Aku tidak
membicarakan siapapun, tapi mungkin setiap orang pernah melakukan apa yang pernah
aku lakukan. Aku tidak ingin disebut orang yang tidak punya perhatian pada
sosok yang sudah melahirkan aku. Aku juga tidak ingin disebut orang yang tidak
mempunyai kasih sayang padanya. Sungguh aku sangat menyayanginya, sangat
mencintainya.
Masih teringat
jelas dalam ingatanku ketika Ibu SMS aku mengabarkan kalo beliau sakit di
kampung, aku hanya balas, “Istirahat dan ke dokter saja…”, aku tak bisa panjang-panjang kirim pesan
karena waktu itu aku lagi ada rapat di kantor. Sepulang dari kerja, aku langsung istirahat, bersih-bersih dan tidur. Aku
hampir terlupa menanyakan kabar kesehatan Ibu. Sampai pada besok paginya Ibu
yang SMS aku duluan mengabarkan kalau keadaan beliau sudah baik-baik saja. Aku hanya membalas, “Syukurlah Bu…”. Lagi-lagi kesibukan yang
membuatku membalas seperti itu.
Pernah pada
suatu saat Ibu minta diantar ke dokter. Tiba disana aku lihat antrian panjang sekali. Entah aku
antrian nomor keberapa ratus atau mungkin berapa ribu bahkan aku mengingatpun
tidak ingin. Aku nunggu berjam-jam
hingga akhirnya tiba
giliran Ibu. Setelah diperiksa, aku langsung pulang karena malam sudah mulai
larut. Jalanan macet karena memang daerahku terkenal dengan kemacetan yang
tiada tara. Sampai di rumah aku sudah tak ingin ngobrol atau apapun lagi. Aku
melihat Ibu masih sempat menawarkan aku makan malam dengan wajah yang sangat
bersalah. Hati kecilku sebenarnya berontak dengan apa yang sudah aku lakukan. Ibu
tak perlu merasa bersalah karena itu kewajiban aku sebagai anak. Malam itu aku
tidak menanyakan keadaan Ibu, malam itu aku sibuk dengan kekesalan karena
antrian dan kemacetan di jalan, sibuk dengan kelelahan, aku bahkan terlupa
kalau malam itu Ibu masih sakit.
Terkadang
kekhawatiran seorang Ibu hanya dianggap sebagai “Ke-lebay-an” buatku.
Pertanyaan sehatkah? Sudah makan atau belum? Kerjaan lancar atau tidak?
Semua itu malah membuatku sebagai pertanyaan yang tidak
penting untuk dijawab. Sungguh bukan maksudku seperti itu.
Kerinduan Ibu
terhadap aku, terkadang aku anggap
sebagai hal yang biasa. Ketika aku tidak bisa menemui
Ibu, aku bisa dengan gampang mencari kebohongan untuk mendapatkan alasan. Ibu
percaya, walaupun aku sadar hati kecil Ibu tahu kalau aku sedang berbohong.
Ketika aku
merasakan cinta, Ibu selalu memberikan nasehat, namun aku merasa bahwa aku
sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang terbaik buatku. Tapi ternyata tidak…
***
Jika aku
berfikir dan mengingat seberapa banyak dosaku pada beliau, tentu aku tak akan
pernah bisa menghitungnya. Begitupun dengan ketulusan dan kasih sayang Ibu yang
tak pernah bisa aku hitung.
Di matanya, aku tetap
menjadi sosok anak yang sangat baik, aku sosok anak yang dia banggakan. Tapi
aku merasa aku tidak seperti itu. Terlalu banyak kesalahan yang sudah aku perbuat yang pasti mengecewakannya.
Kebahagiaan yang
aku rasakan saat ini adalah ada campur tangan dari doa dari sebagai orangtua. Aku tahu, aku selalu ada disetiap doa-doanya. Dan kenapa aku
terlupa dengan semua itu.
Semoga saja aku
bukan hanya berjanji untuk menjadi sosok anak yang lebih baik lagi. Tapi bisa
aku lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar