Rifa anakku, aku selalu ingin
memanggilnya, aku selalu ingin memeluknya dan aku selalu ingin disampingnya
setiap saat. Ini sebuah penyesalan terpanjang dalam hidupku dan tidak akan
pernah berujung.
***
Aku mempunyai masa lalu yang
sangat kelam. Menjadi wanita simpanan seorang direktur sebuah perusahaan memang
membuatku harus kehilangan segalanya, termasuk anak perempuanku Rifa.
Aku mengenal laki-laki itu ketika
aku bekerja di perusahaannya. Laki-laki dengan perawakan nyaris sempurna.
Sukses dan sangat baik. Pak Anton namanya.
Aku memang berasal dari keluarga
yang sederhana. Namun aku punya fisik yang kata orang sangat cantik. Aku
seorang wanita yang mandiri, supel dan cerdas. Tak sedikit laki-laki yang
mendekatiku dan jatuh cinta padaku. Namun aku sudah janji, aku akan mencari
laki-laki kaya untuk memperbaiki perekonomianku dan keluargaku. Mungkin Pak
Anton laki-laki yang cocok untukku.
Aku selalu mencoba untuk
mendekati Pak Anton, walaupun aku tahu beliau sudah berkeluarga. Bukan hal yang
sulit untuk mendekatinya, karena aku punya fisik yang tak bisa diragukan.
Pelan-pelan namun pasti akhirnya aku bisa meraihnya.
Sudah sekitar dua tahun lebih,
aku dekat dengan dia. Memang secara materi aku selalu dimanjakan. Aku tinggal
di apartement yang mewah, fasilitas apapun asal aku minta dia pasti berikan
untukku. Aku sudah tak perlu lagi bekerja karena kehidupanku sudah tercukupi. Semua
berjalan seperti apa yang aku mau. Hingga pada suatu hari, aku terkejut dengan
apa yang aku alami. Aku hamil.
Aku berharap dengan kondisiku
ini, aku bisa dinikahi Pak Anton. Aku coba menghubungi dia dan mendatangi
kantornya. Aku berikan hasil tes kehamilanku. Namun apa yang terjadi, aku malah
diusir. Dia berteriak memanggil satpam dan menggusurku keluar.
Beberapa hari kemudian, dia
datang ke apartemenku. Dia memintaku untuk pergi dari tempat tinggalku. Dia
mengusirku seperti seekor anjing kotor. Dia melemparku seperti sampah. Dia
tidak mau bertanggungjawab.
Aku pergi. Satu-satunya tempat
yang ingin aku datangi adalah mencari orang yang bisa menggugurkan kandunganku.
Setelah aku cari informasi kemana-mana, akhirnya ada seorang teman yang memberi
tahu aku dimana tempat yang aku cari itu.
Akhirnya aku berhasil menemukan
tempat itu. Setelah berkonsultasi, ternyata orang itu tidak bersedia
menggugurkan kandunganku karena usia kandungan sudah menginjak empat bulan.
Kenapa aku bisa seceroboh itu fikirku.
Semua sudah terjadi, aku tidak
mungkin kembali pada keluargaku dengan kondisi seperti ini. Orangtuaku bisa
mati berdiri kalau tahu aku hamil tapi tidak ada yang mau bertanggungjawab.
Aku putuskan untuk menjalani ini
semua sendiri. Dengan sisa uang yang aku punya, aku mencoba menghidupi diriku
dan bayi dalam kandunganku. Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku bisa
bertahan.
***
Sembilan bulan sudah dan aku
melahirkan. Aku melahirkan bayi perempuan cantik yang seharusnya aku rawat dan
sayangi sepenuh hati. Namun aku benci dan sangat benci pada bayi itu. Aku tidak
mau melihatnya apalagi merawatnya. Tanpa berfikir panjang, aku akan kirim anak
itu ke panti asuhan.
Malam itu, seperti dalam sebuah sinetron,
aku simpan anak itu didepan pintu panti asuhan dan semua masalah kuanggap
selesai. Aku harus meneruskan hidup dan anganku yang sempat tertunda.
Wajahku masih cantik. Badanku
masih langsing walaupun aku sudah mempunyai anak. Anak yang aku buang dan entah
bagaimana sekarang keadaannya. Dengan fisik yang masih menarik, orang tidak
akan menyangka kalau aku sudah punya anak.
Benar saja, ternyata sangat mudah
untukku meraih cinta yang lain. Andi, seorang pengusaha sukses berhasil aku
raih. Berbeda dengan Anton, dia adalah laki-laki yang sangat baik. Kita
berhubungan dan aku dinikahinya.
***
Tak terasa sudah 10 tahun aku menjadi
istri Andi. Aku juga dikaruniai anak laki-laki ganteng, seganteng Ayahnya. Aku
bahagia karena Andi melimpahi harta yang sangat banyak untukku. Tidak kalah
dengan Anton, laki-laki setengah iblis.
Aku menjadi wanita yang sangat
bahagia, sangat bahagia punya keluarga ini. Hingga pada suatu saat aku mendapat
musibah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Pagi itu, aku bermaksud untuk
pergi berbelanja keperluan sehari-hari. Memang biasanya semua dikerjakan
pembantuku. Namun entah kenapa, hari itu aku ingin sekali berbelanja. Aku nyetir
mobil sendiri. Mobil melaju sangat kencang, tiba-tiba ada suamiku meneleponku.
Aku kehilangan kendali dan membanting stir. Aku menabrak sebuah pohon dipinggir
jalan dan aku tak ingat apapun lagi.
Menurut cerita, aku tak sadarkan
diri berhari-hari sampai dokter memvonis aku sudah mengalami koma. Aku sudah
pastikan betapa paniknya suami dan anakku. Apalagi dokter berkata kalau aku
membutuhkan donor darah.
Seperti jatuh tertimpa tangga,
darah anakku tidak cocok dengan aku. Semua tempat persediaan darahpun sudah
dicek namun darah yang cocok denganku tidak tersedia. Mungkin aku harus
menunggu kematianku saat itu.
Entah dari mana dia tahu. Entah
siapa yang memberi kabar pada perempuan cantik ini. Perempuan cantik ini berusia
diatas anakku. Dia datang dan mendonorkan darahnya. Hingga aku kembali normal.
Aku sangat ingin menemui anak
perempuan cantik ini. Tapi aku sulit menemuinya. Suamiku sudah mencari
keberadaan dia tapi tidak ditemui. Apa dia datang dari langit sengaja untuk
menolongku.
Tidak berhenti sampai disitu, aku
terus mencari dan mencari siapa gadis cantik yang berhati emas itu. Kenapa aku
bisa ditolongnya padahal aku sama sekali tidak mengenalnya.
Keberuntungan ternyata berpihak
padaku. Dengan mengerahkan orang yang sengaja ditugaskan suamiku akhirnya aku
menemukan informasi keberadaan gadis itu. Tanpa berfikir panjang, aku langsung
mendatangi tempat itu.
Mataku hampir tak berkedip,
jantungku berdetak kencang saat aku berada ditempat itu. Mungkin 10 tahun yang
lalu aku pernah mendatangi tempat ini. Panti asuhan.
Jadi gadis cantik itu adalah
anakku sendiri yang aku buang seperti sampah. Kenapa tak tersirat sedikitpun
dalam hatiku kalau yang menyelamatkan nyawaku adalah anakku. Apa hatiku sudah
mengeras seperti batu. Apa hatiku sudah tertutup karena harta. Kenapa semua ini
harus terjadi.
Ketika aku langkahkan kakiku
menuju pintu panti itu, hatiku tak karuan. Ingin aku peluk anakku, ingin aku
belai dia. Aku rindu dia. Aku ingin melihat wajahnya. Pasti cantik secantik
hatinya. Aku ketuk pintu itu dan kaluarlah wanita setengah baya. Wanita
berkerudung putih itu sangat ramah. Dia pengurus disana dan sudah lama katanya
bekerja disana.
Aku ceritakan maksud kedatanganku
kesana. Wanita itu hanya diam. Dan menatapku tajam. Apalagi ketika aku katakan
padanya kalau aku yang ditolong gadis itu, aku melihat ada sinar kebencian
dimatanya. Aku faham dan sangat mengerti.
Wanita itu masih diam, hingga
akhirnya dia kedalam dan mengambil sesuatu. Sebuah bingkai foto. Dia
menyerahkan bingkai itu padaku. Seorang gadis yang benar-benar cantik. Inikah
anakku? Lalu saat ini dia kemana?
Aku sudah tidak tahan menanyakan
dia ada dimana saat ini, apakah dia sudah diambil orang untuk diadopsi?
Berapapun kerugian orang itu, pasti akan aku tebus untuk membawa buah hatiku kepelukanku.
Masih dengan fikiran yang tidak karuan, wanita itu bicara padaku.
“Bu, aku tahu perasaan Ibu saat
ini seperti apa, aku memang tidak habis fikir kenapa ada orang setega Ibu...” kata
pengurus panti asuhan itu.
“Sudah Bu, jangan diteruskan, aku
sudah tahu kemana arah pembicaraan Ibu...aku memang salah, dan sangat
bersalah...saat ini aku hanya ingin tahu dimana dia...” kataku.
“Rifa namanya Bu...Kami memberi
nama itu, maaf Kami sudah lancang memberi dia nama, karena seorang Ibu yang menerlantarkan
dia tidak memberikan apapun...” katanya lagi.
Aku ingin pingsan saat itu. Aku semakin merasa bersalah.
“Dimana Rifa Bu...dimana dia, aku
ingi bertemu...” tanyaku.
“Ayo ikut aku Bu....” jawab Ibu
petugas panti itu.
***
Kami berjalan cukup jauh, aku
masih berfikir kenapa petugas itu membawaku ke suatu tempat yang asing buatku.
Sebuah pemakaman umum.
Kami terus berjalan, hingga
sampai pada suatu tempat dimana ditempat itu aku menemukan sebuah makam dengan
batu nisan bertuliskan nama Rifa Anggraini.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku
peluk batu nisan itu. Aku tak sadarkan diri beberapa saat hingga akhirnya aku
dibawa ke panti untuk disadarkan.
Rifa meninggal karena kecelakaan lalu
lintas seminggu yang lalu. Rifa selalu mencari keberadaanku. Dia sengaja tidak
pernah menampakkan diri karena dia tahu kalau aku tidak ingin ada dia dalam
hidupku. Rifa akhirnya menemukan aku ketika aku tergolek tak berdaya. Tanpa berfikir
panjang dia donorkan darahnya. Darahnya kini mengalir dalam diriku.
***
Penyesalan ini adalah penyesalan
tak berujung. Penyesalan yang tidak akan pernah ada akhirnya seumur hidupku.
Aku merasa jadi wanita terjahat, wanita yang kejam.
Satu-satunya hal yang bisa aku
lakukan untuk Rifa adalah mendoakannya setiap saat, setiap waktu sampai jantungku
tak lagi berdetak, sampai darahnya tidak lagi mengalir ditubuhku, sampai aku
tak bisa bernafas lagi. Aku tak akan
pernah berhenti berdoa untuk gadisku.
Selamat jalan anakku...Surga
pasti akan menantimu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar