berkekurangan tapi Kami bahagia, Ayahku seorang yang sangat bertanggungjawab dan Ibu seorang yang selalu sabar dengan keadaan Kami.

Sebagai anak tertua sudah selayaknya aku membantu perekonomian keluarga, setelah lulus sekolah aku berniat ingin bekerja. Setelah melamar kesana kemari akhirnya ada sebuah outlet pakaian yang mau menerima aku sebagai karyawannya dengan gaji yang tidak terlalu besar, namun setidaknya aku bisa meringankan beban orangtuaku.

***
Aku manusia biasa, yang mempunyai keinginan seperti orang lain, ingin melanjutkan sekolah, ingin jalan-jalan, ingin banyak uang yang bisa memenuhi semua keinginan aku. Aku memang tak mungkin membebani orangtuaku namun aku juga tak bisa memenuhi keinginanku dengan penghasilanku.

Entah, bisikan dari mana, ada niat di hati  aku harus punya pendamping hidup orang kaya, aku tak peduli dia duda atau punya istri sekalipun yang pasti aku ingin merubah hidupku. Aku bosan jadi orang susah, makan seadanya, tidur di kasur yang sempit karena harus berbagi dengan adik-adikku, rumah yang kecil yang terkadang kalau hujan, kita harus siap-siap dengan kebocoran. Itulah hidupku.

Kata orang wajahku cantik, mungkin keturunan dari Ibu karena Ibuku juga dulu menjadi rebutan banyak laki-laki. Terkadang aku pun heran, kenapa Ibu bisa memilih Ayah yang berprofesi sebagai supir angkot. Apa yang menarik dari Ayah, padahal dengan kecantikan Ibu, Ibu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik. Bukan maksud aku menghina Ayah, namun aku mencoba menggunakan logikaku untuk melihat kehidupan ini.

***

Seli, dia teman sekaligus sahabat baikku di tempat kerjaku. Kita sudah seperti saudara, bukan hanya masalah keluarga yang sering dijadikan objek curhat, namun juga masalah percintaan. Seli sangat tidak setuju dengan niatku yang selama ini aku impikan, punya pendamping yang kaya raya. Seli berfikir kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. Tapi nasehat-nasehat dia tak pernah merubah pendirianku.

Suatu hari Seli berniat memperkenalkan aku dengan sepupunya, Maman namanya, seorang pemuda yang katanya baik, dia berprofesi sebagai seorang guru di sekolah dasar. Mendengar penuturan Seli, aku ragu. Dengan penghasilan guru aku yakin dia tak akan mampu memenuhi segala mauku.

Pertama mengenal laki-laki itu, hatiku memang meyakini kalau dia adalah sosok yang sangat baik. Akhlaknya juga tak diragukan lagi. Dia bisa membuatku tenang. Namun satu hal, dia tak mampu membuatku hidup bergelimang harta.

Tiga bulan aku mengenal Maman, aku bisa membuat laki-laki itu jatuh hati padaku, hingga suatu hari tanpa aku duga dia mengungkapkan keinginannya untuk melamarku.

Jujur...ada perasaan bahagia, karena dijaman sekarang memang sangat sulit mendapatkan laki-laki sebaik dia. Allah SWT sudah menurunkannya untukku. Namun sejenak aku berfikir, mungkin inilah jawaban pertanyaanku pada Ibu dulu, kenapa dia menerima Ayah yang sangat sederhana. Inilah yang Ibu rasakan saat itu. Sama dengan yang aku rasakan saat ini. Tapi aku tak mau hidup susah seperti Ibu. Tak ingin...

***

Aku menolaknya dengan cara yang baik. Tentu bukan karena alasan kekayaan. Tapi karena ketidaksiapanku saat itu. Alasan klasik yang bisa setiap orang katakan bila ingin menolak perasaan cinta dari seseorang. Aku yakin dia mengerti dan memaklumi, walaupun aku juga sadar dia pasti tidak percaya dengan alasan itu.

Seli sempat kesal dengan sikap aku pada Maman, dia sangat menyayangkan dengan keputusan aku. Namun, inilah hidupku, aku bisa memilih jalan hidupku sesuai keinginanku.

***

Tak terasa sudah dua tahun aku bekerja ditempat ini. Tetap kehidupanku tak ada perubahan. Sampai suatu ketika ada seorang laki-laki, kira-kira berumur 40 tahunan. Dia sering berkunjung ke outlet Kami untuk berbelanja. Hampir dua atau tiga minggu sekali dia datang, terkadang dengan istrinya atau sendiri. Dari penampilannya aku melihat dia orang yang kaya raya.

Karena seringnya berbelanja di outlet Kami, kamipun jadi tak segan kepada beliau. Beliau sering meminta saran untuk dipilihkan baju. Sebagai penjaga toko, akupun pasti dengan kerelaan hati melayaninya sebaik mungkin.

Waktu berjalan, dari seorang penjaga toko akhirnya aku loncat profesi menjadi seorang pendengar curhat yang baik. Dari penuturan beliau, beliau sangat mencintai istrinya, dia tak pernah ingin menyakiti istrinya, namun beliau bingung karena dengan pernikahannya yang sudah berjalan 10 tahun beliau belum juga dikaruniai seorang anak.

Akhirnya Kamipun semakin dekat, mungkin karena sering ngobrol, atau mungkin karena aku tahu, orang ini bisa membahagiakan aku. Hingga suatu saat laki-laki ini memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya.

Ketika aku ceritakan hal ini kepada kedua orangtuaku, mereka menolak keras. Mereka tak merestui keinginan aku. Mereka beranggapan sama seperti Seli kalau harta bukanlah segalanya. Namun aku jelaskan, bahwa aku ingin merubah hidup kita semua, tapi tetap mereka tak mau merestuinya.

Aku merenenung dan berfikir, disisi lain aku meyakini bahwa restu orangtua adalah restu Yang Maha Kuasa, namun disisi lain akupun tak ingin hidupku terus-terusan susah, aku ingin hidup seperti orang lain, bergelimang harta yang bisa memenuli apa yang aku inginkan.

Akhirnya aku berniat untuk menikah tanpa ada restu orangtua. Ternyata sisi burukku mengalahkan sisi baikku. Aku menikah dengan menggunakan wali hakim tanpa kehadiran Ayah dan Ibu yang sudah merawatku sejak kecil. Jika mereka tahu pasti mereka akan sedih.

Kami mendatangi orangtuaku setelah acara pernikahan dan benar saja orangtuaku marah besar, terutama Ayah. Beliau nyaris mengusirku, namun Ibu melarangnya. Ibu menangis, namun inilah pilihan hidupku yang aku yakini laki-laki yang kini menjadi suamiku mampu membahagiakanku.

***

Kehidupanku berubah setelah aku menikah dengannya. Aku mendapatkan rumah mewah, mobil mewah, uang berlimpah, memang itu yang aku cari selama ini. Sekarang aku tak pernah merasakan   bocor ketika hujan datang. Aku tak perlu kedinginan ketika tidur dengan kasur yang tipis dan itupun sangat sempit. Aku tak perlu susah bekerja, pergi pagi dan pulang malam dengan gaji kecil untuk mendapatkan uang yang selalu tidak cukup. Tak perlu lagi.

Kini...kapanpun aku mau, aku bisa berbelanja kemana saja. Aku bisa merawat diri ke salon, aku bisa apapun dengan uang yang diberi suamiku.

Namun...sampai kapan rasa semu di hati akan terus ku rasakan???

***

Satu tahun Kami menikah, semua berubah. Waktu satu tahun membuatku tersadar siapa suamiku sebenarnya. Dia berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan. Itu terjadi karena beliau kecewa karena aku tak mampu memberinya keturunan. Beberapa orang dokter sudah Kami datangi, tak ada masalah dengan kesehatan Kami. Tapi kenapa Kami tak kunjung diberikan keturunan.

Hari demi hari, hanya kemarahan yang dia berikan untukku. Hidupku seperti berada di sangkar emas. Terikat, terpenjara, walaupun disekelilingku banyak sekali harta yang  selama ini aku mau.

Aku teringat orangtuaku yang sudah beberapa tahun ini aku tinggalkan, aku teringat Seli sahabatku yang selalu menasehatiku kalau kekayaan bukanlah segalanya. Namun, semua sudah terlambat.

Aku sudah tak tahan lagi dengan emosi suamiku yang sudah kelewatan, bukan hanya ucapan yang kasar, namun juga main tangan. Masalah kecil saja selalu dibesar-besarkan, mungkin semua berefek dari keinginan mempunyai keturunan. Namun, ini kehendak Yang Diatas, bukan mauku juga jika aku tak bisa memberi apa yang suamiku inginkan. Akhirnya beliau berniat menceraikan aku.

***

Sakit perasaanku, sebagai wanita dan aku yakin setiap wanita di dunia, jika ada diposisi aku, mereka akan merasa terhina dengan ini semua. Aku seperti seorang manusia yang dibeli, yang ketika sudah tak berguna, orang lain bisa membuangku sesuka hati.

Sakit perasaanku, ketika suamiku sendiri tak memberikan apapun untuk aku, aku seperti hewan yang ditendang ketika mencoba masuk ke rumah orang. Namun aku yakin hati orangtuaku pasti lebih sakit ketika aku meninggalkannya dulu.

Kemana aku harus pergi, aku tak punya apa-apa. Lebih tak punya apa-apa dibandingkan dulu ketika aku sedang susah. Dulu aku masih punya harga diri, tapi sekarang semua sudah terjual habis. Aku tak mungkin pergi ke rumah orangtuaku, satu-satunya jalan, aku harus menemui Seli sahabatku.

Seli kaget ketika aku telepon dia, sudah lama Kami tidak berkomunikasi sejak aku menikah dengan laki-laki yang tak berperasaan itu, terlebih kaget lagi ketika dia tahu aku sudah berada didepan rumahnya. Dia memelukku, dia menangis melihat keadaanku. Apalagi setelah aku menceritakan apa yang terjadi padaku, dia terkejut dan terlihat marah. Sahabatku ini menyarankan aku untuk kembali ke rumah Ayah dan Ibu, namun aku sendiri tak yakin apakah mereka masih mau menerimaku setelah apa yang aku lakukan pada mereka.

***

Keesokan harinya, aku diantar Seli pulang ke rumah. Hatiku tak karuan, namun aku siap dengan apapun yang mereka lakukan padaku. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan, ternyata tak setakut yang aku rasakan. Mereka menerima aku seolah aku tak pernah menyakitinya. Ayah...Ibu....Maafkan aku...

Kegagalan sekaligus kebodohan yang aku lakukan membuatku merenung dan berfikir, apa yang merasuk di jiwaku sampai aku harus seperti ini. Tuhan memang memberikan pilihan hidup, tinggal manusia yang memilihnya dan menjalaninya. Pengalaman hidupku ini sudah cukup membuatku tersadar, bahwa aku salah.

***

Sudah dua tahun aku menyandang status janda. Selama itupun aku hanya diam dan tak melakukan apa-apa. Dunia luar membuatku takut untuk aku jalani. Aku seperti benalu bagi keluargaku, walau keluargaku tak pernah mengganggap itu.

Suatu hari, Seli berkunjung ke rumahku, dia mengabarkan akan segera menikah. Dia akan menikah sekitar seminggu lagi. Aku turut bahagia mendengarnya dan aku harap pernikahan mereka akan menjadi pernikahan yang bahagia, itulah doaku.

Akhirnya acara pernikahanpun digelar. Aku datang bersama keluargaku, acara pernikahannya sederhana namun aku melihat ada kebahagiaan yang luar biasa disana. Seli terlihat ceria begitupun suaminya. Ada orangtuanya, ada kerabatnya, ada sahabat-sahabatnya termasuk aku. Pernikahan yang sempurna, yang tidak aku temukan dipernikahanku dulu. Sedikit miris aku rasakan.

Ditengah-tengah pesta, aku dikaget oleh seseorang yang rasanya pernah aku kenal. Sudah beberapa tahun aku tak mendengar kabarnya. Hampir tak percaya, tapi dia nyata ada didepanku. Maman...

Laki-laki yang pernah aku tolak dengan alasan yang aku malu bila ingat hal itu. Tak ada yang berubah darinya. Dia tetap mengagumkan dengan sosoknya yang santun. Aku sempat mengenalkannya pada orangtuaku kalau dia adalah saudara Seli yang juga temanku. Orangtuaku terlihat senang padanya.

Ada sesuatu yang terjadi di hatiku, entah apa itu. Walaupun mungkin aku tak pantas merasakan hal ini. Dia tak pantas untukku. Karena aku bukan orang yang baik. Dan akupun tak tahu, apakah saat ini dia sudah menikah atau belum.

***

Sore itu, langit mendung. Namun aku harus pergi, karena Ibu demam, jadi aku harus membeli obat di apotik tak jauh dari rumah. Obat sudah ku dapat, namun ketika akan pulang, hujan tiba-tiba turun. Terpaksa aku harus berteduh dulu.

Aku masih melamun sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba aku mendengar ada bunyi sms. Aku lihat ternyata sms dari orang rumah yang mengabarkan bahwa Seli ada di rumah dengan seseorang. Aku sempat heran, dengan siapa dia datang. Setelah hujan reda akhirnya aku percepat langkahku untuk segera sampai ke rumah.

Sesampainya di rumah aku sangat kaget dan entahlah apa yang kurasakan saat itu. Seli ternyata datang bersama Maman. Maman bermaksud untuk melamarku untuk yang kedua kalinya. Aku menangis haru dan tak bisa berkata apa-apa. Air mataku sudah cukup mewakili perasaanku saat itu.

Berkali-kali aku katakan keadaanku sebernarnya, namun laki-laki itu berkata “aku mencintaimu apa adanya...kini dan selalu...”.

Tak ada yang bisa aku gambarkan saat itu tentang perasaanku. Jika ada yang bertanya, siapa wanita yang paling bahagia saat ini. Jawabannya pasti aku. Pasti aku...tak ada lagi.

Semakin lega rasanya ketika keluarga Maman juga merestui hubungan Kami, tanpa mereka peduli statusku dan kehidupanku.

Kurasakan Tuhan begitu sayang padaku dengan kebesaran-NYA, aku akan jaga laki-laki yang diciptakan untukku ini, aku akan jadikan dia laki-laki yang paling bahagia semampuku.

***

Untukmu calon suamiku yang besok Insya Allah akan menjadi suamiku...aku berharap, engkau laki-laki terakhir dalam hidupku yang akan menjadi imamku, menjadi teman hidupku, menjadi seseorang yang selalu membawaku dijalan-NYA.

Untukmu...aku berharap...kita akan selalu bersama, walau memang cinta selalu berakhir dengan perpisahan, namun aku sangat berharap, hanya kematianlah yang memisahkan kita...

Untukmu...aku tak bisa berjanji, karena aku takut tak bisa menepati. Namun aku akan berusaha semampuku, untuk selalu menjadi istri terbaik untukmu, aku akan berusaha sabar ketika engkau terpuruk sekalipun dan aku akan selalu menjaga agar kebahagiaan itu selalu bersama kita...

Untukmu...aku tak sabar menanti hari esok ketika semua harapanku akan terwujud...

Terimakasih Tuhan, atas semua cinta dan kasih sayang-MU padaku...
Terima kasih Ibu...Ayah...atas cintamu selama ini, mudah-mudahan engkau akan bahagia dengan pernikahanku sekarang.

***

Ku tutup mataku malam ini. Aku coba merangkai mimpi indah untuk menyambut pagi dan mewujudkan impianku. Membina sebuah pernikahan dengan cinta dan kasih sayang...

Aku mencintaimu, kini dan selalu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar