Neta nama
sahabatku…sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Kita sudah bersahabat sejak
kecil sampai sekarang. Hanya saja sekarang kita sangat jarang bertemu. Neta
tinggal di kota Solo, sedangkan aku di Jakarta padahal kita sama-sama orang
Bandung. Tapi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, persahabatan
jarak jauh tidaklah menjadi halangan dalam berkomunikasi. Hampir tiap hari kita
kontak walaupun lewat dunia maya. Neta orang yang sangat baik. Baik dalam hal
apapun. Makanya aku merasa Neta adalah sahabat terbaikku.
Beberapa hari
kebelakang aku merasa sangat kehilangan Neta. Aku telepon dia, handphonenya tidak aktif, aku sms pun
selalu tidak terkirim. Aku cari dia di dunia mayapun, tidak pernah online. Aku fikir mungkin dia sedang sibuk.
Hari ini seperti
biasa aku harus bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekitar pukul 7 aku
sudah siap semuanya. Perjalanan dari kostan ke kantor sekitar setengah jam,
jadi aku bisa sampai kantor pukul setengah 8, itupun kalau tidak macet.
Baru aku ambil
tas kerjaku, aku dengar handphoneku berbunyi. Aku ambil handphoneku dari dalam tas. Agak
kesal juga karena tasku sudah rapi. Tapi entah kenapa hatiku seolah tergerak
untuk mengambil handphoneku.
Aku lihat, yang menelponku dari private number, tambah kesal dan malas
saja rasanya.
Sudah ganggu acara berangkat kerjaku, yang nelpon malah orang yang tidak jelas.
Tapi terlanjur sudah ada di tangan, akhirnya aku angkat juga.
“Halo…siapa ya…?” tanyaku dengan nada agak kesal. Tidak
ada jawaban, beberapa detik kemudian, baru ada jawaban.
“Sani…ini aku
Neta…” jawabnya.
“Hei Neta…kemana aja? Aku telepon gak pernah aktif dan
bla…bla…bla….” banyak pertanyaan untuknya.
Neta tidak
seramah biasanya, dia hanya bilang kalau malam ini dia akan datang ke kostanku.
Agak heran memang kok sangat mendadak sekali. Biasanya Neta mengabariku seminggu
sebelumnya. Dan anehnya lagi dia tidak minta dijemput.
***
Malam itu, Neta
datang ke kostanku, dia bilang akan menginap dua hari. Aku putuskan untuk
mengambil cuti selama dua hari. Aku ingin menemani sahabatku disini.
Neta terlihat sangat pucat,
tatapannya kosong. Berkali-kali aku tanya, dia hanya menjawab kalau saat ini
dia sedang kedinginan. Aku beri dia selimut, tapi Neta menolaknya. Dia hanya
bilang kalau selama dua hari ini dia ingin bersamaku.
Malam itu kita
tidur bersama, tapi kenapa hatiku seolah resah. Neta tidak bercerita apapun,
dia hanya bilang kalau dia ingin disini dulu bersamaku.
Keesokan
harinya, sebelum aku terbangun, Neta sudah bangun duluan, aku masih melihat
wajahnya pucat, aku tawari dia untuk ke dokter namun dia bilang, dia masih
ingin disini. Selalu begitu.
Seharian aku
bingung, Neta tidak mau makan, tidak melakukan apapun, dia hanya ada didepanku
dan menatapku. Sesekali dia tersenyum dan menyibak rambutku. Neta memang selalu
bilang kalau dia ingin mempunyai rambut lurus sepertiku.
***
Hari kedua, Neta
masih dengan perlakuan yang sama. Namun hari itu dia bilang kalau dia ingin melakukan apa yang
pernah kita rencanakan. Aku sangat heran kenapa tidak dari kemarin saja. Tapi ya
sudahlah, ini kemauan Neta.
Kita memang
pernah merencanakan ingin makan di restoran langgananku. Bukan restoran mewah
tapi cukup nyaman dan makanannya enak. Akhirnya kita pergi kesana dan Neta menghabiskan semua makanan yang aku pesan.
Setelah itu kita jalan kesebuah mall, tempat biasa
aku pergi bersama teman-teman kantorku. Aku tahu Neta sangat gila dalam
berbelanja, namun entah kenapa, hari itu Neta hanya mengikuti kemana langkahku
pergi.
Setelah dari
mall, hari mulai sore, aku ajak Neta makan bakso didekat kostanku. Bakso adalah makanan wajib
saat kita masih bersama dulu. Namun tetap tidak ada ekspresi yang baik dari
wajahnya.
Waktupun cepat berlalu,
Neta berpamitan untuk pulang. Banyak keheranan dan tanda tanya selama kita
bersama, Neta tidak seperti biasanya. Waktu Neta berpamitan, Neta bilang,
inilah saatnya kita harus berpisah, terpisah ruang dan waktu. Aku tak mengerti
apa arti semua itu.
Sebelum dia
pergi, dia minta sesuatu hal dariku, dia menitipkan boneka kecil. Boneka yang
dia beli untuk Adik kesayangannya.
“San…kamu antar boneka ini besok yah,
harus besok…” kata Neta.
“Besok aku harus
kerja Net, weekend aja yah aku ke
Bandung, aku langsung ke rumah orangtuamu...” jawabku.
“Pokoknya harus besok...” kata Neta.
Aku bingung,
tapi aku tidak bisa menolak ketika dia memohon agar aku menemui Adiknya di Bandung dan
memberikan boneka kecil itu. Akhirnya aku mengiyakan permintaan Neta untuk
pergi ke Bandung besok. Kufikir sekalian pulang kampung saja. Rumahku tidak
terlalu jauh dengan rumah Neta.
***
Keesokan harinya
aku pulang ke Bandung dengan menggunakan travel. Sekitar tiga jam perjalanan aku
sampai disana. Aku putuskan untuk langsung ke rumah Neta sebelum pulang ke
rumah. Setelah turun dari travel, aku sambung naik angkot, setelah itu naik ojek dan
langsung sampai didepan rumah Neta.
Di rumah Neta
terlihat ramai, banyak orang berlalu lalang. Mungkin ada hajatan atau ada acara
keluarga. Namun, semua kelihatan sedih. Aku coba masuk kedalam rumah dan ku
lihat banyak orang sedang mengadakan tahlilan. “Lho…siapa yang meninggal???” tanyaku dalam hati.
Aku ucapkan
salam dan kulihat ada Adik kecilnya Neta datang menghampiriku.
“Kak Sani yah…?” tanyanya.
“Iya…eh ka Sani
bawa titipan dari Kak Neta…ini dia…” aku berikan boneka kecil itu.
“Kapan Kakak ketemu kak Neta...?” tanyanya.
“Dua hari yang
lalu dan kemarin Kak Neta pulang ke Solo setelah dia menginap di kostan Kakak...” Jawabku.
Adik kecil itu
menatapku, lalu memanggil Ibunya. Ibunya Neta menemuiku. Dia memelukku dan menangis. Aku sangat heran
kenapa Ibunya Neta sangat bersedih.
“Nak...kamu tahu...?” kata Ibunya Neta.
“Tahu apa Bu…? Saya tidak tahu apa-apa,
saya datang kesini hanya ingin memberikan titipan Neta untuk Adiknya, katanya dia janji mau
membelikan boneka saat dia pulang kampung...” jawabku.
“Kapan kamu
ketemu Neta...?” tanya Ibunya lagi.
“Dua hari yang
lalu Bu, malah
Neta menginap di kostanku dan baru pulang kemarin. Hanya aku merasa aneh kenapa
Neta menitipkan boneka itu dan tidak langsung pulang ke Bandung, padahal jarak
Jakarta Bandung kan tidak terlalu jauh…” jawabku.
Ibu Neta
menatapku tajam, butiran-butiran air mata mulai menetes.
“Ibu ada masalah
dengan Neta...?” tanyaku.
“Bukan Nak…”
jawabnya.
“Lalu…?” tanyaku
lagi.
“Ini acara
tahlilan tiga hari meninggalnya Neta, dua hari yang lalu Neta mengalami
kecelakaan bermotor saat dia akan pergi membeli boneka untuk Adiknya. Neta memang janji
ingin membelikan Adiknya boneka kalau Adiknya ulang tahun. Dan …”
Belum sempat aku
dengar kelanjutan obrolan Ibunya Neta, tiba-tiba badanku terasa melayang diudara, penglihatanku
terasa kabur dan otakku terasa berhenti untuk berfikir. Badanku ambruk ke
lantai dan aku tak sadarkan diri.
***
Sekitar setengah
jam aku tak sadarkan diri. Ketika aku terbangun, aku berharap ini hanyalah
mimpi, tapi ternyata bukan. Neta memang sudah pergi.
Aku berharap ini
hanya halusinasi, walaupun sulit untuk diingkari. Aku tak bisa berfikir dengan
logika tentang apa yang sudah terjadi. Tapi bukan itu yang penting saat ini.
Yang terpenting adalah doa semoga Neta mendapat tempat terbaik disisi-NYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar