20 Sep 2013

Masa Tua Kita

Siapapun tidak pernah bisa menerka apa yang akan terjadi didepan. Begitupun aku. Yang pasti saat ini aku bahagia.

Dulu, aku punya teman dekat, mungkin dia adalah cinta pertamaku. Aku mengenalnya ketika kita masih sama-sama duduk di bangku SMP. Dia tetanggaku, tetangga yang rumahnya tepat didepan rumahku. Dika…dia orang yang mengenalkan padaku tentang indahnya cinta.

***

Dika pindahan dari kota Jakarta, orangtuanya asli Jogja. Setahun sekali dia pindah rumah karena tugas dinas orangtuanya yang mengharuskan dia seperti itu. Namun, sejak SMP, Dika memilih tinggal bersama Neneknya. Rumahnya tepat didepan rumahku.

Umur Kami memang saat itu belum genap 17 tahun, namun entah kenapa bila Dika didekatku, aku merasa nyaman. Walaupun aku tak yakin, Dika merasakan hal yang sama. Namun ternyata, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, ketika kita masuk bangku SMU, Dika menyatakan perasaan cintanya dan aku sangat bahagia. Memang bukan waktu yang singkat untuk meyakinkan perasaan cintanya padaku.


Lulus sekolah, kita sama-sama berencana masuk kuliah, namun sayang Dika harus kuliah diluar kota. Sementara aku tak bisa menolak keinginan orangtua untuk tetap meneruskan kuliah di kota sendiri. Akhirnya kitapun terpisah.

Komunikasi kita masih lancar, sampai kita akan lulus kuliah. Tidak bisa dipungkiri, aku juga kadang merasa jenuh. Dika yang sabar, Dika yang baik, Dika yang penuh pengertian, hampir selama kita hubungan, kita tidak pernah bertengkar. Semua terjaga dengan baik.

***

Waktu berlalu, Kamipun lulus kuliah. Aku bekerja, masih di kota ini begitupun dengan Dika, dia bekerja tak jauh dari lokasi tempat dia kuliah dulu. Kita punya mimpi untuk membina rumah tangga suatu saat nanti ketika semua sudah tepat.

Aku tak mengerti dengan suasana hatiku saat itu, banyak hal yang aku fikirkan tapi aku tak tahu apa yang terjadi. Dika sulit untuk dihubungi. Komunikasi kita terputus beberapa bulan. Aku coba menanyakan kabar Dika pada Neneknya, namun semua seolah bungkam.

Sudah sekitar enam bulan Dika tak ada kabar, bukan sekedar rasa khawatir yang ada di hatiku saat itu, namun lebih ke rasa cemburu, mungkin Dika sudah berpaling dari janji-janjinya yang selama ini.

***

Suatu hari, aku, aku berniat untuk menyusul Dika ke tempat dia tinggal. Aku dapat informasi alamat Dika dari temanku yang kebetulan teman dekat Dika.

Aku terpaksa cuti dari pekerjaanku saat itu karena aku akan menyusul Dika. Pagi-pagi aku berangkat tanpa memberitahu pada orangtua. Mungkin orangtuaku mengira aku pergi bekerja. Masih pagi aku sudah sampai di stasiun kereta. Aku berangkat dan berharap tidak pernah terjadi sesuatu padaku.

Sampai pada tempat yang dituju, aku ketuk pintu rumah Dika dan keluarlah wanita cantik memakai baju kotak-kotak warna hitam. Rambutnya sebahu, kulitnya putih, tidak terlalu tinggi, tapi dia sangat cantik.

Dia mempersilakanku masuk setelah aku tanya apa ini benar rumahnya Dika. Kami berduapun ngobrol, karena memang saat itu Dika sedang kerja. Semua masih berjalan normal, sesaat sebelum wanita itu mengenalkan dirinya sebagai istri Dika.

Aku merasa tubuhku lemah, aku merasa hatiku hancur, aku merasa ada bongkahan es di hatiku yang sulit untuk mencair, semua terasa sesak. Tapi aku masih mencoba untuk menenangkan diriku dan menahan diri. Aku tak punya pilihan lain, selain diam dan menerima rasa sakit ini.

***

Sejak saat itu, aku sudah tak ingin tahu kabar Dika. Aku sangat membencinya. Orang yang bertahun-tahun aku kenal malah memperlakukanku seperti ini. Tapi ya sudahlah, aku harus jalani hidupku ke depan.

Butuh waktu sangat lama untuk memulihkan perasaanku saat itu. Beberapa kali aku mengenal laki-laki lain namun tak kutemukan perasaan seperti aku merasakan cinta pada Dika. Entah kenapa...semua hanya datang dan pergi begitu saja, hingga pada suatu saat aku bertemu dengan Mas Fahmi…

Mas Fahmi adalah saudara sahabatku Rani, aku tak sengaja berkenalan ketika Rani menikah. Komunikasipun berjalan lancar, sampai hubungan kita dekat dan dia berniat melamarku. Memang, aku akui aku belum mencintainya sepenuh hati, namun aku akan berusaha mencintainya.

Mas Fahmi orang yang sangat baik, bukan hanya padaku, tapi juga pada keluargaku. Harusnya aku bahagia punya calon pendamping seperti dia. Namun, entahlah apa yang aku rasa saat itu. Aku tidak sebahagia bersama ketika bersama Dika.

Akhirnya kitapun menikah, setelah dua tahun menikah, aku baru dikaruniai anak. Namun setelah menikah aku mencintai Mas Fahmi. Mungkin memang benar, cinta akan datang dengan sendirinya.

***

Kebahagiaan seseorang memang tidak pernah abadi, cobaan hidup pasti akan dihadapi, begitupun dengan Kami. Mas Fahmi divonis menderita penyakit gagal ginjal yang cukup parah. Mas Fahmi memang kurang memperhatikan kesehatan, dia selalu sibuk.

Sejak saat itu, aku lebih protektif menjaga dia. Aku tak ingin kehilangan dia. Anakku tak boleh hidup tanpa Ayahnya. Namun, takdir berkata lain. Diusia yang masih cukup muda aku harus menjadi janda. Mas Fahmi pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan sejuta kenangan. Dia laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.

Sangat lama aku hidup menjanda, karena memang aku tidak ingin menggantikan Mas Fahmi dengan siapapun. Aku akan berusaha membesarkan anak semata wayang Kami sendiri. Aku bisa…aku yakin aku bisa.

Hari-hariku memang terasa hampa setelah Mas Fahmi pergi, namun bukan berarti aku larut dalam kesedihan. Aku akan bangkit dan selalu mendoakan Mas Fahmi.

***

Hari itu, cuaca sangat cerah, aku mengajak anakku untuk jalan-jalan kesebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari rumahku. Seminggu atau dua minggu sekali memang Kami selalu menyempatkan diri pergi untuk menghilangkan kejenuhan.

Kamipun sudah selesai belanja, Kami berniat untuk makan siang sebelum pulang walaupun saat itu sudah menunjukkan pukul 15.00, bukan masuk waktu makan siang lagi sebenarnya. Makan siang hari sangat nikmat sekali, sebelum aku dikagetkan pada sosok yang tiba-tiba menyapaku. Aku sempat ingin menumpahkan makananku saat itu. Mataku seolah berhenti berkedip, jantungku berdetak keras. Dika…tiba-tiba dia ada didepanku.

Dia menyapaku dan Kamipun berbincang. Memang sudah tidak ada lagi kebencian di hatiku, sudah tidak ada lagi rasa sakit di hati ini. Mungkin karena aku sudah ikhlas dan mendapatkan pengganti Dika sebaik Mas Fahmi, walaupun sekarang suamiku sudah tenang di Surga.

Dia bercerita kalau istrinya meninggal karena sakit. Sama dengan apa yang aku alami, fikirku. Aku tidak menanyakan kenapa dia pergi meninggalkanku, karena memang aku sudah tak ingin membuka luka lama dulu.

***

Hari berganti hari, kitapun jadi sering bertemu, kita sering berkomunikasi lagi, sampai pada akhirnya rasa itu tumbuh lagi. Rasa indah yang aku simpan dan sempat aku abaikan. Rasa indah yang sejujurnya sangat aku rindukan. Apa ini artinya aku mengkhianati Mas Fahmi? Tapi, Mas Fahmi pernah bilang, kebahagiaanku adalah kebahagiaannya juga.

Rasa indah ini terus berjalan. Rasa tulus dari dalam hati yang aku sendiri tak mengerti kenapa hanya lewat dia aku bisa merasakan semua ini. Rasa ini ternyata tidak aku rasakan sendiri, Dika pun masih menyimpat erat perasaan itu. Dan pada usia yang tidak muda lagi, Dika berniat untuk menikahiku.

Orangtuaku sempat tidak setuju, mungkin karena peristiwa dulu. Namun, apa Dika tak punya kesempatan untuk merubah semuanya? Setiap orang pasti punya kesalahan dan aku sudah maafkan. Aku juga tak merasa menyesal kenapa dulu aku tidak berjodoh dengan Dika. Karena seandainya aku berjodoh, mungkin aku tidak akan pernah mengenal sosok sebaik Mas Fahmi.

Akhirnya Kamipun menikah. Setelah banyak pengorbanan yang Kami lakukan, akhirnya orangtua Kamipun setuju. Dari pernikahannya yang dulu Dika memang tidak punya anak. Aku bahagia karena Dika memperlakukan anakku seperti anaknya sendiri.

***

Inilah jalan hidupku, jalan hidup kita, berliku namun aku rasa sangat indah. Aku juga tak menyangka aku akan menghabiskan masa tua dengan seseorang yang pertama mengenalkanku pada cinta dan merasakan sakit akan cinta tapi semua aku nikmati.

Mas Fahmi…aku tidak akan pernah melupakannya, sampai nafas ini terhenti. Dia akan tetap berada di hatiku dan tak akan pernah bisa tergantikan oleh orang lain, siapapun itu, termasuk Dika sekalipun.

Aku sangat berharap kebahagiaan ini akan terus kita rasakan, sampai nanti. Inilah masa tua kita, masa-masa indah dan akan selalu indah. Semoga…!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar