8 Mei 2012

Entah Sampai Kapan


Kubuka jendela kamar kontrakan yang tak seluas kamar di rumahku dulu. Terlihat padi hijau menghampar luas, udara sejuk dengan kicau burung. Langit pagi ini terlihat cerah dan saatnya aku harus beraktifitas.

Sudah beberapa bulan langkahku terhenti ditempat ini. Terkadang akupun heran kenapa aku berada disini. Jauh dari hirup pikuk kota yang penuh polusi. Sumpek, panas dan penat. Entah sampai kapan aku akan berada disini.

Bukan tanpa sebab ku tinggalkan semua orang-orang terdekatku. Orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang selalu berada disampingku. Orangtua, sahabat, rekan kerja, semua.

***

Dulu…aku anggap keluargaku adalah keluarga yang utuh. Aku mempunyai Ayah dan Ibu, seorang Adik dan satu orang Kakak. Adikku masih duduk di bangku SMU, sementara Kakakku sudah berumah tangga. Sementara aku sendiri menjalani kuliah di Fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Aku masuk jurusan itu memang sebuah paksaan dari Ayah, karena Ayah menginginkan aku menjadi seorang akuntan. Dan kini cita-cita ayah tercapai, aku sudah bekerja sebagai akuntan, bergelut dengan angka-angka yang berhubungan dengan keuangan setiap hari. Angka-angka itu sudah menumpuk di otakku dan hampir meledak.


Aku sadari, ini bukan keinginanku. Dalam diri aku sejujurnya aku ingin menjadi seorang penulis. Penulis novel besar. Tapi orangtua seolah menjadi penentu masa depanku. Langkahku untuk menjadi seorang penulis harus terhenti sampai disini.

Kami hidup rukun, sampai akhirnya ada masalah yang membuat hati Ibu hancur.  Ayah diam-diam punya istri simpanan yang membuat hati semua anak-anaknya remuk tak terkecuali aku. Perceraian adalah jalan keluar yang dipilih Ibu. Setelah mereka bercerai, Ayah memutuskan untuk pergi dan Ibu memilih tinggal bersama aku dan Adikku.

***

Setahun berlalu, belum sembuh luka hati Ibu, datang luka baru. Kakak laki-lakiku dipecat dari tempat kerjanya. Karena faktor itu sang istri memilih untuk bercerai dari Kakakku. Dengan membawa seorang anak dia terpaksa harus tinggal bersama Ibu di rumah.

Permasalahan yang Kakak alami, membuat dia menjadi orang yang agak tempramental, sering marah dan gampang tersinggung. Kita tak pernah bercanda seperti dulu lagi dan akupun hampir kehilangan sosok Kakakku dulu.

Siapa yang mau hidup seperti ini. Tapi apa aku harus mengeluh dan mengeluh terus dengan keadaan hidupku? Aku merasa banyak yang mengalami permasalahan hidup lebih dari yang aku alami.

Tempat kerjaku memang nyaman walau bukan pilihan hatiku. Aku masih menikmati itu. Walaupun terkadang kejenuhan selalu bersarang di benakku. Menjadi seorang ahli keuangan bukan yang aku mau. Cita-cita aku dulu bisa saja aku wujudkan tapi pekerjaan yang menguras waktu ini yang menyebabkan aku harus mengubur mimpi-mimpi itu.

***

Bertahun-tahun aku menjalani kehidupan seperti ini. Melihat ketegaran Ibu dengan luka hati yang masih terlihat jelas di wajahnya. Melihat keputusasaan Kakak. Melihat tumpukan-tumpukan berkas keuangan yang harus aku kerjakan setiap hari. Sangat jenuh!!!

Aku berfikir…entah sampai kapan aku harus begini. Melihat semua ini menjadi rutinitas hidupku. Aku ingin melangkah jauh, aku ingin terlepas dari semua beban di jiwa.

Hari itu, waktu subuh tiba. Langit masih terlihat hitam. Aku masih melihat Ibu duduk berwirid dengan mukenanya. Aku hampiri Ibu dan kulihat wajahnya.

Ibu menangis ketika aku mengatakan maksud hatiku. Aku ingin pergi ke tempat lain dan meninggalkan semua yang ada disini untuk mencari apa yang sebenarnya aku butuhkan. Saat itu Ibu jelas melarangku, apalagi ketika aku bilang bahwa aku akan berhenti bekerja. Ibu terlihat marah dan kecewa.

***

Aku masih bertahan di tempatku saat itu. Namun setelah beberapa lama, aku merasa sudah tak sanggup lagi melihat rutinitas ini. Entah ada apa yang datang pada jiwa ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi tanpa restu Ibu.

Aku ingin bebas, tanpa ada masalah keluarga, tanpa ada rutinitas pekerjaaan yang membuat kepalaku hampir pecah, aku ingin mewujudkan pilihan hidupku. Memang ini sebuah kesalahan. Aku pergi tanpa doa orangtua dan akupun tak mengikuti prosedur kantor, berhenti kerja hanya lewat secarik kertas pengunduran diri.

Benar, permasalahan itu bukan untuk dihindari tapi untuk diatasi. Tapi setidaknya aku pergi untuk saat ini saja.

Aku melangkahkan kaki bukan tanpa tujuan. Ada seorang teman yang hidup disebuah pedesaan. Jauh dari polusi udara. Akhirnya aku menemui dia dan kuceritakan semua permasalahan itu.

Sudah menginjak bulan keenam aku berada di desa ini. Walaupun mengontrak dan hanya mengandalkan uang dari tabungan sewaktu aku masih bekerja untuk kehidupan sehari-hari, namun setidaknya aku menemukan ketenangan disini.

Aku mencoba terus menulis, berimajinasi, mencoba bernostalgia dengan cita-citaku dulu. Disini tak kulihat emosi Kakak yang naik turun akibat kegagalan rumah tangga, disini tak kulihat air mata Ibu, disini juga tak kulihat lembaran-lembaran kertas yang biasa selalu ada di meja kerjaku. Disini hanya ada alam yang tenang, sejuk dan indah.

***

Suatu saat nanti aku pasti akan kembali menemui Ibu, meminta maaf pada Ibu, memeluk Ibu dan menjelaskan semuanya. Tapi bukan sekarang. Aku juga akan menghadapi semua permasalahan hidup dan tak akan pernah lari lagi. Tapi bukan saat ini.


Saat ini aku masih ingin disini. Entah sampai kapan aku akan disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar