Seminggu yang lalu
aku bertemu dengan seorang Nenek disebuah warung nasi tak jauh dari tempat aku tinggal. Wajahnya
terlihat pucat, bukan karena sakit, tapi aku melihat seperti ada sesuatu yang beliau
sembunyikan. Aku sesekali melihat kearahnya, Nenek tua itu hanya memberikan seulas senyum.
Senyum keterpaksaan sepertinya.
Satu jam
berlalu, aku memperhatikan Nenek tua itu hendak pergi dari warung nasi. Pelan-pelan beliau
angkat badannya. Terlihat sedikit meringis ketika beliau mencoba berdiri dan
beranjak dari tempat itu. Nenek tua yang sangat malang, kenapa tidak ada anak
atau saudara yang mengantar beliau pergi, bisikku dalam hati. Teringat jika
suatu hari nanti, ketika badanku sudah renta dan aku seperti Nenek itu. Entah apa yang
aku rasa.
Nenek itu berada
dipinggir jalan, aku kira beliau akan memberhentikan angkot atau bis yang lewat. Tapi
sudah beberapa bis dan angkot yang lewat tidak dia hiraukan. Ku lihat wajahnya sangat
kebingungan. Tak tega rasanya melihat kondisi tua renta berada dipinggir jalan.
Aku coba untuk
menghampiri dan bertanya mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk
menolongnya.
“Nenek, mau
kemana? Mungkin
ada yang bisa saya bantu...?” tanyaku.
Si nenek tak
menjawab, beliau hanya menatapku tajam dan perlahan butiran-butiran Kristal
jatuh dari matanya.
“Nenek mau
kemana? Saya akan bantu cari alamat yang Nenek butuhkan...” tanyaku lagi.
Tangisan si Nenek malah tambah
menjadi. Hingga aku sangat bingung dengan kondisi itu. Akhirnya aku ajak Nenek itu pulang ke rumah.
Nenek itu hanya mengangguk tanda setuju ketika badannya aku papah untuk pulang
ke rumahku.
Sesampainya di
rumah, aku langsung menyuruh Nenek duduk, usianya hampir sama dengan usia nenekku di kampung. Aku
senang, nenek itu ada di rumah, karena setidaknya aku bisa melepas rasa rindu
pada Nenekku
di kampung yang hanya bisa aku temui setahun sekali ketika hari raya tiba.
“Nenek mau
disini dulu apa langsung tiduran di kamar? Mungkin
Nenek cape,
aku antar ke kamar ya...?” tanyaku.
“Boleh nak…” jawaban
singkat keluar dari mulutnya. Akhirnya aku bisa dengar juga suara Nenek itu setelah beberapa
jam yang lalu aku hanya bisa melihat Nenek itu berbicara dengan bahasa tubuhnya saja. Akhirnya aku antar Nenek itu ke kamar tamu,
aku bantu beliau untuk merebahkan tubuhnya.
“Aku tinggal ya Nek, kalau ada apa-apa,
panggih saja aku...” kataku.
“Makasih yah Nak...siapa namamu..?” tanya Nenek itu. Aku sampai lupa
mengenalkan diriku sendiri.
“Aku Wina, aku disini bertiga dengan
anak dan suamiku. Tapi sekarang suamiku sedang dinas di luar kota dan anakku
belum pulang kursus.” jawabku. Si nenek hanya tersenyum dan aku segera tinggalkan
beliau untuk beristirahat.
***
Sudah dua hari
nenek itu ada di rumahku, sikapnya sudah tidak sekaku pertama kami bertemu.
Beliau juga sudah berkenalan dan bermain dengan anakku. Hanya sayang suamiku
baru pulang tiga minggu lagi. Hanya lewat telepon aku memberitahukan keberadaan
Nenek di
rumah. Aku tidak kesepian sejak ada beliau disini. Anakku juga kelihatannya
senang sekali karena setiap hari beliau selalu menemani anakku belajar, bermain
dan tidur. Namun ada yang mengganjal di hatiku saat ini, kenapa
beliau bisa sendirian dijalanan dan kenapa beliau menangis ketika aku tanya
kemana beliau akan pergi. Aku belum berani tanya dan aku berharap beliau bisa
menjelaskannya tanpa aku tanya.
Sudah Hari keempat nenek itu berada di rumahku.
Pagi-pagi dia masih seperti biasa, membantuku menyiapkan sarapan. Ketika anakku
sudah berangkat ke sekolah, beliau tiba-tiba mengajakku untuk ngobrol di ruang
depan. Aku mengiyakan ajakan beliau. Kamipun ngobrol di ruang
tengah, aku melihat ada raut muka sedih di wajahnya.
“Nenek, kenapa? Kok keliatannya sedang sedih...?” tanyaku.
“Nenek ingin
bicara sesuatu...” jawabnya.
Aku hanya
menggangukkan kepalaku tanda setuju dengan permintaan beliau, mudah-mudahan rasa penasaran dan
berjuta tanya selama ini bisa terjawab detik itu.
“Nak Wina pasti
bertanya-tanya kan kenapa Nenek ada disini saat ini...?” tanya si Nenek.
“Tentu saja...” jawabku singkat.
“Nenek tidak
menyangka, sinetron yang selama ini Nenek tonton di televisi akan menjadi kenyataan buat Nenek, nak…” cerita Nenek singkat. Aku malah tambah penasaran
setelah Nenek
itu berbicara seperti itu. Kembali aku tanya, ”Maksud Nenek...?”
“Nenek punya
anak semata wayang, dia orang kaya dan sukses yang super sibuk. Sama dengan
menantu Nenek.
Entah dia malu punya orangtua seperti Nenek atau bagaimana, dia tidak pernah
memperlakukan Nenek seperti Ibu kandungnya...”. Sesekali beliau diam dan mencoba menahan butiran Kristal yang akan
jatuh dari matanya.
“Suatu hari, Nenek diajak berbelanja
baju kesuatu tempat perbelanjaan yang nenek juga tak tahu apa namanya. Kita
pergi bertiga, Nenek, anak dan menantu Nenek. Pertama-tama Nenek sangat senang sekali dengan perjalanan Kami, karena Nenek berfikir, anak dan
menantu Nenek
sudah berubah baik sekarang. Bukan hanya mereka mengajak Nenek berbelanja, namun
sikap mereka juga sangat baik.”
“Lantas Nek…” tanyaku.
“Ketika Nenek sudah dapat baju
yang Nenek
suka, anak dan mantu Nenek permisi untuk pergi ke kamar kecil. Nenek sebenarnya pengen
ikut karena Nenek
takut ditinggal ditempat itu sendirian. Banyak lalu lalang orang disana. Tapi
mereka tetap menyuruh Nenek tunggu ditempat itu. Nenek tunggu
satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan sudah empat jam, tapi mereka tidak datang
lagi. Nenek saat itu hanya bawa uang 50 ribu. Selama empat jam, Nenek tidak pernah
beranjak satu langkahpun dari tempat itu, namun anak dan menantu Nenek tidak datang. Sampai
akhirnya dengan rasa takut, Nenek menyusuri jalan dan menemukan warung nasi dan bertemu denganmu
Nak...”
Miris sekali
memang cerita Nenek, mirip dengan sinetron yang sering aku tonton juga dan aku tidak pernah
menyangka bisa aku alami dikehidupan nyata.
“Nenek tak usah
memikirkan itu, Nenek kan sudah disini, Nenek pasti aman disini, aku akan anggap Nenek seperti Nenekku sendiri...” kataku menenangkan hatinya.
“Tidak Nak, Nenek tidak ingin
merepotkanmu...” jawabnya.
“Aku dan
keluargaku tidak pernah merasa direpotkan...” jawabku.
“Nenek bisa
minta tolong...?” tanya beliau.
“Tentu saja...” jawabku.
“Antarkan Nenek ke panti jompo saja Nak, Nenek ingin menghabiskan
sisa usia Nenek
disana bersama orang-orang yang mungkin memiliki nasib yang sama dengan Nenek...” kata beliau.
“Tidak Nek, mana mungkin aku tega
membiarkan nenek disana...” jawabku.
“Nenek mohon, Nak…Nenek ingin disana…” jawabnya.
Begitu panjang
perdebatan Kami
saat itu hingga akhirnya aku menyerah dengan keinginan beliau. Aku sangat terpaksa mengantarkan Nenek itu ke panti jompo.
***
Seminggu sudah Nenek di panti jompo dan
hari ini aku berniat untuk menengok beliau. Pagi-pagi sekali aku sudah
bersiap-siap. Aku bawakan sweater tebal yang baru saja aku beli, aku juga
membawa makanan-makanan ringan yang cukup banyak. Mungkin Nenek bisa bagikan kepada
teman-temannya disana.
Tiba di Panti
jompo, aku tidak harus menunggu lama, aku melihat Nenek keluar dari kamar
dengan wajah yang berseri. Aku melihat ada kebahagiaan disini. Nenek langsung
memelukku dan mencium keningku. Kurasakan kehangatan yang luar biasa.
“Nenek sehat...?” tanyaku.
“Nenek sehat Nak...terimakasih sudah
datang menengok Nenek disini, Nenek kangen sekali denganmu dan anakmu...” jawab beliau.
Kamipun ngobrol
panjang lebar dan tak terasa waktu sudah hampir magrib. Aku meminta ijin untuk
sholat magrib dan bermaksud untuk pulang karena besok anakku harus bangun pagi
untuk berangkat ke sekolah.
Ketika aku sudah
berpamitan dan melangkahkan kakiku keluar. Nenek tiba-tiba menarikku dan
berkata, “Nenek
kangen anak Nenek...bagaimanapun
dia masih anakku…” kata Nenek.
Perih rasanya
mendengar perkataan Nenek saat itu, aku hanya bisa berkata supaya Nenek bisa bersabar. Semoga Tuhan bisa melunakkan hati anak Nenek dan bisa menyadari kesalahannya, jangan
sampai penyesalan datang.
Aku langkahkan
kakiku menuju mobil dan kulajukan kencang. Tak henti-hentinya aku berdoa supaya
Nenek selalu
bahagia dan dilindungiNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar