Laras adalah sahabat terbaikku,
walaupun Kami bersahabat baru sekitar dua tahunan ketika Kami sama-sama baru
duduk di bangku SMU. Tak terasa satu tahun lagi kita akan terpisah, namun aku
yakin hubungan Kami tidak akan pernah terputus.
Tak terasa hari kelulusanpun
tiba, Laras meneruskan kuliahnya sementara aku memilih untuk bekerja.
Orangtuaku memang tak sekaya Laras. Laras akan kuliah diluar kota, namun dia
janji setelah lulus nanti, dia akan kembali kesini.
Hubungan persahabatan Kami masih
berjalan, walaupun pertemuan Kami tidak sampai sebulan sekali.
***
Hari itu, aku sangat bahagia
sekali ketika Laras mengabari aku kalau dia akan segera menikah. Aku sempat
kaget karena aku tahu kuliah Laras belum selesai. Tapi Laras bilang, kalau dia
akan cuti dulu dari kuliahnya.
Akupun datang dipernikahan Laras,
dia tampak bahagia sekali. Tapi aku dengar kabar kalau setelah menikah Laras
akan menetap di kota tempat laras kuliah dan tak akan pindah kesini lagi. Itu
pilihan hidup Laras dan aku harus terima. Ada rasa takut kehilangan dia, namun
persahabatan tidak akan terlepas hanya karena tempat yang jauh.
***
Setahun Laras menikah, dia sudah
dikarunia anak perempuan, aku juga belum sempat melihat keponakanku itu karena
jarak tempat tinggal Kami yang sangat jauh. Namun, suatu hari nanti aku pasti
akan datang kesana.
Hari itu memang hari yang sangat
buruk buat aku. Tempat bekerjaku terpaksa harus ditutup karena mengalami
kebangkrutan. Semua karyawan diberhentikan tak terkecuali dengan aku. Sempat
bingung juga apa yang harus aku lakukan saat itu, karena aku sangat membutuhkan
uang untuk biaya hidupku dan keluargaku. Aku harus membantu orangtuaku
membiayai sekolah tiga Adikku.
Aku mencoba melamar sana sini, tapi belum ada jawaban. Sudah masuk bulan keempat aku
tak punya pekerjaan. Aku merasa semua
peluang untukku seolah sudah tidak ada.
Keresahan hatiku saat itu terobati ketika Laras
meneleponku dan menawarkan suatu pekerjaan di tempat kerja suaminya. Tanpa
berfikir panjang akupun mengiyakan tawaran Laras. Aku pergi ke Jogja dan
meninggalkan keluargaku disini.
Sampai disana, tidak butuh waktu lama, aku
langsung bekerja ditempat yang ditawarkan Laras. Memang tidak senyaman
ditempat kerjaku yang dulu,
namun aku bisa mengatasinya.
Saat itu aku masih tinggal bersama Laras, karena memang
Laras yang meminta aku tinggal disana walaupun hati kecilku merasa tidak begitu
nyaman. Mengingat aku kan orang baru untuk suami dan anaknya.
***
Siang itu, aku diminta Laras untuk pulang cepat
dari kantor. Setelah minta izin dari atasanku, akhirnya aku pulang ke rumah. Aku
melihat Laras sedang melamun dikursi tamu depan. Aku hampiri Laras dan dia
malah menangis. Dia menyerahkan sehelai kertas hasil lab. Aku lihat
kertas lab itu dan ternyata Laras
dinyatakan menderita penyakit tumor otak. Aku tidak begitu mengerti dengan
hasil lab itu, namun menurut Laras penyakitnya itu cukup parah.
Aku sedih melihat kondisi Laras seperti itu.
Anak dan suaminya masih membutuhkannya. Anaknya masih kecil dan sangat butuh
sosok Ibu seperti dia.
Namun, aku masih berharap Laras sembuh.
***
Bulan berganti dan tahunpun berlalu. Penyakit
Laras malah semakin
parah. Pengobatan sudah dilakukan kemana-mana, namun tidak menghasilkan apapun.
Tumornya ganas dan susah untuk disembuhkan.
Malam itu, Laras memintaku tidur bersamanya.
Aku menuruti kemauan dia, sementara suami dan anaknya tidur di kamarku.
Hampir semalaman kita bercerita dan aku sangat
kaget ketika Laras memintaku untuk menikah dengan suaminya. Aku jelas menolak
keinginan dia. Aku tak mau dan tak akan pernah mau. Namun Laras tetap
memaksaku. Akhirnya aku
menyerah, demi Laras aku mau menikah dengan suaminya. Jadi istri kedua untuk
sahabatku sendiri.
Aku berharap kondisi Laras makin membaik dengan
adanya aku menjadi
istri suaminya. Namun ternyata dugaanku salah. Kondisi Laras malah semakin menurun, Laras terlihat
depresi dengan kejadian ini. Padahal dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak ingin menikah dengan suaminya. Aku memang
ingin mengurus anak Laras tapi
tidak dengan cara seperti ini.
Semakin hari Laras semakin depresi dan orang lain yang tidak
tahu dengan keadaan ini pasti menganggapku penyebab dari semua ini. Tapi jelas ini bukan salahku.
***
Ditahun pertama pernikahan , aku mengajukan
perceraian. Aku tidak sanggup dengan kondisi seperti ini. Namun entah kenapa
suamiku tidak mau menceraikan aku. Kondisi kejiwaan Laras semakin tak karuan, kadang dia mengamuk, kadang
dia membentakku. Kamipun tak bisa mendiamkannya terus begini. Dengan
persetujuan keluarga akhirnya Laras dibawa ke rumah sakit jiwa.
Aku hamil dan aku tak mungkin mengajukan
perceraian lagi. Aku kunjungi Laras setiap hari di rumah sakit. Melihat aku
sedang hamil, kejiwaan Laraspun semakin
menjadi-jadi. Niatku sudah bulat, aku akan meminta cerai ketika bayi ini lahir.
Waktu yang ditunggupun tiba, aku melahirkan
anak laki-laki. Dua bulan anakku lahir, aku mengajukan perceraian. Aku bersyukur akhirnya suamiku
menyetujui perceraianku. Aku memberi kabar pada Laras tentang perceraianku, namun seolah dia tak peduli.
Laras masih depresi sampai saat ini walaupun
semua bukan salahku. Aku sudah mencoba menjauh dari kehidupan mereka. Aku
kembali ke desa dan akan membesarkan anakku sendiri. Aku tidak merasa hidupku
sulit, karena aku yakin tangan Tuhan selalu memelukku erat. Semua masalah yang
aku jalani pasti ada akhir yang membahagiakan.
***
Satu tahun aku sendiri, aku dilamar teman
baikku yang sama-sama punya masa lalu kelam. Kita memang sudah bersahabat lama
dan sudah saling mengenal. Dia bukan orang kaya, dia bukan dari kalangan
berpendiidikan tinggi. Namun dia sosok yang sangat baik. Aku bahagia bersamanya.
Laras…aku tak tahu kabar dia sampai detik ini.
Aku sudah mencoba menghubunginya ketika aku akan menikah lagi, namun tidak ada
nomor yang aktif. Aku hanya bisa berdoa, Laras sembuh dan selalu baik-baik saja. Dia
akan tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun.
Maafkan aku Laras…jika memang banyak kesalahan
yang sudah aku perbuat. Hanya bisikan dalam hati, aku mengatakan itu semua. Aku harap suatu saat
nanti aku bisa menyampaikannya langsung pada Laras sahabatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar