16 Mei 2013

Dua Hari yang Lalu

Neta nama sahabatku…sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Kita sudah bersahabat sejak kecil sampai sekarang. Hanya saja sekarang kita sangat jarang bertemu. Neta tinggal di kota Solo, sedangkan aku di Jakarta padahal kita sama-sama orang Bandung. Tapi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, persahabatan jarak jauh tidaklah menjadi halangan dalam berkomunikasi. Hampir tiap hari kita kontak walaupun lewat dunia maya. Neta orang yang sangat baik. Baik dalam hal apapun. Makanya aku merasa Neta adalah sahabat terbaikku.

Beberapa hari kebelakang aku merasa sangat kehilangan Neta. Aku telepon dia, handphonenya tidak aktif, aku sms pun selalu tidak terkirim. Aku cari dia di dunia mayapun, tidak pernah online. Aku fikir mungkin dia sedang sibuk.

Hari ini seperti biasa aku harus bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekitar pukul 7 aku sudah siap semuanya. Perjalanan dari kostan ke kantor sekitar setengah jam, jadi aku bisa sampai kantor pukul setengah 8, itupun kalau tidak macet.

Baru aku ambil tas kerjaku, aku dengar handphoneku berbunyi. Aku ambil handphoneku dari dalam tas. Agak kesal juga karena tasku sudah rapi. Tapi entah kenapa hatiku seolah tergerak untuk mengambil handphoneku.

Aku lihat, yang menelponku dari private number, tambah kesal dan malas saja rasanya. Sudah ganggu acara berangkat kerjaku, yang nelpon malah orang yang tidak jelas. Tapi terlanjur sudah ada di tangan, akhirnya aku angkat juga.


“Halo…siapa ya…?” tanyaku dengan nada agak kesal. Tidak ada jawaban, beberapa detik kemudian, baru ada jawaban.

“Sani…ini aku Neta…” jawabnya.

“Hei Neta…kemana aja? Aku telepon gak pernah aktif dan bla…bla…bla….” banyak pertanyaan untuknya.

Neta tidak seramah biasanya, dia hanya bilang kalau malam ini dia akan datang ke kostanku. Agak heran memang kok sangat mendadak sekali. Biasanya Neta mengabariku seminggu sebelumnya. Dan anehnya lagi dia tidak minta dijemput.  

***

Malam itu, Neta datang ke kostanku, dia bilang akan menginap dua hari. Aku putuskan untuk mengambil cuti selama dua hari. Aku ingin menemani sahabatku disini.

Neta terlihat sangat pucat, tatapannya kosong. Berkali-kali aku tanya, dia hanya menjawab kalau saat ini dia sedang kedinginan. Aku beri dia selimut, tapi Neta menolaknya. Dia hanya bilang kalau selama dua hari ini dia ingin bersamaku.

Malam itu kita tidur bersama, tapi kenapa hatiku seolah resah. Neta tidak bercerita apapun, dia hanya bilang kalau dia ingin disini dulu bersamaku.

Keesokan harinya, sebelum aku terbangun, Neta sudah bangun duluan, aku masih melihat wajahnya pucat, aku tawari dia untuk ke dokter namun dia bilang, dia masih ingin disini. Selalu begitu.

Seharian aku bingung, Neta tidak mau makan, tidak melakukan apapun, dia hanya ada didepanku dan menatapku. Sesekali dia tersenyum dan menyibak rambutku. Neta memang selalu bilang kalau dia ingin mempunyai rambut lurus sepertiku.

***

Hari kedua, Neta masih dengan perlakuan yang sama. Namun hari itu dia bilang kalau dia ingin melakukan apa yang pernah kita rencanakan. Aku sangat heran kenapa tidak dari kemarin saja. Tapi ya sudahlah, ini kemauan Neta.

Kita memang pernah merencanakan ingin makan di restoran langgananku. Bukan restoran mewah tapi cukup nyaman dan makanannya enak. Akhirnya kita pergi kesana dan Neta menghabiskan semua makanan yang aku pesan.

Setelah itu kita jalan kesebuah mall, tempat biasa aku pergi bersama teman-teman kantorku. Aku tahu Neta sangat gila dalam berbelanja, namun entah kenapa, hari itu Neta hanya mengikuti kemana langkahku pergi.

Setelah dari mall, hari mulai sore, aku ajak Neta makan bakso didekat kostanku. Bakso adalah makanan wajib saat kita masih bersama dulu. Namun tetap tidak ada ekspresi yang baik dari wajahnya.

Waktupun cepat berlalu, Neta berpamitan untuk pulang. Banyak keheranan dan tanda tanya selama kita bersama, Neta tidak seperti biasanya. Waktu Neta berpamitan, Neta bilang, inilah saatnya kita harus berpisah, terpisah ruang dan waktu. Aku tak mengerti apa arti semua itu.

Sebelum dia pergi, dia minta sesuatu hal dariku, dia menitipkan boneka kecil. Boneka yang dia beli untuk Adik kesayangannya.

“San…kamu antar boneka ini besok yah, harus besok…” kata Neta.

“Besok aku harus kerja Net, weekend aja yah aku ke Bandung, aku langsung ke rumah orangtuamu...” jawabku.

“Pokoknya harus besok...” kata Neta.

Aku bingung, tapi aku tidak bisa menolak ketika dia memohon agar aku menemui Adiknya di Bandung dan memberikan boneka kecil itu. Akhirnya aku mengiyakan permintaan Neta untuk pergi ke Bandung besok. Kufikir sekalian pulang kampung saja. Rumahku tidak terlalu jauh dengan rumah Neta.

***

Keesokan harinya aku pulang ke Bandung dengan menggunakan travel. Sekitar tiga jam perjalanan aku sampai disana. Aku putuskan untuk langsung ke rumah Neta sebelum pulang ke rumah. Setelah turun dari travel, aku sambung naik angkot, setelah itu naik ojek dan langsung sampai didepan rumah Neta.

Di rumah Neta terlihat ramai, banyak orang berlalu lalang. Mungkin ada hajatan atau ada acara keluarga. Namun, semua kelihatan sedih. Aku coba masuk kedalam rumah dan ku lihat banyak orang sedang mengadakan tahlilan. “Lho…siapa yang meninggal???” tanyaku dalam hati.

Aku ucapkan salam dan kulihat ada Adik kecilnya Neta datang menghampiriku.

“Kak Sani yah…?” tanyanya.

“Iya…eh ka Sani bawa titipan dari Kak Neta…ini dia…” aku berikan boneka kecil itu.

“Kapan Kakak ketemu kak Neta...?” tanyanya.

“Dua hari yang lalu dan kemarin Kak Neta pulang ke Solo setelah dia menginap di kostan Kakak...” Jawabku.

Adik kecil itu menatapku, lalu memanggil Ibunya. Ibunya Neta menemuiku. Dia memelukku dan menangis. Aku sangat heran kenapa Ibunya Neta sangat bersedih.

“Nak...kamu tahu...?” kata Ibunya Neta.

“Tahu apa Bu…? Saya tidak tahu apa-apa, saya datang kesini hanya ingin memberikan titipan Neta untuk Adiknya, katanya dia janji mau membelikan boneka saat dia pulang kampung...” jawabku.

“Kapan kamu ketemu Neta...?” tanya Ibunya lagi.

“Dua hari yang lalu Bu, malah Neta menginap di kostanku dan baru pulang kemarin. Hanya aku merasa aneh kenapa Neta menitipkan boneka itu dan tidak langsung pulang ke Bandung, padahal jarak Jakarta Bandung kan tidak terlalu jauh…” jawabku.

Ibu Neta menatapku tajam, butiran-butiran air mata mulai menetes.

“Ibu ada masalah dengan Neta...?” tanyaku.

“Bukan Nak…” jawabnya.

“Lalu…?” tanyaku lagi.

“Ini acara tahlilan tiga hari meninggalnya Neta, dua hari yang lalu Neta mengalami kecelakaan bermotor saat dia akan pergi membeli boneka untuk Adiknya. Neta memang janji ingin membelikan Adiknya boneka kalau Adiknya ulang tahun. Dan …”

Belum sempat aku dengar kelanjutan obrolan Ibunya Neta, tiba-tiba badanku terasa melayang diudara, penglihatanku terasa kabur dan otakku terasa berhenti untuk berfikir. Badanku ambruk ke lantai dan aku tak sadarkan diri.

***

Sekitar setengah jam aku tak sadarkan diri. Ketika aku terbangun, aku berharap ini hanyalah mimpi, tapi ternyata bukan. Neta memang sudah pergi.


Aku berharap ini hanya halusinasi, walaupun sulit untuk diingkari. Aku tak bisa berfikir dengan logika tentang apa yang sudah terjadi. Tapi bukan itu yang penting saat ini. Yang terpenting adalah doa semoga Neta mendapat tempat terbaik disisi-NYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar