Masa lalu...setiap orang pasti
punya masa lalu. Indah ataupun sebaliknya. Begitupun dengan aku. Entah sampai
kapan perasaan ini akan hilang.
Aku seorang laki-laki yang
terlihat kuat. Aku seorang laki-laki yang mempunyai tanggungjawab besar
terhadap keluargaku. Bukan hanya pada anak dan istriku, tapi juga pada Ibu dan
adik-adikku. Aku dikenal orang sebagai laki-laki tangguh yang hampir tak pernah
mengeluh.
Namun aku hanya manusia biasa
yang ketika mengingatnya hatiku terasa teriris. Wanita yang pernah mencintaiku
begitu dalam dan aku tinggalkan begitu saja.
Aku akui, saat itu banyak sekali
wanita yang jatuh cinta padaku. Entah kenapa, akupun tak pernah mengerti, namun
itulah kenyataannya. Termasuk dia...wanita yang sangat mencintaiku dengan
kondisi apapun.
Aku mengenalnya lewat teman
dekatku. Aku tidak tahu sebelumnya padahal kita satu sekolah. Dia memang tidak
begitu dikenal orang, makanya ketika aku berkenalan dengannya aku sempat heran,
kenapa aku baru melihat sosok dia. Tapi tak masalah buatku.
Kita dekat dan semakin dekat. Dia
wanita yang sangat baik. Wanita yang benar-benar menerimaku apa adanya. Tapi
entah apa yang aku rasakan padanya. Entah cinta atau sekedar menyukainya. Yang
pasti perasaanku tidak seindah saat ini.
***
Ratih nama wanita itu. Ketika
lulus sekolah, kita memutuskan untuk masuk kampus yang sama. Semua karena
keinginan dia. Memang aku sedikit terbebani. Karena jujur, aku belum mau
diperlakukan seperti itu. Aku masih berfikir, mungkin didepan sana masih ada
wanita yang lebih baik dari Ratih. Seperti yang aku takutkan, di kampus aku
menemukan wanita yang aku rasa jauh lebih baik dari Ratih. Aku mendekatinya dan
jatuh cinta. Aku tak peduli dengan perasaan Ratih yang sangat mencintaiku.
Berkali-kali aku jelaskan pada dia tentang perasaanku walaupun aku tahu Ratih
pasti terluka, namun entah kenapa seolah aku tak peduli dengan semua itu.
Waktu terus berlalu,
kebersamaanku dan Ratih masih terus berjalan, walaupun perasaanku mempunyai
cabang yang banyak untuk wanita lain. Ratih tetap setia mendampingiku walaupun
aku tahu Ratih sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Tapi lagi-lagi aku tak
peduli.
Akhirnya kita lulus kuliah, aku
pindah ke kota lain. Saat itu Ratih ingin menemaniku namun aku melarangnya.
Ratihpun setuju. Ratih tetap tinggal di sini dan aku pergi ke luar kota.
Ratih sangat rajin menanyakan
kabarku. Lewat telepon, SMS, chatting
atau apapun yang bisa digunakan untuk sekedar menanyakan kabarku. Setiap hari.
Terkadang dia mengirim makanan-makanan kering yang tahan basi lewat jasa paket.
Aku rasa, perhatiannya tak pernah sedikitpun berubah. Harusnya aku merasa
beruntung mendapatkan wanita seperti Ratih. Namun, entah kenapa dipikiranku
selalu ada rasa untuk mencari orang yang jauh lebih baik dari Ratih.
Hingga suatu saat, aku menemukan
sosok yang menarik. Dia...yang menjadi istriku saat ini. Aku meninggalkan Ratih
demi dia.
Aku tak berani mengabarkan pada
Ratih tentang kondisiku saat itu. Aku pasti akan merasa bersalah, karena aku
sudah menyakiti Ratih. Aku tak berani bilang kalau aku sudah menikah. Ratih
sangat baik dan memang tak pantas diperlakukan seperti itu. Namun, apa yang
harus aku lakukan, aku tidak bicarapun Lama-lama Ratih akan tahu juga tentang
kondisiku. Pada akhirnya Ratihpun akan tersakiti juga. Namun sungguh aku tak
berani mengatakan semua ini. Hingga akhirnya Ratih tahu tentang kondisiku yang
sebenarnya.
Aku meninggalkan Ratih tanpa satu
penjelasan. Aku sadar dan aku tahu, Ratih butuh penjelasanku. Namun apa yang
harus aku jelaskan. Aku hanya manusia pengkhianat yang tega membuang orang yang
mencintaiku begitu saja.
Hidupku terus berjalan. Aku bahagia
dengan kehidupanku. Sementara aku tak tahu kabar Ratih lagi. Ingin sekali aku
hubungi dia. Namun aku tak tahu harus memulainya dari mana.
***
Tak terasa sudah sekitar 10 tahun
aku tak pernah mendengar kabar Ratih lagi. Sama sekali aku tidak melupakannya. Aku
hanya menjalani hidupku. Aku mencari rasa cinta yang ingin aku rasakan, yang
tak pernah aku temui pada Ratih dan malah aku temukan pada dirinya yang kini menjadi
istriku.
Pada suatu hari, aku ditugaskan
untuk pindah kerja ke suatu daerah dengan waktu yang tidak bisa diperkirakan
sampai kapan. Setelah aku bicara pada istriku. Beliau setuju untuk ikut
denganku pindah ke daerah itu. Memang cukup jauh, namun beginilah hidup tak
pernah terduga dimana kita akan tinggal.
Singkat cerita, Kamipun pindah
kesana. Suasana disini memang sangat berbeda dengan kondisi tempat tinggalku
yang dulu. Disini udaranya sangat sejuk, mungkin karena masih banyak pepohonan,
sawah-sawah, pokoknya aku merasa lebih nyaman disini.
Sudah sekitar satu bulan aku
pindah. Aku sudah merasa betah disini. Suatu hari, istriku meminta tolong untuk
membeli susu untuk anakku. Aku coba pergi ke sebuah mini market yang jaraknya
lumayan jauh dari rumah.
Sesampainya di mini market, aku langsung
memilih susu untuk anakku. Tiba-tiba aku tak sadar menabrak wanita hingga
barang yang dibawanya jatuh berserakan. Kalau tak salah saat itu dompetnya juga
jatuh ke lantai. Aku buru-buru mengambil dompet dia dan meminta maaf.
Ketika aku melihat wajah wanita
itu, aku merasa jantungku berhenti berdetak. Seluruh badanku berkeringat
dingin. Tangan dan kakiku bergetar hebat. Ratih...benarkah dia yang ada
didepanku saat itu. Wanita itu juga terlihat merasakan hal yang sama denganku.
Wajahnya sedikit pucat, namun aku mengenal senyuman itu. Senyuman yang entah
kapan terakhir aku merasakannya.
“Ratih...?” tanyaku.
“Mas Wisnu...?” dia malah balik
tanya.
Kamipun saling berjabat tangan.
Kami berbincang cukup lama disebuah tempat makan. Ratih sekarang memang sudah
mempunyai suami. Lalu kenapa ada rasa tak enak di hatiku. Apakah aku cemburu
mendengar Ratih sudah berkeluarga...? Padahal kan aku juga sudah punya istri.
Aku meminta maaf pada Ratih,
namun seolah Ratih sudah menutup rapat kenangan kita. Ratih sudah memaafkan aku
dan dia sudah tidak ingin mempermasalahkan lagi. Aku minta nomor telepon Ratih
dan Ratih pun memberinya. Sejak saat itu kita sering berkomunikasi, selain itu
juga kita sering bertemu. Karena memang tempat tinggal Ratih tidak begitu jauh
dengan tempat tinggalku.
Aku menyangkal kalau ini
perselingkuhan, walaupun kenyataannya mungkin seperti itu. Kenapa perasaan yang
dulu ingin aku rasakan malah saat ini aku rasakan untuk Ratih. Apa aku
mencintai Ratih? Mungkin iya...karena sampai detik inipun aku tidak bisa
melepas bayangan dia.
Aku salah, aku memang salah.
Namun apa yang harus aku lakukan. Jika aku tahu cara untuk melupakan dia, aku
akan lakukan cara itu. Namun sungguh aku tak bisa.
***
Tubuhku hanya satu, hatiku juga
hanya satu, aku tak mungkin berada didua tempat yang berbeda. Ratih dan
istriku. Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, namun untuk melupakan Ratihpun
rasanya sangat sulit.
Entah sampai kapan aku akan
berada didua tempat ini. Mungkin untuk selamanya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar