22 Mar 2013

Tidak Ada yang Salah dengan Cinta

Ridwan adalah tunanganku yang akan segera menikahiku setengah tahun kedepan. Semua persiapan menjelang pernikahan sedikit demi sedikit sudah rampung. Ridwan satu kampung dengan aku. Rumah kitapun berjarak tidak terlalu jauh. Kami sudah berteman sejak kecil. Keluarga juga sudah mendukung satu sama lain.

Aku memutuskan bersedia dipinang oleh Ridwan setelah aku lulus kuliah dan sudah bekerja, begitupun dengan Ridwan yang saat ini juga sudah bekerja. Aku melihat Ridwan adalah sosok yang baik dan bertanggungjawab jadi tidak ada salahnya aku menerima dia sebagai calon suamiku.

***

Satu bulan yang lalu, aku sangat senang sekali ketika mendengar teman baikku Anita akan datang mengunjungiku disini. Anita adalah sahabatku waktu di SMU. Dia baik, ramah, pintar dan cantik. Dia mendengar kabar kalau aku akan menikah dengan Ridwan. Dia sangat senang sekali dan berjanji akan datang dihari bahagiaku nanti.


Sekitar dua minggu Anita disini, dia cuti dari tempat kerjanya karena ingin berlibur. Selama berlibur dia tinggal di kontrakanku.

Suatu hari aku kenalkan Anita dengan Ridwan karena Anita memaksaku untuk berkenalan dengan calon suamiku itu. Tidak ada yang aneh ataupun istimewa dari perkenalan itu. Hanya perkenalan biasa. Anita memang sosok yang menyenangkan, jadi hanya beberapa jam saja berkenalan, Ridwan dan Anita sudah seperti kenal lama.

Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang pasti setelah perkenalan mereka, sifat Ridwan berubah tidak seperti dulu. Aku mengira Ridwan memang sedang sibuk atau banyak pikiran karena memikirkan acara pernikahan Kami yang semakin dekat. Namun entah kenapa, semakin waktu berlalu perasaanku semakin tidak enak.

Setelah pertemuan Anita dengan Ridwan, aku melihat setiap malam Anita tidak pernah lepas dengan handphonenya. Kadang tertawa, kadang hanya tersenyum bila ada pesan masuk. Padahal sebelumnya aku merasakan Anita selalu ngobrol denganku ketika malam tiba. Apa mungkin Anita ngobrol dengan Ridwan, tapi aku tidak pernah memberikan nomor handphone calon suamiku. Waktu perkenalanpun mereka tidak bertukar nomor dan apa gunanya bertukar nomor telepon. Aku mencoba  melepaskan semua pikiran burukku tentang mereka.

Akhirnya waktu liburan Anitapun habis. Tak terasa sudah dua minggu Anita tinggal bersamaku. Saatnya Anita pulang ke Surabaya. Aku dan Ridwan mengantar Anita sampai terminal kereta. Aku melihat wajah Ridwan sedih ketika melepas Anita pergi. Padahal mereka baru saja kenal. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

***

Dua bulan lagi Kami akan menikah, semua persiapan semakin mantap. Tinggal menunggu hari H nya saja. Tetapi kenapa sikap Ridwan semakin dingin. Pernah aku tanyakan hal ini tapi dia tidak menjawab.

Sore itu, seperti biasa aku pulang dari kantor sekitar jam 3 sore. Aku menelepon Ridwan untuk menjemputku karena memang sore itu aku sedang tidak enak badan tapi Ridwan bilang dia tidak bias menjemput karena memang lagi ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Entah kenapa, perasaanku makin tidak enak. Akhirnya dengan kepalaku yang masih pusing, aku bermaksud untuk datang ke kontrakan Ridwan. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba kakiku harus melangkah kesana padahal kan Ridwan bilang kalau saat ini dia ada di kantor.

Masih dengan terik matahari yang menyengat sore itu, aku mencoba untuk melangkahkan kakiku mencari angkot yang mengantarkanku ke kontrakan Ridwan. Masih dengan perasaan tidak menentu, tak terasa angkot yang aku naiki sudah berada dipinggir jalan kecil menuju kontrakan Ridwan.

Aku menyusuri jalan kecil itu dan akhirnya sampai di kontrakan Ridwan. Aku melihat pintu kamarnya tertutup, tapi aku mendengar ada sayup-sayup suara didalam kamar itu. Apa mungkin Ridwan? Tapi kan dia bilang dia lagi di kantor. Ataukah ada temannya yang sedang berkunjung kesana. Aku tak tahu.

Semakin aku dekati kamar Ridwan, semakin jelas itu memang suara Ridwan. Tapi kok ada suara perempuan dan aku mengenal suara itu. Ya Tuhan...itu suara Anita. Tapi kan Anita lagi di Surabaya. Apa yang terjadi dengan mereka.

Aku ketuk pintu kontrakan Ridwan, sekujur tubuhku gemetar. Sekali, dua kali, dan ketiga kalinya baru pintu itu terbuka. Benar…ada Ridwan dan Anita disana. Entah apa yang sedang mereka lakukan sore itu. Mereka tampak kaget ketika aku datang. Aku tak bisa berkata-kata saat itu, hanya ada air mata. Aku berlari sekencang-kencangnya tanpa peduli Anita dan Ridwan memanggilku.

Aku juga tak percaya, aku bisa sampai di kontrakanku sore itu. Aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku masih tak percaya dengan apa yang sudah aku lihat. Kalau mereka tidak berselingkuh kenapa Anita tidak memberitahuku kalau dia ada di kota ini. Kenapa dia menghubungi calon suamiku dan bukan aku.

Beberapa minggu aku mengurung diri di kamar. Orangtua dan orang-orang terdekat termasuk Ridwan dan Anita aku dengar selalu berusaha membujukku keluar kamar. Tapi aku sungguh tak ingin melihat mereka. Hingga pada suatu hari, ketika hatiku sudah benar-benar pasrah dengan jalan hidup yang harus aku jalani akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui dua orang itu.

Ternyata benar, Ridwan memang ada hubungan khusus dengan Anita sejak perkenalan mereka. Setelah mereka mengakui semua perbuatan mereka, akhirnya aku memutuskan untuk mundur dan membatalkan pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi. Ya Tuhan…kenapa ini terjadi padaku.

Ridwan mungkin bukan jodohku. Aku yakin Tuhan telah mempersiapkan hari indah untukku dan Pangeranku nanti, bukan Ridwan. Mungkin selama ini banyak kekurangan dalam diriku yang tidak bisa Ridwan pahami. Mungkin dia menemukan semua yang dia cari pada Anita. Anita yang terbaik buat Ridwan. Mereka memang sudah membuatku sakit, namun satu hal yang harus aku yakini bahwa tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa ada sandiwara atau paksaan. Aku yakin aku bisa rela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar