22 Mar 2013

Dan Akupun Terlupa

Aku tidak membicarakan siapapun, tapi mungkin setiap orang pernah melakukan apa yang pernah aku lakukan. Aku tidak ingin disebut orang yang tidak punya perhatian pada sosok yang sudah melahirkan aku. Aku juga tidak ingin disebut orang yang tidak mempunyai kasih sayang padanya. Sungguh aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya.

Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika Ibu SMS aku mengabarkan kalo beliau sakit di kampung, aku hanya balas, “Istirahat dan ke dokter saja…”, aku tak bisa panjang-panjang kirim pesan karena waktu itu aku lagi ada rapat di kantor. Sepulang dari kerja, aku langsung istirahat, bersih-bersih dan tidur. Aku hampir terlupa menanyakan kabar kesehatan Ibu. Sampai pada besok paginya Ibu yang SMS aku duluan mengabarkan kalau keadaan beliau sudah baik-baik saja. Aku hanya membalas, “Syukurlah Bu…”. Lagi-lagi kesibukan yang membuatku membalas seperti itu.


Pernah pada suatu saat Ibu minta diantar ke dokter. Tiba disana aku lihat antrian panjang sekali. Entah aku antrian nomor keberapa ratus atau mungkin berapa ribu bahkan aku mengingatpun tidak ingin. Aku nunggu berjam-jam hingga akhirnya tiba giliran Ibu. Setelah diperiksa, aku langsung pulang karena malam sudah mulai larut. Jalanan macet karena memang daerahku terkenal dengan kemacetan yang tiada tara. Sampai di rumah aku sudah tak ingin ngobrol atau apapun lagi. Aku melihat Ibu masih sempat menawarkan aku makan malam dengan wajah yang sangat bersalah. Hati kecilku sebenarnya berontak dengan apa yang sudah aku lakukan. Ibu tak perlu merasa bersalah karena itu kewajiban aku sebagai anak. Malam itu aku tidak menanyakan keadaan Ibu, malam itu aku sibuk dengan kekesalan karena antrian dan kemacetan di jalan, sibuk dengan kelelahan, aku bahkan terlupa kalau malam itu Ibu masih sakit.

Terkadang kekhawatiran seorang Ibu hanya dianggap sebagai “Ke-lebay-an” buatku. Pertanyaan sehatkah? Sudah makan atau belum? Kerjaan lancar atau tidak? Semua itu malah membuatku sebagai pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab. Sungguh bukan maksudku seperti itu.

Kerinduan Ibu terhadap aku, terkadang aku anggap sebagai hal yang biasa. Ketika aku tidak bisa menemui Ibu, aku bisa dengan gampang mencari kebohongan untuk mendapatkan alasan. Ibu percaya, walaupun aku sadar hati kecil Ibu tahu kalau aku sedang berbohong.

Ketika aku merasakan cinta, Ibu selalu memberikan nasehat, namun aku merasa bahwa aku sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang terbaik buatku. Tapi ternyata tidak…

***

Jika aku berfikir dan mengingat seberapa banyak dosaku pada beliau, tentu aku tak akan pernah bisa menghitungnya. Begitupun dengan ketulusan dan kasih sayang Ibu yang tak pernah bisa aku hitung.
Di matanya, aku tetap menjadi sosok anak yang sangat baik, aku sosok anak yang dia banggakan. Tapi aku merasa aku tidak seperti itu. Terlalu banyak kesalahan yang sudah aku perbuat yang pasti mengecewakannya.

Kebahagiaan yang aku rasakan saat ini adalah ada campur tangan dari doa dari sebagai orangtua. Aku tahu, aku selalu ada disetiap doa-doanya. Dan kenapa aku terlupa dengan semua itu.

Semoga saja aku bukan hanya berjanji untuk menjadi sosok anak yang lebih baik lagi. Tapi bisa aku lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar