Sampai hari ini
aku masih merenung, apa yang sedang terjadi dengan anakku, anak semata
wayangku. Sejak Ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dia menjadi anak
yang sangat keras. Watak dan pribadinya sangat berbeda sekali dari yang dulu.
Tiga tahun yang
lalu, anak lelakiku menikah dengan teman satu kuliahnya. Awalnya aku melihat
rumah tangganya baik-baik saja. Namun setelah pernikahan mereka menginjak tahun
kedua, menantuku sering mengeluhkan sifat buruk anakku. Sering terjadi
pertengkaran dan tidak tanggung-tanggung, ketika pertengkaran itu terjadi, dia
selalu main tangan. Bukan sekali dua kali tapi kejadian itu terjadi berkali-kali sampai
akhirnya aku diminta menantuku untuk tinggal bersamanya.
Sudah sekitar
satu tahun lamanya aku tinggal bersama anak dan menantuku. Dalam usia pernikahan mereka
yang sudah terbilang cukup lama, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Aku
selalu menasehati anakku untuk terus berusaha dan bersabar karena anak adalah
titipan Tuhan. Faktor inilah salah satu pemicu mereka bertengkar.
Sejak aku
tinggal bersama mereka, aku berharap anakku bisa berubah, setidaknya dia melihat
keberadaan aku sebagai Ibunya, tetapi ternyata tidak. Wataknya masih tetap seperti itu.
Hanya saja kalau mereka bertengkar tidak pernah main tangan lagi.
Sifat kasarnya
sekarang bukan hanya terjadi pada istrinya, tetapi juga padaku. Terkadang
perkataannya
tidak enak untuk didengar. Tapi aku masih memakluminya. Walaupun sering aku
menasehatinya, tapi setiap aku ajak bicara, dia selalu menghindar dan
menghindar.
Suatu hari, aku
dan menantuku pergi berbelanja ke suatu pusat perbelanjaan. Kita akan belanja
keperluan rumah bulanan. Kami pergi siang hari, waktu itu memang sedang libur.
Anakku kuajak pergi tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah. Waktu memang
sudah hampir sore, namun menantuku mengajakku dulu ke rumah orangtuanya yang
tidak jauh dari tempat Kami berbelanja. Dia sudah rindu orangtuanya karena sudah cukup lama
tidak pulang. Akhirnya aku menyetujui keinginan menantuku.
Selama
perjalanan ke rumah besanku, handphone menantuku tidak pernah berhenti berbunyi. Anakku terus menelponnya untuk
segera pulang. Belum juga sampai, malah disuruh pulang, fikirku dalam hati. Padahal menantuku sudah
meminta ijin sebelumnya dan anakku mengijinkan, namun ditengah jalan dia malah
seperti tidak
suka istrinya pergi ke rumah orangtuanya.
Akhirnya kita
sampai di rumah besanku, kita ngobrol-ngobrol dan makan. Hanya sekitar satu jam
kita disana karena anakku marah dengan kepergian Kami. Setelah semua selesai akhirnya Kami berpamitan pulang.
Sampai di rumah
sekitar pukul 7 malam, dari depan pintu aku sudah mencium gelagat tidak enak.
Dia pasti marah besar. Aku melihat wajah menantuku juga sudah kelihatan sangat
resah. Aku coba menenangkannya tapi tetap wajahnya tegang sekali.
Benar saja,
belum juga kita masuk kedalam rumah, dia sudah marah-marah. Segala macam
omongan yang tidak enak keluar dari mulutnya. Aku mencoba untuk menengahi
pertengkaran yang sedang terjadi tapi sikapku tidak pernah dianggapnya sama sekali.
Aku masih memakluminya. Mungkin aku yang salah, aku tidak bisa mendidik dia
dengan baik.
***
Suatu hari,
menantuku datang ke kamarku, dia menangis. Aku coba untuk menenangkan, tapi dia
tetap menangis. Setelah aku diamkan beberapa saat dan tangisan itu mulai reda,
aku tanya apa yang sedang terjadi. Dia mengabariku kalau anakku ingin menikah
kembali. Alasannya karena menantuku sampai saat ini tidak bisa memberikan anak.
Aku sangat kaget dan hari itu juga aku tanyakan hal itu pada anakku.
Memang benar,
niat dia sudah bulat. Dia akan menikah lagi dengan wanita yang aku juga tidak
kenal. Aku coba menasehatinya lagi, bahkan aku coba memarahinya, namun dia
tidak menggubris sedikitpun. Aku tak mengerti apa yang sedang merasuki pikiran
anakku.
Sekitar satu
bulan dari kejadian itu, anakku memang sudah benar-benar menikah dengan wanita
lain. Menantuku sempat sakit dan masuk rumah sakit gara-gara itu. Aku yang
menungguinya disana. Selama satu minggu di rumah sakit, anakku hanya datang
satu kali dan itupun hanya memberikan uang untuk biaya administrasi, setelah
itu tidak pernah kelihatan batang hidungnya lagi.
Aku pernah
bicara pada menantuku, apa dia akan menggugat cerai atau tidak. Ternyata
jawaban dia tidak. Dia tidak ingin berpisah dengan anakku. Sejujurnya, aku
sangat salut sekali dengan sikap menantuku. Karena aku saja kalau diposisi dia,
mungkin tidak akan sekuat itu.
***
Suatu hari,
anakku datang dengan wajah tersenyum, dia mengabari bahwa istrinya sudah
mengandung. Aku mengucap syukur, namun entah kenapa jauh dilubuk hatiku, aku
merasakan kekecewaan yang sangat luar biasa. Bayi itu akan menjadi cucuku,
namun kenapa harus lahir dari rahim wanita yang tidak aku kenal. Wajahnyapun belum pernah aku lihat. Mendengar hal
itu, menantuku langsung terdiam, hanya aku melihat ada air mata yang mengalir
deras dari matanya, sampai aku juga tak kuasa menahan tangisannya.
Malam itu,
menantuku mengajakku untuk tidur bersama di kamarku, sepanjang malam aku
melihat dia tidak tidur. Wajahnya seolah memendam kekecewaan dan kemarahan.
Namun aku tak berani bertanya, karena aku sudah tahu jawabannya.
Keesokan harinya
dia membicarakan rencananya untuk meninggalkan rumah ini. Aku sangat kaget dan ketika aku tanya mau pergi kemana, dia hanya
bilang tidak tahu, yang pasti dia tidak akan pulang ke rumah orangtuanya. Aku khawatir
dengan kondisinya seperti itu. Akhirnya aku tawarkan untuk pulang ke rumahku
yang ada di kampung. Kita tinggal sama-sama disana dan melupakan apa yang sudah
terjadi walaupun aku sadar semua tidak akan pernah bisa dilupakan.
Rencana ini aku
bicarakan dengan anakku, dengan dingin dia menjawab boleh saja. Tanpa ada
perasaan menyesal atau bersalah. Akhirnya Kamipun pulang ke kampung.
***
Disana Kami mencoba membangun perasaan
yang sudah hancur, disana Kami mencoba membangun harapan baru. Menantuku mencoba melamar pekerjaan dan
akhirnya dia diterima di sebuah lembaga pendidikan, walaupun dengan gaji yang
tidak seberapa namun cukup untuk hidup Kami berdua. Dengan lahan kecil yang diwariskan
almarhum suamiku, akupun bisa menghasilkan sedikit uang untuk menambah
penghasilan keluarga. Kami cukup bahagia.
Sudah sekitar
enam bulan Kami
tinggal di kampung. Ada perasaan rindu dengan anakku, namun aku selalu tepis
perasaan itu. Aku juga melihat ada air mata di wajah menantuku. Namun semua
ditutupi oleh kesabaran dan senyuman yang mampu menyejukanku.
Maafkan aku,
menantuku…aku tak bisa mendidik suamimu dengan baik…
***
Suatu hari, aku
merasa perasaanku sangat tidak enak. Entah ada apa…yang pasti apa yang
kurasakan sama dengan apa yang menantuku rasakan. Dia sampai pulang lebih awal dari tempat
kerjanya. Perasaan
Kami langsung
menuju anakku yang ada di kota. Namun, apa mungkin ada sesuatu yang sudah
terjadi dengannya. Namun, Kami tidak berani menghubungi
anakku.
Keesokan
harinya, perasaan itu semakin kuat. Hingga satu minggu lamanya. Kami sudah tak
kuasa menahan semua rasa yang tidak enak ini. Akhirnya Kami memutuskan untuk
pergi menemui anakku di kota dengan segala konsekuensinya.
Sesampai disana,
Kami langsung
menuju rumah yang dulu kami tinggali. Aku bertanya pada menantuku apa dia sanggup dengan keadaan terburuk yang mungkin kita alami nanti. Dia hanya mengangguk tanda kesanggupan hatinya. Belum juga
pintu itu aku ketuk, tiba-tiba datang tetangga sebelah Kami.
“Bu…apa kabar?”
tanya tetanggaku, Bu Nisa namanya.
“Baik Bu...” jawabku
singkat.
“Saya turut
berduka ya Bu…”
kata Bu Nisa.
Aku heran campur
kaget, kok Bu
Nisa mengatakan turut berduka, memang siapa yang meninggal.
“Saya turut berduka
atas meninggalnya anak Ibu, seminggu yang lalu…” lanjutnya kembali.
Aku tak bisa
bicara lagi,
aku melihat menantukku sudah ambruk di lantai. Aku coba mengangkatnya ke dalam
rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Benarkah anakku sudah meninggal?
Setelah sekitar setengah jam menantuku
pingsan, akhirnya dia sadar. Dia memelukku dan tak bisa bicara apa-apa. Tetanggaku
sempat heran dengan apa yang terjadi. Terlalu rumit kalau aku ceritakan duduk
perkaranya yang pasti saat itu detak jantungku seolah terhenti.
Menurut
keterangan tetanggaku, anakku meninggal seminggu yang lalu karena kecelakaan. Dia sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong. Sementara istrinya tidak diketahui keberadaannya
setelah kecelakaan itu.
***
Tanah itu masih
terlihat merah walaupun sudah seminggu yang lalu. Masih ada bunga-bunga diatas
pusara itu. Percaya tak percaya rasanya melihat ada batu nisan dengan tulisan
anakku.
Bagaimanapun
keadaanya, aku sangat mencintai anakku. Aku pasti memaafkan segala
kesalahannya, karena aku sadar akupun mungkin banyak salah padanya. Aku
memiliki segudang maklum untuknya, begitupun dengan menantuku.
Aku sayang pada
anakku, namun Tuhan lebih sayang padanya. Selamat jalan anakku semoga Tuhan
menempatkanmu di tempat yang layak disisiNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar