Siapapun tidak
pernah bisa menerka apa yang akan terjadi didepan. Begitupun aku. Yang pasti
saat ini aku bahagia.
Dulu, aku punya
teman dekat, mungkin dia adalah cinta pertamaku. Aku mengenalnya ketika kita
masih sama-sama duduk di bangku SMP. Dia tetanggaku, tetangga yang rumahnya tepat didepan
rumahku. Dika…dia orang yang mengenalkan padaku tentang indahnya cinta.
***
Dika pindahan
dari kota Jakarta, orangtuanya asli Jogja.
Setahun sekali dia
pindah rumah karena tugas dinas orangtuanya yang mengharuskan dia seperti itu.
Namun, sejak SMP, Dika memilih tinggal bersama Neneknya. Rumahnya tepat didepan
rumahku.
Umur Kami memang
saat itu belum genap 17 tahun, namun entah kenapa bila Dika didekatku, aku merasa
nyaman. Walaupun aku tak yakin, Dika merasakan hal yang sama. Namun
ternyata, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, ketika kita masuk bangku SMU,
Dika menyatakan perasaan cintanya dan aku sangat bahagia. Memang bukan waktu yang singkat untuk meyakinkan perasaan cintanya padaku.
Lulus sekolah,
kita sama-sama berencana masuk kuliah, namun sayang Dika harus kuliah diluar
kota. Sementara aku tak bisa menolak keinginan orangtua untuk tetap meneruskan
kuliah di kota sendiri. Akhirnya kitapun terpisah.
Komunikasi kita
masih lancar, sampai kita akan lulus kuliah. Tidak bisa dipungkiri, aku juga
kadang merasa jenuh. Dika yang sabar, Dika yang baik, Dika yang penuh
pengertian, hampir selama kita hubungan, kita tidak pernah bertengkar. Semua
terjaga dengan baik.
***
Waktu berlalu,
Kamipun lulus kuliah. Aku bekerja, masih di kota ini begitupun dengan
Dika, dia bekerja tak jauh dari lokasi tempat dia kuliah dulu. Kita punya mimpi
untuk membina rumah tangga suatu saat nanti ketika semua sudah tepat.
Aku tak mengerti
dengan suasana hatiku saat itu, banyak hal yang aku fikirkan tapi aku tak tahu
apa yang terjadi. Dika sulit untuk dihubungi. Komunikasi kita terputus beberapa
bulan. Aku coba menanyakan kabar Dika pada Neneknya, namun semua seolah
bungkam.
Sudah sekitar
enam bulan Dika tak ada kabar, bukan sekedar rasa khawatir yang ada di hatiku saat
itu, namun lebih ke rasa cemburu, mungkin Dika sudah berpaling dari janji-janjinya yang selama ini.
***
Suatu hari, aku,
aku berniat untuk menyusul Dika ke tempat dia tinggal. Aku dapat informasi
alamat Dika dari temanku yang kebetulan teman dekat Dika.
Aku terpaksa
cuti dari pekerjaanku saat itu karena aku akan menyusul Dika. Pagi-pagi aku berangkat tanpa memberitahu pada
orangtua. Mungkin orangtuaku mengira aku pergi bekerja. Masih pagi aku sudah sampai
di stasiun kereta. Aku berangkat dan berharap tidak pernah terjadi sesuatu
padaku.
Sampai pada
tempat yang dituju, aku ketuk pintu rumah Dika dan keluarlah wanita cantik memakai baju
kotak-kotak warna hitam. Rambutnya sebahu, kulitnya putih, tidak terlalu
tinggi, tapi dia sangat cantik.
Dia
mempersilakanku masuk setelah aku tanya apa ini benar rumahnya Dika. Kami berduapun ngobrol, karena memang
saat itu Dika sedang kerja. Semua masih berjalan normal, sesaat sebelum wanita
itu mengenalkan dirinya sebagai istri Dika.
Aku merasa
tubuhku lemah, aku merasa hatiku hancur, aku merasa ada bongkahan es di hatiku yang
sulit untuk mencair, semua terasa sesak. Tapi aku masih mencoba untuk
menenangkan diriku dan menahan diri. Aku tak punya pilihan lain, selain diam dan
menerima rasa sakit ini.
***
Sejak saat itu,
aku sudah tak ingin tahu kabar Dika. Aku sangat
membencinya. Orang yang bertahun-tahun aku kenal malah
memperlakukanku seperti ini. Tapi ya sudahlah, aku harus jalani hidupku ke
depan.
Butuh waktu
sangat lama untuk memulihkan perasaanku saat itu. Beberapa kali aku mengenal
laki-laki lain namun tak kutemukan perasaan seperti aku merasakan cinta pada
Dika. Entah kenapa...semua hanya datang dan pergi begitu saja, hingga pada
suatu saat aku bertemu dengan Mas Fahmi…
Mas Fahmi adalah
saudara sahabatku Rani, aku tak sengaja berkenalan ketika Rani menikah.
Komunikasipun berjalan lancar, sampai hubungan kita dekat dan dia berniat
melamarku. Memang, aku akui aku belum mencintainya sepenuh hati, namun aku akan
berusaha mencintainya.
Mas Fahmi orang
yang sangat baik, bukan hanya padaku, tapi juga pada keluargaku. Harusnya aku
bahagia punya calon pendamping seperti dia. Namun, entahlah apa yang aku rasa
saat itu. Aku tidak sebahagia bersama
ketika bersama Dika.
Akhirnya kitapun
menikah, setelah dua tahun menikah, aku baru dikaruniai anak. Namun setelah menikah aku
mencintai Mas Fahmi. Mungkin memang benar, cinta akan datang dengan sendirinya.
***
Kebahagiaan
seseorang memang tidak pernah abadi, cobaan hidup pasti akan dihadapi,
begitupun dengan Kami. Mas Fahmi divonis menderita penyakit gagal ginjal yang cukup
parah. Mas Fahmi memang kurang memperhatikan kesehatan, dia selalu sibuk.
Sejak saat itu,
aku lebih protektif menjaga dia. Aku tak ingin kehilangan dia. Anakku tak boleh
hidup tanpa Ayahnya.
Namun, takdir berkata lain. Diusia yang masih cukup muda aku harus menjadi
janda. Mas Fahmi pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan sejuta kenangan.
Dia laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.
Sangat lama aku
hidup menjanda, karena memang aku tidak ingin menggantikan Mas Fahmi dengan
siapapun. Aku akan berusaha membesarkan anak semata wayang Kami sendiri. Aku
bisa…aku yakin aku bisa.
Hari-hariku memang terasa hampa
setelah Mas Fahmi pergi, namun bukan berarti aku larut dalam kesedihan. Aku
akan bangkit dan selalu mendoakan Mas Fahmi.
***
Hari itu, cuaca
sangat cerah, aku mengajak anakku untuk jalan-jalan kesebuah pusat perbelanjaan
tak jauh dari rumahku. Seminggu atau dua minggu sekali memang Kami selalu
menyempatkan diri pergi untuk menghilangkan kejenuhan.
Kamipun sudah selesai belanja,
Kami berniat untuk makan siang sebelum pulang walaupun saat itu sudah
menunjukkan pukul 15.00, bukan masuk waktu makan siang lagi sebenarnya. Makan siang
hari sangat nikmat sekali, sebelum aku dikagetkan pada sosok yang tiba-tiba
menyapaku. Aku sempat ingin menumpahkan makananku saat itu. Mataku seolah
berhenti berkedip, jantungku berdetak keras. Dika…tiba-tiba dia ada didepanku.
Dia menyapaku
dan Kamipun
berbincang. Memang sudah tidak ada lagi kebencian di hatiku, sudah tidak ada lagi rasa sakit di hati ini. Mungkin karena
aku sudah ikhlas dan mendapatkan pengganti Dika sebaik Mas Fahmi, walaupun sekarang suamiku sudah tenang di Surga.
Dia bercerita
kalau istrinya meninggal karena sakit. Sama dengan apa yang aku alami, fikirku. Aku tidak
menanyakan kenapa dia pergi meninggalkanku, karena memang aku sudah tak ingin
membuka luka lama dulu.
***
Hari berganti
hari, kitapun jadi sering bertemu, kita sering berkomunikasi lagi, sampai pada
akhirnya rasa itu tumbuh lagi. Rasa indah yang aku simpan dan sempat aku abaikan. Rasa indah yang
sejujurnya sangat aku rindukan. Apa ini artinya aku mengkhianati Mas Fahmi? Tapi, Mas
Fahmi pernah bilang, kebahagiaanku adalah kebahagiaannya juga.
Rasa indah ini
terus berjalan. Rasa tulus dari dalam hati yang aku sendiri tak mengerti kenapa hanya
lewat dia aku bisa merasakan semua ini. Rasa ini ternyata tidak aku rasakan sendiri, Dika
pun masih menyimpat erat perasaan itu. Dan pada usia yang tidak muda lagi, Dika
berniat untuk menikahiku.
Orangtuaku sempat tidak setuju,
mungkin karena peristiwa dulu. Namun, apa Dika tak punya kesempatan untuk
merubah semuanya? Setiap orang pasti punya kesalahan dan aku sudah maafkan. Aku
juga tak merasa menyesal kenapa dulu aku tidak berjodoh dengan Dika. Karena seandainya aku
berjodoh, mungkin aku tidak akan pernah mengenal sosok sebaik Mas Fahmi.
Akhirnya Kamipun menikah. Setelah banyak pengorbanan yang Kami lakukan,
akhirnya orangtua Kamipun setuju. Dari pernikahannya
yang dulu Dika memang tidak punya anak. Aku bahagia karena Dika memperlakukan
anakku seperti anaknya sendiri.
***
Inilah jalan
hidupku, jalan hidup kita, berliku namun aku rasa sangat indah. Aku juga tak
menyangka aku akan menghabiskan masa tua dengan seseorang yang pertama
mengenalkanku pada cinta dan merasakan sakit akan cinta tapi semua aku nikmati.
Mas Fahmi…aku
tidak akan pernah melupakannya, sampai nafas ini terhenti. Dia akan tetap
berada di hatiku dan tak akan pernah bisa
tergantikan oleh orang lain, siapapun itu, termasuk Dika sekalipun.
Aku sangat
berharap kebahagiaan ini akan terus kita rasakan, sampai nanti. Inilah masa tua
kita, masa-masa indah dan akan selalu indah. Semoga…!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar