Kubuka jendela
kamar kontrakan yang tak seluas kamar di rumahku dulu. Terlihat padi hijau menghampar luas, udara sejuk dengan
kicau burung. Langit pagi ini terlihat cerah dan saatnya aku harus beraktifitas.
Sudah beberapa
bulan langkahku terhenti ditempat ini. Terkadang akupun heran kenapa aku berada
disini. Jauh dari hirup pikuk kota yang penuh polusi. Sumpek, panas dan penat.
Entah sampai kapan aku akan berada disini.
Bukan tanpa sebab
ku tinggalkan semua orang-orang terdekatku. Orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang selalu berada disampingku. Orangtua, sahabat, rekan kerja,
semua.
***
Dulu…aku anggap
keluargaku adalah keluarga yang utuh. Aku mempunyai Ayah dan Ibu, seorang Adik dan satu orang Kakak. Adikku masih duduk
di bangku SMU, sementara Kakakku sudah berumah tangga. Sementara aku sendiri menjalani kuliah di Fakultas ekonomi jurusan
akuntansi. Aku masuk jurusan itu
memang sebuah paksaan dari Ayah, karena Ayah menginginkan aku
menjadi seorang akuntan. Dan kini cita-cita ayah tercapai, aku sudah bekerja
sebagai akuntan, bergelut dengan angka-angka yang berhubungan dengan keuangan setiap hari. Angka-angka itu sudah menumpuk
di otakku dan hampir meledak.
Aku sadari, ini
bukan keinginanku. Dalam diri aku
sejujurnya aku ingin menjadi seorang penulis. Penulis novel besar. Tapi
orangtua seolah menjadi penentu masa depanku. Langkahku untuk menjadi seorang penulis harus
terhenti sampai disini.
Kami hidup
rukun, sampai akhirnya ada masalah yang membuat hati Ibu hancur. Ayah diam-diam punya istri simpanan yang membuat hati semua
anak-anaknya
remuk tak terkecuali aku. Perceraian adalah jalan keluar yang dipilih Ibu. Setelah mereka bercerai, Ayah
memutuskan untuk pergi dan Ibu memilih tinggal bersama aku dan Adikku.
***
Setahun berlalu,
belum sembuh luka hati Ibu, datang luka baru.
Kakak laki-lakiku dipecat dari tempat kerjanya. Karena faktor itu sang istri
memilih untuk bercerai dari Kakakku. Dengan membawa seorang anak dia terpaksa harus tinggal bersama Ibu di rumah.
Permasalahan yang Kakak alami, membuat dia menjadi orang yang agak
tempramental,
sering marah dan gampang tersinggung. Kita tak pernah bercanda seperti dulu lagi dan akupun hampir
kehilangan sosok Kakakku dulu.
Siapa yang mau
hidup seperti ini. Tapi apa aku harus mengeluh dan mengeluh terus dengan
keadaan hidupku? Aku merasa banyak yang
mengalami permasalahan hidup lebih dari yang aku alami.
Tempat kerjaku memang nyaman walau
bukan pilihan hatiku. Aku masih menikmati itu. Walaupun terkadang kejenuhan selalu bersarang
di benakku. Menjadi seorang ahli keuangan bukan yang aku mau.
Cita-cita aku dulu bisa saja aku wujudkan tapi pekerjaan yang menguras waktu ini yang menyebabkan aku
harus mengubur mimpi-mimpi itu.
***
Bertahun-tahun aku menjalani kehidupan
seperti ini. Melihat ketegaran Ibu dengan luka hati yang masih terlihat jelas
di wajahnya. Melihat keputusasaan Kakak. Melihat tumpukan-tumpukan berkas keuangan
yang harus aku kerjakan setiap hari. Sangat jenuh!!!
Aku
berfikir…entah sampai kapan aku harus begini. Melihat semua ini menjadi
rutinitas hidupku. Aku ingin melangkah jauh, aku ingin terlepas dari semua
beban di jiwa.
Hari itu, waktu
subuh tiba. Langit masih terlihat hitam. Aku masih melihat Ibu duduk berwirid dengan mukenanya. Aku hampiri
Ibu dan kulihat wajahnya.
Ibu menangis
ketika aku mengatakan maksud hatiku. Aku ingin pergi ke tempat lain dan meninggalkan
semua yang ada disini untuk mencari apa yang sebenarnya aku butuhkan. Saat itu Ibu jelas
melarangku,
apalagi ketika aku bilang bahwa aku akan berhenti bekerja. Ibu terlihat marah
dan kecewa.
***
Aku masih
bertahan di tempatku saat itu. Namun setelah beberapa lama, aku merasa sudah tak sanggup lagi
melihat rutinitas ini. Entah ada apa yang datang pada jiwa ini. Sampai akhirnya
aku memutuskan untuk pergi tanpa restu Ibu.
Aku ingin bebas,
tanpa ada masalah keluarga, tanpa ada rutinitas pekerjaaan yang membuat kepalaku hampir pecah, aku ingin
mewujudkan pilihan hidupku. Memang ini sebuah kesalahan. Aku pergi tanpa doa orangtua
dan akupun tak mengikuti prosedur kantor, berhenti kerja hanya lewat secarik
kertas pengunduran diri.
Benar, permasalahan
itu bukan untuk dihindari tapi untuk diatasi. Tapi setidaknya aku pergi untuk saat ini saja.
Aku melangkahkan
kaki bukan tanpa tujuan. Ada seorang teman yang hidup disebuah pedesaan. Jauh
dari polusi udara. Akhirnya aku menemui dia dan kuceritakan semua permasalahan itu.
Sudah menginjak
bulan keenam aku berada di desa ini. Walaupun mengontrak dan hanya mengandalkan uang dari tabungan
sewaktu aku masih bekerja untuk kehidupan sehari-hari, namun setidaknya aku menemukan ketenangan disini.
Aku mencoba
terus menulis, berimajinasi, mencoba bernostalgia dengan cita-citaku dulu. Disini tak
kulihat emosi Kakak yang naik turun akibat kegagalan rumah tangga, disini tak
kulihat air mata Ibu, disini juga tak kulihat lembaran-lembaran kertas yang biasa
selalu ada di meja kerjaku. Disini hanya ada alam yang tenang, sejuk dan indah.
***
Suatu saat nanti aku pasti akan kembali menemui Ibu,
meminta maaf pada Ibu, memeluk Ibu dan menjelaskan semuanya. Tapi bukan sekarang. Aku juga akan
menghadapi semua permasalahan hidup dan tak akan pernah lari
lagi. Tapi bukan saat ini.
Saat ini aku
masih ingin disini. Entah sampai kapan aku akan disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar