7 Okt 2013

Penyesalan Tak Berujung

Rifa anakku, aku selalu ingin memanggilnya, aku selalu ingin memeluknya dan aku selalu ingin disampingnya setiap saat. Ini sebuah penyesalan terpanjang dalam hidupku dan tidak akan pernah berujung.

***

Aku mempunyai masa lalu yang sangat kelam. Menjadi wanita simpanan seorang direktur sebuah perusahaan memang membuatku harus kehilangan segalanya, termasuk anak perempuanku Rifa.

Aku mengenal laki-laki itu ketika aku bekerja di perusahaannya. Laki-laki dengan perawakan nyaris sempurna. Sukses dan sangat baik. Pak Anton namanya.

Aku memang berasal dari keluarga yang sederhana. Namun aku punya fisik yang kata orang sangat cantik. Aku seorang wanita yang mandiri, supel dan cerdas. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku dan jatuh cinta padaku. Namun aku sudah janji, aku akan mencari laki-laki kaya untuk memperbaiki perekonomianku dan keluargaku. Mungkin Pak Anton laki-laki yang cocok untukku.

Aku selalu mencoba untuk mendekati Pak Anton, walaupun aku tahu beliau sudah berkeluarga. Bukan hal yang sulit untuk mendekatinya, karena aku punya fisik yang tak bisa diragukan. Pelan-pelan namun pasti akhirnya aku bisa meraihnya.


Sudah sekitar dua tahun lebih, aku dekat dengan dia. Memang secara materi aku selalu dimanjakan. Aku tinggal di apartement yang mewah, fasilitas apapun asal aku minta dia pasti berikan untukku. Aku sudah tak perlu lagi bekerja karena kehidupanku sudah tercukupi. Semua berjalan seperti apa yang aku mau. Hingga pada suatu hari, aku terkejut dengan apa yang aku alami. Aku hamil.

Aku berharap dengan kondisiku ini, aku bisa dinikahi Pak Anton. Aku coba menghubungi dia dan mendatangi kantornya. Aku berikan hasil tes kehamilanku. Namun apa yang terjadi, aku malah diusir. Dia berteriak memanggil satpam dan menggusurku keluar.

Beberapa hari kemudian, dia datang ke apartemenku. Dia memintaku untuk pergi dari tempat tinggalku. Dia mengusirku seperti seekor anjing kotor. Dia melemparku seperti sampah. Dia tidak mau bertanggungjawab.

Aku pergi. Satu-satunya tempat yang ingin aku datangi adalah mencari orang yang bisa menggugurkan kandunganku. Setelah aku cari informasi kemana-mana, akhirnya ada seorang teman yang memberi tahu aku dimana tempat yang aku cari itu.

Akhirnya aku berhasil menemukan tempat itu. Setelah berkonsultasi, ternyata orang itu tidak bersedia menggugurkan kandunganku karena usia kandungan sudah menginjak empat bulan. Kenapa aku bisa seceroboh itu fikirku.

Semua sudah terjadi, aku tidak mungkin kembali pada keluargaku dengan kondisi seperti ini. Orangtuaku bisa mati berdiri kalau tahu aku hamil tapi tidak ada yang mau bertanggungjawab.

Aku putuskan untuk menjalani ini semua sendiri. Dengan sisa uang yang aku punya, aku mencoba menghidupi diriku dan bayi dalam kandunganku. Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

***

Sembilan bulan sudah dan aku melahirkan. Aku melahirkan bayi perempuan cantik yang seharusnya aku rawat dan sayangi sepenuh hati. Namun aku benci dan sangat benci pada bayi itu. Aku tidak mau melihatnya apalagi merawatnya. Tanpa berfikir panjang, aku akan kirim anak itu ke panti asuhan.

Malam itu, seperti dalam sebuah sinetron, aku simpan anak itu didepan pintu panti asuhan dan semua masalah kuanggap selesai. Aku harus meneruskan hidup dan anganku yang sempat tertunda.

Wajahku masih cantik. Badanku masih langsing walaupun aku sudah mempunyai anak. Anak yang aku buang dan entah bagaimana sekarang keadaannya. Dengan fisik yang masih menarik, orang tidak akan menyangka kalau aku sudah punya anak.

Benar saja, ternyata sangat mudah untukku meraih cinta yang lain. Andi, seorang pengusaha sukses berhasil aku raih. Berbeda dengan Anton, dia adalah laki-laki yang sangat baik. Kita berhubungan dan aku dinikahinya.

***

Tak terasa sudah 10 tahun aku menjadi istri Andi. Aku juga dikaruniai anak laki-laki ganteng, seganteng Ayahnya. Aku bahagia karena Andi melimpahi harta yang sangat banyak untukku. Tidak kalah dengan Anton, laki-laki setengah iblis.

Aku menjadi wanita yang sangat bahagia, sangat bahagia punya keluarga ini. Hingga pada suatu saat aku mendapat musibah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Pagi itu, aku bermaksud untuk pergi berbelanja keperluan sehari-hari. Memang biasanya semua dikerjakan pembantuku. Namun entah kenapa, hari itu aku ingin sekali berbelanja. Aku nyetir mobil sendiri. Mobil melaju sangat kencang, tiba-tiba ada suamiku meneleponku. Aku kehilangan kendali dan membanting stir. Aku menabrak sebuah pohon dipinggir jalan dan aku tak ingat apapun lagi.

Menurut cerita, aku tak sadarkan diri berhari-hari sampai dokter memvonis aku sudah mengalami koma. Aku sudah pastikan betapa paniknya suami dan anakku. Apalagi dokter berkata kalau aku membutuhkan donor darah.

Seperti jatuh tertimpa tangga, darah anakku tidak cocok dengan aku. Semua tempat persediaan darahpun sudah dicek namun darah yang cocok denganku tidak tersedia. Mungkin aku harus menunggu kematianku saat itu.

Entah dari mana dia tahu. Entah siapa yang memberi kabar pada perempuan cantik ini. Perempuan cantik ini berusia diatas anakku. Dia datang dan mendonorkan darahnya. Hingga aku kembali normal.
Aku sangat ingin menemui anak perempuan cantik ini. Tapi aku sulit menemuinya. Suamiku sudah mencari keberadaan dia tapi tidak ditemui. Apa dia datang dari langit sengaja untuk menolongku.

Tidak berhenti sampai disitu, aku terus mencari dan mencari siapa gadis cantik yang berhati emas itu. Kenapa aku bisa ditolongnya padahal aku sama sekali tidak mengenalnya.

Keberuntungan ternyata berpihak padaku. Dengan mengerahkan orang yang sengaja ditugaskan suamiku akhirnya aku menemukan informasi keberadaan gadis itu. Tanpa berfikir panjang, aku langsung mendatangi tempat itu.

Mataku hampir tak berkedip, jantungku berdetak kencang saat aku berada ditempat itu. Mungkin 10 tahun yang lalu aku pernah mendatangi tempat ini. Panti asuhan.

Jadi gadis cantik itu adalah anakku sendiri yang aku buang seperti sampah. Kenapa tak tersirat sedikitpun dalam hatiku kalau yang menyelamatkan nyawaku adalah anakku. Apa hatiku sudah mengeras seperti batu. Apa hatiku sudah tertutup karena harta. Kenapa semua ini harus terjadi.

Ketika aku langkahkan kakiku menuju pintu panti itu, hatiku tak karuan. Ingin aku peluk anakku, ingin aku belai dia. Aku rindu dia. Aku ingin melihat wajahnya. Pasti cantik secantik hatinya. Aku ketuk pintu itu dan kaluarlah wanita setengah baya. Wanita berkerudung putih itu sangat ramah. Dia pengurus disana dan sudah lama katanya bekerja disana.

Aku ceritakan maksud kedatanganku kesana. Wanita itu hanya diam. Dan menatapku tajam. Apalagi ketika aku katakan padanya kalau aku yang ditolong gadis itu, aku melihat ada sinar kebencian dimatanya. Aku faham dan sangat mengerti.

Wanita itu masih diam, hingga akhirnya dia kedalam dan mengambil sesuatu. Sebuah bingkai foto. Dia menyerahkan bingkai itu padaku. Seorang gadis yang benar-benar cantik. Inikah anakku? Lalu saat ini dia kemana?

Aku sudah tidak tahan menanyakan dia ada dimana saat ini, apakah dia sudah diambil orang untuk diadopsi? Berapapun kerugian orang itu, pasti akan aku tebus untuk membawa buah hatiku kepelukanku. Masih dengan fikiran yang tidak karuan, wanita itu bicara padaku.

“Bu, aku tahu perasaan Ibu saat ini seperti apa, aku memang tidak habis fikir kenapa ada orang setega Ibu...” kata pengurus panti asuhan itu.

“Sudah Bu, jangan diteruskan, aku sudah tahu kemana arah pembicaraan Ibu...aku memang salah, dan sangat bersalah...saat ini aku hanya ingin tahu dimana dia...” kataku.

“Rifa namanya Bu...Kami memberi nama itu, maaf Kami sudah lancang memberi dia nama, karena seorang Ibu yang menerlantarkan dia tidak memberikan apapun...” katanya lagi.  Aku ingin pingsan saat itu. Aku semakin merasa bersalah.

“Dimana Rifa Bu...dimana dia, aku ingi bertemu...” tanyaku.

“Ayo ikut aku Bu....” jawab Ibu petugas panti itu.

***

Kami berjalan cukup jauh, aku masih berfikir kenapa petugas itu membawaku ke suatu tempat yang asing buatku. Sebuah pemakaman umum.

Kami terus berjalan, hingga sampai pada suatu tempat dimana ditempat itu aku menemukan sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Rifa Anggraini.

Aku menangis sejadi-jadinya, aku peluk batu nisan itu. Aku tak sadarkan diri beberapa saat hingga akhirnya aku dibawa ke panti untuk disadarkan.

Rifa meninggal karena kecelakaan lalu lintas seminggu yang lalu. Rifa selalu mencari keberadaanku. Dia sengaja tidak pernah menampakkan diri karena dia tahu kalau aku tidak ingin ada dia dalam hidupku. Rifa akhirnya menemukan aku ketika aku tergolek tak berdaya. Tanpa berfikir panjang dia donorkan darahnya. Darahnya kini mengalir dalam diriku.

***

Penyesalan ini adalah penyesalan tak berujung. Penyesalan yang tidak akan pernah ada akhirnya seumur hidupku. Aku merasa jadi wanita terjahat, wanita yang kejam.

Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk Rifa adalah mendoakannya setiap saat, setiap waktu sampai jantungku tak lagi berdetak, sampai darahnya tidak lagi mengalir ditubuhku, sampai aku tak bisa  bernafas lagi. Aku tak akan pernah berhenti berdoa untuk gadisku.


Selamat jalan anakku...Surga pasti akan menantimu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar