1 Mei 2013

Dia Masih Anakku

Seminggu yang lalu aku bertemu dengan seorang Nenek disebuah warung nasi tak jauh dari tempat aku tinggal. Wajahnya terlihat pucat, bukan karena sakit, tapi aku melihat seperti ada sesuatu yang beliau sembunyikan. Aku sesekali melihat kearahnya, Nenek tua itu hanya memberikan seulas senyum. Senyum keterpaksaan sepertinya.

Satu jam berlalu, aku memperhatikan Nenek tua itu hendak pergi dari warung nasi. Pelan-pelan beliau angkat badannya. Terlihat sedikit meringis ketika beliau mencoba berdiri dan beranjak dari tempat itu. Nenek tua yang sangat malang, kenapa tidak ada anak atau saudara yang mengantar beliau pergi, bisikku dalam hati. Teringat jika suatu hari nanti, ketika badanku sudah renta dan aku seperti Nenek itu. Entah apa yang aku rasa.

Nenek itu berada dipinggir jalan, aku kira beliau akan memberhentikan angkot atau bis yang lewat. Tapi sudah beberapa bis dan angkot yang lewat tidak dia hiraukan. Ku lihat wajahnya sangat kebingungan. Tak tega rasanya melihat kondisi tua renta berada dipinggir jalan.

Aku coba untuk menghampiri dan bertanya mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menolongnya.

“Nenek, mau kemana? Mungkin ada yang bisa saya bantu...?” tanyaku.

Si nenek tak menjawab, beliau hanya menatapku tajam dan perlahan butiran-butiran Kristal jatuh dari matanya.


“Nenek mau kemana? Saya akan bantu cari alamat yang Nenek butuhkan...” tanyaku lagi.

Tangisan si Nenek malah tambah menjadi. Hingga aku sangat bingung dengan kondisi itu. Akhirnya aku ajak Nenek itu pulang ke rumah. Nenek itu hanya mengangguk tanda setuju ketika badannya aku papah untuk pulang ke rumahku.

Sesampainya di rumah, aku langsung menyuruh Nenek duduk, usianya hampir sama dengan usia nenekku di kampung. Aku senang, nenek itu ada di rumah, karena setidaknya aku bisa melepas rasa rindu pada Nenekku di kampung yang hanya bisa aku temui setahun sekali ketika hari raya tiba.

“Nenek mau disini dulu apa langsung tiduran di kamar? Mungkin Nenek cape, aku antar ke kamar ya...?” tanyaku.

“Boleh nak…” jawaban singkat keluar dari mulutnya. Akhirnya aku bisa dengar juga suara Nenek itu setelah beberapa jam yang lalu aku hanya bisa melihat Nenek itu berbicara dengan bahasa tubuhnya saja. Akhirnya aku antar Nenek itu ke kamar tamu, aku bantu beliau untuk merebahkan tubuhnya.

“Aku tinggal ya Nek, kalau ada apa-apa, panggih saja aku...” kataku.

“Makasih yah Nak...siapa namamu..?” tanya Nenek itu. Aku sampai lupa mengenalkan diriku sendiri.

“Aku Wina, aku disini bertiga dengan anak dan suamiku. Tapi sekarang suamiku sedang dinas di luar kota dan anakku belum pulang kursus.” jawabku. Si nenek hanya tersenyum dan aku segera tinggalkan beliau untuk beristirahat.

***

Sudah dua hari nenek itu ada di rumahku, sikapnya sudah tidak sekaku pertama kami bertemu. Beliau juga sudah berkenalan dan bermain dengan anakku. Hanya sayang suamiku baru pulang tiga minggu lagi. Hanya lewat telepon aku memberitahukan keberadaan Nenek di rumah. Aku tidak kesepian sejak ada beliau disini. Anakku juga kelihatannya senang sekali karena setiap hari beliau selalu menemani anakku belajar, bermain dan tidur. Namun ada yang mengganjal di hatiku saat ini, kenapa beliau bisa sendirian dijalanan dan kenapa beliau menangis ketika aku tanya kemana beliau akan pergi. Aku belum berani tanya dan aku berharap beliau bisa menjelaskannya tanpa aku tanya.

Sudah Hari keempat nenek itu berada di rumahku. Pagi-pagi dia masih seperti biasa, membantuku menyiapkan sarapan. Ketika anakku sudah berangkat ke sekolah, beliau tiba-tiba mengajakku untuk ngobrol di ruang depan. Aku mengiyakan ajakan beliau.  Kamipun ngobrol di ruang tengah, aku melihat ada raut muka sedih di wajahnya.

“Nenek, kenapa? Kok keliatannya sedang sedih...?” tanyaku.

“Nenek ingin bicara sesuatu...” jawabnya.

Aku hanya menggangukkan kepalaku tanda setuju dengan permintaan beliau, mudah-mudahan rasa penasaran dan berjuta tanya selama ini bisa terjawab detik itu.

“Nak Wina pasti bertanya-tanya kan kenapa Nenek ada disini saat ini...?” tanya si Nenek.

“Tentu saja...” jawabku singkat.

“Nenek tidak menyangka, sinetron yang selama ini Nenek tonton di televisi akan menjadi kenyataan buat Nenek, nak…” cerita Nenek singkat. Aku malah tambah penasaran setelah Nenek itu berbicara seperti itu. Kembali aku tanya, ”Maksud Nenek...?”

“Nenek punya anak semata wayang, dia orang kaya dan sukses yang super sibuk. Sama dengan menantu Nenek. Entah dia malu punya orangtua seperti Nenek atau bagaimana, dia tidak pernah memperlakukan Nenek seperti Ibu kandungnya...”. Sesekali beliau diam dan mencoba menahan butiran Kristal yang akan jatuh dari matanya.

“Suatu hari, Nenek diajak berbelanja baju kesuatu tempat perbelanjaan yang nenek juga tak tahu apa namanya. Kita pergi bertiga, Nenek, anak dan menantu Nenek. Pertama-tama Nenek sangat senang sekali dengan perjalanan Kami, karena Nenek berfikir, anak dan menantu Nenek sudah berubah baik sekarang. Bukan hanya mereka mengajak Nenek berbelanja, namun sikap mereka juga sangat baik.”

“Lantas Nek…” tanyaku.

“Ketika Nenek sudah dapat baju yang Nenek suka, anak dan mantu Nenek permisi untuk pergi ke kamar kecil. Nenek sebenarnya pengen ikut karena Nenek takut ditinggal ditempat itu sendirian. Banyak lalu lalang orang disana. Tapi mereka tetap menyuruh Nenek tunggu ditempat itu.  Nenek tunggu satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan sudah empat jam, tapi mereka tidak datang lagi. Nenek saat itu hanya bawa uang 50 ribu. Selama empat jam, Nenek tidak pernah beranjak satu langkahpun dari tempat itu, namun anak dan menantu Nenek tidak datang. Sampai akhirnya dengan rasa takut, Nenek menyusuri jalan dan menemukan warung nasi dan bertemu denganmu Nak...”

Miris sekali memang cerita Nenek, mirip dengan sinetron yang sering aku tonton juga dan aku tidak pernah menyangka bisa aku alami dikehidupan nyata.

“Nenek tak usah memikirkan itu, Nenek kan sudah disini, Nenek pasti aman disini, aku akan anggap Nenek seperti Nenekku sendiri...” kataku menenangkan hatinya.

“Tidak Nak, Nenek tidak ingin merepotkanmu...” jawabnya.

“Aku dan keluargaku tidak pernah merasa direpotkan...” jawabku.

“Nenek bisa minta tolong...?” tanya beliau.

“Tentu saja...” jawabku.

“Antarkan Nenek ke panti jompo saja Nak, Nenek ingin menghabiskan sisa usia Nenek disana bersama orang-orang yang mungkin memiliki nasib yang sama dengan Nenek...” kata beliau.

“Tidak Nek, mana mungkin aku tega membiarkan nenek disana...” jawabku.

“Nenek mohon, Nak…Nenek ingin disana…” jawabnya.

Begitu panjang perdebatan Kami saat itu hingga akhirnya aku menyerah dengan keinginan  beliau. Aku sangat terpaksa mengantarkan Nenek itu ke panti jompo.

***

Seminggu sudah Nenek di panti jompo dan hari ini aku berniat untuk menengok beliau. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap. Aku bawakan sweater tebal yang baru saja aku beli, aku juga membawa makanan-makanan ringan yang cukup banyak. Mungkin Nenek bisa bagikan kepada teman-temannya disana.

Tiba di Panti jompo, aku tidak harus menunggu lama, aku melihat Nenek keluar dari kamar dengan wajah yang berseri. Aku melihat ada kebahagiaan disini. Nenek langsung memelukku dan mencium keningku. Kurasakan kehangatan yang luar biasa.

“Nenek sehat...?” tanyaku.

“Nenek sehat Nak...terimakasih sudah datang menengok Nenek disini, Nenek kangen sekali denganmu dan anakmu...” jawab beliau.

Kamipun ngobrol panjang lebar dan tak terasa waktu sudah hampir magrib. Aku meminta ijin untuk sholat magrib dan bermaksud untuk pulang karena besok anakku harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.

Ketika aku sudah berpamitan dan melangkahkan kakiku keluar. Nenek tiba-tiba menarikku dan berkata, “Nenek kangen anak Nenek...bagaimanapun dia masih anakku…” kata Nenek.

Perih rasanya mendengar perkataan Nenek saat itu, aku hanya bisa berkata supaya Nenek bisa bersabar. Semoga Tuhan bisa melunakkan hati anak Nenek dan bisa menyadari kesalahannya, jangan sampai penyesalan datang.


Aku langkahkan kakiku menuju mobil dan kulajukan kencang. Tak henti-hentinya aku berdoa supaya Nenek selalu bahagia dan dilindungiNYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar