Ridwan adalah
tunanganku yang akan segera menikahiku setengah tahun kedepan. Semua persiapan
menjelang pernikahan sedikit demi sedikit sudah rampung. Ridwan satu kampung
dengan aku. Rumah kitapun berjarak tidak terlalu jauh. Kami sudah berteman
sejak kecil. Keluarga juga sudah mendukung satu sama lain.
Aku memutuskan
bersedia dipinang oleh Ridwan setelah aku lulus kuliah dan sudah bekerja,
begitupun dengan Ridwan yang saat ini juga sudah bekerja. Aku melihat Ridwan adalah sosok
yang baik dan bertanggungjawab jadi tidak ada salahnya aku menerima dia sebagai
calon suamiku.
***
Satu bulan yang
lalu, aku sangat senang sekali ketika mendengar teman baikku Anita akan datang
mengunjungiku disini. Anita adalah sahabatku waktu di SMU. Dia baik, ramah, pintar dan cantik. Dia mendengar kabar kalau aku
akan menikah dengan Ridwan. Dia sangat senang sekali dan berjanji akan datang
dihari bahagiaku nanti.
Sekitar dua
minggu Anita disini, dia cuti dari tempat kerjanya karena ingin berlibur.
Selama berlibur dia tinggal di kontrakanku.
Suatu hari aku
kenalkan Anita dengan Ridwan karena Anita memaksaku untuk berkenalan dengan
calon suamiku itu. Tidak ada yang aneh ataupun istimewa dari perkenalan itu.
Hanya perkenalan biasa. Anita memang sosok yang menyenangkan, jadi hanya
beberapa jam saja berkenalan, Ridwan dan Anita sudah seperti kenal lama.
Aku tak tahu apa
yang terjadi setelah itu, yang pasti setelah perkenalan mereka, sifat Ridwan
berubah tidak seperti dulu. Aku mengira Ridwan memang sedang sibuk atau banyak
pikiran karena memikirkan acara pernikahan Kami yang semakin dekat. Namun entah
kenapa, semakin waktu berlalu perasaanku semakin tidak enak.
Setelah
pertemuan Anita dengan Ridwan, aku melihat setiap malam Anita tidak pernah
lepas dengan handphonenya. Kadang
tertawa, kadang hanya tersenyum bila ada pesan masuk. Padahal sebelumnya aku
merasakan Anita selalu ngobrol denganku ketika malam tiba. Apa mungkin Anita
ngobrol dengan Ridwan, tapi aku tidak pernah memberikan nomor handphone calon suamiku. Waktu
perkenalanpun mereka tidak bertukar nomor dan apa gunanya bertukar nomor
telepon. Aku mencoba melepaskan semua pikiran burukku tentang mereka.
Akhirnya waktu
liburan Anitapun habis. Tak terasa sudah dua minggu Anita tinggal bersamaku.
Saatnya Anita pulang ke Surabaya. Aku dan Ridwan mengantar Anita sampai
terminal kereta. Aku melihat wajah Ridwan sedih ketika melepas Anita pergi.
Padahal mereka baru saja kenal. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
***
Dua bulan lagi
Kami akan menikah, semua persiapan semakin mantap. Tinggal menunggu hari H nya
saja. Tetapi kenapa sikap Ridwan semakin dingin. Pernah aku tanyakan hal ini
tapi dia tidak menjawab.
Sore itu,
seperti biasa aku pulang dari kantor sekitar jam 3 sore. Aku menelepon Ridwan
untuk menjemputku karena memang sore itu aku sedang tidak enak badan tapi
Ridwan bilang dia tidak bias
menjemput karena memang lagi ada pekerjaan yang tidak
bisa ditinggalkan.
Entah kenapa,
perasaanku makin tidak enak. Akhirnya dengan kepalaku yang masih pusing, aku
bermaksud untuk datang ke kontrakan Ridwan. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba kakiku harus
melangkah kesana padahal kan Ridwan bilang kalau saat ini dia ada di kantor.
Masih dengan
terik matahari yang menyengat sore itu, aku mencoba untuk melangkahkan kakiku mencari angkot yang mengantarkanku ke kontrakan Ridwan. Masih dengan perasaan tidak menentu, tak terasa angkot yang
aku naiki sudah berada dipinggir jalan kecil menuju kontrakan Ridwan.
Aku menyusuri
jalan kecil itu dan akhirnya sampai di kontrakan Ridwan. Aku melihat pintu
kamarnya tertutup, tapi aku mendengar ada sayup-sayup suara didalam kamar itu.
Apa mungkin Ridwan? Tapi kan dia bilang dia lagi di kantor. Ataukah ada temannya yang
sedang berkunjung kesana. Aku tak tahu.
Semakin aku
dekati kamar Ridwan, semakin jelas itu memang suara Ridwan. Tapi kok ada suara
perempuan dan aku mengenal suara itu. Ya Tuhan...itu suara Anita. Tapi kan Anita lagi di Surabaya. Apa
yang terjadi dengan mereka.
Aku ketuk pintu
kontrakan Ridwan, sekujur tubuhku gemetar. Sekali, dua kali, dan ketiga kalinya baru pintu itu
terbuka. Benar…ada Ridwan dan Anita disana. Entah apa yang sedang mereka
lakukan sore itu. Mereka tampak kaget ketika aku datang. Aku tak bisa
berkata-kata saat itu, hanya ada air mata. Aku berlari sekencang-kencangnya
tanpa peduli Anita dan Ridwan memanggilku.
Aku juga tak
percaya, aku
bisa sampai di kontrakanku sore itu. Aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul
5 sore. Aku masih tak percaya dengan apa yang sudah aku lihat. Kalau mereka
tidak berselingkuh kenapa Anita tidak memberitahuku kalau dia ada di kota ini.
Kenapa dia menghubungi calon suamiku dan bukan aku.
Beberapa minggu
aku mengurung diri di kamar. Orangtua dan orang-orang terdekat termasuk Ridwan dan Anita aku
dengar selalu berusaha membujukku keluar kamar. Tapi aku sungguh tak ingin
melihat mereka. Hingga pada suatu hari, ketika hatiku sudah benar-benar pasrah
dengan jalan hidup yang harus aku jalani akhirnya aku memberanikan diri untuk
menemui dua orang itu.
Ternyata benar,
Ridwan memang ada hubungan khusus dengan Anita sejak perkenalan mereka. Setelah
mereka mengakui semua perbuatan mereka, akhirnya aku memutuskan untuk mundur
dan membatalkan pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi. Ya Tuhan…kenapa
ini terjadi padaku.
Ridwan mungkin bukan jodohku. Aku
yakin Tuhan telah mempersiapkan hari indah untukku dan Pangeranku nanti, bukan Ridwan. Mungkin
selama ini banyak kekurangan dalam diriku yang tidak bisa Ridwan pahami. Mungkin dia menemukan semua yang dia cari pada Anita. Anita yang
terbaik buat Ridwan. Mereka memang sudah membuatku sakit, namun satu hal yang harus aku
yakini bahwa tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta tumbuh dengan sendirinya
tanpa ada sandiwara atau paksaan. Aku yakin aku bisa rela.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar