22 Mei 2013

Segudang Maklum Untukmu

Sampai hari ini aku masih merenung, apa yang sedang terjadi dengan anakku, anak semata wayangku. Sejak Ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dia menjadi anak yang sangat keras. Watak dan pribadinya sangat berbeda sekali dari yang dulu.

Tiga tahun yang lalu, anak lelakiku menikah dengan teman satu kuliahnya. Awalnya aku melihat rumah tangganya baik-baik saja. Namun setelah pernikahan mereka menginjak tahun kedua, menantuku sering mengeluhkan sifat buruk anakku. Sering terjadi pertengkaran dan tidak tanggung-tanggung, ketika pertengkaran itu terjadi, dia selalu main tangan. Bukan sekali dua kali tapi kejadian itu terjadi berkali-kali sampai akhirnya aku diminta menantuku untuk tinggal bersamanya.

Sudah sekitar satu tahun lamanya aku tinggal bersama anak dan menantuku. Dalam usia pernikahan mereka yang sudah terbilang cukup lama, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Aku selalu menasehati anakku untuk terus berusaha dan bersabar karena anak adalah titipan Tuhan. Faktor inilah salah satu pemicu mereka bertengkar.

Sejak aku tinggal bersama mereka, aku berharap anakku bisa berubah, setidaknya dia melihat keberadaan aku sebagai Ibunya, tetapi ternyata tidak. Wataknya masih tetap seperti itu. Hanya saja kalau mereka bertengkar tidak pernah main tangan lagi.

Sifat kasarnya sekarang bukan hanya terjadi pada istrinya, tetapi juga padaku. Terkadang perkataannya tidak enak untuk didengar. Tapi aku masih memakluminya. Walaupun sering aku menasehatinya, tapi setiap aku ajak bicara, dia selalu menghindar dan menghindar.



Suatu hari, aku dan menantuku pergi berbelanja ke suatu pusat perbelanjaan. Kita akan belanja keperluan rumah bulanan. Kami pergi siang hari, waktu itu memang sedang libur. Anakku kuajak pergi tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah. Waktu memang sudah hampir sore, namun menantuku mengajakku dulu ke rumah orangtuanya yang tidak jauh dari tempat Kami berbelanja. Dia sudah rindu orangtuanya karena sudah cukup lama tidak pulang. Akhirnya aku menyetujui keinginan menantuku.

Selama perjalanan ke rumah besanku, handphone menantuku tidak pernah berhenti berbunyi. Anakku terus menelponnya untuk segera pulang. Belum juga sampai, malah disuruh pulang, fikirku dalam hati. Padahal menantuku sudah meminta ijin sebelumnya dan anakku mengijinkan, namun ditengah jalan dia malah seperti tidak suka istrinya pergi ke rumah orangtuanya.

Akhirnya kita sampai di rumah besanku, kita ngobrol-ngobrol dan makan. Hanya sekitar satu jam kita disana karena anakku marah dengan kepergian Kami. Setelah semua selesai akhirnya Kami berpamitan pulang.

Sampai di rumah sekitar pukul 7 malam, dari depan pintu aku sudah mencium gelagat tidak enak. Dia pasti marah besar. Aku melihat wajah menantuku juga sudah kelihatan sangat resah. Aku coba menenangkannya tapi tetap wajahnya tegang sekali.

Benar saja, belum juga kita masuk kedalam rumah, dia sudah marah-marah. Segala macam omongan yang tidak enak keluar dari mulutnya. Aku mencoba untuk menengahi pertengkaran yang sedang terjadi tapi sikapku tidak pernah dianggapnya sama sekali. Aku masih memakluminya. Mungkin aku yang salah, aku tidak bisa mendidik dia dengan baik.

***

Suatu hari, menantuku datang ke kamarku, dia menangis. Aku coba untuk menenangkan, tapi dia tetap menangis. Setelah aku diamkan beberapa saat dan tangisan itu mulai reda, aku tanya apa yang sedang terjadi. Dia mengabariku kalau anakku ingin menikah kembali. Alasannya karena menantuku sampai saat ini tidak bisa memberikan anak. Aku sangat kaget dan hari itu juga aku tanyakan hal itu pada anakku.

Memang benar, niat dia sudah bulat. Dia akan menikah lagi dengan wanita yang aku juga tidak kenal. Aku coba menasehatinya lagi, bahkan aku coba memarahinya, namun dia tidak menggubris sedikitpun. Aku tak mengerti apa yang sedang merasuki pikiran anakku.

Sekitar satu bulan dari kejadian itu, anakku memang sudah benar-benar menikah dengan wanita lain. Menantuku sempat sakit dan masuk rumah sakit gara-gara itu. Aku yang menungguinya disana. Selama satu minggu di rumah sakit, anakku hanya datang satu kali dan itupun hanya memberikan uang untuk biaya administrasi, setelah itu tidak pernah kelihatan batang hidungnya lagi.

Aku pernah bicara pada menantuku, apa dia akan menggugat cerai atau tidak. Ternyata jawaban dia tidak. Dia tidak ingin berpisah dengan anakku. Sejujurnya, aku sangat salut sekali dengan sikap menantuku. Karena aku saja kalau diposisi dia, mungkin tidak akan sekuat itu.

***

Suatu hari, anakku datang dengan wajah tersenyum, dia mengabari bahwa istrinya sudah mengandung. Aku mengucap syukur, namun entah kenapa jauh dilubuk hatiku, aku merasakan kekecewaan yang sangat luar biasa. Bayi itu akan menjadi cucuku, namun kenapa harus lahir dari rahim wanita yang tidak aku kenal. Wajahnyapun belum pernah aku lihat. Mendengar hal itu, menantuku langsung terdiam, hanya aku melihat ada air mata yang mengalir deras dari matanya, sampai aku juga tak kuasa menahan tangisannya.

Malam itu, menantuku mengajakku untuk tidur bersama di kamarku, sepanjang malam aku melihat dia tidak tidur. Wajahnya seolah memendam kekecewaan dan kemarahan. Namun aku tak berani bertanya, karena aku sudah tahu jawabannya.

Keesokan harinya dia membicarakan rencananya untuk meninggalkan rumah ini. Aku sangat kaget dan ketika aku tanya mau pergi kemana, dia hanya bilang tidak tahu, yang pasti dia tidak akan pulang ke rumah orangtuanya. Aku khawatir dengan kondisinya seperti itu. Akhirnya aku tawarkan untuk pulang ke rumahku yang ada di kampung. Kita tinggal sama-sama disana dan melupakan apa yang sudah terjadi walaupun aku sadar semua tidak akan pernah bisa dilupakan.

Rencana ini aku bicarakan dengan anakku, dengan dingin dia menjawab boleh saja. Tanpa ada perasaan menyesal atau bersalah. Akhirnya Kamipun pulang ke kampung.

***

Disana Kami mencoba membangun perasaan yang sudah hancur, disana Kami mencoba membangun harapan baru. Menantuku mencoba melamar pekerjaan dan akhirnya dia diterima di sebuah lembaga pendidikan, walaupun dengan gaji yang tidak seberapa namun cukup untuk hidup Kami berdua. Dengan lahan kecil yang diwariskan almarhum suamiku, akupun bisa menghasilkan sedikit uang untuk menambah penghasilan keluarga. Kami cukup bahagia.

Sudah sekitar enam bulan Kami tinggal di kampung. Ada perasaan rindu dengan anakku, namun aku selalu tepis perasaan itu. Aku juga melihat ada air mata di wajah menantuku. Namun semua ditutupi oleh kesabaran dan senyuman yang mampu menyejukanku.

Maafkan aku, menantuku…aku tak bisa mendidik suamimu dengan baik…

***

Suatu hari, aku merasa perasaanku sangat tidak enak. Entah ada apa…yang pasti apa yang kurasakan sama dengan apa yang menantuku rasakan. Dia sampai pulang lebih awal dari tempat kerjanya. Perasaan Kami langsung menuju anakku yang ada di kota. Namun, apa mungkin ada sesuatu yang sudah terjadi dengannya. Namun, Kami tidak berani menghubungi anakku.

Keesokan harinya, perasaan itu semakin kuat. Hingga satu minggu lamanya. Kami sudah tak kuasa menahan semua rasa yang tidak enak ini. Akhirnya Kami memutuskan untuk pergi menemui anakku di kota dengan segala konsekuensinya.

Sesampai disana, Kami langsung menuju rumah yang dulu kami tinggali. Aku bertanya pada menantuku apa dia sanggup dengan keadaan terburuk yang mungkin kita alami nanti. Dia hanya mengangguk tanda kesanggupan hatinya. Belum juga pintu itu aku ketuk, tiba-tiba datang tetangga sebelah Kami.

“Bu…apa kabar?” tanya tetanggaku, Bu Nisa namanya.

“Baik Bu...” jawabku singkat.

“Saya turut berduka ya Bu…” kata Bu Nisa.

Aku heran campur kaget, kok Bu Nisa mengatakan turut berduka, memang siapa yang meninggal.

“Saya turut berduka atas meninggalnya anak Ibu, seminggu yang lalu…” lanjutnya kembali.

Aku tak bisa bicara lagi, aku melihat menantukku sudah ambruk di lantai. Aku coba mengangkatnya ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Benarkah anakku sudah meninggal?

Setelah sekitar setengah jam menantuku pingsan, akhirnya dia sadar. Dia memelukku dan tak bisa bicara apa-apa. Tetanggaku sempat heran dengan apa yang terjadi. Terlalu rumit kalau aku ceritakan duduk perkaranya yang pasti saat itu detak jantungku seolah terhenti.

Menurut keterangan tetanggaku, anakku meninggal seminggu yang lalu karena kecelakaan. Dia sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong. Sementara istrinya tidak diketahui keberadaannya setelah kecelakaan itu.

***

Tanah itu masih terlihat merah walaupun sudah seminggu yang lalu. Masih ada bunga-bunga diatas pusara itu. Percaya tak percaya rasanya melihat ada batu nisan dengan tulisan anakku.

Bagaimanapun keadaanya, aku sangat mencintai anakku. Aku pasti memaafkan segala kesalahannya, karena aku sadar akupun mungkin banyak salah padanya. Aku memiliki segudang maklum untuknya, begitupun dengan menantuku.


Aku sayang pada anakku, namun Tuhan lebih sayang padanya. Selamat jalan anakku semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang layak disisiNYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar